Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Sabrang vs Daniswara


__ADS_3

Semua mata menatap kesatu arah, tak ada satupun dari mereka yang berani mendekatinya. Mereka tau jika kobaran api yang menyelimuti tubuh Sabrang sangat panas bahkan mungkin bisa melelehkan pedang mereka dengan cepat.


"Siapa pendekar ini?". Daniswara bergumam dalam hati sambil mengamati Sabrang dengan hati hati.


Sabrang terlihat mempelajari situasi dihadapannya, Dia menatap kearah Lingga seperti meminta penjelasan kemudian menoleh kearah Mentari.


"Orang dihadapanmu adalah pengguna Panca geni, kau harus berhati hati". Ucap Anom memperingatkan. Sabrang tidak menjawab ucapan Anom, dia terus memperhatikan sekitarnya.


"Ketua, anda baik baik saja?". Ciha berlari mendekati Astaguna.


"Ciha, apa yang terjadi padamu? Kemana saja kau selama ini?". Astaguna menatap Ciha, ada perasaan lega melihat muridnya baik baik saja.


"Ceritanya panjang ketua, aku terjatuh kedalam lembah tanpa dasar bersama pemuda itu". Ciha menunjuk Sabrang.


"Dia?".


"Namanya Sabrang, pengguna Naga api". Ciha menjelaskan.


"Apakah dia.....". Astaguna bicara hati hati, dia tidak ingin menyinggung Sabrang.


Ciha menggeleng pelan "Dia dalam keadaan sadar, Naga api tidak merasukinya".


"Kau yakin?". Tanya Astaguna sedikit khawatir.


"Aku yakin guru, beberapa hari ini aku selalu bersamanya". Ucap Ciha pelan.


"Begitu, akhirnya Naga api telah memilih tuannya". Astaguna menarik nafas panjang, dia berharap orang yang dipilih Naga api benar benar pantas dan tidak dibutakan ambisi atau dunia persilatan akan hancur oleh kekuatannya.


"Lalu siapa mereka Ketua?". Ciha menunjuk Lingga dan Mentari.


"Mereka teman orang yang bersamamu". Astaguna kemudian menjelaskan kejadian selama Ciha menghilang termasuk digulingkannya Andaru dari posisi ketua sekte.


Ciha tersentak kaget mendengar penjelasan Astaguna, dia tidak menyangka beberapa hari menghilang semua berubah sangat cepat di tubuh Sekte bintang langit.


Setelah dapat menguasai keadaan dan melihat Sabrang belum bergerak menyerang, Daniswara memutuskan melangkah beberapa langkah mendekati Sabrang dan mengajaknya bicara.


Saat Daniswara mulai melangkah, tiga orang pendekar bertopeng mengira pertempuran akan pecah, tiba tiba mereka bergerak menyerang Mentari yang masih menatap Sabrang.


"Bolehkah aku tau siapa anda?". Daniswara berusaha bersikap sopan, dia tidak tau seberapa besar kekuatan orang yang ada dihadapannya.


Sabrang tidak menjawab pertanyaan Daniswara, dia mengayunkan pedangnya kearah Mentari. Sebuah kobaran api merah melesat dengan cepat melewati sisi kiri Daniswara dan menghantam tiga pendekar yang bergerak kearah Mentari. Hanya hitungan detik para pendekar itu telah menjadi abu.


"Jangan pernah berfikir untuk menyentuhnya". Suara Sabrang meninggi seolah memperingatkan semua yang ada disekitarnya.


Raut wajah Daniswara berubah setelah melihat kobaran api melesat begitu dekat dari tubuhnya. Sebagai pengguna ajian panca geni, api bukan hal baru bagi tubuhnya karena panca geni juga menggunakan unsur api namun kobaran api yang tiba tiba melesat di dekatnya tadi membuat tubuhnya bereaksi menghindar.


"Inikah kekuatan Naga api?". Daniswara menatap abu yang berserakan di tanah. Walaupun dia merasa kesal namun tidak menurunkan kekagumannya pada Naga api.


Senyum kecut tersungging di mulut Lingga Maheswara.

__ADS_1


"Kau selalu bertambah kuat saat kita terpisah, entah apa yang kau temukan dibawah sana".


Semangat Lingga kembali berlipat setelah melihat serangan Sabrang. Entah sejak kapan pedomannya untuk menjadi kuat telah beralih dari Kertasura ke Sabrang. Jika dulu dia selalu ingin mengungguli Kertasura yang kekagumannya kini darahnya selalu mendidih setiap Sabrang menjadi kuat.


"Bisakah kita bicara baik baik? Mungkin aku dapat membantumu?". Daniswara masih berusaha bicara baik baik walaupun kesabarannya sudah hampir habis saat melihat anak buahnya dibunuh didepan matanya.


"Kau ingin bicara baik baik dengan sikap siap menyerang seperti itu?". Sabrang menatap kedua tangan Daniswara yang diselimuti api.


"Ah ini? aku hanya berjaga jaga karena kau tiba tiba menyerang tanpa bicara apapun". Daniswara tersenyum canggung.


Sabrang melangkah mendekati Ciha dan Astaguna.


"Aku sudah dengar sebagian cerita tentang perjanjian kalian dengan Naga api, apa kalian akan mengingkari perjanjian itu?". Sabrang menatap tajam Astaguna.


"Aku bukan orang yang mudah ingkar janji namun...". Belum selesai Astaguna bicara Sabrang sudah memotong ucapannya.


"Aku tau, tepati janjimu saat aku sudah membereskan semuanya".


Astaguna hanya bisa mengangguk cepat, bukan hal mudah berurusan dengan Naga api.


Sabrang kembali menatap Daniswara yang sudah siap merapal jurusnya. Melihat Sabrang bicara pada Astaguna kini dia tau jika mereka berdua bersebrangan. Dia memang mengagumi kekuatan Naga api namun dia cukup yakin dengan ilmu pancageninya.


Sabrang terlihat menarik nafas panjang, kini dia tau siapa yang hendak mengingkari perjanjian dengan Naga api. Dia ingat betul pendekar yang menyerangnya saat itu adalah pendekar yang kini bersama Daniswara.


"Kau siap Naga api". Sabrang mengangkat pedangnya, terlihat kobaran api makin membara di tubuhnya.


"Apa aku harus menjawab?". Naga api menyeringai.


"Golok Iblis Abadi". Anom tiba tiba bicara.


"Golok Iblis abadi?". Sabrang mengernyitkan dahinya.


"Salah satu pusaka yang berasal dari Dieng, kau harus berhati hati walaupun bukan merupakan salah satu dari 5 pusaka terkuat Dieng namun setiap pusaka yang berasal dari sana memiliki kelebihan masing masing. Goloo Iblis abadi memiliki kekuatan untuk menyerap semua energi jahat disekitarnya dan menjadikannya sebagai kekuatan, ditambah dengan ilmu panca geni yang dikuasai pemiliknya tak akan mudah menghadapinya".


Aku akan mengingat ucapanmu Anom". Selesai berkata demikian Sabrang menyerang tiba tiba dengan kecepatan tinggi.


"Kau urus yang lainnya". Daniswara berbicara pada Pandya sesaat sebelum dia melesat menyambut serangan Sabrang.


Pandya melompat mundur dan bergerak kearah Mentari namun tiba tiba Lingga muncul dihadapannya.


"Bukankah urusan kita belum selesai tua bangka?". Lingga tersenyum dingin.


Pandya menggeleng pelan, baru beberapa saat tadi dia merasa menang kini semua berubah cepat sejak kedatangan pengguna Naga api itu. Dia mengumpat dalam hati menyesali kedatangannya kesini dan bertemu Lingga karena dia sadar kekuatan Lingga jauh diatasnya.


Pandya terpaksa meladeni serangan cepat Lingga dengan sekuat tenaganya.


Terdengar suara keras yang memekakkan telinga saat kedua pedang pusaka itu berbenturan. Terlihat tak ada satupun yang mau mengalah. Kobaran api dari kedua pihak semakin besar saat mereka saling memberi serangan.


Setelah bertukar puluhan jurus terlihat jelas Sabrang lebih cepat dari Daniswara, itu terlihat dari beberapa sayatan kecil di tubuh Daniswara. Jika tubuhnya tidak menggunakan segel pelindung mungkin Daniswara sudah terluka cukup parah. Sadar jika dia kalah cepat Daniswara menggunakan seluruh tenaga dalam yang dimilikinya.

__ADS_1


"Golok itu mulai menyerap energi jahat dari alam". Anom memperingatkan Sabrang setelah melihat aura hitam perlahan masuk kedalam golok iblis abadi.


"Lalu kenapa? tidak akan ada yang berbeda". Sabrang meningkatkan kecepatannya dan terus menekan Daniswara.


Dansiwara terlihat tersenyum ketika tiba tiba mendapatkan tenaga baru dari pedangnya. Kini kobaran api dikedua tangannya dihiasi warna hitam pekat.


"Kau pikir kenapa Panca begitu ingin ajian panca geni musnah? karena jurus ini tidak ada tandingannya". Tiba tiba Dansiwara menghilang dari pandangan Sarbang dan muncul kembali tepat di belakangnya dengan pedang terhunus namun senyum yang merekah dibibir Daniswara tidak bertahan lama saat kobaran api melesat kearahnya.


"Bagaimana dia bisa membaca gerakanku?". Daniswara melompat mundur sambil membuat tameng api untuk menahan serangan Sabrang.


Walaupun ajian panca geni berhasil menahan serangan Sabrang namun Daniswara tetap terdorong mundur.


Sabrang menatap tajam Daniswara dengan mata biru mudanya yang menyala, senyum dingin merekah di bibirnya.


"Jika kau sudah selesai dengan mainanmu kini giliranku".


Kobaran api ditubuh Sabrang sedikit mengecil karena berpusat di pedangnya. Kini hampir tidak terlihat pedang digenggamannya, yang terlihat tangannya seperti menggenggam kobaran api.


Sabrang bergerak dengan kecepatan tinggi, namun Daniswara telah siap dengan jurusnya.


"Golok api terbakar". Daniswara mengayunkan Goloknya kearah Sabrang, tak lama kemudian goloknya melepaskan puluhan api berbentuk pisau.


Sabrang terlihat tak terganggu dengan api yang mengarah padanya. Dia menggerakan pedangnya kedepan untuk menahan api tersebut.


"Kau terlalu percaya diri dengan kekuatanmu". Daniswara tersenyum penuh kemenangan. Sebuah ledakan terjadi saat serangannya mengenai Sabrang.


Suara keras yang memekakan telinga membuat Lingga mundur beberapa langkah setelah merobohkan Pandya. Dia memutuskan mengalirkan tenaga dalam ketelinganya untuk mengurangi rasa sakit akibat suara ledakan itu.


Raut wajah Dansiwara berubah ketika asap dan kobaran api akibat ledakan menghilang. Seharusnya Sabrang roboh setelah menerima jurus Panca geni tingkat 4 itu namun dia tak melihat sosok Sabrang disana.


"Jurus api abadi tingkat 14 : Energi Naga api". Sabrang muncul dari udara dan dengan cepat mengayunkan pedangnya.


Api merah melesat kearah Daniswara yang tidak dalam posisi siap karena dia yakin jika serangannya mampu merobohkan Sabrang.


Daniswara memutuskan membentuk tameng api untuk menahan serangan yang terarah padanya.


Tameng api terlihat retak saat menahan serangan itu.


"Bagaimana dia bisa sekuat ini". Daniswara memutuskan menggunakan seluruh kekuatan golok iblis abadi untuk menahan serangannya. Aura hitam digolok itu makin pekat dan menyelimuti tubuh Daniswara.


Tubuh Daniswara tiba tiba menghilang sebelum ledakan besar terjadi.


"Sudah kuperingatkan tak akan mudah menghadapi pengguna Panca geni". Anom berbicara setelah melihat Daniswara mampu menghindar disaat terakhir sebelum ledakan terjadi.


"Tidak akan menarik jika semua terlalu mudah Anom". Sabrang tersenyum dingin.


"Kau". Sesaat tadi Anom merasakan Sabrang berubah menjadi dingin. Pandangan matanya sesaat seperi Iblis yang haus darah dan terlihat menikmati pertarungan itu.


"Meraka bertarung seolah tidak memikirkan sekitarnya". Lingga mendengus kesal saat terdorong beberapa meter akibat ledakan itu.

__ADS_1


Tiba tiba tubuhnya mematung saat menatap mata Sabrang. Mata yang sama seperti Kertasura, mata yang haus darah.


"Anak ini?". Raut wajah Lingga berubah seketika.


__ADS_2