Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Pergerakan sekte Iblis Hitam


__ADS_3

Setelah berkeliling sekte Tengkorak merah, Wardhana dan Lingga muncul dengan wajah lesu.


"Tidak ada satu orangpun yang tersisa" Wardhana menggeleng pelan.


"Ini sangat aneh" ucap Lenny pelan sambil menatap kesekelilingnya. "Sekte Tengkorak merah memiliki ratusan pendekar hebat, jika pendekar terhebat seperti tuan Sabrang menyerang tak mungkin tak ada perlawanan sama sekali".


Wardhana mengernyitkan dahinya saat melihat tetesan darah ditengah halaman. Dia melangkah mendekat dan berdiri tepat didekat tetesan darah itu.


Wardhana memejamkan matanya sesaat, dia sedang membuat simulasi dikepalanya.


"Seseorang yang menyerang Tengkorak merah berdiri disini, dia menyerang pendekar itu lalu bergerak kesini dan menghilang" Wardhama melangkah sedikit kesamping tempat tetesan darah itu menghilang. "Yang menjadi pertanyaan besarku adalah kemana para pendekar Tengkorak merah itu menghilang".


Ciha mendekati Wardhana dan menepuk punggungnya. "Kita akan pikirkan sambil jalan tuan, sebaiknya kita cepat pergi sebelum tengah hari agar lebih cepat sampai di Jawata".


Wardhana berfikir sejenak sebelum mengangguk pelan, dia melangkah mendekati Lenny dan menundukan kepalanya.


"Sepertinya kami harus pergi nona, kami sudah mencoba membantu anda namun Tengkorak merah hilang entah kemana. Aku sangat berterima kasih pada suku Hutan dalam yang telah membantu kami selama ini".


Lenny mengangguk pelan dan mengucapkan terima kasih pada Wardhana atas segala bantuannya saat penyerangan sekte Gunung batu.


Lenny mengantarkan Sabrang dan yang lainnya sampai naik keatas kapal. Dia sedikit terkejut melihat kapal besar yang mereka sembunyikan didekat gua dipinggir pantai Swarnadwipa.


Setelah Arung membentangkan layar, mereka memulai perjalanannya kembali menuju tanah Jawata dengan ribuan pertanyaan dikepala.


Hilangnya sekte Tengkorak merah dan kenyataan misteri bersusun membuat mereka semakin bingung. Tugas Wardhana semakin berat karena selain mencari telaga khayangan api, dia juga harus memecahkan misteri bersusun yang entah siapa yang membuatnya.


"Sepertinya Yang mulia harus mengangkat Sora menjadi Adipati menggantikanku karena aku merasa perjalanan ini akan sangat panjang" gumam Wardhana di dek kapal sambil melihat daratan Swarnadwipa yang mulai mengecil.


Tubuh Wardhana tiba tiba bergetar saat melihat seorang pemuda melayang diatas pohon besar sambil menggerakan pedangnya kelehernya sendiri sebagai tanda ancaman pada Wardhana.


Dia tersenyum dingin sebelum bergerak pergi kedalam hutan.


Wardhana berusaha menguasai dirinya sendiri sebelum terduduk dengan lutut lemas.


"Siapa pemuda itu? apakah dia yang memberikan kitab pada kumari kandam dan ayah nona Lenny? ucapnya terbata bata.


"Paman baik baik saja?" Sabrang terlihat cemas saat melihat wajah Wardhana pucat pasi.


Wardhana mengangguk pelan "Hamba baik baik saja yang Yang mulia, mungkin hanya kelelahan" ucap Wardhana menutupi. Dia tidak ingin Sabrang memerintahkan memutar kembali kapalnya karena keberadaan pemuda itu. Saat ini yang ada dikepala Wardhana hanya memecahkan misteri itu dan menyusun rencana untuk menghadapi pemuda itu. Dia berencana mengatakannya saat mereka sudah sampai didaratan Jawata.


"Paman yakin" Sabrang kembali bertanya.


"Harap Yang mulia tidak khawatir, hamba hanya perlu istirahat sebentar". Wardhana menundukan kepalanya sebelum melangkah pergi.

__ADS_1


Sabrang menatap daratan Swarnadriwa menggunakan mata bulannya, dia merasa Wardhana menyembunyikan sesuatu darinya namun daratan yang semakin mengecil itu tidak menunjukkan keanehan apapun.


"Akhirnya kau kembali ke Jawata dan bertemu dengan kekasihmu ya" suara Emmy mengagetkan Sabrang.


Sabrang hanya tersenyum kecil, dia tak tau harus menjawab apa atas pertanyaan Emmy.


"Apa dia lebih cantik dariku?".


"Hah?" Sabrang terkejut mendapat pertanyaan tiba tiba itu. Dia menoleh kearah Emmy bingung, pertanyaan itu terlalu sulit untuk dijawab walau sebenarnya hatinya mengakui jika Emmy sedikit lebih cantik dari Mentari.


"Aku sudah tau jawabanmu, sepertinya dia jauh lebih cantik dariku namun kuperingatkan kau jika tekadku sudah bulat untuk bersaing dengan siapapun".


"Bersaing?" Sabrang tampak bingung dengan ucapan Emmy.


"Kau memang bodoh, temukan aku dengan kekasihmu saat kita sampai di Jawata, ada yang harus kubicarakan dengannya".


"Bicara dengannya?" tanya Sabrang makin bingung.


"Tugasmu hanya mempertemukanku dengannya, ini urusan wanita" Emmy melangkah pergi meninggalkan Sabrang sendirian.


Sabrang menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia benar benar bingung dengan tingkah Emmy.


***


Mentari bersama Tungga dewi terlihat duduk dihadapan Brajamusti, ketua sekte Angin biru, dia menunjukan gulungan yang ditulis oleh Mantili.


"Bibi Mantili mengutus kami untuk membicarakan sesuatu dengan anda tetua. Aku bersama Dewi dan kakek Suliwa berharap anda mau membantu kami" Mentari membuka percakapan.


"Suliwa?" Brajamusti terlihat mencari keberadaan Suliwa.


"Kakek sedang menemui tetua Gandana dipenginapan dekat sini" ucap Tungga dewi.


Brajamusti terlihat berfikir sejenak sebelum bericara.


"Tetua Tapak es utara mengumpulkan semua pendekar kuat aliran putih, sepertinya ada masalah yang cukup besar".


Tungga dewi kemudian menjelaskan permasalahan yang mereka hadapi yang semua dimulai dari hancurnya Dieng sampai akhirnya mereka menemukan ruang rahasia di sekte Tapak es utara yang diyakini sebagai petunjuk menuju Telaga khayangan api.


Tungga dewi juga menjelaskan tentang perjalanan Sabrang dan pendekar lainnya kedaratan lain untuk mencari kepingan kunci telaga khayangan api.


Brajamusti mengangguk pelan, dia kembali mengingat pertemuannya dengan Sabrang beberapa waktu lalu saat dia mengamuk di sekte kelelawar hijau.


"Tak kusangka kekasihmu berkembang sangat cepat nona, aku cukup terkejut saat mendengar kabar dia menemukan Dieng dan menghancurkannya" ucap Brajamusti pada Mentari.

__ADS_1


"Dia bukan kekasihnya tetua!" potong Tungga dewi tiba tiba.


"Bisakah kau tidak memotong ucapan tetua Angin biru?" hardik Mentari kemudian.


"Aku hanya meluruskan berita yang tidak benar" ucap Tungga dewi ketus.


"Apa begitu penting bagimu? dia bahkan tidak menoleh sedikitpun saat kau berada didekatnya" balas Mentari.


"Apa kau dewa yang mengetahui isi hatinya?".


Brajamusti menggeleng pelan sebelum menengahi permusuhan dua wanita dihadapannya itu. Dia cukup takjub melihat dua wanita yang sepertinya tidak akur itu bisa berjalan bersama tanpa saling mencabut pedang.


"Maaf nona nona, lalu apa yang akan kalian bicarakan denganku?".


Mentari tersenyum canggung sebelum menjelaskan pesan yang dititipkan Mantili padanya. Mereka memutuskan melakukan gencatan sementara waktu karena ada hal yang lebih penting yang harus mereka sampaikan.


"Pergerakan sekte Iblis Iblis akhir akhir ini sangat aneh tetua. Setelah mundurnya Lingga dari iblis hitam dan mundurnya Kertasura dari dunia persilatan akibat terluka parah, Dongkel mengambil alih posisi ketua sekte.


Mereka kini menutup diri namun kabarnya mereka bergerak senyap mencari kitab Paraton. Mereka bahkan menyatakan perang dengan seluruh sekte aliran putih. Aku tidak tau apakah semua tindakan Dongkel atas persetujuan Kertasura atau tidak namun mereka semakin agresif.


Yang menjadi kekhawatiran bibi Mantili adalah kabar yang mengatakan mereka berusaha mencuri kunci telaga khayangan api. Jika Dongkel bekerja sendiri mungkin bibi bisa mengatasinya namun jika Kertasura dibalik semua ini kami membutuhkan bantuan anda mengingat ilmu kanuragannya yang sangat tinggi ditambah pedang langit berada ditangannya".


Brajamusti mengangguk pelan "Jika memang Telaga khayangan api adalah pemicu munculnya suku Iblis petarung maka apapun yang ada didalamnya sangat berbahaya jika jatuh ketangan Iblis hitam. Besok pagi pagi sekali kita pergi kesekte Tapak es utara, aku akan membantu sekuat tenaga jika Kertasura muncul menyerang".


Mentari dan Tungga dewi mengangguk lega, mereka kemudian menundukkan kepalanya dan undur diri.


"Urusan kita belum selesai" ucap Mentari dingin saat dia dan Tungga dewi melangkah menuju penginapan yang tak jauh dari sekte Angin biru.


"Kau terlalu pencemburu nona" ejek Tungga dewi.


"Aku pencemburu? lalu siapa tadi yang memotong ucapan tetua hanya demi hal sepele?".


"Kau menyindirku?" Tungga dewi memegang pedangnya.


"Kau pikir aku takut?" balas Mentari sambil melepaskan aura dari tubuhnya.


Tungga dewi kembali menyarungkan pedangnya "Aku bukan takut padamu, hanya saja ada hal yang jauh lebih penting dari pada pertengkaran kita".


"Aku selalu siap kapanpun kau menginginkan pertarungan" ucap Mentari pelan.


Tungga dewi tiba tiba menghentikan langkahnya dan menoleh kearah Mentari yang berjalan dibelakangnya.


"Bagaimana jika dia membawa gadis lain saat kembali ketanah Jawata?" tanya Tungga dewi khawatir.

__ADS_1


"Aku akan membunuhnya" balas Mentari dingin.


"Aku setuju" ucap ketua sekte Rajawali emas itu.


__ADS_2