Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Gerbang ketiga Dieng II


__ADS_3

"Jadi sejak awal jurang itu tidak ada". Lingga tersenyum kecut saat menoleh keatas dan melihat pinggir jurang tempat mereka berdiri hanya setinggi atap bangunan sekte Iblis hitam.


"Konon segel ilusi terdapat di kitab keabadian langit dan bumi, tak heran Iblis petarung menguasainya". Ciha terus memperhatikan sekitarnya dengan takjub. "Bagaimana ada tempat seindah ini di dalam laut". Ciha menggeleng pelan.


Hamparan rumput terlihat sepanjang mata memandang, tempat itu seolah tak berujung. Beberapa bangunan kecil seperti gelanggang bertarung terlihat berdebu dan sedikit hancur.


"Tempat ini seperti sebuah perkampungan yang sudah lama ditinggalkan penghuninya". Madrim menarik nafas panjang. Dia merasa tempat itu terlalu sepi dan mencekam. "Tempat yang terlihat damai dan sepi biasanya sangat berbahaya". Gumamnya dalam hati.


Ciha menghentikan langkahnya saat melihat sebuah bangunan usang yang paling besar diantara reruntuhan bangunan lainnya. Bukan bangunannya yang menarik perhatiannya namun sebuah batu besar seperti batu pemujaan.


"Apa kita harus terus berhenti setiap ada bangunan yang menarik perhatianmu?". Lingga sedikit protes pada Ciha. Dia merasa waktu yang mereka miliki semakin sempit.


"Apa kau melihat petunjuk arah ke Lembah merah disekitar sini?". Ciha tersenyum mengejek. "Tempat tempat seperti ini biasanya yang banyak meninggalkan petunjuk".


"Mungkin sebaiknya kau duluan, siapa tau kau menemukan penginapan disekitar sini dan menanyakan arah lembah merah". Kali ini Sabrang yang mengejek Lingga.


"Ini tempat pemujaan". Ciha menyentuh batu besar dihadapannya. Rasa bergidik menyeruak ditubuhnya saat melihat batu pemujaan itu dari dekat. Batu panjang yang dirancang untuk posisi tidur namun di bagian atas diberi celah untuk darah menetes kebawah.


"Mereka menumbalkan seseorang untuk suatu ritual". Ciha mengelilingi batu itu dan memperhatikan di setiap inci batu, dia berharap menemukan petunjuk atau tulisan mengenai Lembah merah.


Ciha berhenti saat melihat tulisan di sisi kiri batu.


"(Batu persembahan menuju Lembah merah)". Ciha membaca sepenggal tulisan di batu itu. Dia mengernyitkan dahinya ketika matanya terarah pada gambar gambar kecil di dekat tulisan yang terhubung dengan celah celah tempat darah menetes dari atas.


"Sepertinya lembah merah adalah tempat paling suci bagi mereka. Ada larangan untuk masuk ke lembah merah selain kepala suku". Ciha menyalin gambar gambar di batu itu.


"Apa kau menemukan sesuatu?". Tanya Madrim penasaran.


"Sedikit". Ciha menunjukan gambar di dinding batu pemujaan. "Gambar ini peringatan jika hanya orang tertentu yang boleh masuk lembah merah. Gambar puluhan orang berjejer ini sepertinya peringatan jika tempat itu dijaga ketat".


"Lalu letak lembah merah?". Madrim kembali bertanya.


"Aku belum tau namun biasanya tempat yang disucikan tak akan pernah jauh dari tempat pemujaan . Kau tak mungkin membunuh seseorang untuk tumbal persembahan disini dan membawanya ke lembah merah yang letaknya jauh dari sini".


"Membawa ke lembah merah?". Madrim mengernyitkan dahinya.


"Suku Iblis petarung sepertinya menyembah Dewa kegelapan. Aku sempat melihat simbol simbol dewa kegelapan di dinding gua yang berada di Danau kehidupan. Penyembah dewa kegelapan biasanya menjadikan tempat paling sucinya untuk meletakan korban persembahan. Jika benar lembah merah adalah tempat suci bagi mereka berarti letaknya tak jauh dari batu persembahan".


"Jadi letak lembah merah?". Tanya Sabrang penasaran.


"Seharusnya tak jauh dari batu pemujaan ini". Ciha menggaruk kepalanya bingung. Disekitarnya hanya padang rumput luas, tak ada tanda tanda tebing atau lembah disekitar sini.


Ciha kembali berfikir ulang dari awal, semua perkiraan perkiraan tentang lembah merah hancur di tempat itu. Ciha tersenyum kecut mengingat kembali perjanjian dengan ken Panca. Salah satu perjanjian itu adalah Bintang langit dilarang memasuki gerbang ketiga.


"Apa sebenarnya yang anda sembunyikan ditempat ini Tuan Panca". Gumam Ciha lemas. Kali ini dia benar benar menemui jalan buntu.


Sabrang terlihat berkeliling memandang indahnya padang rumput untuk membunuh rasa jenuhnya.

__ADS_1


"Ayah, saat ini aku sudah menginjakkan kaki di Dieng, banyak hal yang membuatku terkejut tetang tempat ini maupun tentang leluhur kita. Aku tau semua kekacauan berawal dari tempat ini, aku berjanji akan kuhancurkan tempat ini selamanya" Gumam Sabrang lirih.


"Deg". Raut wajah Sabrang berubah seketika saat merasakan aura menekan dari bawah tanah tempatnya berdiri.


"Naga api". Ucap Sabrang pelan.


"Kau merasakannya? sepertinya kekuatanku mulai menyatu dengan tubuhmu jika kau merasakan energi Banaspati".


"Banaspati? bagaimana bisa?bukankah.....". Belum selesai ucapan Sabrang Ciha berteriak tiba tiba.


"Aku tau tempatnya". Ciha terlihat meraba batu persembahan, dia mengikuti lekulan kecil yang dianggapnya sebagai tempat darah korban menetes.


Ciha kemudian mengambil tanah segenggam disekitarnya dan menaburkan di ujung tempat darah menetes. Dia mengamati beberapa saat sampai tanah itu terlihat bergerak tertiup sesuatu.


"Angin". Ucap Ciha berteriak. "Hembusan angin ini menandakan jika dibawah batu ini berongga. Aku yakin Lembah merah berada tepat dibawah batu ini".


"Cari sesuatu seperti bentuk tuas". Ciha meminta bantuan Madrim yang berada didekatnya.


"Jadi tempat yang kita cari ada dibawah ini?". Tanya Madrim bersemangat.


"Itu kemungkinan terbesar saat ini". Ucap Ciha pelan sambil terus mencari tuas disekitar batu persembahan.


"Aku menemukannya". Lingga berteriak saat menemukan sebuah batu yang menonjol disisi kanan batu persembahan. Mereka semua berlari mendekati Lingga.


"Bagaimana kau bisa tau jika ada tuas pemicu disekitar sini?". Madrim terlihat takjub pada kepintaran Ciha.


"Kalian siap?". Ciha menahan nafas.


"Bukalah". Ucap Madrim pelan, tangannya terlihat memegang gagang pedang. Entah kenapa dia merasa ada bahaya besar yang mengintai mereka dibawah sana.


Tak lama setelah Ciha menarik tuas batu, sesuatu terjadi pada batu persembahan. Tanah disekitar batu seperti terbelah dua. Mereka semua menahan nafas melihat kecanggihan teknologi yang dibuat oleh Iblis petarung. Setelah getaran tanah disekitar mereda, mereka berjalan mendekati pintu masuk yang baru terbuka.


"Ayo masuk". Madrim berjalan lebih dulu dengan sikap siaga, dia tidak tau apa yang akan mereka temui didalam tempat yang telah ribuan tahun tertutup".


Langkah kaki mereka disambut bau anyir darah yang menyengat hidung. Madrim menyentuh tetesan darah yang masih tersisa di dinding gua.


"Masih basah?". Madrim tersentak kaget. Langkah kaki Madrim berhenti setelah melihat tumpukan mayat diatas batu besar dihadapannya.


"Tempat ini sepertinya mengandung kekuatan yang bisa mengawetkan semua yang ada didalam sini". Tangan Madrim menunjuk tumpukan mayat yang semuanya masih utuh dan terlihat baru.


Mereka semua hampir tak percaya menatap pemandangan yang ada dihadapannya. Ciha bahkan hampir lupa bernafas saking takutnya.


"Itu". Sabrang menunjuk batu tulis yang berjejer rapi mengelilingi tumpukan mayat.


Ciha memberanikan diri mendekati tumpukan mayat dan berjongkok disebuah batu tulis.


"(Prajurit abadi menjaga tempat para dewa, hancurlah kalian jika berani melawannya)". Ciha meraba beberapa tulisan yang tidak jelan karena tertutup tetesan darah.

__ADS_1


Saat Ciha mencoba kembali membaca tulisan dibatu tulis itu tiba tiba lengannya dicengkram oleh salah satu mayat yang berada didekat tulisan itu.


Ciha berteriak sekuat tenaga sambil mengibaskan tangannya.


"Mereka.... Mereka.....". Belum selesai Ciha berbicara Madrim sudah memotong ucapan Ciha.


"Aku tau, mundurlah". Madrim dan Lingga mencabut pedangnya. Tak lama tubuh Sabrang diselimuti kobaran api hitam.


"Siapa mereka?". Sabrang mengernyitkan dahinya saat menatap tumpukan mayat itu berdiri dan bersiap menyerang mereka.


"Prajurit abadi yang menjaga tempat ini". Madrim mendengus kesal.


"Berapa lama lagi waktu kita sampai gerbang pertama tertutup?". Lingga bersiap menyerang.


"Sekitar satu hari lebih". Ucap Ciha pelan.


"Baik, cari petunjuk tentang iblis petarung dan ilmu rogo sukmo secepatnya sementara kami membereskan mereka".


"Ayo ser...". Lingga menghentikan ucapannya saat melihat Sabrang sudah melesat kearah para prajurit abadi itu.


"Si bodoh itu tidak pernah sabar sedikit saja". Umpat Lingga dalam hati.


Dalam hitungan detik berikutnya ruangan itu menjadi medan pertempuran antara pendekar terkuat beda generasi.


Ciha segera berlari kesudut sudut dinding untuk mencari petunjuk apapun yang berkaitan dengan Lembah merah.


Pandangan Ciha berhenti saat melihat susunan batu yang dikenalnya.


"Susunan batu ini sama dengan susunan batu gua di lembah tanpa dasar?". Ciha segera merubah beberapa susunan batu sesuai dengan yang diingatnya.


Tak lama sebuah batu bergeser dan munculah sebuah pintu kecil. Ciha bergegas masuk ruangan gelap itu. Tangannya meraba raba dinding gua karena pandangan matanya tak bisa melihat ruangan gelap itu.


Ketika Ciha menyentuh sesuatu yang basah didinding gua dia mencium lengannya.


"Minyak?". Ciha segera mengambil dua buah batu di sakunya dan membenturkan kedua batu itu berkali kali. Percikan api menyambar minyak yang ada didinding gua dan menyebar keseluruh ruangan.


"Mereka bahkan bisa membuat sistem perapian sehebat ini". Ciha berdecak kagum.


Rasa kagumnya kembali berlipat saat matanya memandang dinding gua yang penuh dengan tulisan dan gambar gambar aneh.


"Akhirnya semua rahasia Dieng terkuak". Gumamnya bersemangat.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Mulai besok sepertinya teman teman harus mengingat ngingat chapter chapter sebelumnya untuk menyambungkan benang merah Novel ini.


Untuk petunjuk petunjuk kecil mengenai Majapahit dan Sabdo palon itu akan berhubungan dengan novel kedua saya Api di Bumi Majapahit. Anggap saja Cameo ya hehe karena fokus kali ini tetap mengenai Iblis petarung dan Dieng.

__ADS_1


Terakhir, besok atau lusa akan saya umumkan Give away Pedang Naga api Bulan April berupa pulsa 100K untuk 5 orang.. jadi 20K per orang ya bukan 1 orang 100K hehehe...


__ADS_2