Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Malwageni Mulai Bergerak


__ADS_3

Kadipaten Galuh adalah salah satu kota terpenting kerajaan Saung Galah karena disinilah berdiri megah keraton kebanggaan mereka.


Masyarakat Saung Galah sangat percaya pada dewa matahari, mereka menganggap semua anugrah dalam hidup mereka berasal dari dewa Matahari.


Tak sulit melihat batu batu pemujaan pada dewa matahari di sudut sudut kota Galuh, mereka biasanya melakukan pemujaan pada pagi hari setelah purnama mencapai puncaknya.


Kerajaan Saung Galah bahkan membangun sebuah bangunan besar dengan corak matahari disekelilingnya sebagai tempat pemujaan bagi rakyatnya walau sebenarnya sebagian pejabat tinggi kerajaan sudah mulai meninggalkan dewa Matahari. Semua dilakukan untuk membuat rakyatnya senang.


Kepercayaan inilah yang coba dimanfaatkan Wardhana untuk membuat kekacauan di keraton Saung Galah.


"Peramal?" Arung mengernyitkan dahinya tak percaya saat Wardhana memintanya menjadi seorang peramal lengkap dengan pakaian anehnya.


Wardhana tampak menahan tawa setelah melihat reaksi wajah Arung.


"Anda tidak sedang bercanda bukan?" ucap Arung sedikit kesal.


"Maaf, aku tak bisa menahan tawa melihat wajahmu," balas Wardhana masih menahan tawa.


"Dengar, malam ini adalah puncak purnama dan menurut beberapa teliksandi yang kusebar, mereka biasanya akan mengadakan pemujaan besar besaran di dekat keraton.


Aku ingin memanfaatkan kepercayaan rakyat Suang Galah untuk membuat kekacauan," ucap Wardhana setelah berhasil menahan tawa.


"Memanfaatkan kepercayaan mereka?" Arung mengernyitkan dahinya.


"Penghinaan yang dilakukan Saung Galah dengan mengusir nyonya selir harus dibalas puluhan kali lipat. Apa yang mereka lakukan kali ini benar benar mencoreng wajah Yang mulia, bahkan sampai saat ini kita belum berhasil menemukan keberadaan nyonya selir.


Mereka telah mengibarkan perang pada Malwageni dan aku tak akan membiarkan itu terjadi," wajah Wardhana berubah seketika.


Wajah ramah dan penuh senyum yang tadi dilihat Arung berubah menjadi iblis kejam, Arung bahkan menelan ludahnya ketika wajah itu berubah seketika saat bicara tentang kehormatan Malwageni.


"Saat ini suasana keraton Saung Galah sedang panas, beberapa pejabat yang memihak selir sedang berusaha mencegah putri mahkota naik tahta karena menurut mereka pangeran yang dilahirkan selir lebih pantas naik tahta.


Kita akan mengambil kesempatan dari perebutan tahta ini untuk semakin memanaskan keraton sebelum menyerang mereka.


Saat ini Malwageni sedang bangkit perlahan, perang terbuka melawan mereka hanya akan menghancurkan kita sendiri karena kekuatan kita belum seimbang," ucap Wardhana melanjutkan.


"Lalu apa yang harus aku lakukan? tak mudah mengaku sebagai peramal jika mereka tak melihat kelebihan ku," jawab Arung bingung.


"Aku sudah mengatur semuanya, kau hanya perlu mengatakan ini," jawab Wardhana menunjuk tulisan di gulungan.


"Tuan, anda ingin aku mengatakan ini?" wajah Arung berubah seketika saat membaca tulisan Wardhana.


"Itu adalah pemicu keributan mereka selama ini, aku ingin permasalahan yang berusaha mereka redam diketahui seluruh rakyat Saung Galah. Kau tau taktik perang terbaik? hancurkan musuh dari dalam," jawab Wardhana sambil tersenyum.


Arung terdiam sambil menatap Wardhana takjub. Untuk beberapa saat lalu dia sedang bicara dengan seorang patih yang lembut namun tiba tiba pria dihadapannya berubah menjadi orang yang paling kejam dan tanpa ampun.


"Apa semua sudah siap tuan?" Tungga Dewi tiba tiba muncul mengenakan pakaian pendekar yang sudah lama tidak digunakannya semenjak menjadi ratu.


"Hormat pada Gusti ratu," Arung dan Wardhana menundukkan kepalanya.


"Semua sudah siap Gusti ratu, hamba sudah meminta Candrakurama melindungi anda dari jauh, mohon berhati hatilah," jawab Wardhana.


"Tak perlu khawatir, aku yang meminta ikut dalam rencana ini. apa kau lupa jika aku adalah mantan ketua Hibata?" jawab Tungga Dewi sambil tersenyum.


Arung tampak bingung, dia menoleh kearah Wardhana meminta penjelasan.


"Kau ingin memiliki kelebihan bukan? aku sudah mengabulkannya," jawab Wardhana pelan.


Wardhana membuka gulungan lainnya dan menjelaskan rencananya.


"Kau akan muncul tiba tiba di atas bangunan persembahan mereka menggunakan jurus ruang dan waktu milik Gusti ratu, tertutupnya matahari akan mengiringi kemunculan mu esok. Katakan semua yang ada di gulungan ini sebelum gusti ratu menarikmu kembali. Setelah itu kita hanya perlu menunggu kabar kekacauan di Saung Galah.


"Tertutupnya matahari?" tanya Arung makin bingung.


"Ciha berhasil memecahkan cara kerja delapan batu lempengan milik Gropak Waton, batu itu ternyata digunakan oleh mereka untuk membaca alam.


Aku tidak tau bagaimana Gropak Waton bisa membuat batu itu dengan sangat detail lengkap dengan kemiringan lempengan yang memiliki fungsi masing masing.


Menurut Ciha bila delapan batu Gropak Waton itu diletakan di delapan titik membentuk lingkaran yang mengarah ke matahari terbit maka kita dapat memperkirakannya.


Delapan batu itu digunakan untuk mengamati pergeseran sinar matahari terbit di waktu tertentu. Jika digabungkan dengan perhitungan sinar bulan yang juga menyinari batu itu pada malam hari maka ada kalanya di satu waktu, sinar matahari dan bulan menyinari hampir di titik yang sama, saat itulah menurut Ciha, esok hari matahari akan tertutup," jawab Wardhana.


"Jadi tertutupnya matahari di siang hari yang biasa terjadi secara tiba tiba bisa diperkirakan?, ucap Tungga Dewi.


"Itulah ilmu pengetahuan milik Gropak Waton," jawab Wardhana cepat.


"Bagaimana anda bisa membuat sebuah rencana dengan memanfaatkan hal sedetail itu tuan? tanya Arung terkagum.


"Alam menyediakan semuanya untuk dimanfaatkan, kita hanya perlu memilih dan menempatkan sesuai rencana yang akan kita jalankan. Kau harus belajar mengenal alam Arung, aku yakin itu akan berguna juga untuk ilmu kanuraganmu," jawab Wardhana pelan.


"Jadi ini alasan anda bersikeras menjalankan semua rencana besok tanpa menunggu Yang mulia?" Arung mulai mengerti dengan jalan pikiran Wardhana.


"Benar, aku bukan tidak ingin menunggu Yang mulia datang. Fenomena alam ini hanya terjadi sekali dalam beberapa tahun dan besok adalah waktunya. Semua keberhasilan rencana yang ku buat tergantung bantuan alam besok," jawab Wardhana.


***

__ADS_1


Suasana kota Galuh pagi ini terlihat sangat ramai, keramaian yang selalu terjadi sehari setelah purnama mencapai puncaknya itu adalah untuk menyembah dewa matahari.


Penjagaan di beberapa sudut kota Galuh itupun tampak lebih ketat dari biasanya untuk menghindari hal yang tidak diinginkan.


Kondisi kerajaan Saung Galah memang sedikit rumit saat ini, beberapa kelompok pemberontak yang dibiayai oleh selir raja bermunculan dimana mana untuk menolak kenaikan tahta putri mahkota.


Dalam sejarah kerajaan Saung Galah memang belum pernah sekalipun di pimpin seorang ratu, hal inilah yang memicu perdebatan di keraton.


Namun pergerakan para pemberontak pun sedikit terhambat karena tidak mendapat dukungan rakyat Saung Galah, mereka masih percaya dengan kepemimpinan raja yang masih berkuasa.


Diantara ratusan orang yang berkumpul didekat bangunan persembahan, tampak Tungga Dewi dan Arung yang berbaur mengenakan pakaian serba hitam.


Tungga Dewi sesekali melihat keatas langit untuk memastikan dimulainya pergerakan mereka.


"Bersiaplah," bisik Tungga Dewi yang berjalan menjauhi Arung. Tungga Dewi mencari tempat yang sedikit sepi sambil mempersiapkan jurus ruang dan waktunya.


"Kerajaan ini telah membuat dewa murka! tak boleh ada seorang ratu yang memimpin, kalian semua akan menerima akibatnya," Arung tiba tiba berteriak, membuat semua orang terkejut tak terkecuali para prajurit yang berjaga.


Keributan langsung terjadi, beberapa orang bahkan mulai membicarakan putri mahkota Saung Galah yang tak lama lagi akan menduduki singgasana kerajaan.


Namun sebagian masih menatap sinis Arung, dan menganggap hanya kerjaan para pemberontak yang memang tidak menginginkan putri mahkota naik tahta.


Beberapa prajurit langsung berlari untuk meringkus Arung, mereka yakin Arung adalah salah satu pemberontak.


"Tangkap dia!" teriak salah satu komandan pasukan.


"Kemunculanku adalah kehendak dewa untuk memperingatkan kalian! Akan ku perlihatkan apa itu kehendak dewa karena aku adalah peramal tongkat cahaya putih" Arung terlihat menatap langit sebelum melompat menghindari serangan prajurit yang mencoba menangkapnya.


"Peramal tongkat cahaya putih? peramal dalam legenda itu?" terdengar bisik bisik diantara orang yang berkerumun.


Ketika pedang salah satu prajurit Saung Galah hampir mengenai tubuh Arung, dan bertepatan dengan langit yang mulai gelap karena proses gerhana matahari sudah dimulai, tubuh Arung terhisap dalam jurus ruang dan waktu milik Tungga dewi dan muncul kembali di atas bangunan persembahan.


Semua orang yang ada di sana tersentak kaget saat melihat Arung menghilang, mereka mulai sedikit percaya dengan ucapan Arung.


"Terkutuklah kalian yang tidak percaya padaku, akan kutunjukkan kemarahan dewa," kedua tangan Arung terangkat keatas bersamaan dengan tertutupnya matahari perlahan.


Suasana kota Galuh menjadi gelap, membuat semua orang menjadi panik.


"Tenanglah semua! ini hanya kejadian alam biasa, jangan percaya dengan pemberontak itu!" teriak salah satu prajurit.


"Kejadian alam biasa? apa tuan bisa menjelaskan bagaimana kejadian alam itu datang bertepatan dengan kemunculan peramal tongkat cahaya putih itu?" jawab salah satu orang yang berada didekat prajurit itu.


"Apa yang dikatakan peramal itu benar! Yang mulia raja telah melawan kehendak dewa dengan menjadikan putri mahkota sebagai penerusnya, kita harus melawan atau dewa akan marah!" Kertapati yang dari tadi ada diantara kerumunan berteriak.


Suasana kembali memanas, para prajurit yang terus memerintahkan mereka diam dan tidak membicarakan putri mahkota mulai kewalahan menghadapi ratusan rakyat Saung Galah yang mulai termakan ucapan Arung.


"*Aku akan memberi kalian kesempatan sekali lagi, ikuti kehendak dewa. Tak boleh ada seorang ratu memimpin kerajaan in**i. Aku akan muncul kembali jika kalian masih melawannya*," Tubuh Arung perlahan menghilang tepat setelah matahari kembali bersinar.


Semua terdiam setelah Arung menghilang dan tidak muncul kembali. Tak ada satu patah katapun keluar, semua larut dalam pikiran masing masing.


Dengan menghilangnya Arung, jaring jaring jebakan Wardhana mulai tertancap dipikiran rakyat Saung Galah, mereka tidak sadar jika kemunculan Arung hanya sebagian kecil dari rencana besar Wardhana menundukkan Saung Galah dan menancapkan pengaruh Malwageni di tanah Nuswantoro.


Jaladara telah bermain api yang tidak bisa dia padamkan dengan mengusik orang yang dijuluki Naga tidur dari Malwageni.


Arung muncul di dekat hutan yang tidak jauh dari kadipaten Galuh, wajahnya tampak pucat karena menahan tekanan di dalam dimensi ruang dan waktu.


"Gusti ratu," ucap Arung sambil menundukkan kepalanya.


"Kau baik baik saja?" tanya Tungga Dewi khawatir.


"Hamba baik baik saja gusti ratu, maaf membuat anda khawatir," jawab Arung pelan.


"Sebaiknya kita cepat pergi, aku takut mereka mengejar kita sampai ke sini," ucap Tungga Dewi.


"Baik, Gusti Ratu," jawab Arung cepat.


***


"Aku tak akan memaafkan siapapun yang berani menyakiti anakku," ucap Guntoro sambil menatap danau kecil dihadapannya.


"Dan ucapan itu yang juga ingin aku katakan pada anda. Aku bertemu dengan Mentari saat pertama kali menginjakkan kaki di dunia persilatan. Entah berapa banyak bahaya yang kami hadapi sampai hari ini, dan entah berapa kali Tari menyelamatkan hidupku.


Dia adalah orang yang paling penting dalam hidupku melebihi diriku sendiri, apa anda pikir aku akan menyakitinya?" jawab Sabrang pelan.


Guntoro tersenyum kecil, dia benar benar tidak habis pikir dengan rencana yang dipersiapkan alam untuknya.


"Sepanjang hidupku, aku memendam dendam pada trah Dwipa yang telah membantai seluruh leluhurku dan kini anakku justru mencintai keturunan Dwipa, entah apa yang dipersiapkan alam untukku," ucap Guntoro lirih.


"Tak semua trah Dwipa menyetujui tindakan Lakeswara. Naraya yang merupakan anak kandungnya pun mempertaruhkan nyawa untuk menghentikannya," balas Sabrang.


"Jika Naraya saja tak mampu menghentikannya, apa kau berfikir dirimu bisa?"


"Ayahku pernah berkata pada paman Wardhana jika manusia harus memiliki tujuan, itulah yang membedakan kita dengan hewan. Jangan pernah berfikir apa hasil dari sebuah usaha, karena hasil tak pernah berkhianat pada sebuah usaha.


Jika kita selalu berfikir takut untuk berjuang maka kita tak akan pernah memulainya. Aku tak pernah sedikitpun membayangkan apa aku akan bisa menghentikan Lakeswara atau justru aku yang akan mati namun selama nyawa ini masih berada didalam tubuhku, aku akan terus berusaha, bahkan sampai tubuhku hancur sekalipun," jawab Sabrang.

__ADS_1


Guntoro menatap Sabrang sesaat sambil tersenyum kecil.


"Ayahmu sepertinya orang yang sangat menarik dan penuh semangat," balas Guntoro sambil bangkit dari duduknya.


"Aku tak percaya akan mengatakan ini pada keturunan Dwipa...tolong jaga anakku, dia sangat mencintaimu," ucap Guntoro datar.


"Anda akan pergi?" tanya Sabrang.


"Aku sudah terlalu lama menjadi pengecut dan bersembunyi ditempat ini, aku akan pergi ke suatu tempat yang seharusnya ku datangi dari dulu. Aku akan kembali setelah melakukan semua persiapan, kita memerlukan persiapan matang untuk berhadapan dengan orang itu," balas Guntoro sambil melangkah pergi.


"Berhati hatilah nak, aku sempat bermimpi kau mati dengan wajah mengenaskan, semoga itu cuma mimpi," ucap Guntoro dalam hati.


Sabrang menatap kepergian Guntoro sambil menarik nafas, dia merasa lega akhirnya permasalahan Mentari dengan ayahnya selesai.


Sabrang hanya perlu mencari pelaku yang mencoba mencelakai Mentari dengan memanfaatkan kehadiran Guntoro.


"Jadi kau adalah tuan Iblis api? tak kusangka dia memilih seorang anak keturunan trah Dwipa," suara lembut seorang wanita mengejutkan Sabrang.


"Siren? bagaimana kau bisa lolod dari segel kegelapan abadi?" Naga api tiba tiba bereaksi, tubuh Sabrang tiba tiba diselimuti kobaran api.


"Siren?" Sabrang mengernyitkan dahinya.


"Apa kau pikir segel itu bisa menahan kekuatanku sepenuhnya?" ejek Siren.


"Kau!"


"Tenanglah iblis api, aku hanya ingin bicara dengan tuanmu," balas Siren pelan.


"Bicara denganku?" tanya Sabrang bingung.


"Ada hal yang ingin aku sampaikan padamu namun sebelum itu bisakah kau menenangkan iblis itu terlebih dahulu?" pinta Siren.


"Naga Api tenanglah," ucap Sabrang sambil menekan aura yang meluap dari tubuhnya.


"Ah, begini jauh lebih baik," Siren perlahan mendekati Sabrang.


"Aku ingin meminta bantuanmu," ucap Siren tiba tiba.


"Bantuanku? aku tidak mengerti maksudmu," balas Sabrang.


"Untuk sesaat, aku kembali merasakan aura yang paling kubenci, aura yang dulu membunuh tuanku sebelumnya. Lakeswara sudah bangkit, aku bisa merasakannya," ujar Siren.


"Lakeswara? tidak mungkin, mereka tidak mungkin bangkit tanpa jamur emas yang sekarang ada di tanganku," jawab Sabrang tak percaya.


"Iblis api mungkin jauh lebih kuat dariku namun aku memiliki kelebihan lain, aku bisa merasakan semua aura yang ada di dunia ini, dan aku benar benar merasakan aura Lakeswara," jawab Siren sedikit kesal.


Sabrang terdiam, dia masih belum percaya sepenuhnya dengan ruh yang hampir mengambil alih tubuh Mentari.


"Gadis itu harus secepatnya beradaptasi dengan kekuatanku, kekuatanku bisa sedikit membantu kalian menghadapi Lakeswara. Dia harus secepatnya meningkatkan tenaga dalamnya," ucap Siren.


"Apa ini salah satu rencana yang kau buat untuk mengambil alih tubuh Mentari?"


"Kau tidak percaya padaku? jika aku ingin saat ini aku mampu mengambil kesadarannya."


"Lakukanlah jika kau ingin kubakar habis," jawab Sabrang geram.


"Saat Rakin terbunuh, Lakeswara hampir menaklukan dan mengambil semua kekuatan yang kumiliki. Kau boleh tidak percaya padaku namun aku memiliki alasan melakukan ini. Berada dibawah kendali gadis itu jauh lebih baik daripada orang itu," ujar Siren menjelaskan.


"Tak mudah meningkatkan tenaga dalam Mentari dalam dengan cepat saat tubuhnya dipenuhi racun," balas Sabrang.


"Wulan, aku yakin dia mampu melakukannya," ucap Naga Api tiba tiba.


"Baik, kali ini aku ikuti permintaanmu namun jika sampai kau berusaha merasukinya maka aku bersumpah akan membakarmu," ancam Sabrang.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Stonehenge tumpukan batu misterius peninggalan jaman dulu di Inggris yang penuh misteri sampai hari ini


Sepintas, situs ini seperti mainan anak-anak raksasa yang tertinggal di tengah lapangan.


Balok-balok batu besar yang berdiri di sana sini dan dihubungkan satu sama lain dengan balok melintang, persis seperti balok-balok yang disusun oleh anak-anak yang belajar membuat rumah-rumahan.


Tapi tumpukan batu ini bukan sembarang tumpukan, oleh beberapa sarjana, Stonehenge disebut sebagai peramal gerhana matahari di zaman purba.


Pada hari terpanjang di musim panas, bila kita berdiri di titik pusat lingkaran, kita akan melihat Matahari terbit persis melalui “Heel stone”, sebuah batu yang terletak di luar lingkaran.


Baru pada 1901, Sir Norman Locker, seorang ahli bintang Inggris, memberi petunjuk yang masuk akal.


Ia menemukan, garis yang menghubungkan titik pusat Stonehenge dengan Heel stone tepat menunjukkan ke arah Matahari terbit.


Para ilmuan berpendapat jika Stonehenge adalah alat canggih jaman dulu yang digunakan untuk membaca astronomi dan mengetahui kapan terjadinya gerhana matahari.


Sampai saat ini tidak ada penjelasan yang benar benar meyakinkan mengenai fungsi batu itu dan bagaimana orang jaman dulu bisa menghitung pergerakan matahari yang begitu rumit dengan sangat tepat tanpa komputer, semua misteri seolah terkubur bersama yang membangunnya.


Pedang Naga Api sedikit mengadopsi cerita batu ini yang digunakan okeh suku Gropak Waton untuk memperkirakan tertutupnya matahari atau Gerhana Matahari.

__ADS_1


Terima kasih atas Vote dan dukungannya....


__ADS_2