Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Pertarungan di Hutan Kabut Awan IV


__ADS_3

Lamakarate mengumpat dalam hati saat mengetahui pendekar yang ada dihadapannya adalah pengguna Naga api, sebuah pusaka yang ingin dimiliki oleh seluruh pendekar dunia persilatan termasuk dirinya.


Lamakarate bukan tidak percaya akan kemampuannya namun menghadapi Naga api jelas bukan perkara mudah.


"Apa kau juga menginginkan Wentira? aku tidak keberatan berbagi denganmu?". Lamakarate mencoba membujuk Sabrang, dia mencoba menghindari pertarungan.


"Berbagi? apa kau terlihat memegang kendali saat ini?". Ejek Sabrang.


Lamakarate menggeleng pelan, dia melihat Sabrang sama sekali tidak ingin berunding. Dia mulai mempersiapkan kuda kudanya, yang membuat Lamakarate sedikit yakin adalah Sabrang telah bertarung dengan para pendekarnya yang sedikit banyak akan menguras tenaganya.


"Pergilah dan bantu paman Wardhana, aku akan menyusul setelah urusanku selesai". Ucap Sabrang pada Lingga dan yang lainnya.


"Kau terlalu percaya diri anak muda, aku tidak selemah Sakka". Lamakarate mencoba menggertak.


"Jika demikian maka buktikanlah". Sabrang kembali mengeluarkan pedangnya sesaat sebelum bergerak menyerang.


"Berhati hatilah". Ucap Emmy sambil berlari mengejar Lingga dan Arung yang lebih dulu pergi.


"Kecepatannya benar benar mengerikan". Lamakarate terus berusaha menghindari serangan sambil mencari celah untuk menyerang balik.


Dua pedang kembar kebanggaannya terus menangkis Naga api.


Sabrang mengernyitkan dahinya ketika sesuatu mengenai lengannya. Sebuah goresan pedang terlihat ditangannya.


"Bagaiman dia bisa menyerangku?". Gumam Sabrang dalam hati. Dia cukup yakin kedua pedang Lamakarate sibuk menangkis serangannya namun bagaimana lengannya bisa tergores oleh sesuatu.


Sabrang kembali meningkatkan kecepatannya dan terus menekan Lamakarate namun lagi lagi tubuhnya kembali terluka oleh sesuatu.


Lamakarate tersenyum congkak melihat serangannya mampu melukai Sabrang beberapa kali sedangkan Sabrang belum berhasil menyentuhnya.


"Serangannya hampir sama dengan jurus Ajisaka". Gumam Sabrang sambil melompat mundur. Dia ingin mengambil jarak untuk mengamati pedang Lamakarate.


"Aku sudah menawarkan kerjasama padamu namun dengan sombongnya kau menolak, kini rasakan racun yang ada dipedangku". Lamakarate tertawa keras, kali ini dia mengambil inisiatif menyerang lebih dulu.


"Racun?". Sabrang mengeryitkan dahinya sesaat sebelum menyambut serangan Lamakarate.


Benturan tenaga dalam keduanya terjadi diudara. Sabrang menggerakan lengan kirinya untuk menarik Anok yang muncul dibelakang Lamakarate namun belum sempat dia mengendalikan Anom lenganya kembali tergores.


"Bagaimana bisa?". Sabrang menarik lengannya sambil terus menyerang. Dia tadi menggunakan mata bulannya namun sesuatu yang menyerangnya masih belum terlihat.


Kini Lamakarate semakin menggila menekan Sabrang, dia merasa sudah berada diatas angin.


Sabrang menarik pedangnya ketika Lamakarate muncul dihadapannya dengan pedang terhunus namun tiba tiba tubuhnya kaku tak bisa bergerak.


Pedang kembar Lamakarate menusuk tubuhnya tanpa bisa dihindari Sabrang.


Saat Lamakarate mencoba menusukan pedang satunya, Anom muncul diudara dan menyerangnya.


Lamakarate terpaksa mencabut pedangnya dan melompat mundur untuk menghindar.


Sabrang berusaha menggerakan tubuhnya namun tidak berhasil, seluruh tubuhnya tiba tiba kaku seperti membeku.


"Racun kalajengking hitam akan membuat tubuhmu tak bisa bergerak untuk beberapa saat dan membunuhmu perlahan. Dimulai dengan hilangnya seluruh panca indramu sampai akhirnya racun itu mengambil nyawamu". Lamakarate tertawa puas.

__ADS_1


"Sial pedangnya mengandung racun, aku terlalu ceroboh". Umpat Sabrang sambil terus berfikir. Dia mulai merasakan sakit dkepalanya.


"Naga api, lakukan sesuatu". Perintah Sabrang.


"Aku iblis api bukan iblis racun". Naga api terlihat panik saat Sabrang mulai hilang kesadaran dan roboh ketanah.


"Sekarang pusaka Naga api milikku". Lamakarate tertawa puas sambil melangkah mendekati Sabrang.


***


Emmy menghentikan langkahnya ketika dia merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya. Perasaan yang pernah dia rasakan saat kedua orang tuanya terbunuh di hutan ini.


"Emmy apa yang kau lakukan? ayo cepat". Arung berteriak setelah melihat Emmy tiba tiba menghentikan langkahnya.


Emmy menggeleng pelan dan memutar langkahnya dan berlari kearah Sabrang bertarung.


" Emmy". Teriak Arung.


"Maaf kakak, aku tidak ingin kehilangan orang yang kusayang kedua kalinya". Emmy terus berlari tanpa memperdulikan teriakan kakak seperguruannya.


***


Lamakarate memegang pedang Naga api yang diselimuti kobaran api hati hati. Dia menggunakan tenaga dalamnya untuk menekan kobaran api.


Saat dia terus menekan kobaran Naga api tiba tiba pedang ditangannya menghilang dan berubah menjadi api.


"Bagaimana...". Belum selesai dia menyelesaikan ucapannya Anom melesat muncul didekatnya dan langsung menyerang.


Lamakarate memutar pedang kembarnya untuk menangkis serangan Anom. Tubuhnya terdorong mundur akibat efek benturan dengan Keris penguasa kegelapan.


"Bagaimana dia bisa lolos dari racunku?". Lamakarate menelan ludahnya.


"Ajian pelebur sukma? bagaimana kau bisa menguasainya nak?". Anom terkejut saat mengenali ajian milik Mentari yang digunakan Sabrang.


"Naga api selalu mengejekku sebagai pendekar peniru, tak kusangka kali ini kemampuan meniruku dapat menyelamatkan nyawaku walau sementara waktu". Ucap Sabrang pelan. Kini aura ditubuhnya berubah menjadi hitam akibat luapan racun yang diikat oleh tenaga dalamnya.


Sabrang menggunakan Cakra manggilingan untuk menarik energi Banaspati, dia ingin menyelesaikan pertarungan secepatnya karena dia hanya meniru ajian milik Mentari dan hanya bisa menggunakannya sementara waktu.


"Kita lihat apa yang menyerangku tadi". Sabrang menajamkan matanya sebelum bergerak menyerang.


Lamakarate yang masih bingung dengan keadaan yang dilihatnya menangkis serangan Sabrang sambil sesekali menyerang.


Dia terlihat menyentuh gagang pedangnya dan mengeluarkan semacam benang yang sangat halus dan kembali melukai Sabrang.


"Senjata rahasia?". Kali ini mata bulan dapat melihat serangan Lamakarate.


Sabrang menggerakan lengan kirinya untuk memunculkan puluhan energi keris diudara.


Dia bergerak maju sambil menggerakan keris keris yang berputar diudara. Saat benang halus kembali keluar dari pedang kembar Lamakarate, dua buah keris muncul dihadapannya dan menangkis senjata rahasia itu.


Raut wajah Lamakarate menjadi buruk saat senjata rahasianya berhasil dipatahkan.


"Mata itu bisa melihat senjata rahasiaku yang bahkan tidak bisa dilihat Sakka sekalipun". Lamakarate terus terdesak mundur, kini jarak mereka berdua semakin dekat.

__ADS_1


Sabrang melepaskan aura Banaspati saat berada didekat Lamakarate untuk memperlambat gerakannya. Lengan kirinya bergerak kesamping dan menarik puluhan energi keris yang muncul diudara. Ketika Lamakarate mencoba menangkis serangan itu, Sabrang melepaskan tinju kilat hitamnya yang membuat Lamakarate terdorong mundur.


"Kau pikir aku akan terkena serangan yang sama untuk kedua kalinya?". Sabrang bergerak kesamping dan mengayunkan pedangnya sekuat tenaga. Ketika Lamakarate terfokus pada serangan pedang Naga api, Energi keris menghantamnya dari udara.


"Keris itu bisa muncul dari mana saja?". Lamakarate masih mencoba menghindar sekuat tenaga ketika Naga api muncul dihadapannya.


"Bukankah pedang ini?". Lamakarate cukup yakin pedang Naga api ada digenggaman Sabrang, bagaiman kini muncul dihadapannya.


Sabrang yang sudah bergerak kebelakangnya melepaskan kembali tinju kilat hitam ketubuh Lamakarate, sedangkan Pedang naga api yang melayang diudara menyerang dari depan.


Dua serangan dahsyat dari dua sisi ditutup dengan energi keris penghancur yang tepat mengenai kepalanya.


Tubuhnya roboh ketanah setelah menerima serangan bertubi tubi.


Sabrang mengatur nafasnya sesaat sebelum tubuhnya ikut roboh ketanah.


Emmy yang baru datang dan melihat Sabrang tak bergerak, berteriak kencang sambil berlari kearah pemuda itu.


"Racun kalajengking hitam?". Wajah Emmy berubah pucat, dia berlari mencari tumbuh tumbuhan untuk digunakan sebagai penawarnya.


Tubuh mulusnya terlihat berdarah karena berlari masuk kesemak berduri.


"Bertahanlah bodoh, bertahanlah". Air mata mulai menetes dikedua bola mata indahnya.


Setelah mendapatkan tumbuhan yang dicarinya dia kembali berlari tanpa memperdulikan rasa sakit ditubuhnya.


Pandangan mata Emmy menyapu seluruh area hutan mencari bebatuan untuk menumbuk tanaman penawar yang dibawanya namun tidak ada.


Gadis cantik itu memasukan tanaman yang ada ditangannya kemulut untuk melembutkannya. Setelah dirasa sudah halus dia mendekati Sabrang.


Untuk sesaat, Emmy mematung ragu, sebelum dia mendekatkan wajahnya kewajah Sabrang dan memasukan penawar melalui mulutnya.


"Bertahanlah bodoh!". Emmy meminumkan air setelah ramuannya masuk.


Gadis itu terus menangis disamping tubuh pemuda yang untuk pertama kali membuatnya merasakan jatuh cinta.


***


"Maaf aku terlambat, tugas yang anda berikan benar benar membuatku pusing". Ciha muncul saat Wardhana sedang mengobati lukanya.


"Apa kau menemukan yang kuminta?". Tanya Wardhana pelan.


Ciha mengangguk pelan sambil menyerahkan gulungan sudah ditulisnya.


"Seperti dugaan anda, tuan Panca meninggalkan jejak di sekitar sekte Naga langit. Gambaran gerbang menuju kota emas ada gulungan itu namun...". Ciha menghentikan ucapannya.


"Namun?". Wardhana mengernyitkan dahinya


"Jika benar apa yang dikatakan tuan Panca, gerbang kota Wentira dijaga oleh 9 pendekar terkuat dari seluruh daratan Nuswantoro".


Wardhana menarik nafas panjang, belum hilang rasa sakit ditubuhnya mereka harus kembali berhadapan dengan musuh yang jauh lebih kuat. Dia menoleh kearah Lingga untuk meminta pendapat.


"Sebaiknya kita buka gerbang itu sambil menunggu tuanmu". Jawab Lingga pelan.

__ADS_1


"Baiklah, mari kita lihat dimana letak gerbang kota emas Wentira". Wardhana membuka gulungan perlahan.


__ADS_2