Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Naga Api vs Laborombonga


__ADS_3

Sabrang menoleh sesaat kearah pertarungan Lingga dan empat pendekar Manca api sebelum melesat kearah Bahar. Sabrang cukup lega karena Lingga mampu mengimbangi para pendekar yang menyerangnya.


Puluhan pendekar berusaha melindungi Bahar namun Arung ikut menyerang. Dalam sekejap terjadi pertarungan besar dilereng gunung lompobattang.


Jantung Bahar tiba tiba berdesir ketika pandangan mata Sabrang menatapnya disela sela pertarungan. Mata biru itu seolah mengatakan "Kau berikutnya".


"Mata bulan? Bagaimana pendekar itu bisa membangkitkan mata yang hanya dimiliki oleh suku Iblis petarung?".


"Merapat dipunggungku". Perintah Sabrang pada Arung.


Arung yang menyadari perubahan suhu udara langsung melesat dan beradu punggung dengan Sabrang.


Lingga yang sudah paham akan aura panas itu memancing para pendekar untuk sedikit menjauh. Dia tidak ingin ikut terbakar kobaran Naga api.


"Kalian semua dalam masalah". Lingga melompat mundur sesaat sebelum memutar pedangnya.


"Apa yang kau rencanakan?". Tanya Arung sambil terus menangkis serangan yang terarah padanya.


Sabrang tidak menjawab, dia terus memancing puluhan pendekar Manca api terus mendekat.


Arung mengernyitkan dahinya ketika melihat pedang digenggaman Sabrang menghilang dan muncul diudara sambil berpurar kencang.


Bahar yang melihat pedang Naga api muncul diudara mencoba melindungi teman temannya namun Anom muncul tepat dihadapannya.


Bahar terpaksa nelompat mundur untuk menghindari pusaka itu.


"Mengendalikan dua pusaka sekaligus? bagaimana bisa?".


Aura merah darah menyelimuti area lereng gunung ketika tangan Sabrang terakngkat keudara.


"Badai api neraka". Puluhan api berbentuk pedang menghantam para pendekar yang mengelilingi Sabrang.


Arung tak bisa berkedip ketika menyaksikan puluhan pendekar Manca api yang juga merupakan pendekar pengguna api terbakar menjadi debu, bahkan pedang mereka ikut meleleh.


Ledakan ledakan yang memekakan telinga terdengar dipenjuru gunung lompobattang.


"Banaspati?". Bahar menelan ludahnya.


Beberapa pendekar yang menyerang Lingga hilang konsentrasi saat menyaksikan teman temannya terbakar api.


"Saat konsentrasi mu hilang saat itulah kekalahanmu". Lingga memutar pedangnya sebelum merapal jurus pedang tunggal terbang kelangit.


Kecepatan gerakan pedangnya membuat pendekar Manca api tak dapat menghindar. Mereka tumbang saat tubuh Lingga bergerak melewatinya.


Sabrang tak berhenti disitu, dia tiba tiba melesat kearah Bahar yang masih mematung memandangnya.


Bahar menangkis serangan Sabrang dengan pedang kebanggannya.


Tubuhnya terdorong mundur beberapa langkah, lengannya bergetar merasakan tumburan tenaga dalam saat pedangnya berbenturan dengan Naga api.


"Dia kuat sekali". Gumam Bahar dalam hati. Bahar memperkirakan ilmu kanuragan Sabrang setingkat dengan gurunya yang merupakan ketua sekte Manca api yang juga merupakan pendekar terkuat Celebes saat ini.


"Tak kusangka kau cepat juga". Sabrang meningkatkan kecepatannya, dia benar benar ingin memberikan peringatan pada semua pendekar daratan Celebes untuk tidak membuat masalah dengannya.


Dalam sekejap Bahar terdesak mundur tanpa bisa menyerang balik.

__ADS_1


"Jadi ini pendekar pengguna naga api, pusaka terkuat saat ini". Bahar terus berusaha menghindar.


Bahar benar benar dibuat repot oleh serangan Sabrang, selain harus berusaha menghindar serangan cepat pedang naga api konsentrasinya terbelah karena harus menghindar dari serangan Anom yang bisa muncul dari mana saja.


Jika bukan karena kemampuannya cukup tinggi sudah dari tadi dia roboh ketanah.


"Anom". Ucap Sabrang saat dia berhasil mendekati Bahar.


Bahar menoleh kesegala arah, dia terus berusaha memprediksi dari arah mana Anom akan menyerangnya.


Sabrang terus memperpendek jarak sambil sesekali mengayunkan pedangnya. Mata bulannya sudah mengunci semua gerakan Bahar.


Beberapa tebasan pedangnya mampu melukai tubuh Bahar.


"Dia sudah kalah". Ucap Lingga pelan.


Arung mengangguk setuju, saat ini tak ada harapan lagi bagi pendekar muda terbaik milik Manca api untuk menang namun yang membuat Arung heran adalah Sabrang tidak segera menyelesaikan pertarungan yang seharusnya bisa dia selesaikan dengan cepat.


"Apa yang dia rencanakan sebenarnya?".


"Anak itu sedang meruntuhkan semua kebangaan yang selama ini dimiliki temanmu. Dia mengirim ancaman pada kita semua termasuk diriku untuk tidak mencari masalah dengannya. Itu dapat dipahami karena dia tidak ingin diganggu selama berada di Celebes".


"Jadi dia sekejam itu?".


"Untuk anak yang semua kebahagiaan dan kebanggannya direnggut paksa saat dia masih kecil adalah hal wajar jika dia menjadi kejam. Suka tidak suka saat ini dendam masa lalu membawanya menjadi pendekar terkuat".


"Cepat selesaikan! Matamu sudah terlalu lama kau gunakan, kita tidak tau musuh sekuat apa yang akan kita hadapi didepan sana". Naga api berteriak dipikiran Sabrang.


Sabrang memejamkan matanya sesaat sebelum dia membukanya kembali. Kali ini matanya semakin bersinar terang.


Gerakan Sabrang kali ini sulit terlihat oleh Bahar, beberapa serangan beruntun berhasil mengenainya.


Ketika tubuhnya terdorong mundur, dia merasakan Anom muncul dibelakangnya. Bahar memutar tubuhnya diudara berusaha menghindar namun betapa terkejutnya ketika Sabrang sudah berada dihadapannya dengan pedang terhunus.


"Jadi inilah akhir hidupku? mati ditangan pengguna Naga api tidak terlalu buruk bagiku. Maafkan aku kawan, aku hanya mengikuti perintah Sekteku". Gumam Bahar sambil menoleh kearah Arung, Sahabatnya dari kecil.


"Ku mohon jangan bunuh dia". Teriak Arung saat melihat tatapan mata menyesal dari Bahar.


"Sudah terlambat kawan". Ucap Bahar sambil tersenyum bahagia. Disaat terakhirpun sahabatnya masih berusaha melindunginya.


Saat pedang Naga api hampir mengenainya, bahar memejamkan matanya. Dia siap menahan rasa sakit akibat terbakar api.


Namun tiba tiba bukan rasa sakit yang dia rasakan tapi seluruh tubuhnya menjadi sangat dingin.


Ketika dia membuka matanya, bongkahan es sudah menyelimuti tubuhnya.


"Perubahan dari energi api ke es dalam hitungan detik? Pantas saja pusaka yang paling sulit ditaklukan itu memilihmu".


Tubuh bahar jatuh ketanah dalam keadaan membeku.


"Aku tidak membunuhmu karena Arung, namun jika lain kali kau masih menggangguku, seribu Arung pun tak akan bisa menahanku!". Ancam Sabrang. Keris penguasa kegelapan meluncur cepat ketubuh Sabrang dan menyatu menjadi aura hitam pekat.


"Terima kasih". Arung menundukan kepalanya saat berada didekat Bahar.


"Kenapa kau menyelamatkanku?". Tanya Bahar datar.

__ADS_1


"Kita memang berbeda tujuan namun kau tetap sahabatku. Ayo kita pergi, aku takut terjadi sesuatu pada guruku". Ucap Arung.


"Kami hampir menemukan Wentira, kota emas yang melegenda itu. Ketua ingin menguasai sendirian dengan menaklukan sektemu. Ku harap kau bisa menghentikan ambisi besar guruku". Ucap Bahar tiba tiba.


"Terima kasih". Arung berhenti sejenak sebelum melesat pergi.


"Ayo paman, kit harus cepat". Ajak Sabrang pada Wardhana dan Lingga.


"Aku yang harus berterima kasih padamu, mungkin pengguna Naga api itu bisa menghentikan guru'. Gumam Bahar yang masih membeku.


***


"Apa yang sebenarnya kau rencanakan Sakka? apa kau tau jika kau saat ini menyerang sekte yang selalu mendukungmu? ambisimu merusak hubungan baik kita". Ucap Malewa geram.


Dia melihat kesekelilingnya, bangunan bangunan telah rusak parah dan terbakar. Sebagai pengguna jurus api bukan hal sulit bagi Manca api membakar apa saja.


Sebenarnya sekte Naga langit mampu mengimbangi kekuatan Manca api namun mereka tidak siap saat diserang karena agenda hari ini adalah pertemuan dia dengan Sakka namun tiba tiba ratusan pendekar Manca api menyerang cepat.


Malewa dan para pendekarnya tidak siap menerima serangan tiba tiba itu.


"Kau jangan dendam padaku Malewa, jika Manca api kuat dan dapat menguasai daratan Celebes kau akan kuberi kedudukan penting asal kau menyerah sekarang". Ucap Sakka tertawa licik.


"Ambisimu membuatmu tersesat terlalu jauh". Ucap Malewa pelan sambil mengatur nafasnya. Tetesan darah terlihat dari balik bajunya menandakan dia terluka parah.


"Aku terpaksa harus membunuhmu". Ujar Sakka menyesal. Dia melepaskan aura hitam yang jauh lebih besar untuk menekan Malewa dan seluruh pendekar yang ada didekatnya.


Saat Sakka mulai bergerak dan Malewa siap menerima serangan dengan sisa tenaga dalamnya tiba tiba mereka menghentikan langkahnya saat merasakan aura besar menekan seluruh area sekte Naga langit.


Wajah mereka berdua menjadi pucat saat aura besar itu semakin menekan.


"Energi Banaspati?". Ucap mereka berdua serentak.


Wajah mereka menjadi lebih pucat saat sesosok tubuh tiba tiba muncul ditengah tengah pertarungan mereka dengan pedang yang diselimuti kobaran api.


"Siapa diantara kalian yang bernama Sakka yang merupakan ketua Manca api?". Tanya Sabrang dingin.


"Siapa kau seben....". Sakka menghentikan ucapannya saat sebuah keris melesat dari arah belakangnya.


Sakka melompat diudara sambil menyelimuti tubuhnya dengan tenaga dalam yang besar.


"Sekali lagi aku bertanya, siapa diantara kalian yang bernama Sakka?". Sabrang mengangkat lengannya dan menciptakan puluhan keris diudara yang siap menyerang kapanpun.


Salah satu pendekar Manca api bergerak menyerang karena melihat Sakka diserang.


"Mundur!". Teriak Sakka.


Belum sempat pendekar itu mengerti ucapan Ketuanya, tubuhnya sudah berlubang terkena keris yang mucul dihadapannya.


"Apakah pendekar Celebes ada yang sekuat ini?". Gumam Sakka dalam hati.


"Siapa pendekar muda ini? kekuatannya sangat mengerikan". Malewa menelan ludahnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Vote....

__ADS_1


__ADS_2