
"Bagaimana anda bisa tau dia akan melewati tempat ini tuan?" tanya Candrakurama bingung, dia merasa Wardhana terlalu percaya diri karena begitu banyak jalan keluar dari keraton untuk melarikan diri.
"Aku telah menempatkan pasukan di beberapa titik jalan keluar untuk mengarahkannya kemari.
Memang itu belum cukup untuk menggiring dia kesini namun alam akan membantu kita kali ini," jawab Wardhana pelan.
"Alam?" Candrakurama mengernyitkan dahinya.
"Keraton ini dikelilingi oleh hutan namun hanya jalur ini yang hutannya langsung menghadap jurang. Aku yakin dia akan terluka karena lawan yang dihadapinya adalah Rubah Putih. Melarikan diri dengan tubuh terluka akan sangat mudah dikejar, hanya jalur ini yang bisa membantunya karena jurang dan lebatnya hutan ini akan memudahkan dia bersembunyi, itulah yang ku incar," jawab Wardhana.
"Jika dia tidak tau jalur ini?" Candrakurama kembali bertanya.
"Setiap orang akan memastikan terlebih dahulu jalur melarikan diri sebelum menyusup ketempat asing, manusia cenderung memperhitungkan semua kemungkinan untuk memastikan rencananya berhasil, itulah kelebihan sekaligus kelemahan manusia yang jika dimanfaatkan akan sangat menguntungkan.
Aku yakin mereka telah mengamati keraton ini sebelum menyusup dan sama seperti pikiranku, jalur inilah yang akan mereka pilih jika terjadi sesuatu," balas Wardhana.
"Anda bisa memikirkan sampai sedetail ini?" Wardhana menggeleng pelan.
"Pengalamanku dalam beberapa kali peperangan mengajarkan itu, sebuah pasukan biasanya justru kalah oleh hal hal kecil yang luput dari pengamatan. Kau harus memastikan semuanya sampai agar bisa memenangkan peperangan."
"Lalu kita akan mengikuti dia? akan sangat sulit mengikuti pendekar Masalembo dari jarak dekat, dengan ilmu kanuragan yang tinggi, mereka akan dengan mudah menyadari telah diikuti," ucap Candrakurama.
"Aku telah memasang segel udara disepanjang hutan ini, kita hanya perlu mengikuti dari jauh. Tugasmu adalah melindungiku dan memastikan tak ada gangguan selama pengejaran, karena aku akan terus melebarkan area segel udara untuk memastikan tidak kehilangan jejaknya.
Dan ingat satu hal, kita hanya perlu mengetahui letak persembunyiannya, setelah itu kita kembali ke keraton dan menjalankan rencana berikutnya," balas Wardhana.
"Apa yang sebenarnya anda rencanakan tuan?"
"Aku akan mencoba menghancurkan mereka perlahan namun jika rencanaku gagal, setidaknya mereka akan terkurung sementara waktu," jawab Wardhana.
"Terkurung?" Belum sempat Wardhana menjawab, sesosok tubuh melesat tak jauh dari tempat mereka bersembunyi.
Wardhana terlihat menahan nafas sejenak, dia seolah sedang mengumpulkan keberaniannya karena saat ini dia sedang berurusan dengan sebuah organisasi paling berbahaya di dunia.
"Sekarang!" Wardhana bergerak keluar dari persembunyian sambil terus merapal segel udara untuk memastikan tidak kehilangan jejak.
"Ikuti tanda yang kuberikan, berhenti jika aku berhenti," ucap Wardhana pada Candrakurama yang bergerak dibelakangnya.
***
Sabrang tersenyum kecut saat mengetahui kamarnya hancur, dia tak menyangka efek serangannya bisa menghancurkan hampir separuh kamarnya.
"Semoga ini bukan pertanda buruk," gumamnya dalam hati.
Sabrang melangkah keluar sambil memperhatikan sekitarnya, dia ingin segera menemui Wardhana untuk menanyakan rencananya.
Namun baru beberapa langkah dia berjalan, Petra tiba tiba bangkit lagi dan menyerangnya.
Sabrang melepaskan aura dingin sambil membentuk dinding es, kecepatan Petra yang meningkat cepat membuat Sabrang yakin tidak bisa menghindar.
Suara ledakan mengiringi hancurnya dinding es yang mengelilingi Sabrang, dia tersentak kaget saat dua pendekar lainnya bergerak menyerang diantara serpihan es.
Sabrang menarik pedang Naga Api dari tubuhnya untuk menangkis serangan yang terarah padanya.
__ADS_1
Dia menoleh kearah Petra yang juga ikut menyerang, mata bulan sebenarnya mampu membaca gerakan Petra namun karena Sabrang dalam posisi tidak siap, tubuhnya telat bereaksi.
Sabetan pedang Petra tepat mengenai tubuhnya, percikan darah yang keluar dari sayatan ditubuhnya tampak menyembur di udara bersamaan dengan tubuhnya yang terpental sebelum berhenti membentur bangunan didekatnya.
"Bagaimana mereka bisa bangkit lagi?" Sabrang yang mencoba mengatur nafasnya terpaksa kembali bergerak karena tiga pendekar yang kini matanya terlihat semakin memerah terus menyerangnya tanpa jeda.
Luapan aura dari tubuh mereka terlihat tidak wajar, mata bulan Sabrang melihat aura itu bercampur dengan darah segar.
"Jurus ini seperti ajian pembakar sukma," ucapnya dalam hati.
Area pertarungan menjadi luas, Sabrang tak bisa lagi menahan kekuatannya kali ini. Lawan yang dihadapinya jauh lebih kuat dan terlihat tidak memiliki batas stamina. Mereka bergerak tanpa lelah, dengan reflek yang jauh lebih cepat.
Beberapa kali Sabrang mencoba menekan salah satu lawannya untuk mengurangi tekanan namun dua pendekar lainnya seolah tau pergerakan temannya, mereka langsung melindungi sambil menyerang, membuat Sabrang terpaksa kembali menjauh.
Suara pedang beradu terus terdengar mengiringi serpihan es yang hancur di udara, walaupun Sabrang mulai bisa mengimbangi kecepatan lawannya namun dia masih terlihat hati hati untuk menyerang balik.
"Jika kau tidak segera melumpuhkannya, keraton ini akan hancur, aku tidak tau jurus apa yang mereka gunakan namun dengan menahan kekuatanmu, kau akan terus terdesak dan area pertarungan akan semakin luas," ucap Naga Api tiba tiba.
"Aku tau, aku sedang mencari celah, formasi yang mereka gunakan benar benar saling menutupi celah masing masing," Sabrang kembali menarik energi keris yang berputar mengikutinya untuk menyerang salah satu pendekar yang mendekat. Saat pendekar itu sibuk menangkis kerisnya, Sabrang meningkatkan kecepatannya, dia bergerak mendekat dan memutar sedikit tubuhnya.
"Tarian Iblis Pedang," Sabrang mengincar celah pendekar itu yang sedikit terbuka, namun belum sempat serangannya mengenai sasaran, Petra kembali menangkis dan menyerang balik yang membuat Sabrang kembali terdorong mundur.
"Dua serangan? mereka saling berpindah posisi setelah melepaskan dua serangan padaku, pantas saja gerakan mereka sulit terbaca," gumam Sabrang dalam hati.
"Jika perkiraanku benar maka saat mereka kembali berpindah posisi, akan ada jeda satu detik saat pergeseran untuk menghabisi mereka semua dalam satu serangan.
Paman, maaf jika aku sedikit merusak bangunan keraton, mereka lawan yang tidak bisa dihadapi dengan mudah," Sabrang tiba tiba membentuk puluhan dinding es untuk melindungi tubuhnya, dia ingin mengulur waktu untuk menggunakan ajian inti lebur saketi tingkat II.
Kecepatan Sabrang semakin meningkat saat ajian inti lebur saketi tingkat dua mulai menarik energi murninya, perlahan namun pasti, dia mulai bisa mengendalikan situasi. Beberapa serangannya mulai menekan lawan.
Ketika pedangnya hampir mengenai lawan, seperti yang terjadi sebelumnya, dua pendekar lain bergerak melindungi.
Benturan pedang kembali terjadi namun kali ini Sabrang tidak terdorong sedikitpun.
"Sekarang," Tubuh Sabrang tiba tiba diselimuti kobaran api, energi Naga Api yang bercampur dengan energi murni membuat tanah bergetar, beberapa reruntuhan bangunan bahkan melayang di udara.
Saat pendekar bunga darah hendak berpindah posisi, Sabrang sudah berada didekatnya, dia melepaskan aura yang lebih besar untuk memperlambat gerak musuh, dia menarik pedangnya dalam posisi tubuh sedikit menunduk.
"Pedang jiwa tingkat V : Gelombang penghancur sukma," para pendekar bunga darah tersentak kaget saat Sabrang seolah menembus tubuh mereka.
Suara ledakan besar yang menghancurkan sebuah bangunan terdengar di seluruh keraton bertepatan dengan robohnya tubuh dua pendekar itu dan terbelah menjadi dua.
Petra yang berhasil menghindar tak menyerah begitu saja, dia melompat mundur namun gerakannya terhenti di udara ketika Sabrang menusuk tubuhnya dari belakang.
"Masalembo benar benar gila," Sabrang mencabut pedangnya dan melompat mundur. Dia takut mereka akan bangkit kembali.
"Jurus Iblis melepas sukma, sebuah jurus yang akan membuat tubuh pengguna hancur dengan menarik paksa tenaga dalam tanpa sisa. Jurus itu diciptakan oleh Arjuna, kuharap kau mulai terbiasa karena hampir semua pendekar Masalembo menguasai jurus itu untuk situasi terdesak," Rubah Putih terlihat berdiri di atas atap sambil tersenyum pada Sabrang.
"Bagaimana dengan lawan yang dihadapi kakek?" tanya Sabrang bingung saat tak ada luka sama sekali ditubuh Rubah Putih.
"Seperti rencana Patih mu, aku hanya membunuh satu orang," jawab Rubah Putih.
Sabrang mengernyitkan dahinya bingung, dia benar benar tidak tau batas kemapuan Rubah Putih, dengan lawan yang sempat membuatnya terpojok, Rubah Putih terlhat mudah mengalahkannya.
__ADS_1
"Dengan dikirimnya lima pendekar Bunga Darah Masalembo, menandakan mereka sudah bergerak, kita tunggu apa rencana Wardhana. Setelah semuanya jelas, aku akan melatihmu dan tidak boleh kembali tertunda," ucap Rubah Putih yang dibalas anggukan oleh Sabrang.
***
Wardhana menghentikan langkahnya saat merasakan buruannya berhenti.
"Dia berhenti," ucap Wardhana pelan.
"Apa mungkin dia berhenti untuk mengobati lukanya?" tanya Candrakurama.
"Tidak, energinya menghilang, sepertinya dia telah menembus dimensi ruang dan waktu.
"Ikuti aku, kita akan mendekati titik hilangnya pendekar itu perlahan, tetap waspada karena mereka bisa menyerang dari mana saja," pinta Wardhana pelan.
Mereka melompat keatas pohon, dan bergerak senyap diantara pepohonan.
Wajah Wardhana berubah seketika saat melihat lubang besar ditengah hutan yang dikelilingi bangunan bangunan yang sudah hancur, persis seperti bekas sebuah desa.
"Apa anda mengenal tempat ini?"
"Desa Trowulan, disinilah aku dilahirkan sebelum bertemu dengan Yang mulia Arya Dwipa," jawab Wardhana pelan.
"Desa Trowulan?" Candrakurama mengernyitkan dahinya.
"Dulu, sebelum dihancurkan oleh Majasari. Di pinggir danau itulah aku pertama kali bertemu Yang mulia," balas Wardhana pelan, dia kembali teringat saat pertama kali bertemu Arya Dwipa yang terkepung pasukan Majasari.
"Jadi disini tempat persembunyian mereka?"
"Aku tidak tau tapi pendekar itu menghilang tiba tiba di sini," balas Wardhana sambil mengamati tempat bermain masa kecilnya itu.
"Tempat ini sudah hancur, danau itupun sudah mengering, sudah lama sekali sejak saat itu," gumam Wardhana dalam hati.
Wardhana mengernyitkan dahinya saat melihat keanehan dari lubang besar yang dulu adalah sebuah danau.
"Danau itu?" Wardhana melihat sekelilingnya, sebelum kembali menatap danau kering itu kembali.
"Sepertinya memang ini tempatnya, aku harus memastikan sesuatu terlebih dahulu. Kembalilah ke keraton dan katakan pada Ciha untuk mempersiapkan segel yang kuminta, aku akan kembali setelah memastikannya," ucap Wardhana berbisik.
"Tapi tuan, akan sangat berbahaya jika mereka menyadari kehadiran anda, sebaiknya aku tetap berada di sini" jawab Candrakurama.
"Tak perlu khawatir, segel udaraku sudah menyelimuti tempat ini, sedikit saja mereka bergerak, aku akan menyadarinya. Pergilah, segel itu sangat penting untuk rencanaku kali ini, pastikan Ciha sudah menyempurnakannya," balas Wardhana.
Candrakurama terlihat ragu sebelum mengangguk pelan.
"Baiklah, mohon berhati hati tuan, mereka bukan lawan yang bisa dihadapi sendirian," ucap Candrakurama sebelum melesat pergi.
"Baiklah, mari kita lihat apa yang bisa kutemukan," Wardhana melompat turun dari pohon dan mendekati danau itu perlahan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sempat terjadi kehebohan kemarin malam karena PNA sempat di plagiat dengan judul yang sama, namun MT menjanjikan akan menindak. Terima kasih buat teman teman yang sudah membantu melaporkan novel itu.
Sekali lagi terima kasih....
__ADS_1