Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Runtuhnya Kerajaan Malwageni


__ADS_3

Di suatu tempat di dekat hutan kematian, tepatnya di lereng gunung merapi. Seorang wanita setengah baya tampak berlari, tanpa memperdulikan darah yang menetes hampir di sekujur tubuhnya.


Wanita itu terlihat menggendong bayi yang sedang menangis. Sesekali badannya terhuyung karna kehilangan banyak darah.


Dia memutuskan istirahat sejenak, matanya terpejam melawan rasa sakit di tubuhnya dan bergumam, "Jika perkiraanku tepat tidak lama lagi aku akan sampai di Sekte Pedang naga api."


Wanita itu menatap sedih bayi yang digendongnya dan berkata, “Maaf pangeran ibu tidak dapat merawatmu. Aku harap suatu saat kau tidak membenci ayah dan ibumu karena, kami sangat menyayangimu." Tiba-tiba air mata menetes dari matanya.


“Berhenti di sana Ratu!! Menyerahlah dan serahkan bayi itu pada kami!” seru seorang dari lima pendekar menengah yang sudah ada dihadapannya. Disusul beberapa puluh prajurit di belakangnya.


“Kau sudah tidak dapat melarikan diri lagi ratu," ujar salah satu pendekar seolah mengetahui isi hati Ratu malwageni itu yang sedang mencari cara melarikan diri.


“Apa dosa bayi ini pada kalian? Jika kalian ingin membunuhku, aku tidak akan melawan, tetapi kumohon ampunilah bayi ini,” ucap Sekar Pitaloka memohon untuk keselamatan anaknya. Yang ada di pikirannya adalah pangeran Sabrang selamat walaupun, nyawanya taruhannya.


“Hahahaha aku tidak menyangka hari ini melihat seorang ratu malwageni memohon kepadaku, tapi perintah kami sudah jelas lenyapkan seluruh keturunan Arya Dwipa.”


Seorang pendekar yang terlihat paling tinggi ilmunya segera bergerak maju. Dia mengeluarkan pedangnya kemudian merapal sebuah jurus dan berseru, “Berikan nyawamu sekarang!”


Sekar Pitaloka menangis putus asa karena, sepertinya perjuangannya akan berakhir di sini. Ada rasa bersalah di hatinya bahkan, di saat terakhir hidupnya dia tidak dapat menyelamatkan putranya.


Terbayang di pikirannya bagaimana pengorbanan pasukan angin selatan dan Patih Wijaya melindunginya dan putra mahkota hingga gugur di tangan para pendekar sekte Iblis hitam dan lembah tengkorak.


Saat semua harapan hampir sirna tiba tiba sesosok bayangan menahan serangan pedang pendekar tersebut dengan mudah. Semua terkejut dibuatnya karna mereka tidak merasakan hawa kehadirannya.


“Siapa yang lancang berani mencari masalah di Sekte Pedang naga api?“ tanya seorang pria paruh baya yang muncul sambil membawa kayu bakar beberapa ikat di pundaknya.

__ADS_1


“Salam senior, maaf telah lancang mengganggu senior,” pendekar tersebut memberi salam. Dia paham orang yang berada di hadapannya adalah pendekar pilih tanding.


Bahkan sebelum muncul di hadapannya, dia tidak bisa merasakan hawa kehadiran lelaki itu. Akan sangat merepotkan jika harus berurusan dengan orang tersebut.


“Perkenalkan namaku Sudita, tidak ada maksud sedikit pun menyinggung senior. Aku akan pergi baik baik dengan membawa wanita itu. Harap senior berbaik hati.”


Pria paruh baya tersebut menoleh kepada sekar pitaloka, “Apakah Nyonya tersesat di sini atau ada keperluan dengan Sekte kami?” tanya pria itu dengan sopan.


Sekar Pitaloka mengeluarkan sebuah giok dan menunjukannya kepada pria tersebut. Belum sempat Sekar pitaloka menjawab, pria tersebut sudah menoleh kembali kepada Sudita.


“Pendekar muda, nyonya ini adalah tamu kami. Aku tidak dapat membiarkan kalian membawanya. Anggap saja kalian tidak melihatnya dan silahkan tinggalkan tempat ini!” seru pria tersebut dengan ramah.


“Maaf senior kami benar benar harus membawa wanita itu, aku harap senior mengerti,” jawab Sudita sambil tersenyum kecut. Dia paham bahwa masalah ini lebih rumit dari yang diperkirakan.


“Jika demikian maka, aku akan mengusir kalian dengan paksa.” Pria tersebut berkata dan memungut ranting di tanah lalu meletakan pada kayu bakar yang ada di pundaknya.


Sudita kaget bukan main, melihat jurus orang dihadapannya. Dia sangat mengenali jurus tersebut dan hanya ada beberapa orang yang menguasai jurus legendaris tersebut.


“Tidak salah lagi aura ini adalah Jurus Pedang api abadi. Jangan-jangan dia adalah salah satu ketua sekte Pedang naga api,” gumamnya penuh khawatir.


Kehebatan jurus Api abadi sudah sangat dikenal di dunia persilatan. Bahkan sekte Iblis Hitam pun berpikir berkali kali untuk mencari masalah dengan sekte Pedang naga api.


“Mundur Semua!” perintah Sudita kepada pendekar lainnya. Belum selesai berbicara pria paruh baya tersebut sudah mengayunkan rantingnya.


Hawa panas keluar dari ranting tersebut melesat cepat ke arah mereka dan membakar semua yang dilewatinya. Sudita dan empat pendekar lainnya berhasil menghindar hawa panas tersebut.

__ADS_1


“Senior sepertinya ini salah paham, maafkan kami telah lancang. Aku dan rombongan akan meninggalkan lereng gunung sekarang juga,” ucap Sudita kemudian.


Sudita terpaksa melepaskan Sekar Pitaloka karena yakin pria tersebut bukan tandingannya. Pria tersebut kemudian menancapkan ranting di tanah.


“Pilihan yang bijak pendekar muda maka, aku akan melupakan masalah ini,” ujar pria tersebut sambil berjalan mendekati sekar yang sedang terluka parah.


Para pendekar lembah tengkorak terpaksa meninggalkan lereng merapi dengan tangan hampa.


"Perkenalkan namaku adalah Ki Ageng, izinkan aku memeriksa lukamu Nyonya,” ucap ki Ageng sambil memegang pergelangan tangan sekar dan memeriksanya.


“Terima kasih, Ki, tapi luka yang kuderita sangat dalam. Aku sudah tidak kuat lagi, Ki,” jawab Sekar dengan wajah yang pucat pasi akibat kehilangan banyak darah.


Ki Ageng menggeleng pelan, dia tau luka yang diderita wanita ini sangat dalam. Bahkan dengan bantuan tenaga dalamnya pun akan sangat sulit untuk mengobatinya.


“Apa hubungan Nyonya dengan pemilik giok ini?” Ki Ageng bertanya pelan.


“Yang mulia memerintahkan aku membawa putra mahkota ke sekte Pedang naga api, tolong jaga dan rawat putraku!” jawab Sekar sambil batuk darah dan nafasnya mulai tidak beraturan.


Ki Ageng tersadar bahwa wanita yang ada di hadapannya adalah Ratu Malwageni.


“Yang mulia maafkan hamba terlambat mengetahui siapa anda sebenarnya. Apakah yang mulia raja…….?” Ki Ageng tidak melanjutkan kata katanya. Jika ratu Malwageni datang sendiri tanpa pengawalan dan dengan luka separah itu mungkin Arya Dwipa bernasip sama.


“Apakah ini perbuatan Iblis hitam?” tangan ki Ageng mulai menotok beberapa titik di tubuh Sekar Pitaloka untuk menghentikan pendarahan.


“Tetua, tolong katakan pada anakku bahwa ayah dan ibunya menyayanginya. Jauhkan dia dari dunia persilatan, biarkan dia hidup damai tanpa ada rasa dendam karena itu akan menyiksanya!”

__ADS_1


Sekar Pitaloka mulai hilang kesadaran dan Lereng gunung merapi menjadi saksi runtuhnya kerajaan malwageni. Setidaknya dia meninggal dalam keadaan tersenyum karena pangeran Sabrang berada di tempat yang aman.


__ADS_2