Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Perangkap Besar di Keraton


__ADS_3

"Semua berawal dari kemunculan Ken Panca di keraton beberapa hari sebelum aku diserang oleh para pendekar misterius di hutan larangan dan bertemu dengan tuan Setra," ucap Wardhana membuka ceritanya.


"Lalu?" balas Ratih tak sabaran.


"Dia datang dan mengatakan jika menemukan sesuatu di sisi gelap alam semesta yang mungkin berhubungan dengan peradaban milik kalian. Ken Panca seolah tau aku sedang menyelidiki Lemuria dan berusaha memancingku untuk datang ke tempat itu. Andai kau berada di posisiku dan dia tau apa yang sedang kau lakukan maka siapa orang yang akan kau curigai lebih dulu?


Peradaban terlarang tidak berhubungan dengan masalah keraton, ini murni masalah dunia persilatan, jadi hanya dua orang yang paling mengetahui pergerakan yang aku buat, Yang mulia dan Lembu Sora. Apa kau pikir aku cukup gila mencurigai rajaku sendiri?" jawab Wardhana pelan.


"Saat itu aku belum tau apa yang sebenarnya sedang terjadi tapi perlahan aku mulai membatasi informasi tentang peradaban Lemur pada Sora. Lalu untuk menghilangkan kecurigaannya, sebelum pergi ke sisi gelap alam semesta aku meminta Sora menggantikan tugasku selama pergi dan disaat yang sama memberi perintah rahasia pada Arung untuk mengawasi semua pergerakan dia dari jauh.


"Dalam ilmu perang, aku sudah terbiasa mengawasi hal hal kecil yang luput dari pandangan musuh yang terkadang bisa menjadi penentu kemenangan, jadi cukup mudah bagiku merasakan jika ada yang berbeda pada semua prajurit Angin selatan termasuk Lembu Sora. Setelah itu seperti yang kau dengar dari tuan Setra, aku membuat rencana dadakan untuk menjebak mereka."


"Mereka menggunakan ajian Ulat Sutra abadi untuk merebut tubuh tuan Sora, jurus milik leluhur kami itu harusnya sudah dilarang namun Li Yau Fei memanfaatkan kebaikan tuan Sanjaya untuk mempelajari jurus itu diam diam. Aku mulai mengerti dengan jalan pikiranmu tapi tetap belum menjelaskan bagaimana kau mengatur semua ini tanpa campur tangan langsung.


"Tubuh tuan Panca sepertinya sudah lama direbut oleh mereka dan itu artinya semua pergerakan anda telah dipelajari. Aku tidak bermaksud menuduh anda tapi seharusnya semua rencana anda telah terbaca oleh mereka, apa ini bukan jebakan yang mereka siapkan dengan berpura pura masuk perangkap anda?"


"Jika kau begitu yakin rencana ini terbaca, lalu untuk apa kau datang menyelamatkanku?" tanya Wardhana tajam.


Ratih langsung terdiam sesaat seperti sedang berfikir sebelum menjawab pertanyaan itu.


"Mungkin karena perintah tuan Setra," jawabnya pelan.


"Bukankah tugas kalian adalah melindunginya? jika kau yakin dia dalam bahaya apa kau akan diam saja dan mengikuti perintahnya?" Wardhana terlihat menulis sesuatu di tanah dengan tangannya.


"Sisi Psikologis manusia?" Ratih mengernyitkan dahinya.


"Aku hanya memanfaatkan itu untuk membuat semua rencana ini," jawab Wardhana sebelum menjelaskan semua rencananya.


"Setelah tuan Seta menyelamatkanku dari serangan para pendekar Lembayung, kami berbicara cukup lama sampai pagi tiba di hutan Larangan. Dia menjelaskan semuanya mengenai sejarah peradaban kalian, suku sungai kuning dan ajian Ulat sutera yang digunakan Li Yau Fei untuk merebut tubuh Ken Panca.


"Tuan Setra juga memberitahuku jika ajian itu mempunyai satu kelemahan besar. Penggunanya akan mengeluarkan energi aneh dari cakra mahkota (Ubun-ubun) sebagai efek benturan tenaga dalam dengan pemilik tubuh sebelumnya dan itu bisa dirasakan oleh pendekar yang memiliki ilmu kanuragan tinggi. Aku membuat rencana dari semua informasi itu dan memintanya menemui kakang Wijaya di sisi gelap alam semesta untuk memulai semua rencana ini.


"Pemilihan kakang Wijaya bukan tanpa alasan, jika mendengar cerita tuan Setra bagaimana Li Yau Fei merebut Lemuria, aku yakin dia telah menempatkan orang orangnya di sekitarku untuk mempelajari pergerakan kami dan kakang Wijaya yang dianggapnya tak berguna akan lepas dari pengamatan. Itulah sebabnya dia bisa leluasa bergerak dan menyampaikan pesan pada orang orang kepercayaanku," Wardhana mengambil gulungan kecil dan menyerahkan pada Ratih.


"Kita tidak punya banyak waktu, semua rencana yang dibawa kakang Wijaya tertulis di gulungan itu. Kau bisa membacanya dan biarkan aku pergi ke markas Teratai Merah sebelum terlambat," tutup Wardhana pelan.


Ratih mengambil gulungan itu sebelum mengangguk pelan. "Aku akan berada di belakang kalian," jawabnya singkat.

__ADS_1


"Arung, ayo pergi," Wardhana melesat pergi tanpa menunggu jawaban Arung, dia merasa semua sedikit terlambat.


Ratih membaca gulungan itu setelah Wardhana dan Arung pergi, dengan kecepatannya dia yakin bisa mengejar mereka walau sudah tertinggal jauh.


"Dengarkan aku kakang, aku tidak bisa menjelaskan secara detail karena situasi semakin memburuk tapi saat ini hanya kau satu satunya orang yang paling aku percaya. Peradaban terlarang telah menyusupkan mata mata kedalam kelompok kita untuk merebut tubuh Yang mulia dan Ken Panca adalah dalangnya.


"Ken Panca sepertinya berusaha memisahkan orang orang kepercayaan Yang mulia, Cara yang pernah dia lakukan untuk menghancurkan Lemuria. Aku tau ini akan sulit diterima tapi tolong katakan padanya aku siap menerima semua resiko andai ucapanku salah. Saat ini, Malwageni sedang dalam bahaya dan satu satunya cara keluar dari tekanan mereka adalah dengan cara ini.


"Aku telah menyiapkan Enam gulungan berisi rencana yang harus dijalankan dan tugasmu adalah mengantarkan semua gulungan ini sesuai dengan nama yang tertulis. Buka gulungan ke enam yang tertulis namamu setelah semua gulungan kau antar. Berhati hatilah karena semua orang kepercayaan Yang mulia mungkin sudah diawasi."


"Dia memecah rencananya menjadi beberapa bagian agar mereka saling tidak mengetahui tugas rahasia masing masing, jadi kau berusaha menarik keluar kemampuan terbaik mereka termasuk tuan Setra dan memanfaatkannya demi rencana ini," Ratih menahan nafasnya, dia benar benar tidak percaya jika ada orang yang bisa membuat rencana serumit itu dalam waktu singkat, dan yang lebih membuatnya kagum adalah rencana ini hanya bisa dijalankan jika dia tidak memiliki rasa percaya diri tinggi.


"Kau benar benar orang yang sangat menakutkan, Wardhana..." Ratih meremas gulungan itu hingga hancur sebelum melesat pergi.


***


Saat cahaya matahari mulai menyinari bangunan keraton, sesosok tubuh terlihat melesat masuk ke keraton melalui gerbang selatan yang penjagaannya cukup longgar.


"Sora melakukan tugasnya dengan baik, sepertinya kali ini aku bisa sedikit bersenang senang," Respati terlihat sangat percaya diri dengan kemampuan menyusupnya, dia melompat dari satu bangunan ke bangunan lain tanpa menimbulkan suara sedikitpun.


Namun, saat tubuhnya sedang melayang ke arah bangunan besar yang ada dihadapannya, sebuah energi pedang melesat kearahnya.


"Lama tak bertemu, Respati," seorang pria tiba tiba muncul didekatnya sambil mengayunkan pedangnya.


Respati yang tidak menyangka akan mendapat serangan tiba tiba terlambat bereaksi, tubuhnya terlempar beberapa meter sebelum membentur sebuah bangunan sampai hancur.


"Sial! berani sekali kau..." Respati tersentak kaget saat melihat orang yang menyerangnya.


"Ardhani?"


"Apa kau terkejut? sepertinya semua tidak berjalan sesuai rencana," ejek Ardhani pelan.


"Jadi kau sudah tau rencana kami? apa kau pikir bisa menghentikan tuan Li Yau Fei?"


"Bukan aku yang akan menghentikan dia, tugasku hanya membunuhmu," Ardhani menghilang dari pandangan sebelum muncul didekat Resati.


Ardhani melepaskan beberapa jurus mematikan yang memaksa Respati bergerak mundur.

__ADS_1


"Tak mengherankan tuan Sanjaya memilihmu sebagai salah satu komandan Lembayung hitam tapi apa kau pikir aku hanya diam selama ribuan tahun ini? aku pasti akan membunuhmu kali ini," umpat Respati kesal.


"Bukan aku atau Lembayung hitam yang sebenarnya harus kalian khawatirkan, tapi seseorang yang bisa menggerakkan kami semua."


"Seseorang..." Respati terlihat bingung sebelum menyadari ucapan Ardhani.


"Kau tau, tuan Sanjaya memilihku sebagai salah satu komandan Lembayung Hitam bukan hanya karena kemampuanku," Ardhani merubah gerakannya tiba tiba sebelum mengayunkan pedang sekuat tenaga.


Sebuah serangan biasa yang terlihat tidak terlalu mematikan, setidaknya sebelum tubuh Respati tiba tiba kaku tak bisa bergerak.


"Jurus menghentikan waktu?" ucap Respati sebelum tubuhnya kembali terlempar setelah terkena sabetan punggung pedang.


"Sama seperti nyonya Purwati, didalam tubuhku juga mengalir darah Atlantis," Ardhani melangkah mendekati lawannya.


Respati mencoba bangkit tapi tak berhasil, dia merasakan beberapa tulang rusuknya patah akibat serangan tadi.


"Aku akan berpikir ribuan kali untuk memaksa tubuhku bergerak jika menjadi dirimu, beberapa tulang rusukmu sudah hancur, sedikit saja bergerak tulang tulang itu akan menusuk organ dalam dan kau akan mati mengenaskan," ucap Ardhani pelan.


"Apa yang sedang kau rencanakan sebenarnya? kau bisa langsung membunuhku tadi andai tak menggunakan punggung pedang. Apa kau pikir aku akan bekerja sama dengan kalian? bagi pendekar Lembayung Merah, mati adalah pilihan terhormat daripada harus tunduk pada lawan," Respati menarik pedangnya dan berniat menggorok lehernya sendiri namun tiba tiba tubuhnya kembali kaku.


"Maaf tuan, aku tak akan membiarkan umpan terbaik kami mati begitu saja," Ciha muncul dari salah satu bangunan sambil menggerakkan kedua tangannya.


"Segel Bayangan? tidak buruk, terima kasih tuan kau datang tepat waktu," ucap Ardhani lega.


"Apa semua sudah siap?" tanya Ciha pelan.


"Sesuai permintaan tuan Candrakurama... mungkin tak lama lagi mereka akan sampai," jawab Ardhani.


"Baik, tinggal membuat persiapan terakhir untuk menyambut mereka," balas Ciha.


"Wardhana... orang itu yang seharusnya paling kalian khawatirkan," ucap Ardhani sambil tersenyum.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Banyak yang bertanya kenapa Arung tiba tiba muncul setelah terluka parah, bagaimana Wardhana membuktikan jika Lembu Sora pengkhianat dan seperti apa sebenarnya rencana Wardhana?


Semua akan terjawab pelan pelan dari beberapa sisi, kalau dijelaskan langsung akan memakan beberapa chapter ntar PNA jadi ajang ngobrol donk wkwkwkwkw

__ADS_1


Akhir akhir ini saya memang sangat sibuk, kalo gak kerja ya kondangan tapi saya akan sempatkan update walau malam sekalipun..


Ingat Mblo...Ferarri agak sulit terjual dari mobil mobil lainnya...


__ADS_2