Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Pertempuran di Mulai


__ADS_3

Kedatangan utusan dari Kekaisaran Shang membuat penjagaan di pusat kota Majasari diperketat, selain penambahan pasukan di pos gerbang masuk kota, di sudut sudut ibukota Majasari pun terlihat puluhan prajurit berjaga.


Teliksandi terbaik Majasari menyebar di kota kebanggaan Majasari itu.


Empat orang tampak berjalan kearah pos penjagaan, salah satu orang tampak membawa bungkusan kain di atas pundaknya.


"Sudah saatnya gusti ratu," bisik Paksi sambil memegang erat bungkusan kain di lengannya.


Tungga dewi mengangguk sambil menoleh kearah Mentari dan Emmy.


"Saat aku memutuskan ikut berperang, aku sudah meletakkan jabatan ratu Malwageni. Aku dan kalian semua bahkan seluruh prajurit malwageni posisinya sama, kita adalah prajurit Malwageni yang tidak sudi dijajah siapapun.


Jika Tungga dewi harus mati dalam perang kali ini, aku tak ingin dikenang sebagai Ratu Malwageni, aku ingin semua mengingat nama Tungga dewi sebagai prajurit Malwageni yang gugur membela tanah kelahirannya," Tungga dewi membuka penutup wajah dan jubah yang dia kenakan sambil menarik pedang dari bungkusan kain yang dipegang Paksi.


"Siapa kalian? berhenti disana!" teriak salah satu prajurit penjaga saat melihat Tungga dewi memegang pedang.


Tungga dewi tidak menjawab, dia terus berjalan sambil mengikat bendera Malwageni ditubuhnya.


"Buka penutup wajah kalian dan tunjukkan bagaimana kita bangga mengenakan jubah perang ini. Hidup Malwageni!!!" Tungga dewi melesat cepat kearah kerumunan prajurit penjaga yang tampak terkejut mendengar teriakan Malwageni.


"Kami menerima perintah," teriak Mentari dan Emmy bersamaan.


"Malwageni? beritahu komandan ada pemberontak menyerang, yang lainnya bantu aku meringkus merek," teriak prajurit itu sambil menyambut serangan Tungga dewi.


"Pemberontak? kalian benar benar membuatku marah," Tungga dewi melepaskan aura dari tubuhnya.


"Tarian rajawali," tubuh Tungga dewi memutar sambil mengayunkan pedangnya, beberapa prajurit langsung roboh ketanah.


"Tuan Paksi, beritahu pasukan utama kita sudah memulainya," ucap Mentari sambil melepaskan beberapa pisau es yang sudah dialiri racun.


"Baik nyonya," Paksi langsung bergerak keluar ibukota, dia berlari diantara tumpukan mayat prajurit Majasari.


Teriakan prajurit Majasari membuat suasana ibukota kacau, puluhan rakyat biasa berhamburan menyelamatkan diri saat bantuan pasukan Majasari datang.


Teriakan minta tolong dan suara pedang beradu membuat suasana semakin kacau, ibukota Majasari yang selama ini damai berubah menjadi lautan manusia yang berusaha menyelamatkan diri.


"Tangkap pemberontak itu," Teriak Laksana yang terlihat diantara puluhan prajurit tangan besi.


Laksana tampak geram melihat kekacauan yang dibuat Tungga dewi, keamanan kota adalah tanggung jawabnya sebagai wakil patih Majasari sekaligus komandan tertinggi di resimen elit tangan besi.


"Aku ingin mereka ditangkap apapun caranya," Laksana memerintahkan membentuk formasi tempur Tangan besi walau hanya tiga orang yang menjadi lawannya, dia ingin segera meredam kekacauan di pusat kota.


Sebuah kobaran api yang melesat mengacaukan formasi mereka, beberapa prajurit bahkan tewas terbakar.


Emmy tampak mengayunkan pedangnya sambil bergerak menyerang, sedangkan Mentari terus melempari pisau es beracun untuk membantu gerakan Emmy.


"Hari ini akan ku kibarkan panji Malwageni dipusat kota," Emmy melompat diudara sebelum menarik pedangnya sedikit kesamping.


"Jurus api abadi tingkat II : Tarian api abadi."


Sebuah ledakan api membuat Laksana dan beberapa prajurit mundur, mereka tidak menyangka seorang gadis mampu melepaskan kekuatan sebesar itu.


"Laporkan pada tuan Patih kita diserang," perintah Laksana pada salah satu prajuritnya.


Sementara itu, Tungga dewi terus melepaskan serangannya, puluhan nyawa telah melayang ditangannya.


Kekuatan mantan ketua Hibata itu meningkat pesat setelah berhasil mengendalikan energi murni dalam tubuhnya.


"Mereka semakin banyak, aku harus sedikit menghemat tenagaku," gumam Tungga dewi.


"Siapa wanita ini, dia benar benar tak meninggalkan celah sama sekali," umpat prajurit tangan besi.


"Pedang pemusnah raga," Tungga dewi bergerak semakin cepat, perubahan ayunan pedangnya membuat prajurit yang mengepungnya tak mampu berbuat banyak, puluhan pasukan tangan besi seolah tak berdaya dihadapan Tungga dewi.


"Berikan kepalamu," Tungga dewi melompat ke tubuh lawannya sambil menyilangkan pedang dileher prajurit itu, dia mengalirkan tenaga dalamnya sebelum menarik pedang itu dengan cepat.


Semburan darah segar mengenai jubah perangnya.


Bantuan pasukan yang terus berdatangan membuat tiga wanita itu sedikit kewalahan, walau kemampuan mereka tinggi namun stamina mereka tetap terbatas.


"Tari, gunakan dinding es untuk menahan mereka sementara, kita akan kehabisan tenaga jika terus seperti," teriak Tungga dewi.


"Baik gusti Ratu," Mentari melompat mundur dan menarik jurus segel bayangannya, dia kemudian meletakkan tangannya di tanah.


"Jurus dewa es abadi : Perisai es," dinding es berwarna kehitaman dengan cepat terbentuk diantara puluhan prajurit yang sedang bertarung. Mentari mengalirkan racun mawar hitam kedalam dinding es yang dia ciptakan.


***


Wardhana yang berada di dalam tendanya terlihat gelisah menunggu kabar dari ibukota, beberapa kali dia tampak kesal menanyakan pada prajuritnya.


"Gusti ratu, semoga anda baik baik saja," gumam Wardhana sambil melangkah keluar tenda.


Ratusan prajurit telah berjajar rapi, mereka menunggu komando Wardhana untuk bergerak.


"Tuan, kabar dari ibukota telah sampai, Gusti ratu telah mengibarkan panji Malwageni," teriak salah satu prajurit sambil berlari.


Wardhana yang mendengar kabar itu langsung menarik bendera Malwageni yang berada didekatnya dan mengibarkannya di udara.


"Kertapati, dengarkan perintahku. Tabuh genderang perang sekarang, kita pergi hancurkan Majasari dan lindungi gusti ratu," teriak Wardhana.


"Baik tuan," Kertapati memberi tanda untuk menabuh gendang perang.

__ADS_1


Dalam sekejap suasana hening hutan dipinggiran kota menjadi riuh akibat suara tabuhan genderang yang membuat semangat tempur pasukan terbakar.


Teriakkan hidup Malwageni menggema mengikuti tabuhan gendang.


"Sekarang atau tidak sama sekali, menjadi pengecut atau mati di atas tanah leluhur kita. Mungkin tak banyak yang akan mengenali kita kelak yang bertaruh nyawa demi merebut Malwageni namun bukan itu poin utamanya.


Harga diri dan hak kita yang telah dirampas oleh Majasari harus diperjuangkan. Akan menjadi sebuah kebanggaan andai tubuh ini menjadi bangkai karena mempertahankan harga diri prajurit Malwageni. Tegakkan kepala kalian dan bantu aku merebut Malwageni," teriak Wardhana yang disambut riuh para prajuritnya.


Wardhana menoleh kearah Kertapati sambil memberikan gulungan kecil.


"Aku akan memecah pasukan setelah berada di ibukota, kau pimpin pasukanmu dan bergerak masuk keraton, aku ingin mereka dihancurkan dari dalam juga," perintah Wardhana.


"Baik tuan," Kertapati menundukkan kepalanya.


"Kita pergi," ucap Wardana sambil mengikat panji Malwageni ke tubuhnya.


***


"Tuan patih hamba mohon menghadap," ucap seorang prajurit tergesa gesa.


"Apa kau tidak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu?" umpat Tunggul umbara kesal.


Tunggul umbara merasa terganggu karena sedang mengadakan pertemuan dengan utusan kekaisaran Shang.


Liu Xingsheng, Feng ying dan saudara seperguruannya bahkan memperlihatkan wajah tidak suka atas kelancangan prajurit Majasari itu.


"Maaf tuan patih, aku harus menyampaikan berita penting, keraton telah dikepung oleh pasukan Wardhana dan Saung galah."


"Dikepung katamu?" Tunggul umbara tak mampu menyembunyikan rasa terkejutnya.


"Benar tuan patih, mereka menyerang dari berbagai arah," balas prajurit itu.


Liu Xingsheng terlihat meminta penjelasan dari Gandi yang wajahnya tak kalah terkejutnya.


"Kami diserang oleh para pemberontak tuan," ucap Gandi menjelaskan.


Tunggul umbara langsung bangkit dan berpamitan.


"Maaf tuan ada sedikit gangguan, aku janji akan langsung membereskannya, kuharap anda bersedia menunggu," ucap Tunggul umbara, dia melangkah pergi dengan tergesa gesa tanpa menunggu jawaban Liu Xingsheng.


"Perintahkan semua prajurit untuk berperang, pimpin sebagian pasukan tangan besi untuk melindungi Yang mulia. Temui aku digerbang keraton sekarang!"


"Baik tuan," jawab prajurit itu, dia berlari kearah ruang prajurit untuk menyampaikan perintah Tunggul umbara.


Wajah Tunggul umbara mengeras, dia merasa posisinya kali ini sangat mirip dengan keadaan Malwageni saat dia menyerang dulu.


"Akan ku bunuh kau dengan tanganku sendiri Wardhana," ucap Tunggul umbara sambil melesat kearah gerbang keraton.


Hanya dalam beberapa tarikan nafas, Tunggul umbara sudah berdiri di atas benteng utama yang melindungi keraton.


Wajahnya semakin buruk saat melihat kekacauan di kejauhan, ibukota Majasari yang biasanya ramai oleh aktifitas warganya kini tampak mencekam.


"Kalian akan membayar semuanya," geram Tunggul umbara.


Tak lama ratusan prajurit berhamburan keluar keraton, mereka membentuk formasi tempur dengan pasukan Tangan besi sebagai ujung tombak.


Tunggul Umbara melesat cepat dan mendarat tepat didepan pasukannya.


"Mereka telah mencoreng wajah Majasari, hancurkan mereka tanpa sisa," teriak Tunggul umbara.


***


Sementara itu pertempuran di gerbang ibukota semakin sengit, perbedaan jumlah dan kekuatan mulai terlihat.


"Sial, mereka datang lebih cepat," umpat Tungga dewi yang melihat Tunggul umbara dan pasukannya mendekat.


Posisi mereka kini mulai terjepit, perlahan namun pasti puluhan pasukan tangan besi mulai mendesak Tungga dewi dan yang lainnya. Mereka bertiga terlihat berdiri saling beradu punggung, pukulah prajurit berhasil mengepung dan menyudutkan mereka.


Ilmu kanuragan yang mereka miliki memang cukup tinggi namun tak terlalu berguna dihadapan ratusan prajurit Majasari. Hanya perisai es milik Mentari dan energi Naga api Emmy yang mampu membuat mereka tidak terluka parah.


Goresan pedang ditubuh tiga pendekar wanita itu terlihat mengucurkan darah segar.


"Kalian telah terkepung, menyerahlah dan katakan dimana pangerang Malwageni berada?," teriak Laksana geram.


"Pangeran? dia adalah raja Malwageni, aku bersumpah akan memenggal kepalamu jika kau sebut dia pangeran lagi," balas Tungga dewi geram.


"Raja? apa kau bergurau?" ejek Laksana.


"Gusti ratu mohon bersabar, dia sedang memancing amarah kita," ucap Mentari menenangkan.


"Bersabar? bahkan jika tubuhku harus hancur akan ku penggal kepalanya," teriak Tungga dewi sesaat sebelum menghilang dari pandangan dan muncul dihadapan prajurit yang mengepungnya.


"Tarian Rajawali," Tungga dewi menyerang dengan sisa sisa tenaganya dan terus mendekati Laksana.


"Pertahankan formasi, mereka hanya bertiga," teriak Laksana.


"Lindungi aku dengan segel bayanganmu, gusti ratu tak akan bisa dicegah, aku akan membantunya," Emmy langsung melesat membantu diikuti segel bayangan Mentari yang mengitarinya.


"Aku memang baru mengenalmu namun apa yang anda lakukan hari ini membuat memperlihatkan anda pantas menjadi ratu Malwageni, aku akan melindungi anda walau dengan nyawaku gusti ratu."


Gerakan mereka terlihat mulai melambat, luka ditubuh dan stamina yang sudah habis membuat banyak celah dalam pertahanan mereka.

__ADS_1


Sebuah pedang hampir menembus tubuh Tungga dewi andai Mentari tak segera meraih bayangan Tungga dewi dan menariknya mundur.


"Aku bersumpah akan memenggal kepalamu karena berani menghina Yang mulia," Tungga dewi melepaskan paksa segel bayangan Mentari dan kembali menyerang.


Bendera Malwageni yang dikalungkan ditubuhnya kini penuh oleh darahnya, dia tidak perduli rasa sakit yang dirasakan, tujuannya hanya satu memenggal kepala Laksana.


"Gusti ratu," teriak Mentari saat sesosok tubuh menyerang Tungga dewi tiba tiba dari arah samping.


"Sial aku tak menyadari kehadirannya," Tungga dewi berusaha menghindar namun tak sempat, tenaga dalamnya telah habis, dia tak bisa menggunakan jurus ruang dan waktunya.


"Setidaknya aku akan membawamu mati," Tungga dewi berusaha meraih pedang pendekar misterius itu.


"Kau ingin mati? akan kuberikan," pendekar misterius itu melepaskan energi aneh ditubuhnya.


Saat pedangnya hampir mengenainya, Candrakurama muncul, dia menarik tubuh Tungga dewi dan menangkis serangan itu.


"Pusaka taring merah Mariaban?," Candrakurama terpental bersama Tungga dewi beberapa langkah.


"Candrakurama? tak kusangka bisa bertemu denganmu disini," ucap Prabaya sambil tersenyum dingin.


"Sepertinya sekte elang langit telah membuang harga dirinya demi sebuah kekuasaan," balas Candrakurama.


Sembilan pendekar Hibata lainnya muncul dan langsung membantu Emmy dan Mentari.


"Maaf hamba terlambat datang gusti ratu, ada tugas yang harus hamba jalankan dari Yang mulia," ucap Candrakurama.


"Tak perlu berbasa-basi terlebih dulu, posisi kita masih sama," umpat Tungga dewi ketika melihat Tunggul umbara sudah berada didekatnya.


"Bunuh mereka semua," teriak Tunggul umbara geram.


"Gusti ratu pergilah, aku akan menahan mereka semua," Candrakurama merapal jurusnya.


"Tidak, aku adalah ratu Malwageni, sampai Yang mulia datang aku akan tetap berdiri menggenggam pedangku," balas Tungga dewi.


"Tapi gusti...." Candrakurama belum menyelesaikan ucapannya ketika Tungga dewi kembali bergerak menyerang.


"Gusti ratu," teriak Candrakurama.


Saat situasi mulai tidak terkendali tiba tiba terdengar suara genderang perang mendekat, tak lama Wardhana dan pasukannya muncul dan langsung menyerang.


"Serang! bentuk formasi tempur," Wardhana berteriak sambil bergerak maju.


"Syukurlah kalian datang tepat waktu," ucap Candrakurama pelan, dia bergerak kearah Tungga dewi untuk membantunya namun gerakannya terhenti ketika Prabaya kembali menyerangnya.


"Apa kau melupakan aku?" teriak Prabaya kesal.


"Sial, kekuatan Mariaban benar benar mengerikan," Candrakurama terpaksa melompat mundur sambil terus menghindari serangan Prabaya yang semakin cepat dan mematikan.


Wardhana yang berada ditengah pasukannya mencoba membaca situasi, pandangan matanya berhenti pada Tungga dewi yang sedang bertarung.


"Lindungi gusti ratu," teriak Wardhana sambil berlari kearah Tungga dewi.


"Aku lawanmu Wardhana," Tunggul umbara tiba tiba muncul di hadapan Wardhana.


Wajah Wardhana terlihat kesal, dia terpaksa menghentikan langkahnya karena Tunggul umbara menghadangnya.


"Tunggul umbara, aku akan mengambil kembali apa yang sudah kalian rampas,"


"Apa kau pikir kau mampu?" ejek Tunggul umbara.


"Sepertinya aku yang harus bertanya padamu," balas Wardhana sambil menunjuk keraton Majasari yang mulai diselimuti asap tebal.


"Kau!" Tunggul.umbara menahan amarahnya.


"Saat bertemu denganmu waktu itu aku sudah mengatakan, akan kurebut Malwageni cepat atau lambat,"


Wajah Tunggul umbara memerah menahan amarah, dia ingin sekali memenggal kepala Wardahan namun dia menahannya.


"Aku pasti akan membunuhmu," Tunggul umbara melesat pergi kearah keraton.


"Kertapati, jangan biarkan dia pergi," teriak Wardhana.


"Baik tuan," Kertapati memisahkan diri dari kepungan pasukan tangan besi dan mengejar Tunggul umbara.


"Pasukan tangan besi semakin kuat, apa yang sebenarnya dilakukan Tunggul.umbara selama ini," umpat Wardhana sambil terus berusaha mencari celah formasi tangan besi yang menghadangnya.


Rencana Wardhana sedikit terhambat, awalnya dia memperkirakan hanya butuh waktu beberapa menit untuk memukul mundur pasukan Majasari dan masuk keraton namun perkiraannya salah.


Pasukannya bahkan tak mampu bergerak maju satu langkahpun, formasi tangan besi seolah tak memiliki celah sama sekali. Keadaan makin memburuk saat dia melihat Candrakurama mulai terdesak oleh Prabaya.


"Aku harus cepat menemukan celah formasi mereka atau nyawa gusti ratu dalam bahaya.


Wardhana menatap Tungga dewi sesaat, dia semakin terdesak dan gerakannya semakin melambat.


Wardhana bukan tak ingin membantu namun diapun disibukkan dengan puluhan prajurit yang menyerangnya.


Dalam sekejap gerbang utama ibukota Majasari berubah menjadi area pertempuran, bau darah dan bunyi pedang beradu benar benar membuat suasana kota mencekam.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Mbang moso PNA posisi 15? chapter besok tak buat Majasari hancur dan Pancaka menjadi pendekar terkuat kapok koe wkwkwkwkw

__ADS_1


Vote


__ADS_2