Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Pertarungan di Hutan Kabut Awan III


__ADS_3

Wardhana bersama rombongan melesat diantara pepohonan menuju sebuah jurang yang dia gambar di gulungannya melalui jalan memutari hutan kabut awan.


Sesekali pandangannya melihat kesekelilingnya untuk memastikan tidak ada pendekar Lereng merah darah yang berjaga.


"Tuan, apakah tidak apa apa mereka menyerang secara terbuka? aku tau ilmu kanuragan pendekar Sabrang sangat tinggi namun Lamakarate selalu dijaga 10 pendekar darah iblis yang merupakan pendekar terbaik milik Lereng merah darah?". Tanya Malewa sedikit khawatir.


"Saat ini jika ada yang bisa mengalahkan mereka maka Yang mulia lah orangnya. Aku tak akan mungkin berani membahayakan Rajaku jika tidak yakin akan kemampuan beliau. Yang mulia baru mengenal ilmu kanuragan saat berumur 9 tahun karena Ratu melarangnya mendekati dunia persilatan jadi bisa dikatakan Yang mulia saat ini masih dalam tahap berkembang. Dia belum berada pada puncak ilmu kanuragannya". Jawab Wardhana yakin.


"Umur 9 tahun baru belajar Ilmu kanuragan? dalam beberapa tahun saja dia sudah sekuat ini?". Malewa tersentak kaget mendengar ucapan Wardhana.


Wardhana mengangguk yakin "Untuk beberapa orang yang beruntung memiliki bakat sebesar itu, Yang mulia adalah yang terkuat saat ini walau belum berada dipuncak, dia akan terus berkembang tanpa batas dan tak ada yang bisa menghentikannya. Itulah yang membuatku yakin membuat rencana ini".


"Kau beruntung memiliki raja yang sangat kuat seperti itu tuan Adipati".


"Maka aku akan melakukan apapun untuk mendukung Yang mulia menuju puncak dunia persilatan maupun puncak kekuasaan Malwageni".


Malewa tersenyum lembut untuk sesaat "Tapi sebenarnya dialah yang beruntung memiliki pengikut setia sepertimu, kombinasi kalian berdua bahkan mampu menaklukan Nuswantoro". Gumamnya dalam hati.


Wardhana memberi tanda untuk berhenti ketika melihat darj kejauhan para pendekar Lereng merah darah yang sedang berjaga.


"Sepertinya kita sudah dekat". Wardhana menunjuk beberapa pendekar yang berjaga disekitar jurang.


Wardhana kemudian menjelaskan rencananya untuk menarik perhatian para penjaga itu. Dia menjelaskan dengan sangat detail semua rencannya yang membuat Malewa takjub.


Wardhana bisa membuat rencana secara cepat tergantung situasi yang dia hadapi. Wardhana bahkan membagi tim berdasarkan keahlian masing masing.


"Kita akan bergerak ketika tim utama mulai menyerang, aku akan memimpin menyerang mereka, tetua bersama beberapa pendekar bergerak sedikit memutar untuk membuat serangan kejutan". Ucap Wardhana pelan.


"Baik tuan". Malewa menundukan kepalanya.


***


"Jadi ini tempatnya?". Sabrang melepaskan auranya setelah melihat perkemahan ditengah hutan. Para pendekar Lereng merah darah menjadi waspada setelah merasakan aura menekan mereka termasuk 9 pendekar darah iblis yang ada disekitar perkemahan.


Lamakarate bahkan langsung keluar tenda karena merasakan aura besar disekitarnya. Dia menatap pemuda yang tersenyum dingin padanya.


"Dasar bodoh! harusnya kita membuat rencana sebelum mdnampakkan diri". Lingga menggeleng pelan melihat tingkah Sabrang yang terburu buru.


Sabrang hanya tersenyum canggung sambil menggaruk kepalanya. "Aku hanya diminta paman Wardhana menyerang".


"Sudah, semua sudah terlanjur. Sekarang apa yang akan kita lakukan?". Arung menengahi.


"Apa yang kita lakukan? Ya tentu saja menyerang mereka dan memberi jalan paman Wardhana mendekati jurang itu". Sabrang mengeluarkan pedangnya dan bergerak maju. Ratusan keris kembali muncul diudara dan berputar mengikuti gerakannya.

__ADS_1


Emmy mengikuti dibelakangnya dengan pedang terhunus.


"Ayo". Lingga terpaksa mengikuti Sabrang.


Lamakarate tersentak kaget melihat Sabrang tiba tiba menyerangnya, beberapa pendekar Darah iblis langsung melindunginya. Benturan pedang terjadi diudara saat mereka menahan gerakan Sabrang.


"Siapa kau sebenarnya? sekteku ada masalah denganmu?". Lamakarate yakin tidak mengenal Sabrang.


"Masalah kalian adalah berada dihutan ini". Sabrang menggerakan lengan kirinya, tiba tiba sebuah keris muncul tepat dihadapan salah satu pendekar yang menyerangnya.


Tanpa bisa mengghindar pendekar darah iblis tumbang meregang nyawa.


"Ap..apa yang kau lakukan padanya?". Butuh Waktu lama bagi Lamakarate memahami bahwa sebuah keris muncul diudara dan menyerang salah satu penjaganya.


"Apa yang akan kulakukan padamu". Sabrang memutar pedangnya dan mengayunkan kearah pendekar lainnya.


Melihat tindakan agresif Sabrang, 8 pendekar tersisa mengepung Sabrang dan Emmy yang kini beradu punggung.


"Berhati hatilah". Ucap Sabrang pelan. Emmy mengangguk pelan sambil merapal jurusnya.


Sebuah serangan tiba tiba menggoyahkan formasi pendekar darah iblis. Terlihat Lingga dan Arung mencoba memisahkan para pendekar itu. Dua pendekar masing masing menyerang Arung dan Lingga, hanya tersisa 4 pendekar yang masih mengepung Sabrang dan Emmy.


"Ayo kita lakukan, tunjukan perkembangan permainan pedangmu padaku". Sabrang kembali menciptakan keris diudara untuk membantu Emmy.


"Aku akan lebih kuat darimu". Emmy mulai bergerak menyerang begitu juga Sabrang.


Emmy mulai menekan salah satu pendekar dengan bantuan Anom, kemunculan Anom yang bisa dari mana saja memecah konsentrasi pendekar itu. Ketika pendekar itu mencoba menyerang balik Emmy, Anom muncul melindunginya.


Sementara tiga pendekar lainnya mulai terdesak oleh serangan serangan cepat Sabrang.


Gerakan formasi tiga pendekar itu memang rumit namun Sabrang dengan mudah menemukan celah dengan mata bulannya.


Sementara para para pendekar darah iblis mulai gusar ketika formasi mereka bisa dipatahkan dengan mudah. Praktis kini mereka hanya mengandalkan ilmu kanuragan mereka masing masing untuk menyerang.


Sabrang dapat menangkap ekspresi gelisah mereka memanfaatkannya untuk melakukan serangan mematikan.


Sabrang kembali melepaskan aura Banaspati untuk memperlambat gerak lawannya sesaat sebelum dia meningkatkan kecepatannya.


Tekanan aura yang sangat besar tidak hanya membuat pendekar itu memperlambat gerakannya namun juga membuat mereka terpaksa membagi tenaga dalam untuk melindungi tubuh mereka.


Sabrang menggunakan Anom untuk menyerang dan memecah konsentrasi mereka sebelum dia tiba tiba muncul dibelakangnnya.


Ketika pendekar itu mencoba menangkis pedang yang terarah padanya, dari sisi kiri Anom muncul dan melubangi tubuh pendekar itu.

__ADS_1


Dua pendekar tersisa mencoba membantu namun terlambat, Sabrang kembali mengayunkan pedangnya yang membuat dua pendekar itu menghindar.


Mereka terus bertarung sambil mengamati kemunculan anom disekitarnya.


"Kalian pikir kerisku hanya bisa menyerang satu satu?". Sabrang mengangkat lengan kirinya dan mdngarahkan pad keris yang dari awal berputar diudara mengikutinya.


"Energi keris penghancur". Puluhan keris menyerang mereka. Mereka mencoba menghindar namun serangan lebih dulu mengenainya. Konsentrasi yang terpecah membuat mereka tidak menyadari ada sebuah keris yang dari awal melayang diudara.


Tubuh mereka hancur bsrkeping keping saat suara ledakan terdengar.


Lamakarate mejadi sangat waspada setelah melihat pendekar yang dilatihnya sendiri dengan mudah dikalahkan.


Sabrang melihat kesekelilingnya dan mendapatkan Lingga sudah membereskan lawannya. Arung masih bertarung namun mulai bisa menguasai keadaan.


Sabrang menciptakan jarum es ditangannya dan diam diam menyerang pergelangan kaki pendekar yang bertarung dengan Emmy.


Ketika pendekar itu hilang keseimbangan akibat jarum es msnancap dikakinya, Emmy menyerang dengan jurus andalan dan melumpuhkan pendekar itu.


"Sepertinya kini tersisa kau dan aku". Sabrang mengarahkan pedang tepat ketempat Lamakarate berdiri.


"Siapa kau sebenarnya? apa kau yang membunuh Sakka?". Lamakarate menelan ludahnya mendapat tekanan aura yang sangat besar.


"Maksudmu pengguna Iblis Labolombonga? aku sudah membakar mereka". Sabrang tersenyum dingin.


***


Suara ledakan energi keris penghancur terdengar oleh Wardhana. Dia mengepalkan tangannya sesaat sebelum mencabut pedang dan memberi tanda untuk menyerang.


"Sekarang saatnya". Wardhana bergerak cepat diikuti beberapa pendekar dibelakangnya, sedangkan Malewa memutar jalan untuk menyergap dari belakang.


Mendapat serangan tiba tiba para pendekar itu hanya bisa pasrah dan menahan serangan. Formasi mereka dalam sekejap kocar kacir akibat serangan dua sisi.


***


Ledakan yang diakibatkan keris penguasa kegelapan terdengar hingga ke kota Wentira.


Dananjaya, Panglima tertinggi Wentira sampai mengumpulkan 9 Pendekar penjaga didekat pintu masuk kota.


"Sejak kemarin aku merasakan energi yang sangat besar berasal dari atas namun aku menganggap itu energi Labolombonga. Ternyata aku salah, energi mengerikan itu jauh lebih besar dari energi Labolombonga.


Dan kalian baru saja kalian merasakan sendiri ledakan besar berada didekat pintu masuk kota. Aku takut mereka pendekar yang berniat menghancurkan kota kita. Pertahankan pintu masuk ini dan jangan biarkan satu orangpun hidup". Teriak Dananjaya.


"Baik Panglima". Ucap para pendekar penjaga serentak.

__ADS_1


Dananjaya menarik pedang dari sarungnya dan menancapkan ditanah. Dia sudah siap mempertahankan kotanya hidup atau mati.


"Seandainya tuan Panca menepati janjinya untuk membuat pusaka yang dapat melindungi kota ini". Dananjaya bergumam dalam hati, dia merasa lawan yang akan mereka hadapi memilikj ilmu kanuragan jauh diatasnya.


__ADS_2