Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Kekuatan Dewa penjaga Masalembo


__ADS_3

Pasukan yang dipimpin Wardhana mulai bergerak masuk lebih dalam, penjagaan yang terpusat di gerbang utama dan ketidaksiapan Masalembo menghadapi serangan.yang tidak mereka duga sedikit memudahkan Wardhana bergerak.


Sebuah bangunan berwarna merah tampak mencolok diantara bangunan lainnya menarik perhatian Wardhana.


"Arung, tempatkan penjagaan disekitar bangunan merah itu, aku akan memeriksa bangunan ini. Pecah pasukanmu dan jangan mencolok," Wardhana memerintahkan Arung berhenti bergerak.


Arung mengangguk dan langsung bergerak ke salah satu bangunan untuk memeriksa, dia memberi tanda pada pasukannya untuk masuk setelah dia memastikan aman.


Wardhana dan Ciha melangkah perlahan masuk bangunan berwarna merah itu.


Sebuah pemandangan yang membuat bulu kuduk berdiri menyambut mereka. Puluhan tubuh manusia berjajar rapih didalam bongkahan es.


"Mereka benar benar gila," ucap Wardhana pelan sambil mengamati sekitarnya.


Ciha berjalan mendekati meja yang berada disudut ruangan.


"Rogo sukmo?," Ciha mengernyitkan dahinya setelah membaca catatan yang ada dimeja.


"Apa mereka adalah para pemimpin dunia itu?" tanya Wardhana pelan.


Ciha menggeleng pelan, "Sepertinya mereka adalah para pendekar yang diperalat oleh Masalembo. Masalembo membunuh mereka perlahan dan memasukkan roh iblis dalam tubuh mereka untuk dijadikan pasukan abadi. Bagaimana mereka bisa sekejam ini?," wajah Ciha pucat, dia tidak bisa membayangkan para pendekar itu mati perlahan dalam suhu yang sangat dingin kemudian tubuh mereka dijadikan wadah untuk roh roh iblis ganas.


"Apa mungkin memindahkan roh kedalam tubuh orang lain saat tubuhnya sudah mati?"


"Prinsip kerjanya seperti Ken Panca yang memasukkan roh Naga api kedalam pedang, mereka bukan lagi manusia namun sudan sepenuhnya iblis, itulah kenapa mereka disebut pasukan abadi."


"Jika memang hal itu bisa dilakukan bukankan...," Wardhana tidak melanjutkan ucapannya, untuk pertama kalinya dia ingin perkiraannya salah.


Namun sayang Ciha mengangguk pelan, "Jika mereka telah lama melakukan ini maka ada ratusan bahkan ribuan pasukan abadi di suatu tempat sedang bersiap menyambut kita,"


Raut wajah Wardhana menjadi buruk, dia tidak bisa membayangkan menghadapi mahluk abadi.


Pengalaman di Dieng bahkan membuatnya tak bisa tidur selama berhari hari.


"Cari petunjuk dimana mereka menyimpan tubuh para pemimpin dunia, itu prioritas utama kita saat ini," ucap Wardhan.


"Baik tuan," balas Ciha sambil terus membaca catatan itu dan berharap menemukan suatu petunjuk.


***


"Bagaimana?," Arung mencoba menghindar ketika tiba tiba seseorang muncul dibelakangnya dan langsung menyerang.


Arung berusaha bergerak sekuat tenaga namun hantaman pedang tak mampu dihindarinya.


Tubuhnya terpental keluar bangunan dan hampir membentur tanah jika Mentari tidak membuat bongkahan es untuk pijakannya sebelum menyambar tubuh Arung.


Dua buah energi pedang tiba tiba melesat cepat kearah Mentari yang sedang menggendong Arung.


Mentari mencoba membentuk bongkahan es namun tidak berhasil karena beban tubuh Arung membuatnya tak bisa memaksimalkan tenaga dalamnya.


"Gawat," gumam Mentari sambil terus bergerak mundur.


Saat energi pedang hampir mengenai Mentari tiba tiba pedang itu menghilang di udara.


"Jurus ruang dan waktu?" dua pendekar misterius yang melayang di udara tampak terkejut.


"Untunglah aku datang tepat waktu," ucap Tungga dewi sambil mendekati Mentari dan memeriksa luka Arung.


"Sepertinya gadis itu yang menggunakan jurus ruang dan waktu kakang," ucap Amurti pada kakak seperguruannya yang juga anggota dewa penjaga Masalembo.


"Tak kusangka dunia persilatan sudah berkembang cukup pesat, ini akan menarik," Wanapati tersenyum kecil.


Tungga dewi tampak waspada sambil menatap dua pendekar yang melayang di udara.


Tak mudah bagi pendekar hebat manapun dapat melayang di udara tak terkecuali Sabrang. Butuh energi dan konsentrasi besar untuk tetap diam di udara.


"Berhati hatilah, mereka sangat cepat," Arung yang mulai pulih bangkit dan bersiap menyerang.


"Kalian sudah sangat keterlaluan dengan menyerang tempat suci ini, aku tak akan membiarkan satupun dari kalian hidup," ancam Wanapati.


"Dewa penjaga sebelumnya pun mengatakan hal yang sama sebelum kematiannya, kalian terlalu besar mulut," ejek Tungga dewi.


Raut wajah Wanapati sedikit terkejut sebelum kembali tersenyum dingin.


"Kalian benar benar telah membuat Masalembo marah, akan kubungkam mulut kotormu itu," Wanapati memutar kedua lengannya sebelum memunculkan aura hitam berbentuk lingkaran.


Tak lama puluhan bahkan ratusan manusia bermata merah keluar dari lingkaran hitam itu.


"Harta terbaik Masalembo, kami menyebutnya prajurit abadi. Kalian akan menyesal telah berurusan dengan Masalembo," Wanapati memberikan tanda untuk menyerang.


Puluhan pasukan yang dipimpin arung dan Wijaya bersiaga melindungi Tungga dewi dan Mentari.


Hitungan detik berikutnya kedua pihak saling menyerang, daratan Masalembo yang biasanya tenang langsung berubah menjadi arena pertempuran.

__ADS_1


"Bentuk Formasi," teriak Wijaya yang bergerak paling depan.


"Aku sangat tertarik dengan gadis pengguna jurus ruang dan waktu, biar aku yang menghadapinya kakang," Amurti bergerak cepat kearah Tungga dewi namun tiba tiba sesosok tubuh menghadangnya dan langsung menyerang.


Sembilan pendekar lainnya muncul mengelilingi Tungga dewi.


"Maaf kami terlambat ketua," ucap salah satu pendekar memberi hormat pada Tungga dewi.


Tungga dewi mengangguk pelan sambil memperhatikan pertarungan dihadapannya.


"Dia lebih kuat dari sebelumnya, apa yang dilakukannya beberapa hari ini?," gumam Tungga dewi yang melihat pertarungan Candrakurama dan Amurti.


Wijaya tampak bingung saat tebasannya tepat mengenai titik vital pasukan abadi namun mereka terus bergerak seolah tak memiliki rasa sakit sedikitpun.


"Sial mereka sudah bukan lagi manusia, apa yang dilakukan Masalembo pada mereka* umpat Wijaya yang terus menyerang.


Pertempuran sedikit tidak seimbang karena pasukan angin selatan belum terlalu terbiasa berhadapan dengan musuh semacam itu, selain itu bagaimanapun prajurit abadi terdiri adalah mantan pendekar dunia persilatan hasil ujicoba mereka.


Kekuatan, kecepatan mereka sudah terasah di dunia persilatan karena tenaga dalam dan reflek mereka masih sama, yang membedakan hanya tubuh mereka kini dikuasai roh iblis yang haus darah.


Tungga dewi bersama Mentari dan pendekar Hibata sudah ikut membantu namun kalah jumlah membuat semuanya menjadi rumit.


Konsentrasi Tungga dewi juga sedikit terpecah karena selalu memperhatikan Wanapati yang masih belum bergerak. Tungga dewi takut jika Wanapati tiba tiba menyerang.


"Jika tersu seperti ini maka pasukan angin selatan hanya akan menjadi keganasan mereka, aku harus memikirkan cara untuk mundur," gumam Wijaya.


Candrakurama tak bisa banyak membantu yang lainnya karena sedang disibukkan oleh Amurti yang tanpa dia duga kekuatannya ada di atas Umbara, lawan yang pernah dihadapi Candrakurama.


"Aku harus cepat membalikkan keadaan, jika terus begini maka kami akan kalah total," ucap Tungga dewi sambil memberi tanda pada Mentari untuk menggunakan segel bayangan.


Tungga dewi bergerak maju diikuti segel bayangan Mentari yang bergerak cepat menyambar semua lawannya.


"Jurus pedang pemusnah raga," Tungga dewi menebas semua lawan yang ada disekitarnya. Gerakan cepatnya yang diikuti segel Mentari mampu membuat sedikit perubahan, sembilan pendekar Hibata yang juga bergerak sambil melindunginya mampu membuat prajurit abadi sedikit tertahan.


"Penggal kepalanya, itu akan langsung membunuh mereka," teriak Tungga dewi sambil terus menyerang.


"Gadis itu cukup membuatku terkejut, dia akan menjadi pendekar terhebat dengan beberapa kali ujicoba, aku harus mendapatkannya," Wanapati mulai turun perlahan dengan aura yang meluap.


"Dia mulai bergerak," gumam Tungga dewi yang terus maju menuju tempat Wanapati mendarat.


"Kemarilah, akan kubuat kau menjadi pendekar tak terkalahkan," ucap Wanapati sambil menyeringai.


Tungga dewi menebas pedangnya kearah salah satu pendekar dan menjadikan tubuhnya sebagai pijakan untuk melompat di udara.


"Jurus pedang pemusnah raga," Tungga dewi menyerang cepat namun Wanapati tampak tenang dan tak bergerak sedikitpun.


'Jurus Umbara memang kadang merepotkan namun kau belum terlalu menguasainya," Wanapati menarik lengan kanannya kedepan dan menyambut serangan Tungga dewi.


Dia memutar tubuhnya dan berpindah kebelakang Tungga dewi sesaat sebelum pedang Tungga dewi mengenainya.


Lengan kirinya berusaha mencengkram bahu Tungga dewi sambil melepaskan aura pekat dari tubuhnya.


"Cakar dewa bumi," Aura hitam menghantam tubuh Tungga dewi keras membuatnya terpental dan membentur salah satu bangunan.


"Sesaat dia tadi seolah menghilang, aku bahkan tak sempat menggunakan ruang dan waktuku," ucap Tungga dewi sambil menahan sakit.


"Percuma saja kau membantunya, kemampuanmu jauh dibawahnya," Wanapati memutar tubuhnya saat merasakan hawa dingin dibelakangnya.


Lengannya dengan cepat menepis pedang Mentari dan menghancurkan perisai es yang melindungi tubuh Mentari.


Perisai es itu hancur berkeping keping sesaat sebelum Cakar dewa bumi menghantam Mentari.


Sembilan dewa penjaga yang melihat Tungga dewi roboh datang membantu. Mereka langsung mengepung Wanapati.


"Kalian tak mengukur kemampuan kalian," Wanapati menarik pedangnya dan langsung menyerang.


Serangan Wanapati semakin lama semakin cepat, membuat para pendekar Hibata langsung kewalahan.


Dua orang pendekar Hibata meregang nyawa saat tak mampu menghindari serangan Wanapati.


"Mundur!" teriak Tungga dewi sambil berusaha berdiri.


Para pendekar Hibata yang selamat berusaha menjaga jarak saat mendengar perintah Tungga dewi namun na'as Wanapati tak berniat melepaskan mereka, dia terus membantai para pendekar itu.


Sebuah pemandangan mengerikan harus disaksikan Tungga dewi, Hari itu para pendekar Hibata dihabisi satu persatu.


Satu pendekar tersisa yang terkenal dekat dengan Tungga dewi berusaha bertahan dengan pedang yang menjadi tumpuan berdirinya.


Seluruh tubuhnya luka parah, bahkan lengan kirinya sudah terpisah dari tubuhnya.


"Hentikan!" teriak Tungga dewi yang masih belum bisa bergerak, rasa sakit yang sangat membuat tubuhnya seolah menolak bergerak. Terlihat air mata mulai menetes dari bola mata indahnya.


Mentari bukan tidak berusaha membantu para pendekar Hibata namun kondisi tubuhnya tak jauh lebih baik dari Tungga dewi, sedangkan Candrakurama belum juga mampu lepas dari tekanan Amurti.

__ADS_1


"Ketua, aku sudah berusaha melindungi anda namun dia terlalu kuat, kumohon larilah," ucap pendekar itu terbata bata sesaat sebelum kepalanya lepas dari tubuhnya.


Wanapati tersenyum dingin sambil menjilat pedangnya yang berlumuran darah.


"Kau putus asa? aku bahkan belum mengeluarkan seluruh kemampuanmu, kini kalian mengerti betapa menakutkannya berurusan dengan Masalembo."


"Aku bersumpah akan membunuhmu dengan tanganku," Tungga dewi terus berusaha bangkit sambil mengalirkan tenaga dalam ketubuhnya.


"Membunuhku? kau masih bisa membual saat hidupmu sudah berada diujung tanduk. Bersiaplah, kau akan bertemu kembali dengan teman temanmu di neraka," Wanapati mulai merapal jurusnya.


"Jurus pedang seribu tebasan," Wanapati menyerang dengan kecepatan tinggi. Mentari yang melihat Tungga dewi dalam bahaya berusaha menggunakan segel bayangan untuk menghentikan Wanapati namun tak berhasil.


"Yang mulia, maafkan hamba tak bisa menemani anda berjuang, senang pernah hampir menjadi Ratu Malwageni," Tungga dewi menyambut serangan dengan sisa sisa tenaga dalamnya.


"Kuakui semangat bertarungmu sangat mengagumkan namun itu tak membantu sama sekali dihadapanku," Wanapati merubah gerakannya saat Tungga dewi mengayunkan pedangnya, dia bergerak cepat dan menusukkan pedang ketubuh Tungga dewi sampai menembus punggungnya.


Saat Wanapati hendak mencabut pedangnya tiba tiba Tungga dewi menghilang dari pandangannya.


"Jurus ruang dan waktu? bagaimana dia masih bisa menggunakan jurus itu?" belum selesai rasa terkejutnya, Wanapati tiba tiba menoleh keatas saat merasakan sesuatu.


Semua yang bertarung serentak melihat keatas karena merasakan hal yang sama, sebuah tekanan aura yang membuat tubuh mereka kesulitan bergerak.


Sabrang terlihat melayang di udara sambil menggendong Tungga dewi, dia menatap tajam Wanapati yang tersenyum dingin padanya.


"Jadi dia yang memindahkan tubuh gadis itu?" gumam Wanapati.


"Yang mulia," ucap Tungga dewi pelan.


"Jangan banyak bergerak, aku akan mencoba mengalirkan tenaga dalam ke tubuhmu, mungkin akan terasa sakit jadi tahanlah sebentar," Sabrang mulai turun perlahan, dia terus melepaskan aura untuk menekan para prajurit abadi sambil mengalirkan tenaga dalam ketubuh Tungga dewi.


Ketika kakinya menyentuh tanah, puluhan energi keris yang diselimuti aura Megantara muncul disekitarnya.


Wijaya yang kebetulan berada didekat Sabrang menundukkan kepalanya.


"Terus pertahankan formasi, aku yang akan menghadapinya," ucap Sabrang pelan.


"Hamba menerima perintah," balas Wijaya cepat.


Puluhan prajurit abadi langsung menyerang Sabrang seketika. Wijaya dan pasukan angin selatan tak tinggal diam, mereka menghadang dengan formasi yang telah diperintahkan Wardhana.


Wajah Tungga dewi mulai berubah setelah tadi tampak pucat, energi Naga api membuat luka ditubuhnya cepat mengering.


"Bantu Mentari mengobati lukanya", perintah Sabrang


"Baik yang mulia," balas Tungga dewi.


"Jadi kau adalah keturunan Naraya?," tanya Wanapati pelan.


Sabrang tidak menjawab pertanyaan Wanapati, dia menoleh kearah Mentari yang terluka parah.


"Kau akan menerima balasanmu," Sabrang bergerak maju dengan kecepatan tinggi, dia menarik puluhan energi keris untuk menyerang prajurit abadi yang menghadang.


"Tarian iblis pedang," Sabrang terus bergerak dan memenggal semua yang dilewatinya.


Puluhan prajurit abadi yang menjadi kebanggaan Masalembo seolah tak berdaya dihadapan Sabrang, semua terbakar setiap kali Sabrang menyerang.


Sabrang menghilang menggunakan ruang dan waktunya ketika sudah berada didekat Wanapati.


"Jurus ruang dan waktu tak akan berguna dihadapanku," Wanapati menyerang tepat kearah Sabrang muncul, dua pedang dengan tenaga dalam besar beradu menimbulkan ledakan yang cukup besar.


"Kau akan berakhir seperti leluhurmu, tak ada yang bisa menghentikan Masalembo," Wanapati mencoba mengambil jarak saat puluhan energi keris muncul dan menyerangnya.


Semua serangan energi keris yang bahkan tidak bisa dihindari Umbara dapat dengan mudah dipatahkan Wanapati.


Sabrang mengernyitkan dahinya sambil menatap Wanapati.


"Aku cukup yakin mata bulanku mampu membaca gerakannya namun bagaimana dia masih bisa menghindari seranganku," ucap Sabrang bingung.


"Kami semua yang tergabung dalam dewa Masalembo adalah pendekar hasil ujicoba para pemimpin dunia dan aku yang paling beruntung karena mereka memasukkan energi trah Dwipa dalam tubuhku. Dengan energi trah Dwipa akhirnya aku dapat membangkitkan mata yang juga kau miliki," Mata Wanapati perlahan berubah menjadi biru dan bersinar terang.


Sabrang tersenyum kecil sambil bersiap menyerang.


"Kau terlalu bangga dengan mata tiruan itu, akan kuperlihatkan bagaimana mata bulan yang sesungguhnya," Sabrang kembali menyerang Wanapati.


Keduanya saling bertukar jurus di udara dan tak ada satupun yang berniat mengalah. Ledakan ledakan besar akibat benturan pedang terdengar hampir di seluruh area Masalembo.


Mata bulan mereka saling membaca gerakan masing masing sambil sesekali menyerang titik lemah lawan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sampai Chapter ini diterbitkan Posisi PNA ada di Rank 11 daftar Novel di Mangatoon...


Yuk kita masuk 10 besar bersama sama....

__ADS_1


__ADS_2