
Tunggul umbara merasakan sakit di selujur tubuhnya, walaupun tadi dia sempat mengumpulkan tenaga dalamnya untuk menahan serangan tiba tiba Sabrang namun itu tidak cukup untuk melindungi tubuhnya.
"Keris itu? jadi dia adalah keturunan Arya dwipa". Raut wajah Tunggul umbara sedikit pucat melihat kemampuan Sabrang. Selama hidupnya ratusan pertempuran telah dilewatinya dan selama itu juga tak terhitung pendekar yang dia hadapi namun kali ini dia tidak berkutik dihadapan Sabrang.
Sabrang berjalan mendekati Tunggul umbara yang masih mencoba mengatur nafasnya. Tak lama dia melemparkan keris itu ke udara dan merapal sebuah jurus namun saat dia Sabrang bersiap menyerang tiba tiba dia menarik kembali keris itu dengan cepat.
Sabrang menatap Mentari yang berdiri tak jauh dari Tunggul umbara berada.
"Mentari? Apa yang dilakukannya disini?".
Mentari terlihat menatap Sabrang dengan air mata mengalir dari kelopak matanya.
"Bukankah kau terlalu yakin dengan mengalihkan perhatianmu saat pertempuran". Raksaka tiba tiba muncul dihadapan Sabrang dan menyerangnya.
Puluhan jurus tapak yang dilancarkan Raksaka membuat Sabrang sedikit terdorong namun semua serangan tapaknya hanya mengenai perisai es yang menyelimuti tubuh Sabrang.
"Bagaimana dia bisa menggunakan jurus milik tapak es utara".
Perlahan Sabrang mulai bisa menekan Raksaka menggunakan energi bumi.
"Kecepatannya semakin meningkat". Raksaka merasakan tekanan aura ditubuh Sabrang semakin meningkat membuat gerakannya sedikit melambat.
"Gunakan Energi keris penghancur, kau harus cepat melumpuhkan semangat tempur mereka". Anom berbicara pelan.
"Beri aku waktu Anom, Mentari bisa terkena efek keris penghancur". Sabrang meningkatkan kecepatannya berkali lipat. Beberapa pukulannya mulai menghantam tubuh Raksaka membuatnya tak bisa menyerang balik.
"Sudah kubilang untuk menunggu, kau yang memintaku bertindak keras".
"Pusaran angin hitam". Golok pusaka milik Raksaka patah menjadi dua saat dia mencoba menahan serangan pusaran angin hitam. Raksaka terpental jauh dan roboh di tanah.
Puluhan Pasukan tangan besi mengelilingi Tunggul Umbara yang sedang terluka, mereka menghadang Sabrang yang mencoba mendekati patih mereka.
Sedangkan Pasukan Saung galah sudah mulai mengimbangi Majasari walau kalah jumlah. Kedatangan Sabrang membawa efek yang sangat besar, ditambah dia dapat melumpuhkan Tunggul umbara dengan satu serangan membuat semangat tempur pasukan Majasari sedikit turun.
Strategi yang mereka gunakan hancur berantakan saat pasukan panah Saung galah memporakporandakan pasukan Majasari.
"Hancurkan mereka". Banyu biru yang merupakan wakil patih Saung galah memberi perintah pasukan berkuda untuk membentul formasi menyerang untuk membuka jalan bagi pasukan pedang dan tombak dibelakangnyan.
__ADS_1
Seolah diberi aba aba pasukan berkuda Saung galah berbaris membentuk anak panah dan bergerak maju sambil menyerang dengan tombaknya. Banyu biru terlihat berada paling depan menebas semua yang menghalanginya dengan pedang.
Pasukan Majasari dibuat kocar kacir dengan serangan dua arah itu. Selain harus menghadapi pasukan angin selatan mereka juga harus menerima serangan berkuda dan pasukan panah yang terus menghujami mereka.
Mentari melesat cepat membantu membuka jalan bagi Sabrang yang mendekati Tunggul umbara, serangan tinju racun pelebur sukmanya membuat pasukan Majasari bertumbangan. Gerakan cepatnya bahkan mampu menumbangkan beberapa pendekar golok setan yang mencoba menghentikannya.
"Sejak kapan dia memiliki ilmu setinggi ini?". Sabrang mengernyitkan dahinya sambil menatap Mentari.
Sabrang bergerak cepat diantara pasukan Majasari yang bertumbangan terkena serangan racun mawar hitam milik Mentari. Dalam beberapa tarikan nafas dia sudah berada didekat Tunggul umbara yang menghunuskan tombak kearahnya.
"Apa kau takut?". Sabrang menatap tajam Tunggul umbara, terlihat tombak kebanggaannya sedikit bergetar.
"Kau pikir kami akan hancur karena kekalahan kali ini?". Suara Tunggul umbara bergetar.
"Aku tidak pernah berfikir akan mudah mengalahkan kalian namun satu yang pasti, kemenangan ini akan menjadi awal kehancuran kalian".
Sabrang dengan cepat mencengkram leher Tunggul umbara dan dengan cepat mengalirkan tenaga dalamnya ke tubuh Tunggul umbara.
"Ka...kau a..akan bernasip sama dengan Ayahmu kelak". Tunggul umbara berbicara sesaat sebelum kesadarannya mulai menghilang.
"Tuan muda, mereka masih terlalu banyak". Mentari mendekati Sabrang sesaat setelah menghabisi beberapa prajurit tangan besi.
Sabrang menatap gadis cantik yang ada dihadapannya, banyak yang ingin dia tanyakan namun sesuai permintaan Wardhana dia harus segera menghentikan peperangan ini. Sudah cukup banyak korban dari pihak Saung galah saat ini, walaupun mereka bisa memenangkan pertempuran ini namun dampak yang ditimbulkan akan semakin besar jika tidak segera dihentikan.
"Jangan terlalu jauh dariku atau kau akan terluka, aku akan melakukan sesuatu untuk mengentikan perang ini segera". Sabrang melesat cepat kearah ratusan prajurit yang sedang bertempur. Mentari yang belum mengerti apa yang akan dilakukan Sabrang hanya mengikutinya di belakang sesuai dengan perintah Sabrang.
Sabrang kembali melempar keris penguasa kegelapan keudara, tak lama kedua tangannya dilapisi es tebal. Terlihat keris itu melayang diudara sambil berputar dan mengikuti kemana arah Sabrang bergerak. Sabrang bergerak menyerang pasukan Majasari yang menghadangnya menggunakan cakar es miliknya. Mentari ikut menyerang dari belakang sambil terus bergerak mengikuti Sabrang.
Melihat kekuatan yang dimiliki sepasang pendekar itu, salah satu komandan pasukan Tangan besi memerintahkan untuk mengepung mereka berdua.
"Hentikan mereka, bentuk formasi lingkaran setan". Tak lama ratusan prajurit mengepung Sabrang dan Mentari.
Langkah Sabrang dan Mentari terhenti seketika, ketika kedua punggung Mentari dan Sabrang beradu terlihat Sabrang tersenyum dingin.
"Tetap dibelakangku dan jangan bergerak selangkahpun". Sabrang menatap keris yang masih berputar diatas kepalanya.
"Ayah kupinjam jurusmu". Sabrang bergumam dalam hati.
__ADS_1
Mentari hanya mengernyitkan dahinya dan mengikuti perintah Sabrang sementara ratusan prajurit bersiap dengan pedang dan tombaknya mengelilingi mereka berdua.
Sabrang tiba tiba berteriak lantang "Kalian akan tau seberapa mengerikannya berurusan dengan Malwageni".
Sabrang merapal sebuah jurus dan beberapa detik kemudian aura hitam pekat keluar dari tubuhnya kemudian masuk kedalam keris penguasa kegelapan dengan cepat.
Tubuh Mentari seketika lemas merasakan tekanan yang besar berasal dari tubuh Sabrang.
"Kekuatan ini?". Mentari menelan ludahnya sendiri sambil menyalurkan tenaga dalamnya untuk meringankan tubuhnya dari tekanan aura yang meluap disekitar Sabrang.
"Tiupan Angin nereka". Tiba tiba ratusan energi keris yang diselimuti kobaran api melesat cepat kearah prajurit Majasari yang mengepungnya.
Dalam hitungan detik terjadi ledakan dahysat disekitar mereka berdua. Terlihat ratusan prajurit yang siap menyerang meregang nyawa.
Dalam sekejap bau darah dan daging terbakar tercium diseluruh area pertempuran membuat siapapun yang berada di sana bergidik ngeri.
"Apakah ini kekuatan manusia?" Komandan prajurit Tangan besi seketika runtuh semangat tempurnya begitu juga dengan seluruh pasukan Majasari yang melihat jurus mengerikan itu.
Puluhan prajurit Majasari bahkan langsung menjatuhkan pedangnya saat itu juga tanda menyerah. Mereka jelas mengerti tidak akan bisa mengalahkan Sabrang walaupun mereka semua menyerang serentak.
Melihat prajuritnya menjatuhkan pedangnya, sang komandan tidak dapat berbuat banyak. Dia tidak mungkin memaksa prajuritnya mengantarkan nyawa dengan terus menyerang Sabrang.
Sabrang terlihat menggelengkan kepalanya pelan "Peperangan selalu memakan banyak korban, ku harap suatu saat tak akan ada lagi peperangan".
Mentari masih terdiam sambil melihat pemandangan mengerikan disekelilingnya. Dalam hati kecilnya ada rasa takut pada pemuda yang ada didekatnya itu.
"Jurus Tiupan angin neraka semakin dahsyat berkat energiku". Naga api berkata sombong.
"Kau masih congkak seperti biasanya Naga api". Anom menyindir Naga api.
Sabrang melangkah mendekati komandan padukan tangan besi yang masih mematung tak tau harus berbuat apa. Pasukannya telah dikepung oleh ratusan prajurit Saung galah dan Pasukan Angin selatan.
Saat Sabrang berjalan keris penguasa kegelapan tiba tiba berubah kembali menjadi aura hitam dan melesat cepat masuk ke tubuh Sabrang.
"Kalian sudah kalah". Sebuah pedang terbentuk di tangannya dari bongkahan es.
"Sekarang pergilah, dan katakan pada rajamu cepat atau lambat akan kuhancurkan kecongkakan Majasari".
__ADS_1