
Ketika malam semakin larut dan hampir seluruh penghuni tapak es utara sudah tidur untuk mempersiapkan pertempuran besok, Wardhana justru sedang berada dihalaman belakang sekte. Dia terlihat duduk di atas sebuah batu dan memandang danau kecil yang memantulkan sinar bulan.
Tangannya menggenggam erat pedang pemberian Arya Dwipa.
Ada sedikit keraguan dalan hatinya yang selama ini dia tutupi dari yang lainnya. Bayangan kegagalan masa lalu saat Malwageni hancur oleh Majasari masih membekas dihatinya.
Besok adalah pertempuran terbesar yang dihadapi Wardhana selama hidupnya bahkan jauh lebih besar dari pertempuran Malwageni dahulu.
Wardhana masih ingat betul saat itu sudah menyusun strategi perang yang sangat detail namun dia melakukan kesalahan kecil yang membuat Malwageni hancur.
Hal hal kecil yang luput dari pengamatan kadang bisa menghancurkan rencana yang sudah dia susun dengan matang.
Malam ini perasaan takut ada yang terlewat kembali muncul di hati Wardhana.
Dia memandang kembali pedang pusaka pemberian Arya dwipa, sampai detik ini dia masih belum mengerti mengapa Arya dwipa memberikan pusaka itu padanya.
Pedang dewi khayangan adalah pusaka trah Dwipa yang dibuat oleh Bratajaya dwipa sebagai hadiah penobatan anaknya sebagai raja.
"Apa sebenarnya tujuan anda memberikan pedang pusaka ini pada hamba Yang mulia, hamba takut jika tak mampu membayar kepercayaan anda", gumam Wardhana pelan.
"Pedang itu terlihat bukan pedang biasa, tak kusangka anda yang merupakan ahli siasat begitu pandai memilih pedang," suara Brajamusti mengagetkan Wardhana.
"Ah tetua," ucap Wardhana terkejut sambil menundukkan kepalanya.
"Tak perlu sungkan seperti itu, anda adalah calon ketua sekte Angin biru harusnya aku yang hormat padamu," balas Brajamusti.
"Anda terlalu memuji tetua".
"Anda adalah pusat pertempuran kita kali ini harusnya anda beristirahat agar besok dalam kondisi fit", ucap Brajamusti.
"Sekuat apapun aku mencoba memejamkan mata namun semakin aku tak dapat tidur, mungkin aku terlalu khawatir akan penyerangan besok".
"Apa kau pernah gagal dalam pertempuran?", tanya Brajamusti.
Wardhana mengangguk pelan, "Kegagalanku lah yang membuat Malwageni runtuh, dan saat tanah kelahiran ku dihancurkan oleh Majasari aku malah pergi dan bersembunyi. Anda terlalu memandang aku tinggi dengan menyebutku sebagai Naga Malawageni".
Brajamusti tersenyum setelah mendengar ucapan Wardhana.
"Aku mulai tertarik dengan Arya dwipa saat dia dengan berani mendobrak tradisi kerajaan yang selalu mengangkat ratu dari kalangan petinggi kerajaan untuk memperkuat kekuasaannya, sebuah politik kerajaan yang selalu dilakukan oleh raja manapun.
Alih alih mengangkat ratu dari kalangan kerajaan, dia dengan berani mengangkat Sekar pitaloka yang hanya orang biasa sebagai Ratu. Saat itu kudengar kondisi keraton menjadi tidak stabil karena banyak penolakan dari para pejabat tinggi. Mereka menuduh Arya dwipa sebagai raja yang telah merusak tradisi yang sudah turun temurun ada di Malwageni.
Banyak yang memperkirakan tahta Arya dwipa akan terguling namun kau tau apa yang dilakukan Raja muda itu? dia dengan pintar membungkam semua yang menentangnya.
Arya dwipa bukan raja biasa, kepintarannya membuat pejabat pejabat korup tak berkutik, dia sangat muda namun penuh perhitungan. Jika dia memintamu pergi itu artinya dia memiliki rencana yang harus kau jalankan.
Keraguanmu bisa membuatmu masuk kedalam kesalahan yang sama, jadilah dirimu sendiri dan jawab kepercayaan Arya dwipa padamu. Seorang prajurit sejati tak akan melakukan kesalahan kedua kalinya, pikirkan kata kataku", ucap Brajamusti sambil melangkah meninggalkan Wardhana.
Wardhana terdiam setelah mendengar ucapan Brajamusti.
***
Ratusan prajurit Angin selatan telah memenuhi lapangan sekte Tapak es utara, mereka berbaur dengan para pendekar dari aliansi aliran putih.
Lembu sora tampak berada paling depan bersama Wijaya dan Kertapati, mereka menunggu Wardhana.
Tak lama Wardhana muncul bersama Mentari dan Ciha.
"Hormat pada tuan Patih", ucap mereka berbarengan.
"Apa seluruh pasukan Angin selatan sudah siap?," tanya Wardhana kemudian.
Lembu sora mengangguk pelan, "Semua tinggal menunggu perintah anda tuan."
"Dua tim pembuka jalan sudah berangkat untuk menyisir area hutan larangan, kita tinggal menunggu Yang mulia datang dan langsung bergerak," ucap Wardhana.
Lembu sora tampak ragu untuk berbicara namun setelah mengumpulkan keberaniannya dia akhirnya bicara.
"Maaf tuan, anda yakin akan menggunakan strategi Padma Wyuha (strategi perang dengan susunan pasukan berbentuk bunga teratai)?," tanya Lembu sora pelan.
Lembu sora sedikit ragu dengan keputusan yang diambil Wardhana karena strategi Padma Wyuha tidak terlalu cocok dalam
pertempuran hutan, ditambah mereka tidak menguasai medan pertempuran sama sekali.
Padma Wyuha adalah strategi perang dengan menempatkan pasukan dibeberapa tempat membentuk seperti bunga teratai diatas air. Pergerakan beberapa tim sayap akan mengacaukan pergerakan musuh namun Padma Wyuha lebih cocok di medan pertempuran yang sudah sangat dikuasai karena kunci utama strategi ini adalah pergerakan cepat tim sayap menyapu musuh.
__ADS_1
Medan yang beluk dikuasai seperti hutan larangan akan menyulitkan pergerakan mereka.
"Apa kau takut mati? kau masih memiliki kesempatan untuk mundur", balas Wardhana sedikit menggertak.
Lembu sora tampak terkejut mendengar jawaban Wardhana, dia tidak menyangka Wardhana yang terkenal ramah akan berkata demikian.
"Bukan seperti itu maksud ku tuan", Lembu sora mencoba menjelaskan.
"Kunci utama kemenangan peperangan adalah percaya dengan panglima mu dan aku kini panglima kalian. Aku akan melakukan apa saja untuk memastikan kemenangan Yang mulia termasuk meninggalkan pasukan yang tidak percaya denganku. Aku pernah hancur karena keraguanku kini pilihan ada ditangan mu", ucap Wardhana tegas.
"Maaf atas kelancanganku tuan, aku akan memimpin pasukan sesuai perintah anda," balas Lembu sora sambil menundukkan kepalanya.
Brajamusti yang berdiri tak jauh dari mereka tersenyum penuh makna.
"Keraguan dihatinya telah hilang sepenuhnya, kini Malwageni tak akan bisa dihentikan siapapun," gumam Brajamusti lega.
"Apa semua sudah siap paman?", Sabrang muncul dihadapan mereka menggunakan jurus ruang dan waktunya.
"Hormat pada Yang mulia", Wardhana dan seluruh pasukan angin selatan langsung berlutut dihadapan Sabrang.
"Kami siap menerima perintah anda Yang mulia," jawab Wardhana.
"Baiklah, perintahkan pasukan untuk bergerak", ucap Sabrang tegas.
"Baik Yang mulia", Wardhana memerintahkan Lembu sora dan Wijaya untuk mulai bergerak.
"Tungga dewi tidak bersama anda Yang mulia?," tanya Mentari sambil mencari keberadaan Tungga dewi.
"Hibata akan bergerak terpisah dari pasukan, mereka akan menjadi senjata rahasia kita melawan Masalembo".
***
Lingga dan pasukannya mulai memasuki hutan larangan yang berada di lereng gunung Tidar. Tak jauh dari pasukannya, Arung juga bergerak mengikuti mereka. Sebagai pasukan pendukung Arung harus siap kapan saja membantu jika Lingga dalam masalah.
Pergerakan Lingga yang hanya membawa sepuluh anggota taring emas terlihat lincah dalam senyap. Mereka melompat dari satu pohon ke pohon lain tanpa menimbulkan suara sedikitpun.
Lingga memberi tanda pada pasukannya untuk berhenti. Dia membuka gulungan dan memperhatikan sekitarnya.
"Lokasi gerbangnya tak jauh dari sini", ucap Lingga pelan. "Emmy bawa beberapa orang untuk memeriksa daerah sekitar sini dan laporkan segera padaku."
Lingga menarik lengan Emmy dengan cepat saat akan melesat pergi ketika dia melihat empat pendekar bergerak mendekat.
"Tunggu dulu", ucap Lingga pelan.
"Aku akan memanggil petugas jaga berikutnya, sepertinya sudah saatnya pergantian penjagaan. Kalian tetap berjaga sampai petugas baru datang dan pastikan tak ada yang memasuki hutan ini," ucap salah satu pendekar pada yang lainnya.
"Baik ketua", ucap temannnya.
Pendekar itu tampak merapal sebuah jurus sebelum terlihat menembus masuk gunung Tidar.
"Jurusnya hampir sama dengan milik Sabrang," gumam Lingga dalam hati.
Lingga memberi tanda pada Emmy untuk bergerak bersamaan menyerang tiga pendekar tersisa.
"Bunuh dengan sekali gerakan dan pastikan tidak ada suara sedikitpun, kita tidak tau apakah pendekar yang menghilang itu masih berada didekat sini".
Mereka bergerak bersamaan saat Lingga memberi tanda.
"Siapa ka...", Tiga pendekar itu tersentak kaget saat Lingga dan Emmy tiba tiba muncul dihadapannya.
Lingga menarik pendekar itu dan menusukkan pedangnya sekuat tenaganya sebelum menyerang pendekar lainnya.
"Ternyata benar kalian bersembunyi disini," ucap Emmy sesaat setelah berhasil memenggal kepala mereka.
Pergerakan mereka yang sangat cepat bahkan tak mampu membuat pendekar penjaga itu bereaksi sedikitpun.
Mereka meregang nyawa detik itu juga ditangan kelompok Taring emas.
Lingga memberi tanda pada pasukannya untuk mendekat dan menyembunyikan mayat para pendekar itu.
"Beri kabar pada pasukan utama jika kita sudah menemukan letak pasti gerbang telaga khayangan api", perintah Lingga pada salah satu pendekar. " Yang lain menyebar untuk mengamati situasi dan jangan terlalu jauh."
"Baik ketua".
"Taring emas benar benar menakutkan jika menjadi musuh," gumam Arung yang mengamati mereka dari jarak yang tidak jauh.
__ADS_1
Belum selesai Lingga bicara, empat pendekar tiba tiba muncul dari dalam Gunung. Wajah mereka berubah seketika saat melihat Lingga dan pasukannya.
"Siapa kalian?", teriak pendekar itu sambil mencabut pedang.
"Sial mereka cepat sekali kembali, bunuh mereka semua dan jangan biarkan ada yang lolos", Lingga langsung menyerang diikuti pendekar lainnya.
Salah satu pendekar mencoba memisahkan diri dari pertarungan dan berusaha masuk kembali kedalam namun Arung dengan sigap menghadang dan menyerangnya.
"Apa kau terburu buru?," tanya Arung sinis.
"Kalian akan mendapatkan balasannya", ujar pendekar itu kesal.
"Tidak, selama kalian tak ada yang selamat, mereka tidak akan tau kami datang. Saatnya kami yang menghancurkan kalian", Arung terus menyerang tanpa memberi kesempatan menyerang balik.
Walau tak sekuat Umbara yang merupakan salah satu dewa penjaga Masalembo namun Arung butuh waktu untuk melumpuhkannya.
Pertarungan tidak seimbang itu berakhir dengan kematian para penjaga Masalembo.
"Mereka baru saja melakukan pergantian penjagaan, ini akan memberi kita waktu untuk masuk ke Telaga khayangan api sampai besok pagi kembali terjadi pergantian penjaga," ucap Emmy menganalisa situasi.
Lingga mengangguk pelan "Sekarang tergantung pada Wardhana, dia harus bisa memecahkan hubungan antara Telaga khayangan api dan gerbang utama Masalembo sebelum terjadi pergantian penjaga kembali".
Arung kemudian mengatur pasukannya untuk berjaga di setiap sudut hutan sambil menunggu pasukan utama muncul.
"Mereka yang selama ini menghilang tidak mati namun bergabung dengan Masalembo," ucap Lingga yang mengenali salah satu pendekar yang dibunuhnya sebagai anggota sekte Bunga darah yang menghilang lima tahun lalu.
"Maksud anda?", Arung mengernyitkan dahinya.
"Lima tahun lalu ratusan orang sekte Bunga darah masuk kedalam hutan larangan ini karena yakin ada sesuatu didalam hutan ini dan tak pernah keluar lagi. Saat itu dunia persilatan geger karena sekte Bunga darah bukan sekte sembarangan.
Pendekar yang kau bunuh tadi aku mengenalinya sebagai anggota sekte bunga darah karena aku beberapa kali pernah bertarung dengan mereka. Sepertinya semua yang menghilang di hutan ini bergabung dengan Masalembo".
Tak Lama Sabrang dan Wardhana muncul bersama pasukan utama.
"Siapa mereka?," tanya Wardhana saat melihat mayat dihadapannya.
"Mereka sepertinya para penjaga tempat ini tuan", jawab Emmy.
"Jelaskan situasinya," pinta Wardhana pada Emmy.
Emmy lalu menjelaskan situasinya termasuk baru saja terjadi pergantian penjagaan digerbang Telaga khayangan api.
Emmy memperkirakan mereka hanya punya waktu sampai besok jika ingin pergerakan mereka tidak diketahui Masalembo.
"Jadi waktu kita sampai besok ya", ucap Wardhana sambil berikir.
Wardhana memanggil Sora dan memerintahkannya untuk mencari apapun disekitar mereka yang berbentuk segi lima. Dia mengeluarkan kepingan kunci Telaga khayangan api dan menyusun di tanah.
"Ini adalah kunci Telaga khayangan api, sisir lokasi disekitar sini dan temukan lubang atau semacamnya yang berbentuk seperti ini".
"Baik tuan", ucap Sora.
"Ciha, kau sudah bisa memasang segel udara mu, pastikan semua area hutan ini terselimuti segelmu".
Ciha mengangguk pelan sambil merapal segel udaranya.
"Apa Hibata belum muncul?", tanya Sabrang sambil memperhatikan sekitarnya.
"Belum Yang mulia", jawab Emmy kemudian.
Suara teriakan salah satu prajurit Angin selatan mengagetkan mereka.
"Tuan, aku menemukannya", teriak prajurit itu.
Suliwa, Brajamusti dan tetua lainnya yang bersiaga di atas pohon besar tampak tersenyum kecil.
"Melihat mereka semua bergerak membuatku ingin cepat mundur dari dunia persilatan. Masa depan dunia persilatan akan cerah ditangan mereka yang berpusat pada Sabrang. Aku merasa baru kemarin mengajarinya jurus api abadi, kini dia adalah pendekar terkuat yang juga satu satunya harapan kita untuk menghancurkan Masalembo", ucap Suliwa bangga.
"Dunia akan terus berputar tetua, sepertinya kini sudah bukan masanya lagi para pendekar tua seperti kita", jawab Brajamusti sambil tertawa.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Follow IG.Autor
@ rickyferdianwicaksono
__ADS_1