
Wardana terlihat menjelaskan rencana yang akan dijalankan untuk mengusir Pasukan Majasari dari Kadipaten Wanajaya.
"Kunci keberhasilan kali ini terletak pada ketepatan membaca pergerakan mereka Pangeran. Kita sudah kalah jumlah dari mereka namun kita di bantu oleh beberapa pendekar dari sekte aliran putih, Mereka akan tiba hari ini".
Sabrang mengangguk pelan, dia sangat kagum dengan setiap detail rencana yang dibuat oleh Wardhana.
"Sekarang tergantung dengan Tuan Patih harusnya dia telah berbicara dengan Maha patih Saung Galah, semoga Tuan patih berhasil meyakinkan mereka".
Tampak sedikit kekhawatiran di wajah Wardhana kali ini. Sebenarnya bukan kali ini saja Wardhana menghadapi situasi genting seperti saat ini namun kali ini berbeda karena keberadaan Sabrang.
Wardhana sangat mengkhawatirkan keselamatan satu satunya pewaris tahta Malwageni tersebut.
"Besok Adipati Gardika akan menerima utusan Majasari, dia akan menggiring mereka masuk perangkap yang kita siapkan. Saat itulah kita mulai bergerak".
"Baik paman aku akan melakukan yang terbaik".
Wardhana menatap Sabrang sesaat sekilas dia melihat bayangan Arya Dwipa dalam diri Sabrang. Kali ini dia bertekad akan melindungi Sabrang sekuat tenaganya.
"Hamba akan melindungi anda dengan sekuat tenaga bahkan dengan nyawa hamba sekalipun" Wardhana berkata dalam hati. Dia telah membulatkan tekadnya untuk tidak mengulangi kesalahannya saat terjebak dengan taktik Perang Tunggul umbara.
.......................
(Kadipaten Wanajaya)
"Apakah tuan akan mengikuti semua yang dikatakan utusan Malwageni tadi?" Salah satu penasehat berbicara pada Gardika yang sedang berfikir.
"Apa kita punya pilihan? Saat ini pilihan paling baik adalah menerima uluran tangan mereka" Gardika menghela nafas. Dia sangat mengetahui kehebatan Pasukan Tangan Besi milik Majasari. Dia yakin dengan kekuatannya saat ini akan sangat sulit menghadapi mereka.
"Menurut penilaian kakang apakah orang bernama Wardhana itu bisa dipercaya?" Gardika bertanya pada penasihatnya.
"Hamba tidak tau tuan namun yang bisa hamba katakan adalah dia orang yang sangat mengerikan. Dia dapat mengendalikan situasi walaupun hanya seorang diri datang kemari. Aku mempunyai firasat jika orang seperti dia sebaiknya jangan dijadikan musuh".
Gardika mengangguk, dia pun cukup kagum dengan rencana yang disampaikannya tadi.
"Persiapkan dengan baik pertemuanku dengan utusan Majasari besok, aku tidak ingin ada kesalahan sekecil apapun".
__ADS_1
"Baik tuan, akan ku pastikan semua berjalan seperti rencana kita".
.......................
Utusan Majasari terlihat memasuki pendopo tamu, dia di sambut oleh beberapa penasehat Gardika.
"Selamat datang tuan terima kasih telah datang jauh kemari, adipati Gardika sebentar lagi tiba mohon sedikit bersabar" Salah satu penasehat Gardika memberi hormat pada Wikarta
"Ah tidak perlu sungkan tuan, aku akan menunggu dengan sabar". Wikarta menatap sekeliling ruangan, dia ingin memastikan jika tidak ada yang mencurigakan selama pertemuan dengan Adipati Gardika.
Tak lama Gardika terlihat melangkah masuk Pendopo tamu. Dia memberi hormat pada Wikarta dan rombongan kemudian mempersilahkan untuk duduk.
"Suatu kehormatan buat Kadipaten kecil seperti kami kedatangan utusan Majasari, jika aku boleh tau ada keperluan apa Majasari kemari?" Gardika bertanya tanpa basa basi seperti biasanya.
"Ah iya namaku Wikarta aku membawa pesan dan hadiah dari Yang mulia raja untuk anda tuan". Wikarta tersenyum kecil kemudian memerintahkan anak buahnya untuk membawakan beberapa kotak yang mereka bawa.
"Hadiah untukku? Dalam rangka apa tuan?".
"Yang mulia raja sangat kagum dengan anda tuan, dia memerintahkanku untuk mengirim hadiah kecil ini sebagai tanda persahabatan".
"Akan selalu ada konsekwensi atas hadiah sekalipun tuan, apa yang diinginkan Majasari dari ku?".
Wikarta tersenyum kecil " Tuan Adipati memang pintar".
Wajah Wikarta berubah serius "Sebenarnya Yang mulia raja ingin mengajak anda bergabung dengan Majasari. Anda memiliki bakat yang dikagumi yang mulia, akan menjadi sia sia jika tuan hanya menjadi Adipati di Kadipaten kecil seperti ini".
"Tuan bermaksud mengajakku membelot dari Saung Galah?" Suara Gardika seketika meninggi.
"Mohon di pertimbangkan tuan, Yang mulia telah berbaik hati kuharap anda tidak mengecewakan beliau". Wikarta berbicara pelan namun tetap menunjukan sedikit ancaman pada Gardika.
"Anda tidak sedang mengancamku kan?".
"Yang mulia mempunyai cita cita menyatukan tanah nusantara, ku harap tuan menjadi bagian dari cita cita yang mulia".
"Terlalu banyak resiko yang harus ku tanggung jika berkhianat pada Saung Galah. Selain itu apa yang membuat anda yakin aku akan berkhianat?". Wajah Gardika mengeras menahan amarah.
__ADS_1
Wikarta tetap tenang mendapat jawaban tak bersahabat.
"Tidak ada yang bisa menghentikan Majasari menguasai Nusantara, aku harap anda tidak salah bersikap" Kali ini Wikarta terang terangan mengancam Gardika.
Gardika tertegun sesaat, dia tidak menyangka Majasari terang terangan mengancamnya, wajahnya sedikit memerah menahan amarah.
Gardika memejamkan matanya sesaat lalu menoleh ke arah seseorang yang duduk di belakangnya.
"Bagaimana menurutmu Wardhana? Mungkin kau mempunyai pendapat mengenai masalah ini. Ah aku belum memperkenalkan pada anda tuan, dia adalah Penasehatku". Gardika menunjuk Wardhana yang dari tadi diam mengamati.
Wardhana tersenyum kecil, dia bangkit dan memberi hormat pada Wikarta.
"Majasari adalah kerajaan terbesar di Nusantara saat ini namun apakah elok jika demi memenuhi ambisi pribadi sampai bertindak sejauh ini. Wanajaya adalah salah satu wilayah kekuasaan Saung galah dan kalian dengan entengnya mengancam kami?".
Perkataan Wardhana sontak membuat suasana pertemuan menjadi tegang, tidak ada lagi senyuman yang menghiasi Wikarta.
Gardika yang telah mengetahui rencana Wardhana pun tak kalah terkejut karena perkataan Wardhana sama saja mengibarkan perang pada Majasari.
"Sepertinya tuan salah memilih penasehat, apa yang dikatakannya sama saja mengibarkan bendera perang pada kami" Wikarta menggebrak meja penuh amarah.
Gardika memandang Wardhana yang tetap tenang melihat reaksi Wikarta, dia memang ingin memancing emosi Wikarta.
"Anda lupa satu hal tuan, walaupun Majasari adalah kerajaan besar anda saat ini berada di wilayah Saung galah". Kali ini suara Wardhana sedikit meninggi.
"Bukankah ini sudah sangat keterlaluan tuan?" Wikarta protes atas sikap Wardhana.
"Bukankah anda yang keterlaluan tuan? Anda mengaku sebagai utusan namun membawa pasukan tangan besi bersama anda. Bukankah tindakan anda dapat menyinggung kami dengan membawa pasukan tempur masuk wilayah kami". Kali ini Wardhana tidak dapat menahan emosinya.
Perkataan Wardhana kali ini benar benar menyudutkan Wikarta. Dia tidak dapat mengontrol emosinya kali ini.
"Kali ini kalian telah mempermalukan Majasari, jika kalian menginginkan perang maka akan kuberikan".
"Biar kutebak sejak awal kau memang berniat menyerang kami dengan membawa Pasukan tangan besi. Namun kau lupa satu hal kami telah memperkirakan semuanya. Kupastikan kali ini kalian menerima kekalahan pertama yang menyakitkan".
Tak lama setelah Wardhana berkata demikian beberapa puluh prajurit Wanajaya mengepung pendopo Tamu membuat Wikarta sedikit terkejut.
__ADS_1
"Berani sekali kalian menjebakku, akan kubuat kalian menyesal" Wikarta dan beberapa pengikutnya menghunuskan pedangnya.