
"Di mana ini? Sepertinya aku pernah datang kemari" Sabrang mengingat kembali tempatnya berada sekarang. Sebuah tempat yang dipenuhi kabut yang sangat pekat, bahkan jarak pandangnya hanya beberapa meter. Bau belerang menyengat membuat nafasnya terasa sesak.
"Kau memang lemah bocah!! Bangunlah dan buktikan bahwa kau pantas menjadi tuanku atau kau akan ku bakar sampai menjadi abu".
Tiba tiba suhu udara disekitar Sabrang perlahan meningkat cepat.
"Siapa anda tuan? Apakah aku mengenalmu?" Sabrang bertanya penasaran.
"Dasar anak bodoh!! Ulurkan tanganmu sekarang aku tidak ingin kembali menjadi besi tua seperti yang dikatakan tua bangka itu.
Sabrang berjalan mendekat kearah suara tersebut. Terlihat kobaran api membentuk tangan dengan posisi siap berjabat tangan. Sabrang mengulurkan tangannya menyambut jabat tangan kobaran api tersebut.
.................................
"Ku akui kemampuanmu sangat menarik anak muda, tapi aku tak punya banyak waktu". Jaka menunduk mengambil Pedang Naga Api dan memegangnya. Dia mengamati Pedang tersebut dengan takjub.
"Sepertinya ini Pedang Pusaka, akan sangat berguna buatku kelak". Jaka melangkah mendekati Ametung yang terkula parah.
"Sekarang sudah tidak ada pengganggu lagi Ametung, saatnya aku membereskanmu".
Tiba tiba raut wajah Jaka berubah cepat, dia merasakan Tenaga dalamnya keluar dengan kecepatan yang mengerikan. Dia mencoba menahan tenaga dalamnya agar tidak keluar lebih banyak tetapi tidak berhasil. Dia melempar Pedang Naga Api dari tangannya.
"Pedang ini menyerap tenaga dalamku dengan sangat cepat. Pedang pusaka apa yang digunakan anak ini". Belum selesai rasa kaget Jaka melihat tenaga dalamnya terserap keluar tiba tiba Pedang Naga Api melayang diudara.
Kobaran api mulai menyelimuti Pedang Naga Api membuat Jaka dan Ametung memandang pedang itu dengan heran.
Tak lama kemudian Pedang Naga Api melesat cepat kearah Sabrang. Kobaran api Naga Api mulai menyelimuti tubuh Sabrang.
"Siapa sebenarnya anak ini? Bukankah dengan api sepanas itu harusnya tubuhnya telah hangus terbakar". Jaka bisa merasakan bahwa ini bukan sesuatu yang baik untuknya.
Pedang Naga Api menempel di tangan kanan Sabrang. Tak lama kemudian Sabrang mulai bangkit dan menatap sekitarnya.
"Tubuhku ringan sekali, apa yang terjadi padaku?".
Jaka tersentak kaget melihat Sabrang dapat bangkit kembali. Dia memandang tubuh Sabrang yang diselimuti kobaran api.
Sabrang menatap Jaka dengan tatapan dingin. Kini dia ingat jika sedang dalam pertarungan dengan Jaka.
__ADS_1
"Siapa pemuda ini sebenarnya, dan mengapa api itu tidak membakarnya?". Ametung mematung memandang Sabrang dengan kagum.
"Kau selalu membuatku terkejut anak muda, baiklah kali ini akan kupastikan kau mati ditanganku".
Tubuh Jaka melesat ke arah Sabrang dengan cepat. Tiba tiba tubuhnya kembali menghilang dari pandangan Sabrang dan beberapa detik kemudian muncul dibelakang Sabrang.
"Tarian Iblis Pedang" serangan cepat Jaka hampir mengenai tubuh Sabrang. Namun tiba tiba tubuh Sabrang menghilang dengan cepat.
"Pedang penghancur tulang tingkat 4" Serangan pedang Sabrang muncul dari arah belakang Jaka.
Jaka melompat menahan serangan Sabrang namun tubuhnya terpental mundur. Darah segar mengalir dari mulutnya.
"Dari mana anak ini mendapatkan kekuatan sebesar ini". Jaka sudah mengalirkan tenaga dalam ke Pedangnya saat menahan serangan Sabrang namun tetap membuatnya terdesak mundur.
Kembali Jaka meningkatkan kecepatannya untuk menyerang Sabrang, namun kali ini Sabrang terlihat mudah menghindarinya dan beberapa serangan Sabrang dapat mengenai tubuh Jaka.
Jaka mundur beberapa langkah mengatur nafasnya yang mulai tidak beraturan. Dia telah menggunakan hampir seluruh tenaganya untuk menyerang Sabrang namun semuanya bisa dihindari Sabrang dengan mudah.
Sabrang tiba tiba merasakan sakit dikepalanya. Dia merasakan ada sesuatu yang coba masuk kepikirannya dan mengendalikannya.
"Aku harus cepat menyelesaikan pertarungan ini atau kepalaku akan hancur menahan rasa sakit ini.
"Baiklah nak, kita lihat seberapa tinggi sebenarnya kekuatanmu" Jaka merapal jurus dan siap menyambut serangan Sabrang.
Saat tubuh Sabrang sudah berada didekatnya tiba tiba raut wajah Jaka berubah seketika. Dia sangat mengenali Jurus yang digunakan oleh Sabrang
"Tarian Iblis Pedang" Jaka terpental jauh kebelakang jurusnya tak dapat menandingi jurus yang digunakan Sabrang. Tubuhnya mulai terbakar kobaran Naga Api.
"Dia bahkan meniru Jurusku, ah tidak jika dilihat lagi Tarian Iblis Pedangnya lebih bertenaga dan mematikan dari Tarian Iblis pedangku. Apakah dia benar benar manusia? Siapa dia sebenarnya". Dalam hitungan detik tubuh Jaka sudah menjadi abu.
Sabrang jatuh terduduk beberapa saat setelah menyerang Jaka, nafasnya tidak beraturan. Dia merasakan tenaga yang mengalir besar di tubuhnya perlahan menghilang diikuti hilangnya kobaran api yang menyelimutinya.
Ametung yang mengamati Sabrang dari tadi mulai menyadari sesuatu, dia mengenali pedang yang berada dalam genggaman Sabrang.
"Bukankah itu Pedang Naga Api? Bagaimana anak itu memilikinya?". Ametung mengenal betul Pedang Naga Api karena dia termasuk salah satu tetua yang dulu ikut mengeroyok Suliwa.
Tak lama seorang gadis berlari ke arah Sabrang, terlihat wajahnya cemas menatap sekitarnya.
__ADS_1
"Tuan, anda baik baik saja?" Sabrang mengangguk pelan.
"Aku tidak apa apa nona, sebaiknya kita memeriksa guru Ametung segera".
Perlahan Mentari dan Sabrang mendekati Ametung dan memeriksa lukanya.
.....................................
"Hamba memberi hormat pada Pangeran" Ametung berlutut dihadapan Sabrang dengan wajah pucat.
"Hamba pantas mati tidak dapat mengenali Pangeran lebih cepat".
"Bangunlah guru, tidak perlu dibesar besarkan, bagaiman guru dapat mengenaliku dalam suasana seperti ini". Sabrang perkata pelan.
Ametung bangkit dari duduknya dengan hati hati. Tak jauh dari mereka berbicara Mentari mematung mendengar pembicaraan mereka.
"Jadi dia adalah Keturunan yang mulia Raja? ".
"Aku harap guru dapat menemui Paman Wijaya untuk berbicara lebih banyak mengenai Malwageni. Dia berada di Sekte Pedang Naga Api, Sementara waktu aku menyerahkan tanggung jawab padanya".
"Sementara waktu aku harus pergi guru, ada sesuatu yang harus kucari".
"Baik pangeran setelah hamba membereskan kekacauan ini segera Hamba akan menemui tuan Patih".
Ametung memandang Sabrang sesaat. Dia merasakan harapan baru ditengah gempuran Kerajaan Majasari dan aliansi sekte aliran hitam.
"Semoga Pangeran menjadi harapan kebangkitan Malwageni kelak" gumamnya dalam hati.
Setelah beristirahat beberapa hari memulihkan tenaganya Sabrang dan Mentari kembali melanjutkan perjalanan namun kali ini Mentari berjalan dengan perasaan canggung karena mengetahui identitas Sabrang.
"Sepertinya kita akan melewati hari hari dengan masalah nona". Sabrang merasa kini Iblis Hitam makin agresif melakukan penyerangan kepada sekte alirah putih.
"Ku harap nona tidak menyesal memutuskan mengikutiku".
Mentari mengangguk ragu, dia berjalan hati hati di sebelah Sabrang.
"Apakah nona sedang tidak enak badan?" kenapa aku merasa nona sedikit menjaga jarak denganku".
__ADS_1
"Ah ti... ti...tidak tuan aku tidak menjaga jarak dengan anda, aku hanya sedang tidak ingin berbicara". Mentari kembali menunduk setelah menyelesakan perkataannya.