
"Dia berasal dari sekte tapak es utara? Cepat panggil ketua sekarang, kita bukan lawannya". Ucap salah satu pendekar pada juniornya yang berdiri tak jauh darinya.
Ketika Sabrang telah menyelesaikan makannya, terlihat kedua tangannya mulai diselimuti bongkahan es.
"Jika anda berfikir untuk bertarung disini, kuharap anda mengurungkannya. Uang yang diberikan paman Wardhana akan habis untuk mengganti kerusakan penginapan ini". Ucap Mentari ketus.
Sabrang tersenyum cangung sambil menggaruk kepalanya saat mendengar ucapan Mentari.
"Baiklah, kita pergi saja dari sini". Ucap Sabrang pelan. Dia bangkit dan berjalan keluar penginapan, Mentari terlihat mengikutinya dari belakang.
Sebenarnya Mentari masih ingin beristirahat lebih lama namun dia tidak mau ada keributan lainnya setelah pertempuran besar di Dieng. Pertempuran di tempat paling misterius itu masih membekas diingatannya. Saat itu dia sudah berfikit tidak akan meninggalkan tempat itu jika Sabrang tidak muncul didetik terakhir.
Langkah Sabrang terhenti ketika dua pedang terhunus dihadapannya. Dia menggeleng pelan sambil menatap tajam dua pendekar yang memghadangnya.
"Apa yang sebenarnya kalian inginkan? kalian tadi menyuruhku pergi dari sini dan sekarang aku akan pergi namun kalian menghalangiku?". Tanya Sabrang pelan.
"Kau pikir bisa seenaknya pergi setelah membekukan teman kami?". Salah satu pendekar Matahari kembar menghardik Sabrang.
"Aku hanya membekukannya sebentar agar kepalanya dingin dan tidak menggangu orang yang sedang makan. Beberapa jam lagi es itu akan mencair, tunggu saja". Ucap Sabrang pelan.
Namun sepertinya para pendekar itu telah hilang kesabaran setelah melihat temannya membeku. Walaupun Sabrang berbicara sopan para pendekar itu tetap menyerangnya.
Dua orang pendekar mencoba menyerang secara bersamaan namun mata bulan Sabrang melihat lebih cepat. Tinju kilat hitamnya lebih dulu menghantam dua pendekar itu.
"Cepat sekali". Tubuh kedua pendekar itu terpental keluar
"Kita selesaikan urusan diluar penginapan, aku tidak ingin kalian menghancurkan tempat ini". Sabrang melesat cepat dan kembali melepaskan pukulan kepada dua pendekar yang masih melayang diudara.
"Bukan mereka tapi anda yang akan menghancurkan penginapan ini". Mentari menggeleng pelan.
Melihat dua temannya tersungkur dan tidak bisa bangkit lagi, mereka segera mengepung Sabrang.
"Sepertinya aku memang butuh sedikit olah raga setelah satu purnama lebih tubuhku tak bergerak". Sabrang mengeluarkan pisau pisau es ditangannya.
"Ada keributan apa ini?". Sebuah suara mengagetkan Sabrang dan para pendekar itu. Terlihat seorang pria paruh baya berjalan mendekati pertarungan bersama puluhan anggota sekte Matahari kembar lainnya.
"Ketua, dia berani membuat masalah diwilayah kekuasaan Matahari kembar". Ucap salah satu pendekar melapor pada ketuanya.
"Siapa yang berani berbuat onar diwilayahku?". Pria paruh baya itu menatap tajam Sabrang.
Salah satu pelayan penginapan berlari menghampiri Mentari dengan wajah pucat.
"Nona teman anda dalam bahaya, tuan Hara tidak akan melepaskannya". Ucap pelayan itu terbata bata. Dia merasa iba melihat nasib Sabrang setelah ini, tidak ada satupun penduduk desa yang selamat setelah berurusan dengan Matahari kembar.
"Hara? bukankah dia salah satu tetua Racun selatan?". Mentari mengernyitkan dahinya.
"Benar nona, setelah Sekte racun selatan hancur tuan Hara mengumpulkan sisa sisa muridnya dan membentuk Sekte Matahari kembar
Itu yang kudengar dari mulut kemulut". Pelayan itu memberi penjelasan.
Pelayan itu sempat mengernyitkan dahinya saat melihat wajah Mentari yang begitu tenang, tidak ada rasa khawatir sedikitpun melihat temannya dikepung puluhan orang.
"Dia dalam masalah kali ini". Mentari menggeleng pelan.
__ADS_1
"Lalu apa yang akan anda lakukan?". Tanya pelayan itu.
"Bukan tuan muda yang dalam masalah tapi mereka semua". Ucap Mentari pelan.
Mentari tau betul kemampuan Hara, salah satu dari 4 tetua sekte racun selatan adalah orang yang pengecut dan selalu berlindung dipunggung Ki Saprana. Dengan kemampuan Sabrang yang terus meningkat, bukan hal sulit baginya mengalahkan mereka semua.
Butuh waktu bagi pelayan itu mencerna ucapan Mentari. Bagaimana mungkin anak semuda Sabrang bisa mengalahkan puluhan pendekar dunia persilatan.
"Sebaiknya kau menyerah anak muda, aku tidak ingin melukai anak kemarin sore. Hal itu akan mempermalukan diriku sendiri".
"Ternyata kabar yang kudengar benar, salah satu tetua sekte racun selatan hanya pintar bicara". Ucap Sabrang mengejek.
"Siapa kau se....". Belum selesai Hara bicara, Sabrang telah muncul dihadapannya dengan senyum dingin. Dia melepaskan beberapa pukulan ketubuh Hara.
"Serang dia". Teriak salah satu pendekar ketika melihat tubuh Hara terpental.
"Kalian yang menginginkannya". Sabrang melepaskan aura hitam pekat dari tubuhnya, tak lama kedua pusaka Dieng terbentuk dikedua tangannya.
Para pendekar yang merasa diatas angin karena Sabrang tidak memegang senjata tersentak kaget ketika muncul dua senjata dikedua tangannya.
Ayunan pedang dan keris dikedua tangannya mencabut nyawa siapa saja yang dilewatinya. Sabrang bergerak semakin cepat dan berputar diantara kepungan pendekar Matahari kembar.
Sabrang memperlambat gerakannya saat sepuluh pendekar mendekatinya dari arah berlawanan. Saat dia mulai memutar Pedang Naga apinya tiba tiba keris ditangan kirinya menghilang. Sabrang mengayunkan pedang yang diselimuti kobaran api itu dan berusaha meraih tubuh para pendekar itu. Dalam hitungan detik tubuh pendekar itu hangus terbakar api.
"Siapa dia sebenarnya?". Ucap salah satu pendekar sebelum sebuah keris menghujam tubuhnya dari arah belakang. Keris itu melesat menembus tubuhnya dan menempel kembali di tangan kiri Sabrang.
Sabrang kembali bergerak menyerang seolah tak ingin memberi mereka nafas sedikitpun. Terlihat keris penguasa kegelapan beberapa kali menghilang dan muncul dari berbagai arah dan melumpuhkan siapapun yang dilewatinya.
Hara mencoba melarikan diri ketika Sabrang sedang sibuk bertarung dengan puluhan muridnya.
Ketika tebasan Sabrang mengenai pendekar terakhir yang ada dihadapannya, Pedang Naga api kembali berubah menjadi kobaran api.
Sabrang mengarahkan lengan kanannya kearah Hara yang terus berlari seolah sedang membidiknya. Tak lama kemudian tubuh Hara melayang diudara.
"Apa yang terjadi dengan tubuhku". Hara terkejut ketika tibuhnya tiba tiba melayang diudara.
Saat Sabrang terlihat seperti menarik sesuatu dari tangannya, tubuh Hara melesat cepat kearah Sabrang seperti terhisap sesuatu.
Sabrang memutar lengannya saat berhasil mencengram leher Hara dan menjatuhkannya ketanah. Bongkahan es dengan cepat terbentuk ditubuh Hara dan menguncinya.
"Kenapa kau seperi terburu buru sekali". Ucap Sabrang sambil membentuk pisau es kecil ditelunjuk tangannya.
"Tu... tuan sepertinya ada sedikit salah paham". Raut Wajah Hara makin pucat saat melihat pisau es ditangan Sabrang.
"Salah paham?". Sabrang mengernyitka dahinya.
"'Mereka mencari masalah yang harusnya bisa mereka hindari". Ucap Mentari pelan.
Gadis Pelayan penginapan itu masih mematung disebelah Mentari, kini dia mengerti maksud ucapan gadis itu.
Tanpa mereka sadari dari kejauhan tampak dua orang pendekar mengamati dari awal pertarungan.
"Dia cepat sekali". Mahawira menggelengkan kepalanya. Walau belum bisa mengakahkan kecepatannya namun sangat jarang pendekar dunia persilatan bisa bergerak secepat itu.
__ADS_1
"Belum, dia belum menggunakan seluruh kemampuannya". Candrakurama terlihat tersenyum.
"Kakang, jangan pernah berfikir untuk melawannya. Guru sudah berpesan untuk mengambil kitab itu diam diam tanpa menimbulkan keributan". Mahawira memperingatkan kakak seperguruannya untuk dapat menahan diri.
"Aku tau". Ucap Candrakurama pelan, dia diam diam melepaskan auranya kearah Sabrang. "Ayo kita pergi, Sekte Tapak es utara masih lumayan jauh". Candrakurama melangkah pergi, dia terlihat tersenyum puas setelah melihat lawan yang cukup kuat setelah sekian lama.
Tubuh Sabrang tiba tiba kaku sebelum terjatuh berlutut didekat Hara yang masih terkunci ditanah.
"Naga api, kau merasakannya?". Ucap Sabrang dengan wajah pucat.
Naga api mengangguk pelan. "Energi besar ini belum pernah kurasakan sebelumnya, siapa sebenarnya pemilik energi mengerikan ini?".
"Siapapun dia aku yakin dia sedang menantangku". Gumam Sabrang dalam hati.
"Tuan Muda, anda baik baik saja?". Mentari terlihat khawatir ketika Sabrang tiba tiba terjatuh.
"Ah aku baik baik saja". Sabrang duduk bersila, dia berusaha mengalirkan tenaga dalamnya untuk menekan aura yang muncul tiba tiba.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
CATATAN : API DI BUMI MAJAPAHIT
Novel kedua ini sudah bisa dibaca di Mangatoon.
Search aja Api Di Bumi Majapahit atau klik Profil author dan klik Karya. Mohon Dukungannya ya...
Novel Pedang Naga Api merupakan gerbang pembuka dari Trilogi novel silat yang rencananya akan Author terbitkan. Api Di Bumi Majapahit adalah buku ke dua atau lanjutan dari PNA yang akan membuka sisi sisi gelap yang belum terbuka di PNA.
Kenapa Buku kedua ini Author putuskan untuk diterbitkan bersamaan dengan PNA karena novel ini juga tidak akan jauh dari misteri misteri yang harus dipecahkan sang tokoh utama. Dengan terbit sedikit berbarengan Author berharap Temen temen bisa ngumpulin kepingan misteri di novel PNA tanpa harus membuka Chapter lawas...
Semoga Api di Bumi Majapahit bisa diterima seperti pendahulunya PNA....
Terima Kasih
Salam Nusantara.....
Sinopsis Api Di Bumi Majapahit
Seribu tahun setelah pertempuran pendekar langit merah dengan pendekar terkuat pengguna Naga api dan bertepatan dengan berdirinya Kerajaan Majapahit, sebuah perguruan silat misterius bernama Tengkorak merah muncul kedunia persilatan dan kembali membuat kekacauan.
Mereka mencari kitab ilmu kanuragan tanpa tanding yang pernah dimiliki oleh Sabrang Damar, Pendekar terkuat pengguna Naga api yang menghancurkan Pendekar langit merah. Ilmu kanuragan yang mampu mengendalikan energi Banaspati itu bernama Kitab Api Abadi.
Disaat yang bersamaan seorang pemuda yang sangat membenci ilmu kanuragan karena masa lalu kelamnya justru menjadi harapan baru dunia persilatan untuk menghancurkan kekejaman Perguruan tengkorak merah yang memiliki ilmu kanuragan tinggi.
Pertemuan tak disengaja pemuda itu dengan seorang gadis dari perguruan aliran putih merubah segalanya. Gadis itu seolah diutus untuk menarik pemuda paling berbakat itu untuk mulai mencintai Ilmu kanuragan yang sangat dibencinya.
Apakah pemuda itu akan terseret kedalam pusaran dunia persilatan atau justru dia tetap memilih menjauhi Ilmu kanuragan yang sangat dibencinya?
Semua perjalanan hidup pemuda itu di kemas dalam novel berlatar belakang kerajaan terbesar nusantara Majapahit.
Api di Bumi Majapahit SUDAH terbit di Apk kesayangan kita Mangatoon / Noveltoon.
Update : Setiap hari
__ADS_1