
Ciha terlihat mendekati Wardhana yang berdiri diatas dek kapal dan memandang lautan luas.
"Angin laut bisa membuat anda sakit tuan" sapa Ciha.
Wardhana hanya tersenyum tanpa menoleh sedikitpun. Wajahnya tampak murung menandakan banyak masalah yang ada dikepalanya.
"Apa anda masih memikirkan kejadian beberapa hari lalu?".
"Pangeran Pancaka adalah anak dari selir Raja, bagaimanapun tindakannya akan dikaitkan dengan Malwageni, aku hanya takut hubungan dengan Saung galah rusak".
"Mungkin ilmu kanuraganku sangat buruk namun aku memiliki sedikit kemampuan dalam berfikir walau tidak secerdas anda. Aku akan membantu sekuat tenaga untuk merebut Malwageni".
Wardhana mengernyitkan dahinya saat mendengar ucapan Ciha.
"Sejak kapan Bintang langit mengizinkan anggotanya terjun dalam politik pemerintahan?".
"Rajamu memiliki sesuatu dalam dirinya yang sepertinya bisa membuat orang tertarik padanya. Walau terkadang aku takut saat dia mengayunkan pedangnya namun aku yakin dia akan menjadi Raja yang baik".
Wardhana tertawa lepas setelah mendengar ucapan Ciha. "Kau kadang mampu merubah suasana hatiku Ciha, terima kasih karena kau sudi membantu Yang mulia".
"Tuan sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan pada anda namun aku belum terlalu yakin" ucap Ciha ragu.
"Pertempuran kali ini semua masih samar samar, bahkan kita tidak tau siapa lawan yang kita hadapi. Yang bisa kupastikan hanya lawan kali ini sangat mengerikan karena dia memiliki gabungan ilmu pengetahuan dan ilmu kanuragan. Petunjuk sekecil apapun walau akhirnya tak berguna harus kita pastikan. Katakanlah Ciha".
Ciha membuka gulungan gambar yang ditemukan Wardhana di Wentira.
.
"Apa anda merasa tidak ada yang aneh dengan gambar ini?".
"Aneh? sudah beberapa kali aku melihat gambar itu namun tidak ada yang aneh sama sekali". ucap Wardhana pelan namun raut wajahnya berubah saat ada titik noda buah buahan diatas gulungan itu.
"Hei Ciha, sudah kukatakan padamu untuk tidak makan saat memegang gulungan ini. Ini adalah gulungan kuno, jika rusak kita akan kehilangan petunjuk penting" Wardhana setengah berteriak. Dia merasa Ciha terlalu ceroboh.
Ciha terkekeh melihat reaksi Wardhana, dia kadang sangat kagum pada hal hal detail yang diperhatikan Wardhana namun sikap hati hatinya kali ini bisa menutup rahasia besar yang mereka cari.
"Tuan sebelumnya aku ingin minta maaf karena melanggar aturan anda untuk membersihkan kedua tanganmu sebelum menyentuh gulungan ini namun aku terlalu lapar saat itu. Sebenarnya yang ingin aku bicarakan pada anda mengenai tetesan air sari dari buah buahan yang kumakan ini".
"Jika kau ingin meminta maaf lupakan, aku sudah memaafkanmu" ucap Wardhana masih sedikit kesal.
"Bukan itu tuan" balas Ciha.
"Bukan itu?" Wardhana mengernyitkan dahinya.
Ciha mengeluarkan sisa buah buahan yang dimakannya tadi dan memeras buah itu lalu meneteskan hati hati pada gulungan itu.
Wardhana tersentak kaget melihat tingkah Ciha, dia hampir memukul Ciha jika tidak melihat garis garis tipis setelah tetesan sari buah itu sedikit meluber.
__ADS_1
"Ini?" ucap Wardhana terkejut.
"Mereka menyamarkan sesuatu digulungan ini dan sepertinya sari buah ini mampu memunculkan apa yang mereka sembunyikan".
Wardhana terdiam sambil terus mengamati garis garis halus yang mulai terlihat menebal. Raut wajahnya sedikit berubah saat menyadari letak gambar yang disembunyikan itu.
"Ini Daratan Jawata, ini Dien yang kita hancurkan itu bukankah gambar ini hanya lautan? tidak ada daratan apapun" Wardhana menunjuk gambar tersembunyi yang letaknya ternyata tidak terlalu jauh dari lokasi Dieng.
"Anda yakin hanya lautan? bukankah gerbang kedua dan ketiga Dieng juga berada dibawah laut?" jawab Ciha.
"Jadi menurutmu yang sedang disembunyikan pemuda misterius itu sebuah daratan seperti Dieng?"
"Kemungkinan terbesar saat ini seperti itu tuan, dan aku yakin misteri berusun itu akan mengantarkan kita pada daratan tersembunyi itu".
Wardhana terlihat berfikir sejenak, dia terus mengamati lokasi daratan tersembunyi dan jaraknya yang cukup dekat dengan Dieng.
"Sepertinya aku mulai mengerti mengapa nama Telaga khayangan api pertama kali muncul di Dieng" ucap Wardhana.
"Maksud anda?".
"Jarak antara daratan itu dan Dieng cukup dekat, sepertinya suku Iblis petarung saat itu hampir menemukan daratan misterius itu. Pemuda itu kemudian memanfaatkan pendekar Langit merah untuk menyampaikan lokasi telaga khayangan api pada Iblis petarung.
Suku Iblis petarung yang termakan kabar itu akhirnya terobsesi pada Telaga khayangan api dan melupakan daratan itu. Sejak awal suku Iblis petarung ataupun Pendekar langit merah hanya pion yang digerakkan pemuda itu".
Ciha cukup terkejut mendengar penjelasan Wardhana karena dia tidak berfikir sampai sejauh itu. Dia hanya berfikir jika didekat Dieng ada sebuah daratan tersembunyi.
"Gambarannya mulai tersusun dikepalaku namun kita harus berhati hati, pemuda itu sepertinya penuh tipu muslihat. Jangan sampai kita bernasib seperti Iblis petarung yang justru semakin jauh dari daratan itu".
Tubuh Sabrang terlihat terlempar didinding kamarnya, bongkahan es tiba tiba muncul dan mengunci kedua tangan dan kakinya.
Mendapat serangan tiba tiba dan entah dari mana membuat Sabrang tidak siap.
Sebuah energi berwarna merah muncul dihadapan Sabrang yang tergantung didinding.
"Dia menguasai Dewa es abadi?" ucap Sabrang sambil meronta mencoba melepaskan diri. Tubuhnya mulai diselimuti kobaran api.
"Aku tak akan melakukannya jika menjadi dirimu. Energi Naga api bisa membakar kapal ini dan kalian akan mati dilautan ini". ucap Energi merah yang menyerupai kakek tua sambil mendekat.
"Siapa kau sebenarnya? bagaimana kau bisa berada diatas kapal ini?".
"Akan kujawab semua pertanyaanmu namun sebelum itu aku harus menyegel sementara dua kekuatan dalam tubuhmu. Tak kusangak Panca benar benar membuat pusaka yang sangat kuat" Pria tua itu menyentuh kepala Sabrang, hawa dingin mengalir didalam tubuh Sabrang dan mengunci kekuatan Naga api dan Anom.
"Apa yang kau lakukan pada mereka?" bentak Sabrang
"Aku hanya menguncinya sementara, setelah kita selesai bicara aku akan membukanya".
Pria tua itu duduk dihadapan Sabrang sambil tersenyum hangat.
__ADS_1
"Namaku Naraya Dwipa, kau boleh memanggilku kakek".
"Dwipa?" Sabrang mengernyitkan dahinya.
"Apa kau pernah mendengar nama itu? aku adalah generasi pertama Trah Dwipa".
"Jadi kau leluhurku? bagaimana bisa?".
"Disaat terakhir hidupku, aku berhasil menyimpan energiku dengan segel ciptaanku kedalam sebuah kalung. Kalung itu yang selalu digunakan keturunan trah Dwipa secara turun temurun. Ayahmu memberikan kalung itu pada ibumu saat dia mengangkatnya menjadi Ratu. Kecerdasan ibumu lah yang akhirnya membuatnya bisa mengetahui keberadaanku.
Saat energiku hampir sirna, dia menyalurkan energi murni untuk membuatku bertahan agar aku bisa bicara padamu".
"Ibu memintamu bicara padaku?" Sabrang mengernyitkan dahinya.
Naraya mengangguk pelan "Kau pikir dari mana bakat besarmu diturunkan? dibalik sikap lembutnya, dia dianugrahi kecerdasan dan bakat yang sangat luar biasa. Berbeda dengan keturunanku yang bodoh sepertimu, namun dia memutuskan mengubur semua bakatnya setelah menjadi Ratu".
"Tunggu, jadi kalung yang menyimpan energimu adalah kalung ini?" Sabrang menunjuk kalung pemberian Tungga dewi yang dikenakannya. "Bagaimana mungkin? kalung ini adalah pemberian orang tua Tungga dewi padanya".
"Ibumu sudah mengetahui seluruh rahasia yang kau cari selama ini namun dia tidak memiliki kemampuan menghentikannya. Kalung itu dan dirimu adalah kunci membongkar rahasia Masalembo. Ibumu memisahkan dua kunci itu dan memberikannya pada sahabatnya. Siapapun tadi yang kau sebut Tungga dewi, kalian telah dijodohkan sejak kalian baru lahir. Itu salah satu wasiatnya saat menyerahkanku pada sahabat lamanya".
"Dijodohkan?".
"Lupakan masalah itu sejenak, ada hal penting yang harus aku katakan sebelum energiku habis". Naraya Dwipa berjalan mendekati Sabrang dan membisikkan sesuatu.
"Saat itu aku hanya mampu menyegel mahluk itu, dan saat ini Umbara dan semua prajurit Masalembo berusaha membangkitkannya kembali. Aku yakin kau mampu melakukannya kali ini karena dukungan orang orang cerdas dan kuat disekitarmu, ditambah gadis pemilik energi suci yang kau sebut Tungga dewi tadi. Kesalahan terbesarku saat itu adalah merasa mampu menanggung beban sendirian. Berjuanglah bersama mereka karena sekuat apapun dirimu kau tak akan mampu menanggungnya sendiri. Pesanku padamu, Semua yang kau lihat belum tentu kenyataan dan semua yang semu mungkin kenyataan yang tersembunyi".
Energi Naraya Dwipa mulai menghilang, dia tersenyum bangga melihat keturuannya hampir melampaui kekuatannya.
"Satu pesan terakhirku padamu, Jangan pernah permainkan wanitamu. Ayahmu pernah hampir mati saat dia mengangkat seorang selir. Kekuatan tersembunyi seorang wanita jauh lebih menakutkan dari Iblis api yang bersemayam didalam tubuhmu. Aku sudah melihat kekuatan itu pada ibumu" Naraya tertawa lantang sebelum energinya benar benar hilang.
"Mempermainkan wanitamu? kapan aku pernah mempermainkan wanita, dasar bodoh". Es dikedua tangan dan kakinya mulai mencair dan saat tubuhnya jatuh kelantai tiba tiba dia terbangun dari tidurnya.
"Mimpi?" ucap Sabrang terkejut.
Dia kembali mengingat ucapan Naraya padanya. (Semua yang kau lihat belum tentu kenyataan dan semua yang semu mungkin kenyataan yang tersembunyi). "Aku harus memberitahukannya pada paman, mungkin ini petunjuk menuju Masalembo".
Sabrang bangkit dari tidurnya dan melangkah keluar kamarnya namun tiba tiba dia menghentikan langkahnya saat perutnya terasa mual.
"Sial, aku lupa jika mabuk laut, sedikit saja aku bergerak perutku terasa mual".Sabrang berlari keluar dan memuntahkan seluruh isi perutnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Untuk Hari ini seperti biasanya Chapter kedua PNA akan terbit agak malam karena tugas yang tak bisa saya tinggalkan...
Bagi yang ingin mendukung Author bisa mengunjungi
https://karyakarsa.com/ Rickypakec
__ADS_1
hapus spasi didepan huruf R
Terima kasih.....