
"Kau pikir dengan kekuatanmu saat ini sudah cukup?" Sabrang terkejut ketika sebuah suara tiba tiba terdengar di telinganya saat sedang duduk di kamarnya.
"Naga api?" Sabrang mengernyitkan dahinya menoleh kearah pedangnya yang berada di mejanya.
"Bagaimana kau bisa berkomunikasi denganku saat aku tersadar? Bukankah selama ini kau selalu berkomunikasi denganku di alam bawah sadarku saat aku tak sadarkan diri? ".
"Semakin kau bertambah kuat maka kau dapat berkomunikasi denganku tanpa harus tak sadarkan diri".
"Oh jadi begitu" Sabrang berkata pelan. Perlahan Pedang Naga api diselimuti kobaran api.
"Kau harus secepatnya menjadi lebih kuat, aku merasakan energi Pedang pusaran angin semakin menguat. Dengan kekuatanmu saat ini ditambah kekuatanku yang terkurung oleh segel 4 unsur kau tak kan bisa bertahan lebih dari satu jurus jika bertemu dengan pemilik Pedang pusaran angin".
"Pedang pusaran angin?".
"Benar, Pedang pusaran angin adalah sebuah pedang Iblis yang diciptakan oleh seorang ahli pedang ribuan tahun lalu menggunakan bahan 4 elemen yang berasal dari tanah dewa.
Aku tidak tau bagaimana bisa aku merasakan energinya karena yang kutau dulu sang pemiliknya menyegel pedang itu dengan segel kuno di Dieng, bagaimana mungkin kini pedang itu terlepas dari segel kuno" Suara Naga api sedikit meninggi
"Maksud mu kini pedang pusaran angin muncul didunua persilatan?"
"Aku tidak tau namun aku merasakan energi itu makin hari makin kuat dan ini bukan kabar yang baik, bahkan dengan kekuatan penuhkupun kita belum tentu bisa mengalahkannya".
"Sekuat itukah?" Sabrang bergumam dalam hati.
"Kau harus segera menemukan cara menyempuranakan energi bumi lalu menyempurnakan Jurus Pedang Pemusnah raga".
"Bukankah aku telah menguasainya?".
Naga api terkekeh sesaat setelah Sabrang berbicara "Kau pikir itu Energi bumi? Kau hanya membenturkan tenaga dalam secara acak. Energi Bumi jauh lebih kuat dari yang kau kuasai, Membenturkan Tenaga dalam yang besar kemudian memanfaatkan efek benturan dengan mengalirkan keseluruh tubuhmu dan mengeluarkannya melalui jurus pedangmu".
"Inti dari Energi bumi memang gabungan dari kekuatanku digabungkan dengan Jurus api abadi namun tidak sesederhana itu. Tubuhmu harus bisa menyerap semua kekuatanku dan menggabungkan dengan jurus Api abadi.
Sedangkan kau hanya menguasai dasar Api abadi, asal kau tau semua jurusmu hanya jurus tiruan dan kau tak akan bisa membangkitkan Energi bumi hanya dengan jurus tiruan".
Sabrang terdiam tidak menyanggah ataupun menjawab pernyataan Naga api. Dia pun menyadari jika semua jurusnya adalah tiruan. Mulai dari jurus Api abadi dia hanya menguasai jurus dasar tingkat II, jurus penghancur tulang milik Teratai merah pun dia hanya meniru apa yang diperlihatkan Wulan sari begitupun dengan jurus rengkah Jiwa milik Gandana hanya beberapa yang dia kuasai.
"Lalu apakah aku harus kembali menemui Kakek guru untuk belajar kembali?" Sabrang mengernyitkan dahinya.
"Kau meremehkanku, aku menyimpan semua gerakan Jurus penggunaku sebelumnya termasuk Api abadi. Aku akan mengajarimu jurus Api abadi sampai tingkat akhir dan menjadikanmu pendekar nomor satu dunia".
"Kenapa kau melakukan ini naga api? bukankah kau ingin menguasai tubuhku? Jika aku bertambah kuat kau tak akan bisa menguasaiku lagi?".
Naga api terdiam sesaat "Apakah Suliwa hanya mengajarimu untuk banyak bertanya?" Tiba tiba pedang Naga api melayang diudara dan bergerak kearah Sabrang.
"Tangkap aku, kuajari kau memaksimalkan Cakra manggilingan sebelum kuajari Jurus Api abadi tingkat III" Sabrang menyambut Pedang naga api yang melesat kearahnya.
"Suatu saat kau akan mengerti mengapa aku selalu berusaha menguasai tubuh penggunaku" Naga api bergumam pelan.
***
"Bagaimana pertemuanmu dengan Aji seta?" Wijaya berkata pada Wardhana yang ada dihadapannya.
"Sepertinya dia akan membantu kita tuan" Wardhana tersenyum penuh makna.
__ADS_1
"Aku tidak tau apa yang kau bicarakan dengannya namun jika benar apa yang kau katakan kita bisa melanjutkan rencana kita".
"Lalu di mana pangeran tuan? aku tidak melihatnya dari tadi".
"Dia ada dikamarnya, kemarin dia berpesan tidak ingin di ganggu untuk beberapa hari ini" Wijaya berkata pelan dan menatap Wardhana.
"Apakah dia ada masalah?".
Wardhana menggeleng pelan " Aku tidak tau tuan namun teman seperjalanannya terluka parah dan kini sedang dirawat di Kelelawar hijau".
Wijaya menarik nafasnya panjang, "Aku sedikit khawatir dengannya, tidak biasanya dia mengurung diri dikamar".
"Mungkin dia perlu waktu menerima keadaan akhir akhir ini tuan".
"Semoga saja, Kau ingin menemuinya? ".
Wardhana mengangguk pelan, "Jika tidak mengganggu Pangeran ada sesuatu yang ingin aku sampaikan".
"Tak apa, dia sudah dua hari mengurung diri dikamar, sekalian kita lihat keadaannya" Wijaya melangkah menuju kamar Sabrang diikuti Wardhana dibelakangnya.
"Pangeran hamba bersama Wardhana ijin menghadap". Wijaya mengetuk pintu beberapa kali namun tidak ada jawaban.
Wijaya menoleh kearah Wardhana dengan wajah khawatir. "Kita masuk saja", Wardhana mengangguk pelan.
Wijaya membuka pintu kamar Sabrang perlahan, Raut wajahnya tiba tiba berubah saat menatap Sabrang sedang duduk bersila dengan mata terpejam. Aura aneh menyelimuti tubuh Sabrang. Kobaran api merah pekat memyelimuti tubuh Sabrang.
"Pangeran" Wijaya berkata pelan.
Tiba tiba Aura aneh yang menyelimuti tubuh Sabrang meluap keluar menekan yang ada disekitarnya bahkan tubuh Wijaya dan Wardhana terdorong beberapa langkah.
"Aku tidak tau namun energi apapun ini bisa menghempaskan tubuh kita dengan mudah tanpa menyentuh" Wijaya menatap ngeri Sabrang yang perlahan mulai membuka matanya.
"Ah paman Gundala paman Wardhana kalian baik baik saja?" Sabrang terkejut melihat Wijaya dan Wardhana seperti terhempas sesuatu.
"Kami baik baik saja Pangeran, Maaf mengganggu anda" Wijaya berbicara terbata bata, dia masih terkejut melihat aura yang dilepaskan Sabrang.
"Dia berkali kali lipat lebih kuat dari dua hari lalu, latihan apa yang dilakukannya dua hari ini" Wijaya berkata dalam hati.
"Ada apa paman?" Sabrang berkata setelah mempersilahkan mereka duduk.
"Situasi di Saung galah sepertinya sudah berpihak pada kita Pangeran, dalam beberapa hari mungkin Yang mulia sudah memutuskan sesuatu. Sepertinya kita sudah bisa mulai bergerak ke rencana selanjutnya namun sebelum itu kita harus menemui tuan Mada untuk meminta informasi yang dia dapatkan" Wardhana berbicara pelan.
"Oh begitu, sukurlah jika demikian aku sempat khawatir setelah berbicara dengan Tuan patih beberapa hari lalu".
"Besok aku berencana mengunjungi tuan Mada di Kadipaten Rogo geni".
"Baiklah aku ikut denganmu paman".
"Baik pangeran".
Beberapa saat kemudian tiba tiba pintu kamar diketuk "Maaf mengganggu tuan, ada yang mencari tuan Wijaya".
"Mencariku?" Wijaya mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
Tak lama seorang pemuda masuk dengan tergesa gesa.
"Tuan Wijaya maaf mengganggu anda..." Belum selesai Pemuda itu berbicara Wijaya memotong pembicaraannya.
"Beri hormat pada Pangeran!" Suara Wijaya meninggi.
Pemuda tersebuk terkejut mendengar perintah Wijaya, dia kemudian berlutut dihadapan Sabrang.
"Hormat hamba Pangeran, hamba pantas mati tidak menyadari kehadiran anda".
Sabrang hanya tersenyum kecil "Tidak apa apa bangunlah".
Pemuda tersebut masih berlutut dihadapan Sabrang, dia menyadari melakukan kesalahan besar kali ini.
"Ada apa kau datang kemari dengan tergesa gesa" Wijaya kembali bertanya pada pemuda itu.
"Mohon maaf tuan ada kabar yang harus hamba sampaikan pada anda....." Pemuda itu menghentikan perkataannya sejenak. "Sekte Elang putih telah Hancur".
"Apa katamu?" Wijaya tak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya.
"Sekte elang putih dihancurkan oleh Iblis hitam".
Sabrang dan Wardhana tak kalah terkejut mendengar berita yang disampaikan pemuda itu.
Wajah Wijaya mengeras, tubuhnya bergetar hebat menahan amarahnya.
"Bagaimana kondisi guru Laksono?".
"Maaf tuan, tidak ada yang dibiarkan hidup oleh mereka. Tuan laksono sepertinya ikut terbunuh" Pemuda itu menundukan kepalanya.
"Iblis hitam kurang ajar, akan kubalas kau!!" Wijaya bangkit dan siap pergi namun Wardhana menahannya.
"Tuan, anda harus bersabar dan berfikir menggunakan kepala dingin. Jika anda terbawa emosi dan pergi menyerang Ibkis hitam sendirian hanya akan membawa kekalahan dan itu akan merugikan Malwageni".
Wijaya terdiam menyadari kesalahannya, dia kembali duduk dengan wajah menahan amarah.
"Hamba mohon maaf Pangeran".
"Tidak apa apa paman, aku dapat mengerti perasaan paman namun benar kata Paman Wardhana kita harus mendengarkan kabar lengkapnya dahulu lalu menyusun rencana kedepannya. Iblis hitam bukan lawan yang mudah dihadapi".
Wijaya mengangguk pelan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
***JANGAN LUPA VOTE VOTE DAN VOTE
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Vote dan Like Novel Pedang Naga Api jika menurut teman teman novel ini menarik untuk dibaca
Dukung juga penulis di
Karyakarsa. com /RickypakeC
__ADS_1
dengan memberikan vote dan dukungan dalam bentuk lainnya
Terima kasih atas dukungan teman teman semua 🙏🙏***