
"Ini adalah kesempatan kita, jika kita bisa mendapatkan kitab Golok angin milik Kencana ungu maka kita tidak akan dianggap remeh oleh Iblis Pedang".
"Akan kupastikan kitab golok angin menjadi milik Lembah tengkorak".
"Kuserahkan padamu Dayun, bawa beberapa Pendekar untuk memastikan keberhasilan misimu".
"Baik ketua".
............................
"Apakah tuan yakin akan menuju Sekte Kencana ungu? Bukankah mereka tidak menerima tamu dari luar?" Mentari bertanya ragu pada Sabrang.
"Kita harus mencobanya nona, aku ingin memastikan ini bukan jebakan bagi Sekte Rajawali Emas".
Setelah berjalan seharian sampailah Sabrang dan Mentari di Sekte Kencana ungu. Kesan tak bersahabat sudah mereka dapatkan saat mulai memasuki padepokan.
"Pergilah kalian, Kami tidak menerima tamu kali ini". seorang murid Kencana Ungu mengusir mereka dengan kasar.
Sabrang mengernyitkan dahinya, Jika mereka benar benar meminta bantuan pada Sekte Rajawali Emas kenapa masih terjadi pengusiran pada mereka. Sabrang makin yakin jika ini hanyalah tipu daya Kencana Ungu untuk menjebak Rajawali Emas.
"Mereka kasar sekali tuan, ingin sekali aku menghajarnya". Mentari mengumpat kesal mendapat perlakuan seperti itu. Dia merasa seorang Pangeran Malwageni tidak pantas mendapat perlakuan seperti itu.
"Biarkan saja nona, kita cari tempat istirahat disekitar hutan sini saja, aku akan menyusup saat malam".
Tubuh Sabrang melayang di udara. Dia bergerak dengan lincah dari satu dahan pohon ke pohon lainnya.
"Aku harus mencari tau rencana mereka pada Rajawali Emas".
Sabrang terhenti disebuah atap salah satu bangunan, terlihat dari celah genteng ada seorang wanita duduk mematung sedang memikirkan sesuatu.
Tak lama pintu kamarnya diketuk dan muncul seorang pria masuk ke ruangan tersebut.
"Maaf nona sudah larut malam seperti ini aku meminta menghadap". Indra sena merasa tak enak hati pada Nilam sari karena sudah mengganggu istirahatnya, tetapi dia merasa harus secepatnya memberitahukan kabar ini padanya.
__ADS_1
"Tak usah sungkan kakang, kabar apa yang ingin disampaikan padaku?".
"Siang tadi ada dua pendekar datang kemari nona, namun seperti biasa mereka melakukan pengusiran pada pendekar tersebut. Mungkinkah mereka berasal dari Rajawali Emas nona?".
Nilam sari menggeleng pelan, dia tidak terlalu yakin namun sepertinya mereka bukan berasal dari Sekte Rajawali Emas.
"Sepertinya mereka bukan utusan Rajawali Emas kakang. Bukankah di gulungan surat sudah kita beritahukan untuk menemui utusan kita terlibih dahulu sebelum datang kemari".
"Namun siapa mereka sebenarnya?".
Indra sena terlihat gelisah memikirkan sesuatu, ada satu hal lagi yang ingin dia sampaikan pada Nilam sari.
"Maaf nona, apakah nona mendengar kabar penyerangan Sekte Harimau buas beberapa waktu lalu?".
Nilam sari mengangguk pelan "Tak mungkin aku tidak mendengarnya kakang, kemunculan kembali Pedang Naga Api tak mungkin membuat dunia Persilatan tenang".
"Kudengar dia berasal dari sekte Rajawali Emas, Jika Rajawali emas memang akan mengutus perwakilannya harusnya mereka sudah tiba di sini nona".
"Jika memang bantuan tidak datang, aku akan memusnahkan kitab tersebut walau nyawaku taruhannya" Gumam Nilam sari.
"Kau boleh pergi kakang, aku ingin beristirahat sejenak".
"Baik nona, aku mohon diri" Indra sena bangkit dan melangkah meninggalkan kamar Nilam sari.
"Dia sudah pergi, apakah tuan Pendekar masih ingin bersembunyi?" Nilam sari berkata pelan. Sejak awal Nilam sari menyadari ada yang mengamatinya. Namun dia belum mau bertindak dan mengamati keadaan dulu.
"Ah tak kusangka nona menyadari keberadaanku, anda pasti bukan orang sembarangan". Sabrang turun dari atap genting dan berjalan masuk.
"Apakah tuan adalah pendekar yang tadi berkunjung?". Nilam sari menunjukan sikap siaga, bagaimanapun dia belum mengenali Sabrang.
Sekilas matanya tertuju pada pedang di genggaman Sabrang yang terbungkus kain putih.
"Hubunganku dengan Rajawali Emas cukup dekat, kudengar Kencana Ungu mengundang mereka untuk meminta bantuan. Aku ingin memastikan sesuatu". Sabrang menatap Nilamsari meminta jawaban.
__ADS_1
Nilam sari tersenyum kecil memandang Sabrang. Melihat kemampuannya menyusup dia menyadari jika ilmu Kanuragan Sabrang cukup tinggi. Namun lawan yang akan dihadapi adalah Sekte Lembah Tengkorak bahkan ayahnya yang telah menguasai Kitab Golok Angin.
"Semua berawal saat ayah terobsesi dengan tanah para dewa. Siang malam dia memerintahkan kami untuk mencari informasi sekecil apapun tentang Letak Tanah Para Dewa. Namun sekuat apapun kami mencari informasi keberadaan tanah para dewa kami tidak menemukan informasi apapun".
Raut wajah Sabrang sedikit berubah, Tanah Para Dewa adalah tujuan utamanya berkelana selama ini.
"Hingga suatu hari dia kembali ke Sekte dengan wajah yang gembira, dia mengatakan berhasil menemukan Tanah para dewa dan membawa pulang Kitab golok angin dan Segel Bayangan. Kudengar dari ayah jika sebenarnya kitab tersebut dulu milik leluhur kami, namun karena satu dua hal kitab itu raib dari Sekte Kencana Ungu".
"Ayah nona mengetahui Letak Tanah Para Dewa?".
Nilam sari mengangguk pelan "Menurut pengakuannya demikian tuan, kami pun tidak tau kebenaran ceritanya. Tidak ada satupun dari kami yang diberitahu letak tempat tersebut. Namun jika ayah berbohong lantas dari mana dia mendapatkan 2 kitab ilmu kanuragan tersebut?".
Nilam sari melangkah menuju lemari penyimpanannya dan mengambil sebuah kitab dan menyerahkannya pada Sabrang.
"Permohonanku pada Rajawali Emas adalah untuk menyelamatkan kitab ini dari tangan Lembah tengkorak".
Sabrang tersentak kaget mendengar nama Lembah tengkorak. "Mereka selalu menjadi sumber masalah di dunia persilatan".
"Aku ingin meminta tolong pada anda tuan, Aku ingin menitipkan sementara kitab ini pada anda, aku tidak ingin kitab ini jatuh ke tangan yang salah".
"Kitab ini berhasil aku curi dari ayah, namun kitab Golok terbang masih berada ditangannya. Jika aku tak berhasil merebutnya minimal salah satu kitab ini selamat dari cengkraman mereka".
Sabrang membuka kitab jurus yang ada ditangannya, matanya sedikit melotot melihat isi kitab tersebut.
"Itu kitab Segel Bayangan, sebuah jurus yang dapat menyegel bayangan seseorang. Jika bayangannya telah terkena segel tersebut maka pemilik bayangan tidak akan bisa bergerak bahkan pemilik jurus Segel Bayangan dapat mengendalikan tubuh si pemilik bayangan".
Sabrang kembali memandang Nilam sari "Kenapa anda mempercayakan kitab sehebat ini padaku? Bukankah anda tidak mengenalku?".
"Aku tak punya pilihan lain tuan, jika memang anda bukan orang baik baik, itu pun jauh lebih baik daripada kitab itu jatuh ke tangan Lembah tengkorak. namum aku sedikit yakin dan percaya pada anda saat anda mengatakan tujuan anda datang kemari".
Nilam sari menarik nafas panjang, dia merasakan beban berat dipundaknya.
"taukah tuan, Kadang aku berpikir akan jauh lebih baik jika Tanah Para Dewa benar benar tidak ada di dunia ini. Sepertinya sumber pertikaian selama ini adalah tempat tersebut". Terlihat air mata Nilam sari mulai menetes dari mata indahnya.
__ADS_1