Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Rahasia Tersembunyi Dieng


__ADS_3

Suasana lembab dinding gua yang terendam air laut setahun lamanya ditambah gemericik tetesan bekas air laut menjadi pengiring langkah mereka masuk ke tempat paling misterius di dunia. Lingga bahkan tidak bisa mengedipkan matanya menatap keindahan yang dibuat oleh alam itu.


"Jadi tempat ini benar benar ada". Lingga menatap takjub langit gua. Walaupun gerbang gua hanya seukuran dua kali tinggi orang dewasa namun di dalam gua terlihat cukup besar.


Ciha meraba dinding gua setelah melangkah cukup dalam. Setelah cukup yakin itu tempat yang di cari, Ciha merapal segel kabut. Tak lama kabut tebal muncul disekitar Ciha, Setelah kabut mulai menghilang terlihat batu yang cukup besar berada di dekat dinding yang tadi disentuh Ciha.


"Inilah batu tulis yang tertulis diatas tadi. Kemarilah, aku akan kembali memasang segel kabut untuk memberi kita waktu jika ada yang masuk kesini". Ucap Ciha sambil memperhatikan setiap detail batu itu.


"Anda baik baik saja tuan muda?". Mentari yang menyadari perubahan pada diri Sabrang bertanya heran. Sejak masuk ke Dieng belum sekalipun Sabrang bicara.


Sabrang hanya mengangguk pelan tanpa menjawab pertanyaan Mentari. Dia melangkah mendekati Ciha sambil sesekali menatap kesekelilingnya.


Ciha kembali memasang segel kabut untuk menyamarkan keberadaan mereka jika ada yang memasuki Dieng. Dia ingin berkonsentrasi memecahkan misteri di batu tulis sesuai permintaan Birawa. Tiba tiba aura biru menyelimuti seluruh gua dengan cepat diikuti bau belerang yang cukup menyengat.


"Tidak usah panik, segel pelindung dibuat untuk menghadapi aura biru ini. Kalian aman selama segel pelindung menyelimuti tubuh kalian. Aura ini akan hilang dengan sendirinya dan kembali lagi tiba tiba, kita hanya perlu memastikan segel pelindung tetap terpasang selama didalam sini". Ciha melirik kearah Sabrang yang tidak menggunakan segel pelindung.


Ciha sedikit terkejut saat melihat aura itu terlihat enggan mendekati Sabrang.


"Apakah ujung gua ini adalah gerbang kedua?". Tanya Lingga penasaran.


Ciha mengangguk "Ada sebuah hutan ujung sana yang dipenuhi tanaman beracun. Gerbang kedua berada dibawah sungai kematian".


"Sungai kematian?". Lingga mengernyitkan dahinya.


Ciha tidak menjawab pertanyaan Lingga, dia sudah larut dengan batu tulis dihadapannya. Ciha mengeluarkan gulungannya dan memperhatikan gulungan itu dengan serius.


"Tulisan ini tidak lengkap". Ciha meraba batu ditulisan itu. "(*Air akan membuka tabir gelap dan menghapus angkara murka *Panca*)". Ciha membaca penggalan kalimat terakhir yang paling mencolok karena ditulis dengan ukuran yang lebih besar dari lainnya.


"Apa kau menemukan sesuatu?". Lingga terlihat penasaran.


"Belum, tulisan ini seperti terhapus atau sengaja dihapus. Aku tak bisa merangkainya karena banyak huruf hilang". Ciha menggaruk kepalanya.


"Apa sebenarnya yang ingin disampaikan tuan Panca". Gumam Ciha dalam hati.


Ciha kembali membolak balik gulungannya, dia benar benar tidak mengerti dengan penggalan kalimat itu.


"Apa kau pernah mendengar istilah air laut dapat menyingkap semua misteri?". Mentari tiba tiba bicara.


Raut wajah Ciha terlihat bersemangat setelah mendengar ucapan Mentari.


"(Air akan membuka tabir gelap). Jika kita menyiram batu ini dengan air mungkin tulisan akan terlihat". Ciha segera mengambil mangkuk dari batok kelapa yang biasanya digunakan untuk makan dan mengambil air dikolam kecil sedalam mata kaki yang ada didekat batu.

__ADS_1


Raut wajahnya kembali murung setelah dia menyiram seluruh permukaan batu namun tetap tidak ada perubahan, bahkan air di kolam kecil itu sudah kering dikurasnya.


"Sial, sepertinya kita salah". Ciha menghempaskan tubuhnya dan duduk sambil terus menatap batu dihadapannya. Pandangannya terhenti di kolam kecil yang sudah kering itu.


Ciha bangkit dan mendekati kolam itu, walau samar ada tulisan di dasar kolam itu.


"Jadi begitu, menyiram batu itu dengan air laut bukan untuk memunculkan tulisan dibatu itu tetapi membuang air di kolam ini karena tulisannya ada di sini. Bantu aku membersihkan lelumutan ini". Ciha terus mengeruk dan membersihkan lumut di dasar kolam itu.


Sebuah tulisan terlihat jelas didasar kolam setelah lelumutuan dibersihkan.


"Kalian siap mengetahui rahasia tempat ini?". Ciha menarik nafas panjang sebelum mulai membaca tulisan palawa itu.


"(Semua berawal dari mimpi aneh sepanjang hidupku)". Ciha mulai mengeja tulisan itu, semua yang ada disitu seperti menahan nafas mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Ciha karena mereka sadar dari mulut pemuda itulah perlahan misteri Dieng akan tersingkap.


"(Mimpi tentang sekumpulan orang bermata biru muda yang membantai semua orang tanpa rasa belas kasihan. Mereka seolah menikmati setiap tetes darah yang mengalir dari tubuh korbannya. Saat aku mulai tertarik dan menyelidiki mereka, semua petunjuk yang kutemui di 5 gunung berapi tempat Banaspati disegel mengarah kesatu tempat. Sebuah tempat yang ditutupi oleh alam itu seolah menyimpan rahasia orang bermata biru muda itu)". Ciha tersentak kaget setelah membaca tulisan itu. Dia berusaha menenangkan diri sebelum kembali membaca. Sementara Mentari merasakan tubuhnya bergetar, tak ada lagi senyuman terlihat diwajah Mentari setelah mendengar ucapan Ciha, dia melirik kearah Sabrang yang duduk didekat Ciha.


"(*Saat aku memasuki Dieng aku baru menyadari jika semua tindakanku salah, harusnya aku tidak mengikuti petunjuk mimpiku itu dan membuka tempat ini. Suku iblis petarung, aku baru tau nama itu setelah masuk Dieng dan menemukan beberapa batu tulis di Lembah merah. Mereka ada disini! setidaknya itu yang kurasakan. Pikiranku kalut saat itu, aku yakin disuatu tempat di dalam sini bersembunyi suku abadi itu, mereka yang berhasil selamat dari kemarahan para dewa bersembunyi dan menunggu seseorang memb**ebaskan mereka dari sesuatu*)". Ciha hampir tak bisa bernafas setelah membaca tulisan itu.


"Jadi suku Iblis petarung benar benar ada didunia ini". Ucap Ciha pelan.


"Suku Iblis petarung?". Lingga mengernyitkan dahinya.


"Suku Iblis petarung adalah suku kuno yang dijelaskan di beberapa kitab jaman dulu sebagai suku yang berhasil menguasai kitab Langit dan bumi. Kitab keabadian itu berhasil mereka kuasai sebelum para dewa menghancurkan kitab itu. Ku kira itu hanya dongeng belaka". Ciha menggeleng pelan.


"Apa Mata anak ini ada hubungannya dengan suku Iblis petarung?". Gumam Lingga dalam hati. Lingga memang pernah mendengar jika mata bulan benar benar bisa dibangkitkan oleh pemilik tubuh 7 bintang namun dia tidak mengira jika semua anggota iblis petarung memiliki mata bulan. Lingga tidak bisa membayangkan betapa hebatnya suku itu jika benar benar ada.


"Aku menyadari sesuatu saat berada disini, dengan kitab keabadian langit dan bumi mereka menciptakan pusaka pusaka hebat untuk menarik para pendekar masuk kesini dan membuka gerbang kegelapan. Ya! Mereka terkurung di Gerbang kegelapan. Aku menciptakan 4 pusaka disaat terakhirku sebelum kesadaranku terenggut kabut itu untuk memperkuat segel gerbang". Raut wajah Ciha berubah pucat saat membaca kalimat terakhir itu.


"Apa maksud kata kata itu?". Lingga yang tak mengerti bertanya penasaran.


"Kau lihat tulisan ini? (Tubuh istimewa) walau sebagian tulisannya rusak aku dapat menyimpulkan dari kalimat sebelumnya".


" Kunci dari semua ini adalah tubuh istimewa, tubuh 7 bin.....". Ciha menghentikan ucapannya saat merasakan sesuatu menghujam tubuhnya. Mentari menjerit keras melihat Sabrang menusuk tubuh Ciha dengan keris penguasa kegelapan sambil tersenyum.


"Apa yang anda lakukan tuan muda?". Ucap Mentari sesaat sebelum Lingga menyergap tubuhnya. Mereka terpelanting ketanah. Mentari merasakan perih di punggungnya, goresan keris penguasa kegelapan terlihat di punggung Mentari. Untung baginya Lingga menyergapnya saat Sabrang tiba tiba sudah muncul dibelakang Mentari dengan keris terhunus.


"Tuan muda". Mentari meronta namun Lingga mendekapnya makin keras. "Sadarlah dia bukan temanmu lagi, setidaknya untuk saat ini". Lingga menatap Sabrang yang menyeringai pada mereka.


"Aku harus menghentikannya". Lingga mencabut pedangnya dan menyerang Sabrang. Namun saat serangan Lingga hampir mengenainya Sabrang menghilang dari pandangan dan tidak muncul lagi.


"Kecepatannya benar benar mengerikan". Lingga masih berusaha menguasai keadaannya.

__ADS_1


Mentari berlari menghampiri Ciha yang tergeletak dengan darah masih mengucur deras. "Ciha bertahan lah! aku akan mencoba menekan pendarahanmu". Saat Mentari hendak menempelkan telapak tangannya dia kembali menarik tangannya dengan cepat. Dia ingat jika tenaga dalamnya mengandung racun, hal itu hanya akan memperburuk keadaan Ciha.


"Biar aku saja". Lingga mengalirkan tenaga dalamnya ke tubuh Ciha.


"A...aku tidak apa apa, kalian lupa tubuhku abadi". Ucap Ciha terbata bata.


"Keabadianmu akan menjadi percuma jika darahmu terus keluar seperti ini". Sergah Lingga sambil terus menekan pendarahan Ciha dengan tenaga dalamnya.


Tubuh Mentari menjadi lemas dan terduduk ditanah. Air matanya mengalir seperti tidak dapat dibendungnya.


"Tuan muda". Ucapnya lirih.


"Tenanglah nona, dia masih bisa diselamatkan". Ciha berkata sambil menahan rasa sakit.


"Maksudmu?". Mentari bangkit dan mendekati Ciha.


"Bagi ku yang sudah meminum air kehidupan hanya dengan membakar tubuhku atau menghancurkannya jika ingin membunuhku. Anak itu terkena pengaruh Jurus malih raga seperti yang tertulis di kolam itu. Dia bisa membakar habis tubuhku dengan Naga api dalam sekejap namun dia tidak melakukannya. Dia menggunakan keris itu untuk menusukku, itu menandakan dia masih bisa sedikit mengambil kesadarannya".


"Jadi?". Wajah Mentari mulai kenunjukan semangat yang tadi sempat hilang.


Ciha mengangguk pelan "Tolong dudukkan aku". Ucap Ciha pada Lingga.Pendarahan diperutnya perlahan berhenti setelah Lingga menekannya.


"Kau baik baik saja?". Ucap Lingga pelan.


"Aku baik baik saja untuk saat ini, aku hanya perlu meminum air kehidupan lagi namun jika kita tidak menyelamatkan anak itu dari pengaruh jurus malih raga bukan hanya aku tapi kita semua akan mati".


"jadi benar mereka terkurung disana?".


"Tuan panca memperingatkan semuanya di disini, aku yakin dia menulis ini disaat terakhirnya. Di tulisan ini dia mengatakan (sebelum kesadaranku terenggut kabut itu). Aku yakin di saat terakhirnya dia memperingatkan ini semua untuk tidak membuka gerbang itu. Tidak ada pusaka kelima, semua hanya tipuan suku Iblis petarung. Pusaka terakhir bukan suling raja setan tapi mereka sendiri, Suku Iblis Petarung".


Lingga tersentak kaget mendengar penjelasan Ciha, apa yang mereka perebutkan selama ini ternyata sebuah suku buas yang akan memusnahkan semua manusia diatas bumi.


"Kau yakin?". Lingga berusaha memastikan.


"Di sini jelas tuan panca mengatakan menciptakan 4 pusaka bukan 5, aku yakin hanya 4 pusaka itu yang diciptakan tuan Panca untuk menyegel gerbang kegelapan".


Ciha menarik nafas panjang sebelum kembali bicara "Tuan Panca telah memperingatkan kita untuk tidak membawa pemilik tubuh 7 bintang mendekati Dieng dan kita malah membawanya masuk". Ciha menggeleng pelan.


"Kau bisa menggendongku?". Tanya Ciha tiba tiba.


Lingga mengangguk bingung.

__ADS_1


"Aku yakin dia menuju gerbang kedua, kita harus cepat menghentikannya sebelum terlambat".


__ADS_2