Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Jangan Kecewakan Ibumu!


__ADS_3

Kobaran api tiba tiba menghantam tubuh Rubah Putih hingga terlempar cukup jauh saat mulai bergerak menyerang, dia menjerit kesakitan sebelum kobaran api menyelimuti seluruh tubuhnya.


"Apa kau tidak bisa masuk secara perlahan bodoh?" umpat Rubah Putih pada Naga Api yang kini bersemayam didalam tubuhnya.


"Kita tidak punya banyak waktu untuk perkenalan, saat ini mungkin anak itu sedang meregang nyawa, aku akan membantumu menghadapi mereka dan keluar dari sini," balas Naga Api sambil terkekeh.


Naga Api cukup kagum pada kekuatan tubuh Rubah Putih, selama ini hanya Sabrang yang mampu menahan energinya, itupun secara bertahap. Namun Rubah Putih mampu langsung menerima seluruh kekuatannya.


"Kekuatan Iblis api benar benar mengerikan, aku merasakan aliran tenaga dalam meningkat tajam dalam tubuhku," ucap Rubah Putih dalam hati sambil tersenyum.


Jika Rubah Putih terlihat tersenyum, berbeda dengan raut wajah para pemimpin dunia, mereka mulai cemas setelah energi Naga Api menekan. Menghadapi seorang Rubah Putih tanpa kekuatan Naga Api saja sudah merepotkan apalagi dengan kekuatannya.


"Adik, berhati hatilah, energi api itu sepertinya sangat berbahaya," ucap Arkantara memperingatkan.


"Aku tau kakang, seperti yang dikatakan Yang Mulia, Naga Api benar benar kuat," balas Ganendra pelan.


"Jika kalian tidak ingin menyerang lebih dulu maka aku yang akan memulai," Rubah Putih tiba tiba melesat dan sudah berada dihadapan Arkantara.


"Cepat sekali," Arkananta membuat perisai energi murni untuk menahan serangan tiba tiba itu.


Sebuah Ledakan besar terjadi akibat benturan tenaga dalam membuat keduanya terdorong beberapa langkah kebelakang.


"Kekuatan mereka berimbang namun Rubah Putih kalah jumlah, jika situasi terus seperti ini maka kami akan kalah. Berpikirlah Wardhana untuk membalikkan situasi," ucap Wardhana dalam hati.


Rubah Putih kembali menekan Arkananta, serangan serangan cepatnya yang dikombinasikan dengan ledakan tenaga dalam iblis membuat Arkananta terpojok.


Beruntung dia memiliki perisai energi murni yang mampu melindungi tubuhnya.


Rubah Putih menarik pedangnya dan memutar sedikit ke kanan sebelum mengayunkan pedangnya sekuat tenaga, saat dia merasa serangannya mengenai sasaran, tubuhnya terasa berat dan serangannya melambat.


"Udaranya memadat?" belum sempat hilang rasa terkejutnya, Ganendra sudah muncul dengan serangannya.


Rubah Putih terpaksa menarik pedangnya untuk menangkis serangan Ganendra sesaat sebelum tubuhnya terasa sakit dan terlempar jauh.


"Trah ampleng sialan, dia bisa bergerak bebas di udara sepadat itu," umpat Rubah Putih.


Empat pemimpin Masalembo tak memberi kesempatan Rubah Putih bernafas, mereka kembali menyerang dengan serangan yang semakin mematikan


Gerakan cepat mereka mampu membuat Rubah Putih tak berkutik dan menjadi sasaran empuk jurus lawan.


Apa yang ditakutkan Wardhana mulai terjadi, walau kekuatan mereka berimbang namun Rubah Putih dipaksa bertahan karena serangan empat pemimpin dunia sangat merepotkan.


Kombinasi serangan mereka ditambah jurus memadatkan udara milik Nirwasita Ampleng membuat Rubah Putih tak leluasa menyerang, dia harus berhati hati karena jika masuk dalam dinding udara Ampleng maka tubuhnya akan sulit digerakan.


"Sial, dinding udara itu sangat merepotkan," umpat Rubah Putih sambil terus menghindari serangan.


Ganendra dan Arkananta terus menekan Rubah Putih sedangkan Nirwasita yang sedikit menjauh terus memadatkan dinding udara dan mengincar lawannya.


"Kita harus mencari cara untuk melawan mereka semua, jika terus seperti ini kau akan tumbang cepat atau lambat," ucap Naga Api yang terus melindungi tubuh Rubah Putih dari serangan lawan.


Serangan Arkananta terus mengenai tubuh Rubah Putih, kombinasi serangannya bersama Ganendra sangat sulit dihindari.


Ketika Rubah Putih melihat celah pertahanan lawan, Nirwasita memadatkan udara disekitar Arkananta yang memaksa Rubah Putih mengurungkan serangannya, dia tidak ingin masuk perangkap.


Arkananta melesat cepat saat Rubah Putih melompat mundur, ketika dia mampu membaca gerakan Arkananta, Ganendra menyerang dari arah berlawanan yang membuat tubuh Rubah Putih kembali terlempar.


Luka sayatan mulai terlihat di tubuhnya, serangan lawan yang mengandung tenaga dalam besar mampu menembus perisai api yang melindungi Rubah Putih.


"Gerakan mereka benar benar rumit dan saling melindungi," ucap Rubah Putih sambil menarik napas panjang.


Di lain pihak, Arkananta cukup terkejut dengan perlawanan Rubah Putih, tak banyak pendekar yang bisa bertahan dari serangan kombinasi empat pemimpin Masalembo, bahkan Lakeswara pun berfikir ribuan kali jika harus melawan mereka berempat.


Ilmu kanuragan mereka memang masih dibawah Lakeswara namun kombinasi serangan mereka yang saling melengkapi akan membuat siapa saja kesulitan.


"Tak ada cara lain, kau harus pergi bersama Wardhana, aku akan menahan mereka sementara waktu," ucap Rubah Putih dalam pikirannya.

__ADS_1


"Percuma, Kau tak akan mampu menahan mereka lama, aku membutuhkan sedikit persiapan sebelum menarik dia keluar dari sini," balas Naga Api.


"Maka cepatlah lakukan persiapan itu sekarang!" balas Rubah Putih.


Wardhana terus memperhatikan pertarungan tidak seimbang itu, dia terus mencari cara untuk membantu Rubah Putih.


Wardhana memang tidak ikut bertarung, dia sadar hanya akan menjadi beban Rubah Putih karena kemampuan empat pemimpin dunia jauh di atas lawan yang pernah dia hadapi selama ini.


Jantung Wardhana berdegup kencang saat menyadari sepasang mata tajam menatapnya.


Tampak pendekar yang datang bersama empat memimpin dunia itu menatapnya sambil tersenyum dari balik topeng.


"Apa yang direncanakannya? dia tidak ikut membantu menyerang Rubah Putih?" ucap Wardhana dalam hati.


Pendekar yang memakai topeng itu tiba tiba mengangkat tangannya, dia menunjuk kedua matanya sebelum mengarahkan tangannya ke langit sambil terus menatap Wardhana.


Wardhana mengernyitkan dahinya dan menatap langit, tampak beberapa batu yang beterbangan akibat benturan serangan antara Rubah Putih dan empat pemimpin dunia terhisap dan menghilang tiba tiba.


"Ah benar begitu caranya, aku bisa menutupi kekurangan Rubah Putih sekaligus menekan mereka," gumam Wardhana dalam hati.


"Tunggu, dia membantuku?" Wardhana tak mampu menyembunyikan rasa terkejutnya saat menyadari pendekar bertopeng itu membantunya.


"Pergilah sebelum aku berubah pikiran dan membunuh kalian semua!" sebuah suara terdengar dipikiran Wardhana bersamaan dengan pendekar itu menutup matanya.


Wardhana sebenarnya ingin mencari tau siapa pendekar bertopeng itu namun melihat kondisi Rubah Putih yang semakin terdesak membuat dia mengurungkan niatnya.


Wardhana mencabut pedangnya dan bergerak membantu Rubah Putih.


"Hei, aku memintamu menjauh dan pergi!" teriak Rubah Putih.


"Tenanglah, aku memiliki rencana untuk membawa keluar dari sini. Sampaikan pesanku pada Naga Api, begitu aku memberi tanda, lepaskan sebagian energinya," Wardhana mulai terlibat dalam pertarungan.


Kemampuannya yang jauh di bawah lawan membuat Wardhana dengan cepat terdesak namun dia masih terlihat tenang sambil sesekali menatap langit.


"Apa yang sebenarnya direncanakannya?" gumam Rubah Putih bingung.


***


"Ayah?" Sabrang tampak bingung saat melihat pria dihadapannya, dia memang belum pernah sekalipun melihat wajah ayahnya namun dia mengenali pakaian raja khas Malwageni.


"Kau sudah terlihat dewasa nak, sepertinya kau jauh lebih kuat dari aku," balas Arya Dwipa pelan.


"Jadi kau benar ayahku? apakah ini tandanya aku telah mati?" tanya Sabrang.


"Kau belum boleh mati nak, ada yang harus kau kerjakan dan meneruskan apa yang belum ayah selesaikan," jawab Arya Dwipa.


"Jadi dimana kita berada saat ini?"


"Alam bawah sadar, kau sedang tak sadarkan diri nak. Ayah pernah meminta ibumu untuk menyimpan sedikit energi kehidupanku pada keris penguasa kegelapan jika sesuatu terjadi padamu.


Ayah mungkin bukan orang tua yang baik, kami bukannya menjauhkanmu dari bahaya seperti orang tua seharusnya, Ayah justru mempersiapkan mu untuk bertarung melawan Masalembo.


Kau boleh membenci ayah tapi kuharap kau tau jika keturunan trah Dwipa akan selalu menanggung dosa leluhur selama kita tidak menghentikan mereka.


Naraya telah membuktikan jika api perlawanan akan terus berkobar walau nyawanya mati di ujung pedang sahabatnya sendiri dan saat ini ayah melihat api itu ditubuh mu," ucap Arya Dwipa.


Sabrang terlihat menggeleng pelan sambil menundukkan kepalanya.


"Apa aku mampu ayah? sekuat apapun aku berusaha mengalahkannya tapi tak pernah berhasil, kekuatan yang dimilikinya seolah berasal dari dunia lain yang tak bisa aku jangkau. Ayah sepertinya terlalu berharap padaku," balas Sabrang lirih.


"Kau beruntung tidak mengatakan itu dihadapan ibumu, saat ibumu sedang marah, dia bisa jauh lebih mengerikan dari Lakeswara dan aku yakin dia akan sangat kecewa mendengar anak kesayangannya putus asa.


Ibumu mengorbankan nyawanya agar kau selamat karena dia percaya kau mampu melakukannya, bangkitlah dan bantu teman temanmu yang saat ini mungkin sedang berjuang, jangan kecewakan ibumu.


Dan sampaikan pesan ayah pada Wardhana jika Pedangnya akan menjadi kunci perlawanan kali ini, dia hanya perlu mengikuti hati nurani. Ketika dimensi waktu terbuka, sarungkan pedang sesuai arah matahari terbit," tubuh Arya Dwipa mulai menghilang perlahan menandakan energi kehidupannya mulai habis.

__ADS_1


Arya Dwipa terlihat tersenyum bangga sambil menatap anak kesayangannya.


"Jagalah adikmu, bagaimanapun sifatnya terpengaruh oleh ibunya. Ayah sangat bangga melihatmu tumbuh menjadi pendekar dan raja yang kuat.


Jaga dirimu dan tolong jangan membenci ayah dan ibumu."


"Ayah!!" teriak Sabrang saat ayahnya benar benar menghilang.


"Aku menyayangi kalian, maafkan jika aku sempat mengecewakanmu," tambah Sabrang kemudian.


***


"Tapak dewa es abadi," Bongkahan es menghantam tubuh Lakeswara saat dia mencoba menghindar.


Ketika tubuhnya hampir membeku seluruhnya, dia menghilang dan muncul di hadapan Mentari.


"Pedang Cahaya merah : Api Masalembo."


Mentari melompat mundur sambil membentuk perisai es dihadapannya, dia menarik pedangnya dan menyerang balik diantara serpihan es yang beterbangan di udara.


"Gerakannya semakin cepat, sepertinya dia kerasukan sesuatu," Lakeswara mencoba menghindar namun terlambat, pedang Mentari datang begitu cepat membuat Lakeswara terpaksa kembali menggunakan ruang dan waktunya.


Lakeswara sebenarnya tidak ingin menggunakan mata itu sementara waktu, dia tidak ingin Rubah Putih keluar dengan memanfaatkan terbukanya lorong dimensinya namun Mentari mampu memaksa Lakeswara untuk terus menggunakan jurus itu.


"Pemilik tongkat cahaya putih selalu membuatku kagum namun kekuatan besar itu tak akan berguna jika kau yang dikendalikannya," Lakeswara mulai mengaktifkan ajian Anti raga mati setelah tubuhnya mulai pulih.


Ajian Anti Raga mati memang jurus yang mampu meningkatkan tenaga dalam seketika namun efek yang dihasilkan pun tak kalah mengerikan, ajian itu akan menyerap stamina dengan cepat, itulah alasan Lakeswara hanya menggunakan disaat terdesak.


"Ku bunuh kau!" teriak Mentari sambil terus menyerang namun kali ini serangannya mampu dihindari dengan mudah oleh Lakeswara.


"Sudah saatnya aku membunuhmu seperti aku membunuh Rakin dulu," Aura hitam Lakeswara kembali meluap, membuat tubuh Mentari kaku seketika.


Energi besar kembali meluap dari tubuh Mentari dan mencoba menekan balik namun beberapa sabetan pedang yang entah dari mana arahnya menghujam tubuh Mentari berkali kali.


Ketika tubuh Mentari kembali bisa bergerak, sebuah pukulan menghantam tepat di perutnya yang membuat Mentari terlempar cukup jauh.


Mentari muntah darah sesaat setelah ingatannya perlahan kembali.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" ucap Mentari bingung saat mulutnya mengeluarkan darah.


"Apa kau sudah sadar? bagus, akan jauh lebih mudah membunuhmu sekarang," Lakeswara menarik pedangnya dan kembali bergerak.


Namun tiba tiba dia menghentikan langkahnya saat tanah disekitarnya bergetar.


"Kekuatan Tongkat cahaya putih?" Lakeswara terlihat bingung saat aura aneh menekan tubuhnya.


***


"Sekarang Naga Api!" teriak Wardhana ketika tubuhnya kaku akibat terjebak dinding udara milik Nirwasita.


"Naga Api!" ucap Rubah Putih dalam pikirannya.


"Aku sedang berusaha bodoh, ada sesuatu yang berusaha menarikku keluar!" balas Naga Api bingung.


"Menarikmu keluar?" tanya Rubah Putih, sepengetahuannya tidak ada yang bisa menarik sesuatu dari ruang dan waktu kecuali pemilik ruang itu sendiri dan Lakeswara tidak mungkin akan menarik Naga Api.


"Sial! kekuatan yang menarikku sangat mengerikan, apa yang sebenarnya terjadi di luar sana," ucap Naga Api kesal.


"Aku tidak tau apa yang sedang kau rencanakan tapi sepertinya sangat berbahaya, aku tidak akan membiarkannya itu terjadi," Arkananta bergerak kearah Wardhana.


"Sepertinya sudah terlambat, maafkan hamba Yang mulia, sepertinya hamba kembali mengecewakan anda," Wardhana memejamkan matanya saat pedang Arkananta mengarah padanya.


"Bersiaplah Rubah Putih, aku sepertinya bisa memanfaatkan kekuatan ini untuk membawa kalian keluar," Kobaran api di tubuh Rubah putih melesat dan menyambar tubuh Wardhana sesaat sebelum mereka semua menghilang.


Arkananta tampak bingung dengan situasi yang dihadapinya.

__ADS_1


"Apa mungkin Yang mulia menarik mereka keluar?" ucapnya sambil mematung.


__ADS_2