
"Sepertinya ini akan menjadi serangan terkahir kita berdua, aku benar benar tidak pernah menyangka akan terdesak oleh pendekar dunia persilatan sepertimu. Bagaimana mungkin aku yang menguasai ilmu kanuragan Sabdo Loji harus bertaruh nyawa dengan ilmu turunan kitab itu, alam memang tak pernah berpihak pada kami," Gara mengalirkan sisa sisa tenaga dalam ke pedang pusaka nya untuk melakukan serangan terakhir, dia terlihat sudah tidak perduli dengan luka di tubuhnya yang terus mengeluarkan darah.
"Kalian terlalu membanggakan isi dari kitab sialan itu dan melupakan proses yang harus dilalui untuk menjadi kuat. Aku tak pernah menyangkal betapa mengerikannya ilmu kanuragan yang kalian kuasai tapi menjadi kuat tak hanya tentang jurus mematikan. "
"Pengalaman bertarung dengan lawan lawan yang jauh lebih kuat akan membentuk mental dan cara pandang kita tentang Ilmu kanuragan. Memiliki kitab terbaik seperti Sabdo Loji mungkin akan memberimu kekuatan dengan cepat tapi itu juga bisa menjadi sebuah kelemahan. Kalian tak akan pernah merasakan pahitnya kalah dalam pertarungan dan bertekad untuk menjadi kuat agar rasa sakit itu tidak terulang," jawab Lingga pelan.
Kedua pendekar yang entah sejak kapan saling mengagumi satu sama lain itu terlihat berdiri berhadapan, bukan untuk berdamai karena sampai saat ini mereka masih memegang teguh prinsip hidup masing masing tapi bersiap melakukan serangan terakhir.
Mereka seolah tidak lagi perduli siapa yang akan tetap berdiri sampai akhir karena yang terpenting saat ini adalah bertarung sampai nafas terputus.
"Jadi menurutmu bakat yang aku miliki adalah kelemahan? Kau benar benar menarik," balas Gara sambil tertawa keras.
"Jika bakat adalah sebuah kesalahan maka pengguna Naga Api itu tak akan bisa mengalahkan Ken Panca, kau hanya terlalu memuja bakat yang dimiliki dan melupakan hal hal penting untuk menjadi kuat, pengalaman bertarung dan tekad yang kuat."
"Tekad yang kuat dan pengalaman bertarung ya? Sial, mengapa kitab Sabdo Loji sampai lupa menyebutkan hal sepenting itu," balas Gara sambil menghunuskan pedangnya kearah Lingga.
"Alasan untuk menjadi kuat tak akan bisa kau temukan di dalam kitab manapun, tekad itu akan muncul sendiri dari dalam hatimu saat kau memandang semua permasalahan dengan hati dan pikiran. Aku pernah berada di posisimu saat ini sebelum anak itu menunjukkan mengapa aku harus menjadi kuat. Itulah perbedaan kita sekarang," ucap Lingga.
Gara terlihat tersenyum setelah mendengar ucapan Lingga, senyum tulus yang untuk pertama kalinya terbentuk di sudut bibir itu menandakan dia telah menemukan sesuatu yang selama ini hilang.
Hatinya begitu hangat dan wajahnya jauh lebih tenang walau dia sadar posisi mereka sudah sangat terjepit setelah kekalahan Ken Panca. Dia kembali teringat pesan Sanjaya saat melatih kelompok Lembayung Merah sebelum kedatangan Li Yau Fei.
"Kitab Sabdo Loji hanya akan menjadi bencana jika kau tidak memiliki alasan yang tepat untuk menjadi kuat. Temukan alasanmu sendiri dan berlatih keras demi alasan itu sampai nafas terputus."
"Maafkan murid bodoh mu yang sudah tersesat sangat jauh ini tuan tapi setidaknya kini aku memiliki alasan untuk bertarung, Harga diri seorang ksatria Lembayung," Gara tiba tiba bergerak, gerakan cepat yang penuh dengan keyakinan.
"Andai kita di pihak yang sama, kau bisa menjadi teman sekaligus lawan terkuat," belasan bola api muncul sebelum Lingga bergerak.
Lingga dan Gara berbenturan di udara, tak ada jurus apapun yang digunakan, hanya ayunan pedang biasa yang saling mengincar bagian vital lawannya.
Dalam hitungan detik mereka sudah berdiri saling membelakangi, semua yang melihat pertarungan itu terlihat cemas namun tak ada satupun yang mendekat termasuk Elang yang kebetulan ada didekat mereka.
Mereka sadar, pertarungan ini bukan hanya sekedar mempertahankan prinsip yang diyakini tapi juga harga diri seorang pendekar.
Lingga terjatuh lebih dulu dalam posisi berlutut dengan luka di bagian perut, dia menancapkan pedangnya agar tubuhnya tidak roboh.
"Aku tidak tau bagaimana mengatakannya tapi untuk sesaat aku merasakan Lubang dimensi gerbang kesembilan terbuka, itu artinya yang aku takutkan benar benar terjadi. Masih belum terlambat untuk menyegel tempat itu walau harus mengorbankan pengguna Iblis api. Sebuah kehormatan terbunuh di tanganmu tuan pendekar," Gara batuk darah sebelum tubuhnya roboh ketanah dengan kepala terlepas.
"Gerbang kesembilan?" pandangan mata Lingga mulai kabur sebelum tubuhnya roboh ketanah.
"Pendekar hebat tercipta dari pertarungan hidup dan mati, ibu selalu mengatakan itu dan kau sudah membuktikannya, tapi saat ini belum waktunya kau tewas," seorang pria tiba tiba muncul di dekat Lingga dan menahan tubuhnya sebelum jatuh ke tanah.
Pria itu mengalirkan tenaga dalam ke tubuh Lingga untuk meringankan luka dalamnya.
__ADS_1
"Gawat, mereka tak ada habisnya... Aku harus menyerangnya saat dia lengah," Elang tiba tiba bergerak namun teriakan Jaya Setra membuatnya terpaksa menarik serangan.
"Hentikan! dia kakakku!"
"Kakak?" Elang tampak bingung.
"Kakang Yuda, bagaimana kau bisa ada ditempat ini? bukankah seharusnya kalian membantu yang lainnya di keraton?" ucap Jaya Setra terbata bata karena untuk pertama kalinya dia melihat kembali wajah orang yang dikaguminya itu.
"Setra? ternyata adik bodohku bisa sekuat ini," balas Layang Yuda sambil tersenyum.
Jaya Setra terdiam, dia kemudian berlutut dihadapan kakaknya itu.
"Syukurlah kau selamat kakang, aku...." ucapnya lirih.
"Simpan dulu rasa haru itu, masih ada hal penting yang harus kita lakukan sebelum terlambat atau dunia ini akan hancur," potong Layang Yuda cepat.
"Dunia akan hancur? bukan kah Li Yau Fei sudah dikalahkan?" jawab Jaya Setra.
"Orang yang tadi kutemui di dermaga bersama Ardhani mengatakan jika ada kemungkinan jurus mengendalikan waktu telah digunakan oleh seseorang dan itu artinya jurus terlarang itu kembali aktif setelah Dewa Waktu tewas. Akan banyak efek yang terjadi karena jurus itu termasuk rusaknya dimensi waktu dan kita harus menghentikan semuanya."
"Seseorang? apa mungkin orang itu tuan Wardhana?" balas Jaya Setra.
Layang Yuda mengangguk pelan, dia kemudian menjelaskan rencana Wardhana untuk mencegah efek mengerikan yang mungkin terjadi dari aktifnya kembali jurus mengendalikan waktu seperti yang tersirat di kitab Sabdo Loji.
"Aku sudah memerintahkan Ardhani memimpin semua pendekar Lembayung Hitam untuk bergerak ke keraton dan membantu mereka, tugas kita saat ini adalah pergi ke ruang persembahan karena menurut Wardhana, disitulah kemungkinan pusat kerusakan dimensi waktu," ucap Layang Yuda pelan.
"Sepertinya dia sudah membaca isi dari kitab Sabdo Loji dan mungkin juga keberadaan.."
"Gerbang kesembilan," ucap Layang Yuda dan Lingga bersamaan.
"Kau? bagaimana kau bisa tau tentang keberadaan gerbang kesembilan?" tanya Layang Yuda terkejut.
"Jadi tempat itu benar benar ada ya? pendekar yang tadi melawanku memperingatkan tentang terbukanya lubang dimensi gerbang kesembilan dan memintaku menyegelnya sebelum terlambat," jawab Lingga yang mulai siuman.
"Pendekar yang melawanmu?" tanya Layang Yuda sambil menoleh kearah Jaya Setra seolah meminta penjelasan.
"Gara sang Komandan Lembayung Hitam, dia selama ini ternyata masih hidup dan bersembunyi bersama Li Yau Fei," sahut Jaya Setra cepat.
"Gawat, jika Gara yang mengatakan itu berarti gerbang itu memang benar benar ada di suatu tempat, kita dalam masalah besar kali ini," Layang Yuda terlihat berfikir sambil menatap sekitarnya, wajahnya tiba tiba berubah saat menyadari sesuatu.
"Tunggu... Aku belum melihat pendekar yang berhasil mengalahkan Li Yau Fei, apa dia sudah pergi ke Gerbang Langit Latimojong?" tanya Layang Yuda pelan.
Semua tampak terkejut dan langsung menoleh ke sekitarnya, mereka baru menyadari jika Sabrang tidak terlihat setelah melepaskan jurus energi keris penghancur.
__ADS_1
"Tidak mungkin, kami bahkan baru mengetahui rencana tuan Wardhana setelah kakang bicara, dia tidak mungkin bergerak sendiri tanpa bicara denganku," jawab Jaya Setra mulai khawatir.
"Jika dia tidak pergi ketempat itu, lalu..." Layang Yuda menghentikan ucapannya saat merasakan ada energi aneh menyelimuti lubang bekas pertarungan Sabrang dan Ken Panca. Dia langsung melompat turun dan mendekati sisa sisa tubuh Ken Panca yang masih tergeletak di dasar lubang.
"Energi ini bukan milik mereka, apa mungkin..." Layang Yuda tiba tiba merasakan kepalanya sakit luar biasa saat sesuatu berusaha masuk kedalam kepalanya.
"Kakang apa kau menemukan sesuatu?" Jaya Setra terlihat bersiap turun namun Layang Yuda mencegahnya dengan cepat.
"Jangan mendekat! Energi aneh ini berusaha mengambil alih tubuhku. Apa Ratih masih hidup?" Layang Yuda langsung melompat naik dengan nafas tersengal.
"Ratih sedang memeriksa kondisi nona Mentari, mungkin tak lama lagi dia.."
"Bawa Ratih kesini sekarang juga! Aku ingin dia menekan aura ini dengan segel Bayangan Hitam," potong Layang Yuda.
"Baik kakang," jawab Jaya Setra sebelum melesat pergi.
"Aura menakutkan apa ini sebenarnya, hanya dalam waktu beberapa detik saja hampir merenggut kesadaranku," ucap Layang Yuda dalam hati.
***
Wardhana bersama Candrakurama dan beberapa prajurit Angin selatan terlihat mulai memasuki sisi gelap alam semesta.
Namun langkah mereka terhenti saat merasakan sesuatu mulai menekan tubuh mereka.
"Tuan patih, apa tempat ini selalu diselimuti aura aneh seperti ini?" tanya Candrakurama waspada.
Wardhana menggeleng pelan, dia kembali mengingat beberapa kalimat yang ada didalam kitab Sabdo Loji.
"Rusaknya ruang dimensi akan mengakibatkan keseimbangan alam terganggu, kekuatan tak terbatas akan lepas dan menghancurkan semua yang dilaluinya."
"Kekuatan tak terbatas? semoga saja kali ini aku salah," Wardhana mulai menggunakan segel udara untuk mendeteksi apapun yang ada di dalam hutan kematian.
Cukup lama Wardhana memejamkan mata dan berkonsentrasi dengan segel udaranya, sampai akhirnya matanya terbuka tiba tiba.
"Ruang Persembahan, aku merasakan sesuatu mencoba keluar dari tempat itu," ucap Wardhana pelan, dia mengambil sebuah lempengan batu berwarna merah darah sebelum menoleh kearah Candrakurama.
"Dengarkan perintahku Candrakurama, aku akan masuk dan memeriksa tempat itu. Jika sesuatu terjadi padaku, pergilah dan jangan biarkan siapapun masuk," ucap Wardhana.
"Tidak tuan, aku akan ikut masuk bersama anda."
"Tidak, kita tidak tau apa yang terjadi didalam sana, harus ada orang yang memberi peringatan jika sesuatu terjadi padaku," ucap Wardhana sebelum bergerak masuk.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Besok, akan saya umumkan beberapa orang yang akan mendapatkan 5 chapter ekslusif Geger di Tanah Nusantara, bagi yang ingin ikut mendapatkan bisa mendaftar di Instagram saya (rickyferdianwicaksono)
Terima kasih...