Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Kami adalah Hibata


__ADS_3

Kabut tebal yang tiba tiba muncul dan menyelimuti hampir seluruh wilayah hutan Trowulan membuat para pendekar misterius yang sedang berusaha menembus aura pelindung Anom dan Siren menjadi lebih siaga.


Mereka sadar, itu bukan kabut biasa karena selain langit siang itu sangat cerah, kabut itu juga mengandung tenaga dalam.


"Segel kabut? ada yang coba coba mencari masalah dengan kita, cari pemilik segel ini dan bunuh dia!" ucap salah satu pendekar yang tubuhnya terlihat paling besar.


"Baik tuan," jawab salah satu pendekar sebelum melesat pergi dan menghilang didalam kabut.


"Kalian pikir bisa menghadapi para pendekar Carang Lembayung ? manusia lemah seperti kalian tak pantas hidup di bumi Nuswantoro," ucap pendekar itu sambil terus memperhatikan lima pendekar Carang Lembayung yang tengah duduk bersila mengelilingi gubuk milik Sabrang.


Aura yang keluar dari tubuh para pendekar Lembayung terlihat mulai menekan energi Anom dan Siren yang melindungi gubuk kecil itu.


"Tuan Brama, sepertinya kekuatan keris itu sudah melemah tapi para pendekar kita juga mulai kehabisan tenaga dalam. Kekuatan dua pusaka itu benar benar diluar dugaan," ucap salah satu pendekar yang berjaga.


"Pertahankan terus formasi karena jika serangan kalian mengendur, mereka akan memiliki waktu untuk memulihkan energinya. Aku ingin wanita itu dibunuh secepatnya agar Iblis air lebih leluasa mengambil tubuh pemuda itu," jawab Brama kesal.


"Baik tuan," balas pendekar itu cepat sambil meminta dua temannya yang sedang berjaga untuk membantu.


"Sial, mereka menggunakan jurus aneh dan menyerap energiku dengan cepat. Siren, apa kau bisa menghadapi mereka sebentar? aku akan memulihkan kekuatanku sebentar," ucap Anom cepat.


"Apa kau pikir aku sedang bersantai? kekuatanku pun mulai habis, kita harus mencari cara untuk memindahkan tubuh mereka ke suatu tempat," jawab Siren.


"Itu mustahil, merasuki tubuh mereka sekarang dan membawanya pergi justru akan membuat mereka terluka parah," balas Anom pelan, wajahnya semakin khawatir saat terlihat energi pelindung miliknya perlahan menghilang dan seorang pendekar Lembayung terlihat bergerak kearah celah itu.


"Siren! energi pelindungku habis" teriak Anom panik.


Siren yang juga melihat pendekar misterius itu berusaha masuk tak bisa berbuat apa apa karena disaat bersamaan energi pelindungnya juga menghilang.


"Ini gawat... mereka berdua bisa terbunuh, apa yang harus aku lakukan sekarang?" ucap Siren dalam hati.


Saat situasi semakin genting dan pendekar itu sudah bergerak mendekati pintu gubuk, sebilah pedang tiba tiba muncul dan melesat kearahnya membuat pendekar itu terpaksa melompat menghindar.


Pendekar itu tampak terkejut karena pedang yang berusaha menyerangnya mengandung tenaga dalam yang cukup tinggi.


"Tuan Brama," teriak pendekar itu sebelum sebuah tapak tiba tiba menghantam tubuhnya, beruntung dia masih bisa sedikit menghindar sehingga serangan itu tidak melukai titik vitalnya.


"Sial, hampir saja aku membunuhnya, sepertinya hukuman nenek kejam itu sedikit melemahkan kekuatanku," umpat Minak Jinggo kesal.


"Dia?" ucap Siren terkejut saat melihat seorang pendekar muda berdiri didekatnya.


"Sepertinya bantuan telah datang walau aku tidak yakin dengan si pembawa masalah ini," ucap Anom sedikit lega.


"Pembawa masalah?" tanya Siren semakin bingung.


"Bukankah kau memang lemah? jurus tapak itu bahkan tidak akan mampu melukai nyamuk sekalipun," ucap Wicaksana yang muncul bersama Tantri tepat didepan pintu gubuk itu.


"Apa kau mau kubunuh lebih dulu seperti nyamuk hah?" balas Minak Jinggo kesal.


"Dasar bodoh! apa kalian masih mau bertengkar di tengah pertarungan dan.." Tantri tidak melanjutkan ucapannya saat melihat tubuh Wicaksana menghilang dan muncul didekat Minak Jinggo.


Suara benturan keras terdengar bersamaan dengan gesekan dua tenaga dalam, Wicaksana tampak terkejut karena serangannya mampu di patahkan dengan mudah oleh pendekar Lembayung yang hendak menyerang Minak Jinggo.


"Dia bisa menangkis seranganku?" ucap pendekar itu terkejut sebelum merubah arah pedang dan mengayunkannya kearah leher Wicaksana.


"Mundur," Minak Jinggo menyambar tubuh Wicaksana ketika pendekar itu hendak menyerang balik, dia menggunakan tapak peregang sukma untuk menangkis serangan lawan sekaligus memanfaatkan efek serangan agar tubuhnya terlempar mundur.


Tantri yang melihat kedua temannya terlempar langsung menarik pedangnya dan bersiap menyerang namun suara keras Wicaksana membuat dia mengurungkan niatnya.


"Apa kau mau membunuhku? hampir saja aku mati kehabisan nafas," bentak Wicaksana kesal.


"Hei, orang tak tau diri, aku tadi menyelamatkan nyawamu!" balas Minak Jinggo tak mau kalah.


"Meyelamatkan aku? apa tidak terbalik, aku yang menyelamatkanmu lebih dulu," jawab Wicaksana cepat.


"Mau sampai kapan kalian bertengkar? lawan kita adalah mereka!" ucap Tantri geram, dia benar benar tidak habis pikir bagaimana dua orang bodoh itu masih sempat bertengkar dihadapan pendekar yang ilmu kanuragannya berada di atas mereka.


"Dia yang lebih dulu mencekik leherku," jawab Wicaksana cepat.


"Apa kau bilang? aku justru menyelamatkanmu," balas Minak Jinggo sebelum enam pendekar melesat kearah mereka

__ADS_1


"Awas!" teriak Tantri saat melihat para pendekar Lembayung bergerak kearah Minak Jinggo dan Wicaksana.


Wicaksana dan Minak Jinggo langsung menyambut serangan mereka dan dalam sekejap area disekitar gubuk menjadi medan pertarungan.


Walau awalnya sedikit terdesak namun perlahan mereka berdua bisa mengimbangi serangan para pendekar Lembayung. Minak Jinggo bahkan sedikit lebih unggul dari kedua lawannya.


Sedangkan Wicaksono yang memiliki gaya bertarung lebih hati hati tampak sedikit menahan serangannya, dia ingin melihat gaya bertarung lawannya lebih dulu sebelum menyerang balik.


Melihat pertarungan keduanya, Tantri akhirnya mengerti mengapa Sabrang tetap mempertahankan mereka walau selalu menjadi sumber kehidupan.


"Ternyata hanya para pendekar rendahan," Darma tiba tiba bergerak kearah Tantri, aura yang meluap dari tubuhnya langsung menekan Tantri.


"Gawat, dia mengincar tubuh Yang mulia," Tantri menarik pedangnya dan bersiap menyambut serangan itu, namun tiba tiba kabut disekitarnya menjadi sangat tebal sebelum dua orang muncul dari dalam kabut dan menyerang Darma.


"Jurus pedang Iblis : Seratus pedang mengguncang langit," Elang dan Gendis mengayunkan pedangnya sekuat tenaga.


Brama langsung menarik serangannya, dia memutar tubuhnya di udara dan menangkis serangan Elang dengan mudah.


Gerakan Brama yang sangat cepat bahkan berhasil menyudutkan keduanya, lemparan pisau pisau terbang milik Gendis bahkan tak menyulitkannya untuk terus menekan.


Gendis dan Elang terus berganti posisi untuk mengacaukan gerakan Brama tapi sekuat apapun mereka berusaha, semua serangannya mampu dipatahkan dengan mudah walau kabut tebal tampak mengganggu pandangan lawannya.


"Dia kuat sekali, bahkan segel milik Winara seolah tak berpengaruh padanya," ucap Elang dalam hati sambil sesekali menggunakan Perisai tenaga dalam wajah iblis untuk menangkis serangan cepat itu.


"Kalian pikir kabut ini bisa menahanku? kalian seharunya khawatir pada pemilik segel ini?" Brama meningkatkan kecepatannya dan bergerak mendekati Elang.


Gerakan Brama yang sangat cepat membuat Elang tak mampu menghindar, sebuah sabetan hampir membelah tubuhnya anda Perisai tenaga dalam wajah iblis tidak melindunginya.


Tubuh Elang terlempar kearah Tantri dan disaat bersamaan Brama bergerak kearah mereka sambil mengayunkan pedangnya.


"Jurus Pedang perusak Sukma tingkat dua : Angin kematian," tubuh Tantri, Elang dan Gendis tiba tiba kaku tak bisa digerakkan.


"Jurus apa ini?" ucap Tantri sebelum beberapa sabetan pedang melukai tubuh mereka.


Tantri dan Elang terlempar dan membentur dinding gubuk, keduanya terlihat mengerang kesakitan sebelum tak sadarkan diri. Sedangkan Gendis yang sempat menghindar di detik terakhir melompat sambil melempar pisau pisau terbangnya.


"Jurus mainan seperti ini tak akan bisa melukaiku," pisau pisau terbang itu terhenti tiba tiba sebelum hancur menjadi debu saat lengan kiri Brama melepaskan aura aneh berwarna hitam pekat.


Wajah Gendis berubah seketika setelah mendengar suara ledakan itu, walau tidak tau dari mana arahnya tapi dia sangat yakin itu adalah Winara.


"Sepertinya pengguna segel itu telah terbunuh dengan menghilangnya kabut ini, saatnya membunuh kalian semua," ucap Brama sambil tersenyum dingin.


Minak Jinggo dan Wicaksana yang sedang bertarung dengan lawannya ikut terkejut saat kabut yang seharusnya melindungi mereka selama pertarungan tiba tiba menghilang dan membuat lawannya kini leluasa menyerang balik.


Perlahan namun pasti, kondisi para pendekar Hibata muda itu terjepit saat Wicaksana dan Jinggo mulai terpojok.


"Gawat, mereka sangat kuat dan bukan lawan yang bisa kami hadapi, apa yang harus aku lakukan?" ucap Gendis dalam hati.


"Gendis, bawa tubuh Yang mulia dan nyonya selir menjauh," teriak Wicaksana cepat.


"Saatnya membunuh wanita itu," Brama kembali bergerak kearah Mentari yang sedang duduk dihadapan Sabrang sambil bersiap mengayunkan pedangnya.


"Tidak!!!!" teriak Gendis sambil melemparkan pisau pisau terbangnya dan melesat mengejar Brama.


***


Mentari masih berusaha melepaskan diri dari gelembung air yang mengurung tubuhnya saat Mustika air itu masuk kedalam tubuh Sabrang.


Sabrang menjerit kesakitan saat merasakan sesuatu masuk kedalam tubuhnya dan dengan cepat menyebar.


"Yang Mulia!" teriak Mentari panik, dia terus menebaskan pedang Naga Api ke gelembung air itu tapi sekuat apapun dia berusaha pedang pusaka itu tidak bisa menembusnya.


"Naga Api, sudah kukatakan berkali kali, kau tak akan bisa mengalahkan air, saatnya memadamkan api kesombonganmu," ucap Rabing sambil tersenyum dingin.


"Lepaskan dia! hadapi aku jika kau berani!" teriak Naga Api.


"Melawanmu? kau bahkan tidak bisa keluar dari gelembung airku," Rabing tertawa mengejek.


"Naga api, jika kau tidak cepat membantuku keluar dari gelembung air ini dan terjadi sesuatu pada Yang mulia, aku bersumpah akan membunuhmu berkali kali!" ucap Mentari dengan suara bergetar.

__ADS_1


"Aku sedang berusaha bodoh!" balas Naga Api kesal. "Andai aku bisa menarik seluruh kekuatanku ke tempat ini, sudah dari tadi dia hancur."


"Saatnya mengurungmu di dimensi waktuku," tubuh Sabrang perlahan mulai menghilang bersamaan dengan hancurnya semua gelembung udara di area pertarungan.


"Terima kasih....kau sudah berusaha sangat keras, aku akan selalu mencintaimu, Tari" ucap Sabrang pelan sambil menatap Mentari. "Naga api, jaga dia untukku."


"Yang Mulia," Mentari melesat cepat kearah Sabrang saat gelembung yang mengurungnya menghilang, dia berusaha meraih lengan Sabrang namun tak berhasil karena orang yang sangat dicintainya itu sudah menghilang dari pandangannya.


"Tidak mungkin, dia benar benar sudah menghilang," ucap Naga Api pelan.


"Kubunuh kalian semua...kubunuh kalian semua..." suara Mentari berubah seketika, tubuhnya perlahan melayang di udara sebelum menarik semua energi Naga Api.


"Hei, apa yang kau lakukan?" Naga Api berusaha menahan energinya karena jika sampai Mentari berhasil menarik semua kekuatannya masuk ke alam bawah sadar itu tubuh Sabrang bisa hancur.


Tubuh Mentari terlihat diselimuti kobaran api dan bola matanya perlahan berubah memerah.


"Hentikan, anak itu mungkin masih bisa selamat, kau akan menghancurkan tubuhnya," teriak Naga Api namun sekuat apapun dia berusaha energinya terus masuk ke alam bawah sadar Sabrang.


Saat kobaran api yang menyelimuti tubuh Mentari terus membesar, tiba tiba sebuah lubang dimensi terbentuk didekatnya dan menghisap mereka kedalamnya.


"Apa lagi ini?" umpat Naga api sebelum lubang itu tertutup sepenuhnya.


***


Sepasang tombak kembar tiba tiba muncul dan menangkis serangan pedang Brama yang mengarah ke tubuh Mentari. Suara Ledakan kembali terdengar dan menghancurkan seluruh bangunan gubuk.


Brama tampak terkejut karena aura dari kedua tombak itu berhasil mendorong tubuhnya beberapa langkah.


Gendis yang ikut terlempar karena efek ledakan itu tampak lega saat mengenali tombak yang menancap tepat di sisi kiri Mentari itu.


"Syukurlah kau selamat," ucapnya dalam hati.


"Pusaka Tombak Jiwa? aku sudah sering mendengar kehebatannya tapi baru kali ini melihatnya langsung, sepertinya diantara kalian ada satu yang menarik," ucap Brama terkejut.


"Hampir saja aku terlambat," kabut putih tiba tiba muncul didekat tombak Jiwa dan perlahan berubah menjadi tubuh Winara.


Empat pendekar yang sejak awal tidak ikut bertarung karena kehabisan tenaga saat menghadapi Anom dan Siren langsung mengepung Winara.


"Sepertinya akan sedikit sulit Kirana tapi aku tak akan membiarkan mereka berbuat seenaknya," ucap Winara sambil mencabut kedua tongkatnya dan bersiap menyerang.


"Kuakui kau sempat membuatku terkejut tapi itu tak akan mengubah keadaan karena pusaka sekuat apapun tak akan berguna jika berada di tangan orang lemah sepertimu. Apa kau pikir bisa mengalahkan kami sendirian?" tanya Brama mengejek.


"Sendirian? aku tidak pernah sendirian karena kami...," Winara kembali menggunakan segel tanah untuk menciptakan kabut tebal disekitarnya.


"Dia menggunakan segel itu lagi, mundur! biar aku yang membunuhnya," teriak Brama cepat.


Namun teriakan Brama sepertinya terlambat karena Tantri dan Elang yang sudah sadarkan diri bersama Gendis sudah bergerak diantara kabut dan langsung menyerang para pendekar Lembayung.


"Adalah Hibata," ucap mereka bersamaan sambil terus menyerang.


Elang dan Tantri yang terlihat sedikit berbeda kali ini, selain karena kecepatannya yang meningkat tajam, Keris penguasa kegelapan dan Tongkat cahaya putih berputar di udara dan mengikuti kemana mereka bergerak.


"Hibata?" ucap Minak Jinggo sinis sambil menarik tubuh Wicaksana menjauh.


"Apalagi yang sebenarnya kau inginkan hah?" ucap Wicaksana kesal karena tubuhnya ditarik mundur tiba tiba. Dia hampir saja terkena serangan lawannya karena perbuatan Minak Jinggo.


"Aku ingin menawarkan kerjasama terbatas selama pertarungan ini padamu," jawab Minak Jinggo tiba tiba.


"Kerjasama terbatas?"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Carang Lembayung adalah salah satu suku misterius yang menurut cerita rakyat dipercaya berada di gugusan bukit dengan bioma hutan hujan tropis yang membentang dari kaki Gunung Slamet hingga Dieng, Banjarnegara.


Menurut kepercayaan warga, anggota Suku Cayang Lembayung tidak memiliki tumit atau berjalan jinjit dan tidak memiliki lekukan di atas bibir.


Benar tidaknya keberadaan mereka, Pedang Naga Api terinspirasi dari cerita rakyat itu dan memasukkannya di dalam cerita sebagai pendekar yang akan menjadi jembatan pembuka misteri antara Suku Sungai kuning dan Iblis petarung.


Apa pendekar Carang Lembayung adalah sisa sisa pendekar Peradaban Terlarang atau mereka keturunan Suku Iblis petarung?

__ADS_1


Sampai Jumpa besok lagi wkwkwkwkw


Jangan lupa Vote


__ADS_2