Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Rencana Besar Arya Dwipa


__ADS_3

"Dasar bodoh, kau pikir bisa mengalahkan aku dengan kekuatanmu?" ucap Rakiti kesal, dia merasa Sekar mampu menyerang sebelumnya karena dia tidak siap.


Ilmu kanuragan Satadanawa yang didapatkan kan di Dieng membuatnya yakin mampu mengimbangi pendekar tingkat tinggi sekalipun.


Rakiti menarik pedangnya, dia memperlambat gerakannya sedikit untuk mengecoh Sekar sebelum melepaskan aura besar untuk menekan lawannya.


Melihat Rakiti melambat, Sekar membentuk bongkahan es di tangan kanannya, dia bergerak maju dan sambil melepaskan aura dingin ditubuhnya.


"Jurus pedang pencakar langit," Gerakan pedang Rakiti tiba tiba berubah seiring dengan kecepatannya yang meningkat.


Sekar yang menyadari jebakan itu terpaksa menarik serangannya, dia membentuk bongkahan es di tanah sebagai pijakan untuk melompat mundur.


"Kau pikir bisa lari begitu saja?" Rakiti meningkatkan kecepatannya dan terus menyerang Sekar Pitaloka.


"Tenaga dalam Satadanawa? aku cukup terkejut kau menguasai jurus ini tapi kau lupa jika aku adalah keturunan trah Tumerah dan salah satu murid paling berbakat sekte tapak es utara," Sekar melepaskan energi murninya, ratusan bongkahan es berbentuk kepala naga muncul di udara dan mengelilingi tubuhnya.


Bongkahan es itu berputar mengikuti gerakan lincah Sekar Pitaloka yang terus menghindari serangan Rakiti dengan sempurna.


"Bagaimana dia bisa menghindari seranganku dengan mudah? seluruh tubuhnya seolah memiliki mata yang saling terhubung," ucap Rakiti kesal.


"Trah Dwipa mungkin memiliki mata bulan tapi kamilah yang terkuat," Sekar Pitaloka menarik semua bongkahan es sebelum melemparkannya kearah Rakiti.


"Sial, gerakannya semakin cepat," Rakiti terpaksa melompat mundur, serangan es yang terarah padanya tiba tiba membentuk puluhan pedang. Dengan kecepatan yang hampir tidak bisa dilihat mata, dia yakin tak akan mampu menghindari semuanya.


Rakiti membentuk tameng tenaga dalam Satadanawa sambil melepaskan energi pedangnya.


"Kau memang cepat tapi apa yang akan terjadi jika kedua kakimu terkekang?" Sekar Pitaloka melesat cepat diantara serpihan es yang hancur akibat terkena energi pedang Rakiti.


"Kakiku terkekang?" belum sempat dia berfikir, bongkahan es keluar dari dalam tanah dan langsung mencengkram kedua kakinya.


Tubuh Rakiti berhenti seketika sebelum serangan tapak es utara kembali menghantam tubuhnya.


Semua yang melihat pertarungan itu hanya bisa menatap takjub termasuk Wulan, dia tidak menyangka ratu Malwageni yang dulu kabarnya mati ditangan para pendekar Lembah tengkorak begitu kuat.


"Darah murni Tumerah memang berbeda," ucap Wulan takjub.


Sebuah ledakan kembali terdengar saat bongkahan es yang menyelimuti tubuh Rakiti meledak dan berhamburan di udara.


"Aku benar benar meremehkanmu, tak kusangka ada pendekar wanita begitu hebat di dunia persilatan," ucap Rakiti sambil mengalirkan seluruh tenaga dalam ke pedang kebanggaannya.


Sekar Pitaloka menggeleng pelan, dia mengikat selendang di pinggang menandakan dirinya mulai serius.


"Memang seharusnya seperti ini, melawan pengguna Satadanawa tak akan pernah mudah," Sekar Pitaloka menoleh kearah Mentari.


"Pinjamkan pedangmu," lengan Sekar terlihat menarik sesuatu, dan tiba tiba pedang milik Mentari keluar dari sarungnya dan melayang kearah Sekar Pitaloka.


"Dia menarik pedang Mentari dengan tenaga dalamnya?" ucap Wulan terkejut.


"Bersiaplah, puluhan tahun aku bekerja keras menyempurnakan jurus pedang Tumerah, kau beruntung orang pertama yang merasakannya," Sekar menarik pedangnya kearah wajahnya sambil menatap Rakiti dingin.


"Kuda kuda itu? jangan jangan?" wajah Wulan tampak berubah seketika saat mengenali jurus yang akan digunakan Sekar Pitaloka.


"Dua detik, aku akan bergerak dua detik lebih lambat darimu," Sekar tertawa mengejek.


"Kau meremehkanku!" Rakiti yang sudah tersulut emosinya bergerak cepat tanpa memperdulikan jika aura dari Sekar terfokus pada pedangnya.


"Anda mengenali jurus itu guru?" tanya Mentari penasaran.


"Jika perkiraanku benar, jurus itu adalah..."

__ADS_1


"Jurus serbuk bunga penghancur Iblis," ucap Wulan dan Sekar bersamaan.


Tubuh Sekar melesat cepat dan seolah menembus tubuh Rakiti yang hanya bisa mematung dan merasakan seluruh tubuhnya sakit.


"Jurus apa itu? untuk sesaat aku melihat puluhan pedang tidak ratusan pedang menghantam tubuhku," ucap Rakiti bingung.


"Aku menggunakan punggung pedang untuk menyerangmu, mungkin kau tidak akan mati tapi seluruh ilmu kanuraganmu telah musnah, Rakiti" ucap Sekar sesaat sebelum Rakiti roboh ketanah.


"Serbuk bunga penghancur Iblis?" Mentari mengernyitkan dahinya.


"Ilmu serbuk bunga penghancur iblis khusus diciptakan untuk para perempuan keturunan trah Tumerah. Memanfaatkan energi murni untuk membuat puluhan energi pedang yang menyerang bagai serbuk bunga yang beterbangan di udara, membuat lawan sulit menghindari.


Jurus itu sangat rumit, bahkan kabarnya hanya beberapa orang yang mampu menguasainya, tak kusangka hari ini aku bisa melihatnya sendiri," balas Wulan dengan nada takjub.


"Bagaimana kau tau namaku?" tanya Rakiti bingung.


"Sudah lama aku mengamati pergerakan Cakra Tumapel," jawab Sekar pelan sambil melangkah kearah Mentari.


"Mengamati pergerakan kami?"


"Kebodohan pemimpin kalian akan membuat rencana besar Yang mulia hancur, aku harus memastikan semuanya berjalan seperti seharusnya."


"Hormat pada Ibu ratu," Mentari berlutut dihadapan Sekar Pitaloka.


"Terima kasih atas pinjaman pedangnya," Sekar pitaloka menyerahkan kembali pedang itu pada Mentari.


Namun saat Mentari menerimanya, tiba tiba pedang itu hancur menjadi serpihan besi.


"Ah ternyata memang tidak ada pedang yang mampu menahan kekuatan jurus serbuk bunga penghancur Iblis. Maafkan aku, Sabrang akan menggantinya," ucap Sekar lembut.


"Mohon jangan dipikirkan Ibu ratu," balas Mentari pelan.


"Berdirilah, biar kulihat wajahmu," Sekar Pitaloka memegang bahu Mentari.


"Yang mulia sangat baik Ibu ratu," balas Mentari.


"Syukurlah," Sekar Pitaloka tersenyum lembut sebelum menoleh kearah Wulan.


"Ada yang harus kita bicarakan Dewi kematian tapi setelah aku menghajar anakku dulu. Bisa bisanya dia mengikuti jejak ayahnya menduakan wanita," ucap Sekar berapi api.


"Hah? tiba riba dia melepaskan hawa membunuh yang cukup besar," Wulan tampak bingung


Tubuh Sekar tiba tiba terhuyung, darah segar mulai mengalir dari hidungnya.


"Ibu ratu anda baik baik saja?" Mentari memeluk tubuh Sekar dan mengajaknya ke gubuk kecil tak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Aku tidak apa apa, ini luka lama akibat serangan sekte Lembah tengkorak dulu, jika aku tidak mengikuti semua rencana Yang mulia, sudah kuhabisi mereka dari dulu," ucap Sekar Pitaloka.


"Rencana Yang mulia?" tanya Wulan bingung.


"Masalembo tidak sesederhana Lakeswara, banyak yang akan kuceritakan pada kalian namun aku ingin bicara lebih dulu pada orang itu," tunjuk Sekar pada Ciha.


Ciha berjalan mendekat bersama Candrakurama dan berlutut dihadapan Sekar Pitaloka.


"Hamba menghadap ibu ratu," ucap mereka bersamaan.


"Apa kau sudah mengetahui dimana letak Nagara siang padang?" tanya Sekar pelan.


"Bagaimana ibu ratu bisa mengetahui mengenai tempat itu?" tanya Ciha bingung.

__ADS_1


"Yang mulia Arya Dwipa sepertinya menyadari pesan di danau itu saat bertemu Wardhana pertama kali. Sejak saat itu konsentrasinya terpecah, selain menyelidiki Masalembo dia juga mulai mencari tau tentang Nagara siang padang.


Saat Yang mulia mengangkat ku sebagai ratu, aku mulai membantunya menyelidiki semuanya. Pagebluk Lampor adalah sebuah wabah di masa lalu, namun ada yang mencoba memanfaatkannya dengan menyebarkan berita jika Pagebluk Lampor adalah sebuah pusaka agar semua mencari letak wabah itu disegel.


Tujuannya hanya satu, menghancurkan Nuswantoro dengan wabah itu. Siapapun yang mengatur semua ini mungkin kekuatannya jauh dibawah Lakeswara namun dia sama berbahayanya dengan pemimpin tertinggi Masalembo.


Kalian bisa bayangkan bagaimana jika dua orang dengan misi berbeda itu bergerak secara bersamaan?"


"Jadi Yang mulia?" tanya Ciha pelan.


"Benar, mereka memang tidak saling mengenal dan tidak akan mungkin bergabung namun jika sampai mereka bergerak bersamaan kita tak akan bisa menghentikannya.


Dalam penyelidikannya, Yang mulia akhirnya mengetahui jika ada dua organisasi misterius yang sejak lama mengincar Pagebluk Lampor, mereka adalah Cakra Tumapel dan Guntur Api.


Jika kalian pikir Yang mulia Arya Dwipa hanya memikirkan Masalembo maka salah besar, bebannya jauh lebih besar, Yang mulia berusaha mencegah tiga organisasi besar itu bangkit bersamaan," jawab Sekar Pitaloka.


"Jadi sejak awal ada tiga kelompok yang ingin menghancurkan Nuswantoro dengan alasan yang berbeda?" tanya Wulan pelan.


"Benar, Masalembo jelas yang paling kuat dengan Lakesesranya, itulah yang membuat Cakra Tumapel dan Guntur api bergerak hati hati agar tidak memancing kemarahan Masalembo.


Aku memalsukan kematianku saat itu selain karena ingin menghindari kejaran Masalembo juga untuk menjalankan perintah Yang mulia mendekati Cakra Tumapel. Kita tidak akan mungkin mampu melawan tiga kekuatan besar dan hanya Tumapel yang memungkinkan diajak bekerja sama.


Tujuan Tumapel sama dengan kita, memusnahkan Masalembo namun mereka belum sadar jika Pagebluk lampor adalah wabah penyakit. Selama aku menghilang, aku berusaha melacak keberadaan Cakra Tumapel namun ternyata tak mudah menemukan mereka, sampai aku menyadari jika Rakiti adalah salah satu anggota Cakra Tumapel," jawab Sekar Pitaloka.


"Bagaimana anda bisa melakukan semua ini ibu ratu? mengorbankan semua kehidupan anda demi melindungi dunia persilatan, bukan tugas anda untuk melindungi dunia persilatan," ucap Mentari lirih, dia benar benar merasa kasihan atas semua pengorbanan Sekar Pitaloka.


"Tidak, seperti yang kukatakan Masalembo tidak sesederhana itu. Hasil penyelidikan Yang mulia menemukan beberapa kenyataan yang mengejutkan. Biantara adalah abdi paling setia Masalembo sebelum membentuk kelompok Cakra Tumapel, sama seperti nona Wulan, dia dibuang karena dianggap hasil percobaan yang gagal, itulah yang membuat Cakra Tumapel ingin memusnahkan Lakeswara.


Sedangkan Guntur api terbentuk di sebuah desa kecil di lereng gunung Tengger. Masalembo menggunakan desa itu sebagai tempat ujicoba ilmu pengetahuan mereka, dan tanpa sadar menciptakan Pagebluk Lampor. Konon hampir seluruh masyarakat desa itu tewas mengenaskan dan di segel di suatu tempat bernama Nagara siang padang.


Dua organisasi itu memiliki satu persamaan, mereka adalah korban kekejaman Masalembo dan sudah menjadi tugas keturunan tiga trah Masalembo sepertiku untuk menanggung kesalahan mereka, seperti yang dilakukan Naraya dan Arjuna," ucap Sekar pitaloka.


Semua terdiam setelah mendengar ucapan Sekar Pitaloka, mereka tidak menyangka kejahatan yang dilakukan Lakeswara membentuk kejahatan baru karena dendam dan amarah yang jauh lebih rumit.


"Sebaiknya kita kembali dulu ke keraton untuk membicarakan ini dengan Wardhana, aku yakin dia bisa membuat rencana untuk mengatasi semua masalah ini.


Rakiti akan menjadi kunci kita menemukan Biantara dan bernegosiasi, setidaknya kita bisa mengurangi jumlah musuh," ucap Sekar Pitaloka.


"Baik ibu ratu," jawab Candrakurama cepat.


"Maaf ibu ratu, jadi selama ini anda tinggal dimana?" tanya Mentari tiba tiba, dia tidak habis pikir bagaimana Sekar Pitaloka mampu menyembunyikan dirinya begitu lama tanpa diketahui Masalembo dan seluruh dunia persilatan.


"Di suatu tempat yang sangat indah namun menakutkan. Dengarkan aku Tari, hidupku mungkin tak akan lama karena luka ini terus menggerogoti ku. Kau memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi kuat, aku ingin setelah masalah ini selesai kau mau menemani hari hari terakhirku di tempat itu, aku akan melatihmu menjadi pendekar wanita terkuat," ucap Sekar Pitaloka sambil membelai rambut Mentari.


"Mohon jangan berkata seperti itu ibu ratu," jawab Mentari.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Beberapa hari yang lalu saya sudah mengatakan akan ada kejutan kejutan dalam beberapa hari kedepan dan Sekar Pitaloka adalah salah satunya.


Cukup menyenangkan membaca komentar teman teman tadi malam. Beberapa orang bahkan mengatakan jangan jangan Arya Dwipa, Arjuna sama Naraya masih hidup.


Gak gitu juga Ubin kecamatan!


Arya Dwipa, Naraya dan Arjuna sudah dipastikan tewas. Kemunculan Sekar Pitaloka sudah direncanakan dari awal karena Wardhana tetap manusia biasa yang tak akan bisa memecahkan semuanya.


Sudah menjadi prinsip PNA jika sang jagoan tidak akan menjadi Dewa yang bisa mengalahkan musuhnya seorang diri. Sabrang tetap membutuhkan bantuan sekitarnya. Sabrang mungkin yang paling menonjol tapi dia tetap manusia biasa yang membutuhkan bantuan semuanya untuk menghadapi musuh dengan kekuatan besar, misteri purba dan jebakan jebakan licik lainnya.


Sekar pitaloka adalah kepingan terakhir untuk melengkapi rencana besar Arya Dwipa yang coba kembali dibangun Wardhana.

__ADS_1


Dengan energi murni khas Tumerah, Sekar pitaloka adalah orang yang tepat dimunculkan kembali daripada Arya Dwipa atau Arjuna yang sudah hancur saat bertarung dengan dewa kumari kandam.


Terakhir Ada bonus chapter hari ini khusus malam minggu buat kalian yang tuna asmara... kemungkinan Sore atau malam...


__ADS_2