
"Kau sudah kuberi kesempatan melarikan diri, tapi kau malah datang padaku, aku tak akan bisa membantumu dua kali," ucap Sabrang bingung.
"Aku ingin ikut berperang, mohon izinkan aku Yang mulia," balas Pancaka.
"Berperang? sejak kapan kau perduli pada Malwageni?" tanya Sabrang.
"Aku hidup dalam kebencian pada anda dan semua orang disekitar anda. Semua terasa tidak adil bagiku karena walau dilahirkan dari rahim seorang selir, aku juga memiliki darah ayah. Aku hanya ingin berjuang sekali lagi, jika harus mati, aku ingin mati demi Malwageni, mungkin itu satu satunya cara menebus kesalahanku.
Anda tak harus percaya padaku karena yang kulakukan selama ini mungkin tak bisa dimaafkan, tapi tolong untuk kali ini izinkan aku ikut bertempur Yang mulia, setelah itu aku siap menerima apapun keputusan anda," Pancaka berlutut dihadapan Sabrang.
Sabrang menarik nafas panjang, cukup sulit baginya percaya pada Pancaka setelah pengkhianatan yang dilakukannya selama ini.
"Apa kau masih harus berfikir saat kita membutuhkan bantuan?" Sekar Pitaloka muncul dari balik pintu dengan jubah perang lengkapnya.
"Ibu..." ucap Sabrang pelan.
"Wardhana sudah menunggu di luar, kita harus cepat, sebagian pasukan sudah bergerak bersama Tungga Dewi, Ken Panca dan Rubah Putih, tak ada waktu untuk memikirkan hal kecil seperti ini. Jika kau bisa memberikan kesempatan kedua pada Lingga, mengapa tidak dengan adikmu?" balas Sekar Pitaloka.
Sabrang menoleh kearah Pancaka yang masih berlutut dihadapannya.
"Baik, kali ini aku akan mengabulkan permintaanmu, persiapkan dirimu kita akan segera pergi," Sabrang bangkit dari duduknya dan melangkah pergi.
"Terima kasih Yang mulia," ucap Pancaka pelan.
"Hormat pada Yang mulia," Wardhana berlutut saat melihat Sabrang keluar dari ruangannya.
"Apa semua sudah siap paman?" tanya Sabrang pelan.
Wardhana mengangguk pelan, "Hamba menunggu perintah," jawab Wardhana cepat.
Sabrang menatap sekelilingnya mencari sesuatu.
"Apa Tari dan guru belum kembali?"
"Maaf Yang mulia, mungkin mereka masih dalam perjalanan," jawab Wardhana.
"Dalam perjalanan ya? sepertinya mereka tidak berhasil membujuk sekte sekte dunia persilatan untuk bergabung dengan kita," balas Sabrang.
"Yang mulia," Wardhana menundukkan kepalanya, melihat Mentari dan Wulan yang masih belum kembali dia juga yakin jika para pendekar dunia persilatan itu enggan bergabung dengan Malwageni.
Hal ini sebenarnya sudah di perkirakan sejal awal oleh Wardhana. Persaingan antar sekte dan ambisi masing masing akan menjadi penghalang walau musuh mereka sama.
"Paman, perintahkan semua untuk mulai bergerak, dengan atau tanpa bantuan mereka kita akan hancurkan mereka," perintah Sabrang pada Wardhana.
"Hamba menerima perintah," jawab Wardhana cepat.
Ratusan pasukan Malwageni mulai bergerak keluar keraton lengkap dengan semua panji kebesaran saat Wardhana menunjukkan gulungan merah dan memberi perintah.
Sabrang kali ini memimpin paling depan, dia benar benar ingin memastikan kemenangan berada di Malwageni kali ini.
***
Keputusan Jaladara untuk memindahkan seluruh pasukan dari jalur utama ke Lembah Penghisap Sukma tanpa perhitungan mulai menimbulkan masalah.
Jaladara mungkin belum menyadari karena begitu yakin dia telah menang satu langkah dari Malwageni. Lokasi pertempuran yang berada di wilayah Saung Galah membuatnya begitu percaya diri dan melupakan detail detail kecil dalam pasukannya.
Jika rencana sebelumnya dibuat begitu detail termasuk jalur koordinasi antar pasukan, kali ini semua terlihat bingung. Jaladara terkesan terburu buru karena takut pasukan Malwageni akan datang sebelum persiapan mereka selesai.
Jaladara hanya menekankan pada titik titik dimana pasukannya bersembunyi untuk menyergap musuh tanpa memberi arahan tingkatan komando sebelum sampai pada dirinya selaku komandan tertinggi.
Kesalahan kecil ini memang tidak akan terlihat andai lawan benar benar masuk dalam jebakan sesuai rencananya karena bagaimanapun di setiap pasukan yang tersebar, baik pasukan panah maupun pasukan tempurnya memiliki komandan masing masing.
__ADS_1
Namun jika Wardhana mampu mengacaukan sedikit saja rencana mereka maka pasukan Saung galah akan limbung tanpa tau kemana mereka harus melapor.
Seperti yang terlihat dalam pasukan panah Saung Galah, mereka memang memiliki pemimpin dalam pasukannya namun perubahan tempat dan lokasi utama perkemahan Jaladara sebagai komandan tertinggi yang kini lebih jauh di dalam hutan membuat mereka sedikit bingung.
Pasukan panah yang berada di atas bukit membuat mereka kesulitan jika harus turun untuk melapor. Praktis kali ini pasukan panah hanya mengandalkan keputusan mereka sendiri jika terjadi masalah, dan itu yang dibaca Wardhana saat memanggil Kuncoro untuk mendapatkan tugas khusus.
"Mereka akan memindahkan pasukan ke jalur Lembah Penghisap Sukma, merubah rencana dengan melibatkan banyak pasukan bukan tanpa resiko jika tidak terbiasa dan kita akan memanfaatkan kekacauan yang mereka buat sendiri.
Malwageni sudah terbiasa dengan perubahan rencana saat kami masih dalam pelarian, namun mereka tidak. Koordinasi dan jalur komando antar panglima akan kacau karena harus menyesuaikan secepatnya. Aku ingin kau temukan dimana posisi pasukan panah dan menyusup apapun caranya.
Pasukan panah biasanya terpisah jauh dari pasukan utama karena harus bersembunyi di tempat tinggi untuk membidik, menyusup lah dan tunggu sebuah tanda untuk bergerak," ucap Wardhana tegas.
"Menyusup apapun caranya? kau benar benar menyusahkan tuan patih," umpat Kuncoro sambil melesat cepat diantara pohon besar.
"Kemana aku harus mencari persembunyian mereka?" gumam Kuncoro dalam hati saat berhenti di salah satu pohon tinggi yang berada tak jauh dari jalur Lembah Penghisap Sukma.
Kuncoro memperhatikan sekitarnya sambil terus berfikir.
"Berfikir kuncoro, dimana mereka bersembunyi?" Kuncoro menatap bukit tinggi di kiri jalan setapak.
"Pasukan pemanah memerlukan pandangan yang luas untuk membidik dan satu satunya tempat adalah bukit itu."
Kuncoro mengernyitkan dahinya saat melihat beberapa prajurit Saung Galah tampak tergesagesa dan bersembunyi di beberapa celah dan gua yang ada didekat jalur itu. Kuncoro bisa melihat semua karena berada si pohon yang paling tinggi dan rimbun sehingga memudahkan pengamatannya.
"Apakah pasukan Malwageni telah tiba?" Kuncoro tampak berfikir sejenak sebelum kembali bergerak hati hati menuju bukit tinggi melalui jalan memutar. Ilmu kanuragannya yang cukup tinggi memudahkan dia bergerak senyap tanpa menimbulkan suara.
Saat Kuncoro berada didekat bukit tinggi itu, terlihat puluhan orang sedang bersembunyi dengan busur panah terarah kebawah.
"Benar dugaan ku, mereka akan mencari tempat yang paling tinggi. Sekarang bagaimana aku menyusup?" ucapnya dalam hati.
Cukup lama Kuncoro berada di atas pohon untuk berfikir sebelum melihat dua prajurit pemanah yang berada paling belakang sedang memperdebatkan sesuatu, dan disaat yang bersamaan puluhan orang mengenakan pakaian serba hitam bergerak kearah jalur Lembah penghisap sukma.
"Gawat, mereka jelas bukan pasukan Malwageni, apa mungkin Guntur Api sudah bergerak secepat ini?" Kuncoro terlihat panik
"Apa yang dipikirkannya, prajurit juga manusia, kalau mau buang air ya gak akan bisa ditahan," umpat prajurit itu sambil berjalan mendekati salah satu pohon besar.
"Tubuhku?" Prajurit itu tersentak kaget saat tak bisa menggerakkan tubuhnya.
"Terima kasih telah memberiku jalan untuk menyusup," sebuah pukulan di leher merobohkan pendekar itu.
"Sekarang tinggal menunggu waktu sesuai perintah Wardhana, semoga tidak terlalu lama atau mereka akan curiga prajuritnya menghilang lama," ucap Kuncoro dalam hati.
***
Antoro yang bersembunyi bersama pasukan Topeng Galah di salah satu gua di pinggir tebing terlihat bingung saat melihat puluhan orang bergerak mendekat.
Melihat wajah dan pakaian yang mereka kenakan, dia cukup yakin mereka bukan pasukan Malwageni.
"Siapa mereka sebenarnya? dan mengapa mereka ingin melewati jalur yang sangat jarang didatangi orang," ucap Antoro sambil memberi tanda pasukannya untuk tetap ditempat dan melihat situasi.
"Jangan bergerak, aku yakin mereka bukan dari Malwageni. Biarkan mereka lewat, aku tidak ingin rencana kita hancur karena salah mengenali musuh," bisik Antoro Pada pasukannya.
Sementara itu puluhan orang yang dilihat Antoro semakin dekat di titik jebakan, seorang wanita tampak bergerak paling depan dengan penuh kewaspadaan.
Andini memberi tanda untuk berhenti saat merasakan sesuatu, dia tersenyum kecil sambil kembali bergerak.
"Pasukan Saung Galah berada di sini, selama mereka tidak menyerang anggap saja kita tidak melihatnya. Mereka sepertinya sedang menunggu pasukan Malwageni, kita bisa memanfaatkan mereka untuk menahan gerakan Wardhana dan pasukannya," bisik Andini sambil terus bergerak.
Suasana menjadi sangat hening karena mereka saling menahan gerakan, Antoro tampak menelan ludahnya saat merasakan tekanan aura yang keluar dari tubuh Andini.
Keheningan itu pecah saat sebuah lesatan anak panah mengarah cepat ke tubuh Andini.
__ADS_1
"Mereka menyerang?" Andini menarik pedangnya dan menangkis panah itu dengan mudah. Suasana menjadi tegang saat para pendekar Guntur Api mengelilingi Andini untuk melindunginya.
"Siapa yang melepaskan panah tanpa perintahku?" umpat Antoro kesal.
"Apa yang kalian tunggu? mereka adalah musuh, apa tuan Patih harus memenggal kepala kalian sebelum melepaskan anak panah?" teriak Kuncoro yang mengenakan pakaian prajurit pemanah Saung Galah lantang.
"Hentikan mereka," Antoro dan pasukan topeng galah keluar dari persembunyiannya untuk menghentikan serangan panah.
Namun situasi sudah memanas, Andini dan para pendekar Guntur api terlanjur menganggap Saung Galah menyerang mereka. Melihat Antoro bergerak mendekat mereka langsung menyerang.
"Sial," Antoro yang sebenarnya ingin bicara baik baik terpaksa meladeni serangan lawan, membuat pertempuran itu tak bisa lagi dihindari.
Kuncoro kembali melesatkan anak panahnya kearah Andini yang sedang bertarung. Situasi yang semakin memanas membuat pasukan pemanah Saung Galah tak memperhatikan lagi siapa Kuncoro, mereka ikut melepaskan anak panah karena menganggap Andini dan rombongannya menyerang pasukan Topeng Galah.
Wajah Kuncoro semakin tersenyum lebar saat para pendekar Cakra Tumapel yang sejak awal bersembunyi ikut masuk pertempuran untuk semakin memanaskan situasi.
Sebagian pendekar Cakra Tumapel menyerang pasukan Saung galah dan sebagian lagi diam diam menyerang Guntur Api.
"Rencana anda benar benar sempurna tuan Wardhana, kini mereka saling bunuh dan siapapun pemenangnya itu akan menguntungkan kita," ucap Kuncoro dalam hati sambil terus melepaskan anak panah.
Saat Kuncoro mulai membidik para pendekar Guntur api dia mulai menyadari sesuatu.
"Apakah pemimpin Guntur api seorang wanita? atau mereka membagi dua kelompok dan bergerak juga di jalur utama? jika demikian pasukan tuan Paksi dalam bahaya," ucap Kuncoro khawatir.
***
"Sepertinya pertempuran sudah dimulai," ucap Lingga saat mendengar ledakan dari arah Lembah penghisap sukma.
"Kita harus cepat," Emmy bergerak kearah tumpukan batu yang dari tadi mengeluarkan suara indah.
"Letak batu batu ini tidak alami, sepertinya sengaja di susun sedemikian rupa untuk menyembunyikan sesuatu," ucap Emmy sambil meraba salah satu batu dan mengetuknya.
"Suaranya berbeda dari batu lainnya, batu ini disusun sesuai dengan tinggi rendahnya bunyi batu," Emmy mengetuk batu lainnya.
Emmy kemudian berdiri dan melangkah sedikit menjauh untuk melihat susunan batu itu dari jauh.
Emmy mengernyitkan dahinya saat melihat sebuah sumur di tak jauh dari susunan batu itu, dia berjalan mendekati sumur itu bersama Lingga.
"Lepaskan semua Nafsu dan ambisi maka suara alam akan menuntunmu menuju Nagara siang padang, apa mungkin kata kata ini berhubungan dengan sumur tua ini," ucap Emmy pelan.
"Apa maksudmu berhubungan dengan sumur ini?" tanya Lingga bingung.
"Lepaskan semua nafsu dan ambisi, sepertinya berhubungan dengan membersihkan diri. Membersihkan diri selalu terkait dengan air, aku yakin sumur ini ada hubungannya dengan pesan yang ditemukan di sekte Angin Biru," balas Emmy pelan.
"Cepat pecahkan misteri gunung ini, kita tidak tau kapan mereka akan sampai disini. Candrakurama, perintahkan pasukan Hibata untuk menyebar dan memperketat penjagaan, kita harus mempersiapkan semuanya sebelum mereka naik," perintah Lingga.
'Baik tuan," balas Emmy dan Candrakurama bersamaan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sumur keramat di Gunung Padang...
Di area Gunung Padang tepatnya di dekat pintu masuk menuju wisata Gunung Padang terdapat sebuah Sumur bernama Sumur Kahuripan atau Air kehidupan, ada juga yang mengatakan sumur Banyu Susuk Tungga (banyu artinya air, susuk artinya menancap, tungga artinya satu) itu dipercayai dapat mengobati segala macam penyakit baik penyakit fisik maupun penyakit batin.
Usut punya usut, ternyata tak sedikit pengunjung yang berdoa di sumur tersebut. Mereka berdoa untuk disembuhkan dari berbagai penyakit dan banyak pula yang berdoa untuk meminta jodoh. Caranya, dengan mengambil air dari sumur dan ada juga yang dibasuh ke muka.
"Itu tergantung keyakinan masing-masing, jangan sampai akibat sumber air tersebut menjadikan orang menduakan tuhannya (musyrik). Air dari sumur kahuripan ini berasal dari batu-batu pegunungan yang ada di kawasan Gunung Padang" jelas Zainudin (Kuncen Gunung Padang) kepada detikTravel.
PNA memunculkan mitos sumur ini namun letaknya saya taruh di puncak gunung agar lebih memudahkan menyatukan mitos dan misteri ala Pedang Naga Api....
terakhir dan yang paling penting, PNA kembali merosot posisinya di rank Vote.. jadi buat yang ingin mensuport dan mendapatkan bonus chapter dilain hari silahkan vote poin anda.. gratis kok...
__ADS_1
Terima kasih....