
Lingga berjalan dibelakang Sabrang dan Mentari, Walaupun saat ini ada perjanjian antara Kertasura dan Suliwa namun agak sulit baginya berbaur bersama Sabrang yang merupakan pendekar aliran putih terlebih melihat perseteruan mereka selama ini.
Sampai saat ini niat Sabrang untuk membalas kematian ayahnya masih membara dihatinya namun dia menahannya karena ada masalah yang lebih besar menanti mereka.
"Kau akan mengundang musuh disetiap perjalananmu jika terus seperti itu". Lingga tiba tiba berbicara pada Sabrang.
"Apa maksudmu?". Sabrang menjawab tanpa menoleh kebelakang.
"Lebih tepatnya pedangmu yang mengundang setiap orang untuk menyerangmu. Semua orang yang melihat pedang dipunggungmu akan langsung tau jika itu pusaka Naga api".
"Apa kau akan membantuku membawa pedang ini?". Sabrang terkekeh menyindir Lingga Maheswara.
"Sejujurnya aku tidak pernah tertarik pada Naga api, kau tidak tau seberapa berbahaya pusaka yang kau bawa itu".
Sabrang hanya menghela nafas mendengar ucapan Lingga. Apa yang dikatakan Lingga ada benarnya, gagang pedang Naga api yang berbentuk kepala Naga sangat mencolok membuat siapapun yang melihatnya akan mengenali jika pusaka itu adalah Naga api. Sabrang belum menemukan cara untuk menyembunyikan pedang itu.
Berbeda dengan Keris penguasa kegelapan yang dapat menyatu dengan tubuh Sabrang, Naga api cenderung enggan diatur.
"Kau mengetahui tentang Naga api? Sabrang bertanya pelan.
"Tidak banyak, namun secara garis besar dari yang kudengar pedang itu akan memilih tuannya sendiri. Banyak pendekar pengguna Naga api sebelumnya merasa jika Naga api memilihnya namun ternyata itu hanya siasat Naga api untuk merebut kesadarannya dan memakan jiwanya. Kusarankan kau harus berhati hati jika saat ini kau merasa Naga api memilihmu, tidak menutup kemungkinan kau akan bernasib sama dengan pendahulumu". Jawab Lingga.
"Kau pernah mendengar Banaspati?". Lingga melanjutkan.
"Banaspati?". Sabrang mengernyitkan dahinya.
"Konon tanah nusantara ini dulu adalah tempat bersemayamnya iblis api merah yang oleh sebagian orang disebut Banaspati. Kekuatan Banaspati sangat mengerikan sampai tidak ada satu orangpun yang bisa menghentikannya. Iblis api ini pernah membuat kekacauan yang sangat besar saat itu dan membunuh ribuan orang tidak bersalah sebelum para dewa murka dan menyegelnya. Untuk mencegah Banaspati bangkit kembali para dewa memisahkan lima bagian tubuhnya dan menyegelnya di lima gunung berapi di seluruh penjuru dunia".
Saat Lingga akan melanjutkan ceritanya tiba tiba kobaran api muncul dari pedang yang ada dipunggung Sabrang dan hampir membakar Lingga jika dia tidak sigap menahannya dengan perisai tenaga dalam. Mentaripun terlihat melompat menjauh karena terkejut dengan gerakan Naga api yang tiba tiba.
"Anak ini menyerangku? ah tidak sepertinya tadi reaksi Naga api karena aku tidak merasakan tenaga dalam anak ini dari api yang menyerangku tadi". Lingga kembali menarik tenaga dalamnya setelah api itu mulai mengecil.
"Hei tenanglah Naga api, kau bisa melukai orang terdekatku". Sabrang membentak Naga api, wajahnya terlihat tidak suka dengan gerakan Naga api yang tiba tiba.
"Kau hanya pusaka, sebesar apapun kekuatanmu tak akan bisa kau gunakan tanpa perantara tubuhku, jadi aku yang memutuskan kapan kau menyerang!". Sabrang melanjutkan.
"Kau salah jika meremehkan tuanku Naga api, ada sesuatu dalam tubuhnya yang lebih mengerikan Ken panca sekalipun". Anom terkekeh melihat Naga api yang hanya terdiam setelah Sabrang membentaknya.
Setelah tidak terlihat lagi kobaran api dari pedang Naga api Lingga melanjutkan ceritanya.
"Aku tidak tau kebenarannya namun konon Ken panca menggunakan energi Banaspati saat menciptakan pedangmu, Entah apa tujuan Ken panca menciptakan pedang itu namun pedang yang kau bawa itu bisa memicu Banaspati bangkit kembali. Mungkin Suling raja setan adalah pusaka terkuat di dunia ini namun pedang mu dapat dapat memicu bangkitnya sesuatu yang jauh lebih kuat dari Suling raja setan".
__ADS_1
Sabrang hanya menghela nafasnya, Semakin jauh dia mencoba mencari jawaban atas misteri yang ada disekitanya namun semakin banyak misteri baru bermunculan.
Saat matahari mulai terbenam mereka memutuskan membuat api unggun dan beristirahat. Pertarungan sebelumnya membuat mereka membatalkan beristirahat di penginapan. Terlalu bahaya jika terlalu lama ditempat keramaian.
"Beristirahatlah, aku akan berjaga lebih dulu". Sabrang berkata pelan kemudian dia duduk bersila dan memejamkan matanya untuk bermeditasi. Mentari memilih melangkah kesebuah pohon besar tak jauh dari api unggun untuk merebahkan tubuhnya.
"Kau tidak memintaku untuk tidur dengan dikelilingi musuhku kan?". Lingga tersenyum sinis disambut tawa Sabrang.
***
"Mereka benar benar melakukan hal hina dengan melanggar perjanjian itu". Ucap Ciha setelah melihat Daniswara melakukan gerakan gerakan aneh yang menurut perkiraannya adalah Ilmu kanuragan.
Dia bersembunyi di atas pepohonan rindang di sebuah hutan di luar area Segel kabut. Saat dia memutuskan akan pergi tiba tiba Daniswara telah muncul di hadapannya.
"Cepat sekali". Ciha berusaha melarikan diri dengan melompat dari atas pohon namun gerakan Daniswara lebih cepat. Sebuah pukulan menghantam tubuh Ciha membuatnya terlempar ke tanah.
"Kau seharusnya tidak ikut campur urusanku". Daniswara menatap tajam Ciha.
Ciha kembali bangkit dan melesat cepat meninggalkan Daniswara dengan ilmu meringankan tubuhnya.
"Kejar dia, jangan sampai dia kembali ke sekte Bintang langit". Daniswara memerintahkan tiga pendekar yang sejak tadi menjaganya.
"Aku harus memberitahu masalah ini pada Ketua". Ciha terus berlari tanpa memperdulikan pepohonan disekitarnya yang melukai tubuhnya.
Langkahnya yang semakin berat membuatnya mudah terkejar oleh para pendekar itu. Saat dia mendapat sedikit harapan karena melihat sebuah lembah di depannya tiba tiba sebuah serangan energi pedang menghantam tubuhnya.
Tubuh Ciha terlempar dan membentur sebuah batu besar sebelum terperosok kedalam lembah dihadapannya.
"Ketua... maafkan aku, sepertinya.......". Perlahan kesadaran Ciha hilang dan tubuhnya dengan cepat jatuh kedalam lembah tak berdasar.
"Hei! apa kau sudah gila menggunakan ilmu kanuragan di tempat ini? Segel udara akan mendeteksi seranganmu tadi". Salah satu pendekar menghardik temannya yang menyerang Ciha.
"Apa kita punya pilihan lain? jika dia lolos maka tuan Daniswara dalam bahaya, yang terpenting saat ini dia telah mati. Tak ada satupun orang yang berhasil selamat setelah terperosok kedalam lembah tak berdasar ini". Pendekar itu menjawab.
"Sudah cukup! bukan saatnya kita bertengkar, sekarang sebaiknya kita pergi sebelum Ketua Andaru menuju kemari". Pendekar satunya menengahi dan melesat pergi diikuti dua pendekar lainnya.
***
Wajah Andaru sangat buruk setelah segel udaranya merasakan ada kekuatan Dieng di dalam wilayah Sekte Bintang langit.
"Aku tidak mungkin salah, yang kurasakan barusan adalah jurus yang berasal dari Dieng. Apa Daniswara yang melakukan ini? Jika benar, siapa yang dia serang?".
__ADS_1
Tubuh Andaru bergetar hebat saat menyadari jika orang kepercayaannya selama ini, Ciha tidak terlihat sejak tadi pagi.
Ciha merupakan murid yang tekun, biasanya setiap pagi dia selalu datang dan membantu Andaru untuk sekedar menyempurnakan Segel udara agar lebih sensitif mendeteksi terhadap kekuatan yang berasal dari Dieng.
"Aku harus memastikannya, sepertinya energi itu berasal dari hutan dekat Lembah tak berdasar". Andaru bergegas mengambil peralatannya dan menyelipkan sebuah pedang pendek didalam pakaiannya untuk berjaga jaga.
"Mau kemana kau terburu buru sekali?". Daniswara muncul di depan pintu dengan senyum liciknya saat Andaru membuka pintunya.
"Bukan urusanmu, minggirlah kau menghalangi jalanku". Andaru membentak Daniswara. Perasaannya mengatakan jika ini ulah Daniswara dan dia harus memastikannya.
"Ketua memanggil kita semua sekarang, apakah kau ingin mengendap endap keluar sekte? bukankah itu dilarang oleh sekte kita? ".
"Kau!". Andaru menatap tajam Daniswara.
Andaru terpaksa mengikuti Daniswara menuju Aula utama Sekte Bintang Langit untuk menemui Ketua mereka.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Catatan Author :
"**Hamba menghadap Yang mulia". Wardhana berlutut dihadapan Sabrang.
"Ada apa paman?". Sabrang berkata pelan.
"Bukankah anda mempunyai janji untuk menjenguk tetua Ageng Yang mulia?".
Sabrang mengangguk pelan "Aku membatalkannya sementara paman". Ucap Sabrang.
"Apakah ada masalah Yang mulia?". Wajah Wardhana terlihat khawatir.
"Penyebaran virus Covid 19 sedikit membuatku khawatir akhir akhir ini, kita harus mematuhi himbauan kerajaan Saung galah untuk tidak keluar rumah jika tidak benar benar mendesak demi mencegah penyebaran virus ini".
"Tapi bukankah Yang mulia mempunyai Energi bumi yang dapat menangkal virus Corona?".
"Mungkin aku memiliki kekebalan tubuh yang baik namun bagaimana dengan kakek dan murid Sekte pedang Naga api lainnya? Bagaimana jika aku pembawa virus bagi mereka? Lebih baik sementara kita #Dirumahaja".
Wardhana terlihat mengangguk pelan mendengar ucapan Sabrang.
"Paman, banyak hal yang bisa dilakukan dirumah. Kita bisa meluangkan waktu bersama keluarga kita yang selama ini kita sibuk mengembara. Selain itu kita bisa mendukung Author Ricky Wicaksono, pengarang Novel Pendang Naga Api yang sedang hits di semua kalangan dengan memberikan Tips, Vote, like maupun membantu promosi agar pembaca lebih banyak dan Author semakin semangat untuk menulis.
Nasib kita ada ditangan mereka paman". Wajah Sabrang berkaca kaca.
__ADS_1
"Baik Yang mulia, hamba akan memerintahkan pasukan angin selatan untuk #Dirumahaja dan membagi jadwal berjaga agar bisa ikut menekan penyebaran virus Covid 19 dan memberikan dukungan pada novel Pedang Naga Api di rumah masing masing". Setelah menundukan kepalanya Wardhana melangkah keluar meninggalkan Sabrang sendirian.
"Ayah, semoga kami dapat melewati wabah ini secepatnya agar kami bisa beraktifitas seperti sedia kala dan semoga semua yang terpapar Covid 19 secepatnya sembuh seperti sedia kala**".