Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Menuju Kota Emas Wentira II


__ADS_3

(Kota Emas Wentira, pedalaman hutan Celebes)


"Sampaikan pada Yang mulia, aku ingin menghadap". Ucap seorang pria tegap pada prajurit penjaga.


Prajurit tersebut langsung mengangguk tanpa bertanya sepatah katapun, Hal itu dapat dipahami karena yang memberi perintah padanya adalah orang kepercayaan Raja Wentira sekaligus pendekar paling kuat yang dimiliki Wentira.


Pria itu menatap bangunan bangunan megah disekitarnya yang semuanya terbuat dari emas sambil menunggu Rajanya menerima kehadirannya.


Terselip senyum kecut dibibirnya ketika mengenang kehidupannya yang terkurung didalam kota megah ini. Bukan hanya dia tapi seluruh rakyat Wentira tak pernah meninggalkan kota itu. Hanya beberapa prajurit dengan izin khusus yang boleh meninggalkan kota untuk misi misi penting. Mereka semua terkurung dalam kemegahan yang sebenarnya tidak terlalu mereka butuhkan.


Kesalahan masa lalu pemimpin tertinggi Kumari kandam memaksa mereka mengasingkan diri dihutan yang belum terjamah didaratan Celebes dan membangun peradaban kembali untuk bersembunyi. Dengan ilmu pengetahuan dan beberapa kitab yang berhasil mereka bawa saat melarikan diri, mereka kembali membangun peradaban baru.


Mereka memutuskan bersembuyi dan mengasingkan diri untuk menyelamatkan dunia persilatan. Mereka yang paling mengerti seberapa berbahayanya apa yang ada didalam telaga khayangan api, untuk itu mereka bersembunyi sambil menjaga salah satu rumah para dewa yang tersembunyi diantara bangunan megah milik mereka.


Mereka percaya jika anak dalam ramalan itu akan lahir dan menghapus kesalahan masa lalu Kumari kandan, sebuah peradaban kuno yang sudah sangat maju baik ilmu pengetahuannya maupun ilmu kanuragannya.


"Panglima, yang mulia menunggu anda diruangan bintang". Ucap prajurit itu sopan.


Pria itu hanya mengangguk dan berjalan sambil mengernyitkan dahinya.


"Ruangan bintang? kenapa Yang mulia memilih tempat itu untuk menemuiku?". Gumam pria itu dalam hati.


Namanya adalah Dananjaya, Panglima perang kepercayaan Raja Wentira sekaligus pemimpin tertinggi 9 pendekar penjaga Wentira yang langsung dibawah komando Raja.


"Hamba menghadap Yang mulia". Dananjaya berbicara dari luar pintu yang terbuat dari emas itu.


"Masuklah Panglima". Jawab lembut seseorang dari dalam ruangan megah itu.


"Terima kasih atas kebaikan anda Yang mulia". Dananjaya memasuki ruangan itu hati hati, dia jelas tidak ingin menyinggung Rajanya itu.


Dananjaya berlutut membeti hormat sebelum duduk dengan sopan dihadapan Tanwira, Raja tertinggi Kerajaan Wentira sekaligus keturunan terakhir Raja Kumari kandam terdahulu.


"Apa yang ingin kau bicarakan denganku?". Tanya Tanwira lembut.


"Maaf Yang mulia...". Dananjaya terlihat ragu melanjutkan ucapannya.


"Kau ingin bertanya kenapa aku mengajakmu bertemu diruangan Bintang?".


Dananjaya mengangguk pelan. "Bukankah tempat ini tak pernah dibuka sejak ribuan tahun lalu".


Tanwira tersenyum menatap Panglima yang sangat setia padanya itu.


"Ribuan tahun kita menjaga ruangan ini tanpa berani memasukinya karena diruangan inilah pintu masuk salah satu dari lima rumah para dewa berada. Apa kau tidak merasa muak? bosan? terkurung ditempat ini menunggu anak dalam ramalan yang tak kunjung muncul. Secara tidak sadar kitalah yang menanggung kesalahan dan ketamakan leluhur kita".


"Yang Mulia". Ucap Dananjaya tertahan.


"Tidak apa apa Panglima, aku tetap akan menjaga tempat ini sekuat tenagaku karena apa yang ada didalam sana sangat berbahaya. Kadang aku hanya ingin membunuh ayahku jika memikirkan kebodohannya dimasa lalu".


"Hamba mengerti perasaan Yang mulia". Dananjaya berkata pelan.

__ADS_1


"Panglima,kau pasti sudah mendengar tentang penyerangan salah satu rumah para dewa di Daratan Jawata? sepertinya Pendekar langit merah mulai bergerak setelah kegagalan mereka menyerang kita. Aku menemuimu diruangan ini karena kita harus bersiap jika mereka berhasil menemukan jalan masuk dan kembali menyerang".


"Mohon Yang mulia jangan terlalu khawatir, aku telah memperbaharui sistem keamanan tempat ini". Ucap Dananjaya.


"Aku percaya pada kemampuanmu namun ada sebuah kabar yang mengatakan jika ada seorang pendekar yang mampu membangkitkan energi banaspati harus kita sikapi dengan serius. Energi Banaspati dapat memicu terbukanya pusat peradaban kita lebih cepat dari ramalan, itu akan sangat membahayakan dunia ini. Aku ingin kau pimpin pasukan untuk menutup semua akses masuk dan menugaskan Sembilan Pendekar penjaga Wentira untuk berjaga disetiap titik pintu masuk".


"Baik Yang mulia". Dananjaya menundukan kepalanya.


"Kuharap yang dijanjikan Ken Panca padaku saat aku mengizinkannya masuk Wentira ditepatinya". Tanwira menarik nafas panjang, mengenang pertemuannya dengan Ken Panca.


"Maksud anda Janji pemuda aneh yang anda temukan dihutan?".


Tanwira mengangguk pelan "Dia tidak aneh Panglima, dia adalah anak yang sangat berbakat dan pintar. Dia berjanji padaku untuk menciptakan pusaka yang suatu saat akan membantu kita memusnahkan Pendekar langit dan menjaga Khayangan api sampai saatnya tiba Anak dalam ramalan membukanya".


"Anda mempercayai ucapannya?". Dananjaya mengernyitkan dahinya, Dia bingung dengan sikap Rajanya itu yang begitu percaya dengan Ken Panca.


"Suatu saat kau akan mengerti mengapa aku begitu mempercayainya dan aku masih menunggu janjinya".


***


"Sebaiknya kita pergi paman, mungkin Ciha sedikit terlambat karena ada sesuatu dalam perjalanan. Dia bisa membantu kakek Suliwa memecahkan misteri yang ada disini". Ucap Sabrang pada Wardhana yang masih menunggu kedatangan Ciha.


Mereka sudah memundurkan jadwal sehari karena masih berharap Ciha muncul namun sampai sore itu belum ada tanda tanda dia datang.


Bukan tanpa alasan Wardhana menginginkan Ciha dalam timnya. Dia sudah memperkirakan akan sangat sulit berhadapan dengan teka teki dan misteri telaga khayangan api. Dia membutuhkan partner untuk menghadapi kecerdasan Pendekar langit merah dan Ciha adalah orang yang paling tepat.


Namun langkah Wardhana terhenti ketika melihat wajah seseorang yang dikenalnya, wajah Dingin tanpa ekspresi itu menatapnya bingung saat mereka berpapasan.


"Jika kau sampai berada disini berarti ini bukan masalah kecil". Ucap Lingga dingin seperti biasanya. Dia terlihat berjalan bersama Ciha dan ditemani salah satu murid Tapak es utara.


"Pastikan jangan terluka kembali, aku tidak ingin ksu malah membebaniku". Jawab Wardhana.


"Kau pintar membual seperti tuanmu!". Ejek Lingga.


"Bukankah sudah kukatakan pada paman jika orang ini akan menyusahkan kita saat berada didaratan Celebes". Umpat Sabrang kesal.


"Sudah sudah hentikan sifat kekanak kanakan kalian". Ciha mencoba menengahi. Kau tadi mengatakan Celebes? Daratan itu benar benar ada?". tanya Ciha penasaran.


Sabrang mengangguk pelan "Kita akan pergi hari ini juga".


Raut wajah Ciha menjadi bersemangat setelah mendengar jawaban Sabrang. Sudah lama dia mendengar kabar keberadaan Celebes dan kali ini dia akan mengunjunginya.


***


Setelah pertengkaran yang cukup panjang antara Mentari dan Tungga dewi akhirnya mereka mengerti mengapa Sabrang tidak mengajak mereka. Suliwa memerlukan mereka berdua untuk menjaga sekte tapak es utara.


Mereka bertugas sebagai ketua aliansi aliran putih dan menjadi penghubung dengan aliran hitam. Tugas mereka memastikan agar tidak terjadi gesekan antara aliran sampai masalah dengan Pendekar langit merah selesai.


"Kau yakin memberikan tugas ini pada mereka? Memastikan tidak ada gesekan antar aliran namun mereka selalu bertengkar setiap saat, apa yang sebenarnya ada dalam pikiranmu tetua". Tanya Mantili.

__ADS_1


"Bukan aku yang menyusun tim ini, tuan Adipati yang merencanakan semua ini. Aku yakin dia mempunyai rencana dibalik semua ini. Apa anda tidak menyadarinya tetua? Dia memilih anggota tim sesuai dengan kebutuhan dan karakter tim. Baru kali ini aku merasa takut pada seseorang". Ucap Suliwa sambil menggeleng pelan.


***


"Apakah ada lorong rahasia menuju daratan Celebes?". Tanya Ciha heran ketika Arung mengajak mereka memasuki sebuah gua dekat laut lepas. Sepanjang perjalanan Ciha penasaran bagaimana Arung akan mengantar mereka kedaratan Celebes.


Namun Ciha tersentak kaget ketika Arung mengajak mereka memasuki gua.


Arung tersenyum kecil mendengar ucapan Ciha. "Ikutlah denganku, ada yang ingin kutunjukan pada kalian". Arung melangkah masuk gua itu diikuti yang lainnya.


Setelah berjalan cukup lama dalam gua, mereka mendengar suara ombak menbentur batu karang.


"Ujung gua ini menuju lautan lepas". Gumam Wardhana dalam hati.


Mata mereka tak berkedip sedikitpun ketika melihat sebuah Kapal bersandar diujung gua. Kontruksi dan relief yang tertulis dibadan kapal membuat mereka tersentak kaget.


"Kapal ini dibangun dengan ilmu pengetahuan yang sangat maju. Apa mereka membuat kapal ini setelah melihat kitab paraton? atau...". Wardhana larut dalam pikirannya sendiri. Dia benar benar takjub dengan kapal besar nan kokoh yang ada dihadapannya.


"Kami menamainya Bahtera Celebes. Ayo kita masuk, kapal ini yang akan membawa kalian kedaratan Celebes". Ajak Arung.


Namun langkah mereka terhenti ketika tiba tiba muncul puluhan pendekar bertopeng mendekati mereka.


"Urungkan niat kalian untuk pergi, aku akan melepaskan kalian jika menyerahkan harta itu pada kami". Ancam salah satu pendekar.


"Sepertinya ada yang tidak ingin kita pergi". Ucap Lingga dingin, dia mencabut pedangnya dan bersiap menyerang.


"Apakah mereka bagian dari pendekar yang menyerang sekte Tapak es utara?". Tanya Sabrang.


"Aku tidak tau namun siapapun mereka, kita tak akan dibiarkan pergi begitu saja".


"Arung, bawa paman dan Ciha masuk. Aku akan menyusul setelah membereskan mereka". Kobaran api mulai menyelimuti tubuh Sabrang.


"Baik". Jawab Arung pelan.


Melihat Arung dan yang lainnya tak mengindahkan ancaman mereka, para pendekar itu tiba tiba menyerang.


"Tak akan kubiarkan kalian mendekat satu langkahpun". Sabrang memutar lengan kirinya diudara. Tak lama sebuah keris muncul didudara dan menyerang pendekar yang mulai bergerak menyerang.


Yang membuat Sabrang dan Lingga terkejut adalah keris itu seolah menembus tubuh mereka namun tidak melukai mereka sama sekali.


"Menarik". Ucap Sabrang yang langsung bergerak menyerang. Mata birunya kembali bersinar terang.


"Aku tak akan membiarkan sibodoh itu membunuh semuanya dan tak menyisakan satupun untukku". Lingga menghilang dari pandangan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Yang bertanya kenapa beberapa hari ini *Api di Bumi Ma**japahit* belum update karena sedang dalam tahap perbaikan. Author berencana mengikutsertakan dalam Lomba menulis.


Mohon bersabar, dalam satu atau dua hari lagi ABM akan update seperti biasanya. 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2