Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Pasukan Rubah Putih Terdesak


__ADS_3

Trowulan langsung menjadi medan perang saat Rubah Putih dan pasukannya menyergap rombongan Saragi, pasukan kedua pihak berlari bagai ombak dilautan dan saling menyerang satu sama lain.


Tebing tebing tinggi di kedua sisi medan perang seolah menjadi saksi pertempuran terbesar di Nuswantoro.


Posisi Arkantara terlihat lebih unggul dengan jumlah pasukan yang jauh lebih banyak namun Ksatria Malwageni yang dipimpin oleh Rubah Putih tidak gentar, memanfaatkan kondisi alam yang memang sudah diperkirakan oleh Wardhana, mereka langsung menggunakan formasi Supit Urang untuk bertahan dan sesekali menekan.


"Hidup mati kalian ditentukan disini, tak ada yang boleh mundur tanpa perintahku, hancurkan mereka!" teriak Rubah Putih sebelum melesat ke garis depan untuk menyerang lebih dulu.


"Kalian dengar ucapan tuan Rubah Putih? jangan biarkan mereka menginjakkan kaki di ibukota," Wijaya langsung mengambil alih pimpinan formasi, dia mencabut pedangnya dan berlari bersama pasukannya.


Genderang perang dari kedua belah pihak ditabuh sekeras kerasnya untuk memberi semangat, tempat yang dulu sangat tenang itu berubah menjadi medan perang yang bau darah.


Rubah putih langsung mengamuk diantara kepungan ratusan prajurit, tanpa berfikir panjang dia langsung menggunakan ledakan tenaga dalam iblis untuk mengimbangi pasukan lawan yang jauh lebih besar.


"Aku tidak perduli dengan permusuhan antara Malwageni atau Arkantara tapi jika kalian berusaha menghancurkan bumi Nuswantoro seperti yang dilakukan Masalembo maka aku akan berdiri paling depan," Luapan aura yang keluar dari tubuh Rubah Putih menyulitkan para prajurit Arkantara bergerak sehingga memudahkannya untuk mengambil nyawa mereka.


Wijaya yang memimpin pasukan sesekali menoleh kearah Rubah Putih sambil bertempur, bulu kuduknya berdiri dan semangat tempurnya berkobar melihat kekuatan pria berambut putih itu.


Kenangan pahit saat melawan Majasari yang sempat terlintas di pikirannya saat melihat banyaknya pasukan musuh sudah hilang seketika.


"Apapun yang terjadi, jangan biarkan mereka masuk Ibukota," teriak Wijaya memberi semangat.


Rengga masih memperhatikan jalannya pertempuran dari jarak yang aman bersama Saragi, mereka belum bergerak sama sekali seolah sedang menunggu sesuatu.


"Kau benar benar gila Rengga, membiarkan kita masuk perangkap untuk membuat perangkap baru, aku tidak bisa membayangkan jika rencanamu kali ini gagal," ucap Saragi pelan, kali ini wajahnya terlihat jauh lebih tenang karena apa yang diperkirakan Rengga menjadi kenyataan.


Dia kembali teringat saat hampir membunuh pria berpakaian wanita itu karena membisikkan sesuatu yang tidak masuk akal ketika Lingga tiba tiba menyerang pasukannya.


"Mereka mencoba memecah pasukan kita dengan mengirim para pendekar itu Yang mulia dan aku yakin pertempuran sebenarnya berada di suatu tempat di depan sana," bisik Rengga setelah meminta pasukannya membentuk formasi Wukir Sagara Wyuha untuk menahan Lingga dan pendekar Hibata.


"Aku juga merasa seperti itu, kita akan mengecoh mereka dan bergerak dari arah lain setelah melumpuhkan mereka," balas Saragi yang bersiap mengerahkan pasukan lainnya untuk melumpuhkan Lingga.


"Tidak Yang mulia, kita akan tetap menggunakan jalur ini seolah kita masuk perangkap, hamba memiliki satu rencana untuk melumpuhkan pasukan terakhir mereka," jawab Rengga tiba tiba.


"Apa kau sudah gila? sengaja masuk dalam perangkap musuh sama saja misi bunuh diri, andaikan kita menang pun, akan banyak korban jiwa di pihak kita," bentak Saragi kesal, andai mereka tidak di medan perang mungkin dia sudah membunuh Rengga yang taktiknya selalu mengorbankan nyawa pasukan Arkantara.


Rengga memang selalu mengorbankan beberapa pasukannya setiap berperang untuk menjebak lawan, walau pada akhirnya Arkantara mendapatkan kemenangan namun Saragi sedikit keberatan dengan taktik kejam itu.


"Peperangan tidak bisa di dapatkan hanya dengan belas kasih Yang mulia, korban jika akan selalu mengikuti. Hamba sudah cukup lama mengabdi pada anda dan setiap siasat yang hamba buat tak pernah mengecewakan anda.


"Lawan kali ini berbeda dengan kerajaan yang pernah kita taklukkan sebelumnya, serangan pembuka untuk memecah pasukan kita jelas membuktikan kepintaran mereka dan itu artinya mereka tidak bisa ditaklukkan dengan cara biasa. Jika anda tidak setuju dengan rencana ini maka hamba akan mundur. Sejarah hanya akan mengingat pemenang bukan jumlah korban jiwa," jawab Rengga dingin.


"Kau!" Saragi tampak marah dengan jawaban ketus Rengga namun dia tidak bisa berbuat banyak karena semua startegi penyerangan kali ini dibuat oleh Rengga. Dia mulai sedikit menyesal karena terlalu bergantung dengan salah satu anggota Kuil suci itu.


"Lalu apa rencana yang kau buat untuk mengatasi masalah ini?"


Rengga tersenyum penuh kemenangan ketika mendengar pertanyaan Saragi.


"Hamba tidak akan mengecewakan anda Yang mulia," balas Rengga sambil menjelaskan rencananya.

__ADS_1


"Mungkin kita akan sedikit sibuk dan terlambat sampai di ibukota tapi itu justru akan menjadi kunci kita memenangkan pertempuran ini. Saat ini hamba yakin Wardhana mengerahkan separuh lebih pasukannya ke sini karena dia mengincar kemenangan cepat untuk memukul mundur kita dan disaat bersamaan berusaha merangkul kembali Saung Galah sebelum menyerang kita dengan gabungan pasukan Saung Galah.


"Mereka mungkin akan memanfaatkan kelemahan Pancaka tapi hamba yakin tuan Agam bisa mengatasinya. Wardhana akan sangat terkejut saat rencananya terbentur tuan Agam, dia tidak akan menyangka jika aku sudah membaca semua gerakannya.


"Wardhana perlahan akan menyadari kesalahan besarnya dan saat itu tiba semua sudah terlambat karena Keraton sudah jatuh di tangan kita," ucap Rengga penuh percaya diri.


"Bagaimana kau bisa begitu yakin mampu membaca semua gerakan Wardhana dengan sempurna? apa itu tidak terlalu percaya diri?" tanya Saragi ragu, dia takut jika Wardhana ternyata mengambil jalan yang berbeda dengan perkiraan Rengga.


"Tak ada yang pasti dalan perang Yang mulia, baik aku maupun Wardhana hanya memperkirakan gerakan masing masing tapi dia tidak menyadari satu hal, kita sudah menang satu langkah saat Pancaka berhasil menyusupkan mata mata di pasukannya. Itulah yang membuatku bisa membaca apa yang akan dia lakukan," jawab Rengga.


"Yang mulia, pendekar berambut putih itu benar benar sulit ditaklukkan, kita akan terus tertahan disini selama dia belum bisa dilumpuhkan," suara seorang prajurit Arkantara membuyarkan lamunan Saragi.


"Terus tahan dia dengan semua kekuatan kalian, bagi dua pasukan dan bersiap dengan serangan tiba tiba dari arah tebing, aku ingin kalian membentuk formasi Perang Diradameta," jawab Saragi pelan.


"Serangan tiba tiba?" tanya Prajurit itu bingung.


Rengga terlihat menatap ke salah satu tebing sambil tersenyum kecil.


"Kalian ingin menggunakan tebing tebing ini untuk menjebak kami? ku akui kau benar benar menakjubkan Wardhana, tak mudah mengambil keputusan dan membuat rencana sebaik ini saat sedang terdesak tapi kali ini akulah pemenangnya," ucap Rengga dalam hati.


Pasukan Arkantara kembali merubah formasi, mereka dengan cepat menggunakan formasi Diradameta. Sebagian pasukan langsung memisahkan diri dan bergerak ke sisi kanan untuk mendesak Wijaya.


Menyadari perubahan pola serangan, Wijaya meminta pasukannya mundur dan tetap mempertahankan barisan.


"Jangan terkecoh, tetap pada formasi dan fokuskan gerakan kalian untuk menahan serangan mereka," teriak Wijaya memberi semangat.


"Apa sudah saatnya?" Rubah Putih yang melihat Wijaya dan pasukannya mulai terdesak terlihat khawatir.


Rubah Putih diam diam menarik separuh tenaga dalamnya sebelum melompat dan melepaskan jurus golok yang menghantam belasan prajurit yang mengelilinginya. Suara ledakan besar menggema di udara.


"Sepertinya suara ledakan itu adalah pertanda sesuatu. Yang mulia bersiaplah, perang sebenarnya akan segera di mulai," Rengga yang tadinya diam mulai bergerak masuk kedalam pertempuran bersama Saragi.


"Bentuk formasi untuk penangkal serangan panah," Saragi bergerak ke garis depan, ilmu kanuragan yang selama ini diajarkan oleh Agam membuatnya sangat percaya diri.


Tak lama setelah Rengga dan Saragi masuk dalam pertempuran, apa yang diperkirakan nya terjadi, puluhan prajurit pemanah muncul dari atas tebing bersamaan dengan belasan pendekar melompat turun yang dipimpin Mahawira.


"Serang!" teriak Mahawira.


Puluhan anak panah melesat kearah pasukan Arkantara bersamaan berubahnya kembali formasi tempur pasukan Wijaya menjadi Wukir Sagara Wyuha.


Gelombang manusia mulai merengsek dan menekan Arkantara memanfaatkan terpecahnya konsentrasi mereka.


"Emprit Neba ya? walau kau memodifikasi formasi itu tapi aku tak akan terkecoh," lengan Rengga memberi tanda untuk membentuk suatu formasi dan detik berikutnya belasan prajurit langsung melepaskan aura besar membentuk perisai tenaga dalam untuk menangkis serangan panah.


"Kalian tak pernah berfikir untuk memanfaatkan ilmu kanuragan sebagai pertahanan terbaik bukan? Wardhana, kau mungkin lebih dikenal tapi akulah sang ahli siasat terbaik dan akan aku buktikan kali ini," Lengan Rengga kembali terangkat ke udara dan beberapa saat kemudian puluhan pendekar Kuil Suci muncul dari belakang, mereka bergerak kearah Mahawira dan puluhan pasukan pemanah dengan cepat.


Rubah Putih dan pasukannya tersentak kaget saat belasan pendekar itu muncul, mereka tidak pernah menyangka Rengga juga sudah mempersiapkan sesuatu.


"Apa mungkin Lingga gagal?" ucap Rubah Putih terkejut.

__ADS_1


"Tetua, kita dijebak," Mahawira dan Wulan Sari menyambut serangan yang terarah pada mereka sedangkan Emmy bersama para pendekar Kalang dan Ksatria Pisau tumbuk lada bergerak kearah pasukan pemanah untuk melindungi mereka.


Serangan tiba tiba pasukan Kuil suci itu menghancurkan formasi Emprit Neba yang dipersiapkan Wardhana dalam sekejap.


"Formasi yang kau gunakan sudah hancur, sekarang tinggal melumpuhkan kalian dan menguasai keraton bersama pasukan tuan Agam yang saat ini mungkin sudah berada di Ibukota. Wardhana, kau sudah kalah," ucap Rengga bangga saat melihat formasi Mahawira hancur.


"Wijaya, cepat pimpin pasukan mundur perlahan, aku akan mencoba menahan mereka," teriak Rubah Putih sambil meningkatkan kecepatannya, dia terus berusaha menahan pasukan Arkantara untuk memberi waktu Wijaya menarik mundur pasukannya.


"Tapi tuan...."


"Cepat pergi!!!!" potong Rubah Putih kesal.


Munculnya para pendekar Kuil Suci membuat situasi berubah, pertahanan pasukan Angin selatan yang awalnya begitu kuat perlahan hancur.


Perubahan formasi yang begitu cepat dan membingungkan sejak Rengga dan Saragi memimpin pasukan membuat pasukan Wijaya tersudut.


Walau Rubah Putih berdiri paling depan untuk menahan mereka dan memberi kesempatan pada Wijaya untuk mundur tapi jumlah pasukan Arkantara yang terlalu banyak tak mampu dibendung sepenuhnya.


"Kau tak akan mampu menahan mereka semua tanpa kekuatanku, sebaiknya cepat pergi dari sini sebelum tenaga dalam milikmu habis," ucap Suanggi sedikit khawatir.


Wajar jika Suanggi khawatir karena tenaga dalam Rubah Putih sudah banyak terkuras saat bertarung dengan Ajidarma.


"Tak perlu mengajariku, aku akan pergi jika saatnya tiba," balas Rubah Putih sambil menoleh kearah pasukan Wijaya yang terus terdesak.


"Sebaiknya kau tidak keras kepala dan menggunakan kekuatanku, aku yakin dalam sekejap kau bisa mengimbangi mereka," jawab Suanggi kesal.


"Apa kau bisa diam sebentar? aku sedang sibuk saat ini," umpat Rubah Putih yang kembali terdesak.


Serangan gabungan pasukan Arkantara dan pendekar Kuil Suci benar benar menyulitkan pergerakan Rubah Putih.


Emmy yang melihat situasi semakin kacau tak mampu berbuat banyak karena dia dan para pendekar Kalang sedang disibukkan oleh lawannya masing masing.


Semangat tempur pasukan Arkantara semakin besar karena melihat kemenangan sudah didepan mata, mereka terus mengamuk dan tidak memberi celah sedikitpun bagi Wijaya untuk berfikir.


"Yang mulia, mereka mulai terdesak mundur, sudah saatnya menutup peperangan ini dengan rencana terakhir," Rengga tiba tiba memisahkan diri dari pasukan bersama belasan pendekar Kuil suci, dia terlihat membisikkan sesuatu sebelum kembali bergabung dengan pasukannya.


Arsenio yang sedang bertarung dengan pendekar Kuil suci tiba tiba bergerak mendekati Emmy saat melihat gerakan aneh Rengga. Dia memberi tanda pada ksatria tumbuk lada untuk melindunginya.


"Nona, sepertinya sudah saatnya," ucap Arsenio pelan.


Emmy sempat menoleh kearah pasukan Wijaya yang mulai bergerak mundur sebelum mengangguk pelan.


"Baik tuan, kuserahkan sisanya pada anda, aku akan mulai menjalankan rencana berikutnya," balas Emmy pelan, dia melompat mundur dan bergerak menjauhi area peperangan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Siasat Perang Diradameta


Diradameta artinya gajah yang sedang marah. Siasat ini menggambarkan kemarahan seekor gajah. Kemarahan yang mengagumkan (sekaligus mengerikan), belalai dan gading gajah itu sangat membahayakan dan kekuatannya pun begitu dahsyat.

__ADS_1


Siasat perang Diradameta ini digunakan Kurawa dalam perang Baratayudha, dimana Prabu Duryudana bertempat di tengkuk dengan Arja Sindurja (Jayadrata) dan Adipati Awangga, barisan Kurawa membentuk gading, sedangkan Prabu Bagadenta sebagai belalai gajah, dan Dahyang Durna berada di kepala gajah.


Formasi inilah yang digunakan Rengga untuk mendesak Pasukan Rubah Putih dengan para pendekar Kuil Suci sebagai Belalang dan Gading Gajah.


__ADS_2