Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Kesepakatan dengan Bidadari Pencabut Nyawa


__ADS_3

"Kau masih terlalu lambat dan hanya mengandalkan matamu untuk bergerak, jika terus seperti ini kau hanya akan di kenang sebagai patih yang gagal," Rubah Putih mencengkram pedang yang terarah padanya sebelum melepaskan tendangan kearah tubuh Wijaya.


Wijaya berusaha menahan dengan tangan kirinya namun gerakan kaki Rubah Putih terlalu cepat untuk diikuti, dia kemudian merasakan sakit yang luar biasa sebelum terlempar dan membentur pepohonan.


"Sial! bagaimana dia bisa bergerak secepat itu terlebih udara di tempat ini sangat tipis," ucap Wijaya terbata bata, nafasnya terasa sesak karena belum terbiasa dengan udara di sisi gelap alam semesta.


"Kau harus mulai bisa menggabungkan semua pengalaman yang sudah di dapatkan dari pertarungan sebelumnya menjadi sebuah senjata untuk menyusun serangan. Kau harus mempelajari setiap gerakan lawan dan menggunakannya untuk menutup kelemahan yang kau miliki, itulah kenapa rajamu akan semakin kuat setelah pertarungan," Rubah Putih menyarungkan kembali goloknya dan duduk dihadapan Wijaya.


"Sebelum kita semua dikumpulkan di aula utama beberapa waktu lalu, anak itu secara khusus bicara padaku tentang sepak terjang yang kau lakukan selama ini termasuk pengkhianatan pada Masalembo.


"Kau sepertinya masih terbebani dengan rasa bersalah dan itulah yang menghambat bukan hanya ilmu kanuragan tapi juga hidupmu. Selama kau belum bisa menghilangkan rasa itu, kau selamanya akan menjadi manusia lemah," ucap Rubah Putih tegas.


"Mungkin aku memang hanya manusia lemah yang tak pantas diberi kesempatan hidup tuan," balas Wijaya pelan.


"Lalu untuk apa kau hidup jika tak memiliki semangat sama sekali," Rubah Putih tiba tiba mencabut goloknya dan langsung mengayunkan kearah leher Wijaya.


Wijaya yang tak menyangka Rubah Putih akan melakukan serangan itu tampak terkejut. Merasa tak bisa menghindar, dia terpaksa menangkis serangan tiba tiba itu dengan pedangnya yang membuat tubuhnya kembali terlempar cukup jauh.


"Sepertinya ucapan dan perbuatanmu tidak pernah sama dan itu membuatku muak. Kau mengatakan seolah tak ingin hidup tapi saat aku menyerang, kau justru menangkisnya sekuat tenaga. Aku tak pernah perduli dengan apa yang sudah dan akan terjadi padamu tapi jika kau ingin menebus kesalahan inilah saatnya. Aku akan kembali lagi besok pagi, kuharap kau sudah mempunyai jawaban yang memuaskan aku," ucap Rubah Putih sambil melangkah pergi.


"Tuan..." Wijaya tampak berusaha mencegah Rubah Putih pergi sebelum tubuhnya ambruk ke tanah. Tenaga dalam terakhirnya sudah habis akibat menahan serangan Rubah Putih tadi.


"Lemah katamu? jika kau memang benar benar lemah, tak mungkin serangan terakhirku tadi mampu kau hindari. Dasar bodoh!" ucap Rubah Putih saat melihat Wijaya tak sadarkan diri.


***


"Bidadari pencabut nyawa? apa anda tidak bisa mencari wanita biasa untuk menjadi anggota Hibata?" Elang tampak terkejut saat mendengar Sabrang menjelaskan sosok wanita yang sedang mereka cari.


Elang semakin yakin jika wanita yang sedang mereka cari kali ini sudah berumur dan sangat kejam.


"Apa kau takut?" tanya Sabrang pelan.


"Bukan begitu tuan tapi apa tidak terlalu berbahaya mengajak seorang pendekar dengan julukan seperti itu masuk kedalam Hibata?" jawab Elang pelan.


"Jangan pernah menilai seseorang di dunia persilatan hanya dari julukan atau penampilannya karena banyak orang yang terlihat sangat baik justru bisa membunuhmu kapan saja. Kau harus belajar dari pengalaman gurumu kemarin," ucap Sabrang cepat sambil memanggil pelayan penginapan untuk membayar makanan.


"Begitu ya...lalu dimana kita akan menemukan nenek itu?" balas Elang cepat.

__ADS_1


"Nenek?" Sabrang mengernyitkan dahinya bingung.


"Maksudku pendekar wanita yang dijuluki Bidadari pencabut nyawa itu," jawab Elang pelan.


"Aku tidak tau letak pastinya tapi menurut kabar dari para telik sandi, dia terlihat menghancurkan markas perampok di hutan dekat kadipaten Rogo Geni beberapa hari yang lalu dan membagikan uang hasil rampasannya pada penduduk di sekitar penginapan ini. Kita akan menginap di sini sementara waktu sampai ada kabar dari para telik Sandi Malwageni," jawab Sabrang sebelum melangkah pergi kearah kamar yang sudah dipesannya.


"Hanya makan dan tidur di penginapan, bagaimana bisa menemukan dia," ucap Elang dalam hati sambil menatap kepergian Sabrang.


"Dan jangan membuat gerakan mencurigakan apapun yang akan menjauhkan dia dari kita," ucap Sabrang dari jauh seolah tau apa yang dipikirkan Elang.


Elang hanya mengangguk sambil tersenyum kecut sebelum bangkit dan melangkah keluar penginapan. Beberapa hari terkurung di penginapan tanpa melakukan apapun dan menunggu kabar dari para prajurit telik sandi membuatnya bosan. Dia ingin melihat lihat situasi di desa kecil yang berbatasan dengan kadipaten Rogo Geni itu.


"Aku bisa gila jika terus terkurung di tempat..." belum selesai dia bicara, tubuhnya tiba tiba hilang keseimbangan saat seorang wanita cantik menabraknya dari arah belakang.


"Maaf tuan, aku tidak sengaja, sekali lagi maafkan aku," ucap Wanita itu menundukkan kepalanya dan melangkah pergi.


"Cantik sekali..." Elang hanya mengangguk pelan sambil menatap kepergian gadis itu.


Namun betapa terkejutnya Elang saat gadis cantik itu tiba tiba menoleh kearahnya dan mengacungkan sebuah pedang yang sangat dikenalnya.


"Pedangku? dia mencuri pedangku!" Elang langsung melesat mengejar wanita itu.


"Kembalikan pedangku," teriak Elang sambil meningkatkan kecepatannya yang membuat jarak antara mereka semakin dekat.


"Kau ingin pedang karatan ini kembali? jangan mimpi!" wanita itu mencoba memperlebar jarak kembali namun Elang lebih dulu menyerangnya.


Dia mencengkram pakaian yang dikenakan gadis itu dan menariknya mendekat.


"Dasar pencuri!" saat Elang berusaha merebut pedangnya kembali, wanita itu tiba tiba memutar tubuhnya dan mencabut pedang itu.


Elang melepaskan cengkeraman tangannya sambil melompat mundur untuk menghindari serangan wanita itu.


"Apa kau gila? aku hanya ingin pedangku kembali," teriak Elang kesal.


"Kau menginginkan pedang ini bukan? lalu mengapa menghindarinya?" ejek wanita itu sambil terus menyerang.


Elang terpaksa menggunakan Ajian tubuh besi Brajamusti untuk mengimbangi serangan wanita itu yang semakin cepat.

__ADS_1


Wajah Elang perlahan berubah setelah bertarung dengan wanita itu, walau dia terlihat lebih unggul tapi cukup sulit menangkis serangan pedang menggunakan kedua tangannya.


"Aku harus tenang, tuan Damar mengatakan sekuat apapun lawan yang kita hadapi dia pasti memiliki celah, aku hanya perlu mencari gadis ini melakukan kesalahan," Elang terus menghindari serangan dengan tenang sambil sesekali memperhatikan gerakan pedang wanita itu.


Dan akhirnya apa yang ditunggu oleh Elang muncul saat dia tiba tiba menyerang balik, gadis cantik itu tampak melakukan kesalahan dengan memutar tubuhnya.


Elang tidak menyianyiakan kesempatan itu, dia merubah gerakannya dan memeluk gadis itu dari belakang sambil mencengkram pedangnya.


"Dasar pria mesum!" gadis itu mencoba berontak dan menendang area vital Elang sekuat tenaga sampai tersungkur ke tanah.


"Kau menendang milikku satu satunya," umpat Elang sambil menjerit kesakitan.


"Rasakan itu! seenaknya saja memanggilku nenek, dasar pria tak berguna," umpat wanita itu sambil melangkah pergi.


Namun belum jauh wanita itu melangkah, aura besar tiba tiba memenuhi area hutan yang membuat tubuhnya menjadi berat.


"Aura ini?" Wanita itu langsung siaga saat dan mencari asal kekuatan besar itu.


"Maaf nona, mohon kembalikan pedang milik temanku itu," ucap Sabrang sambil melayang di udara.


"Apa kau sedang mengancam aku?" tanya wanita itu tenang.


"Mohon maafkan aku jika kau merasa seperti itu, tapi aku hanya ingin meminta kembali pedang itu dan bicara baik baik pada nona Gendis ah tidak maksudku Bidadari pencabut nyawa," jawab Sabrang pelan.


"Jadi kau sejak awal sudah tau siapa aku," jawab wanita itu sambil tersenyum kecil.


"Bahkan sejak kau mengikuti kami saat memasuki desa ini, apa anda yang ingin kau katakan padaku?" ucap Sabrang pelan.


"Aku ingin membuat kesepakatan dengan anda Yang mulia," jawab Gendis cepat.


"Kau?"


"Bukan hanya anda yang mengetahui rahasia orang lain Yang mulia," ucap Gendis sambil menundukkan kepalanya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Saya mohon maaf kemarin PNA libur tiba tiba dan hari ini chapternya terasa sangat pendek.

__ADS_1


Setelah tahun baru, tepat pagi hari tanggal satu januari 2021 tubuh saya menggigil hebat dan sampai hari ini masih dalam tahap pemulihan.. jadi mohon dimaklumi.... Insya allah besok akan update seperti biasanya....


__ADS_2