
Beberapa prajurit berlarian ketika terdengar teriakan dari prajurit penjaga. Terlihat puluhan pendekar berlari menyerang tempat persembunyian Wardhana selama ini.
"Tuan". Prajurit tersebut tak melanjutkan ucapannya ketika Wardhana muncul dari balik pintu dengan pedang digenggamannya.
"Aku tau, ayo kita hadapi". Wardhana berjalan cepat menuju tempat keributan.
"Beberapa pendekar Golok setan berhasil menembus pertahanan prajurit Angin selatan dan langsung menyerang Wardhana yang sedang berjalan kearah mereka.
Wardhana dengan sigap mencabut pedangnya dan menerima serangan dua pendekar yang menyerangnya.
Lembu sora yang melihat Wardhana dikepung dua pendekar mencoba membantunya namun satu pendekar sudah menghadangnya.
"Bunuh mereka semua". Ucap Darya penuh percaya diri.
Setelah bertukar puluhan jurus Wardhana terlihat mulai bisa mengimbangi dua pendekar yang menyerangnya namun Wardhana mendapatkan luka di beberapa bagian akibat serangan yang diterimanya.
"Kurang ajar! jika terus seperti ini kami akan kalah". Wardhana mencoba menekan dua pendekar itu namun gerakan cepat pendekar itu mampu menahan Wardhana di posisinya.
Setelah berhasil mengatasi pendekar yang menyerangnya Lembu sora bergerak ke depan, beberapa prajuritnya terlihat mulai kewalahan menghadapi para pendekar Golok setan.
Jika mereka bukan mantan pasukan Angin selatan mungkin saat ini Golok setan telah menguasai keadaan.
"Bentuk formasi tempur". Lembu sora menerjang salah satu pendekar yang ada dihadapannya namun pendekar lainnya ikut mengepungnya.
Setelah Lembu sora berteriak, beberapa prajurit berjejer membentuk formasi tempur Angin selatan.
"Sial! kemampuan mereka tinggi sekali". Lembu sora terdorong kebelakang. Luka di punggungnya membuatnya sedikit tidak leluasa bergerak.
Lembu sora meneoleh kearah Wardhana yang tak lebih baik darinya. Beberapa luka di tubuh Wardhana akibat sabetan pedang terlihat dialiri darah segar.
Darya masih belum bergerak dari atas atap tempatnya berdiri. Dia sangat percaya diri dengan kemampuan anak buahnya.
"Pedang harimau hitam". Lembu sora memukul mundur dua pendekar yang menyerangnya namun belum sempat beristirahat tubuhnya terkena pukulan pendekar yang tiba tiba muncul di belakangnya.
Tubunya terhunyung mendapat serangan mendadak itu.
"Berani sekali kalian mengusik Pasukan angin selatan". Tiba tiba sesosok tubuh bergerak cepat menyerang kumpulan pendekar golok setan yang mulai menekan formasi yang dibuat angin selatan.
Gerakannya cepat membuat beberapa pendekar tak sempat menghindar membuat tubuh mereka tumbang di tanah.
__ADS_1
"Tuan Kertapati". Lembu sora sedikit bernafas lega setelah melihat kedatangan Kertapati. Bagaimanapun Kertapati adalah pendekar berbakat sebelum memutuskan bergabung dengan Pasukan angin selatan.
"Lama dikurung di tahanan membuat tubuhku sedikit kaku". Kertapati tersenyum kearah Lembu sora sesaat sebelum dia kembali menyerang pendekar dari sekte golok setan.
Kehadiran Kertapati memberi angin segar bagi Pasukan angin selatan, mereka mulai menekan setelah beberapa pendekar terfokus menyerang kertapari.
"Siapa pendekar itu?". Perhatian Darya mulai terfokus pada Kertapati. Gerakan pedang yang diperlihatkan Kertapati bukan ilmu pedang yang bisa dipelajari sebentar.
Permainan pedang Kertapati benar benar membuat kewalahan Pendekar golok setan, beberapa dari mereka tumbang terkena serangan cepatnya, yang lainnya memilih mundur beberapa langkah membuat formasi serangan Golok setan kacau.
"Kurang ajar!". Darya tiba tiba melesat cepat kearah Kertapati dan langsung menyerang. Kertaparti terdorong mundur seletah mencoba menahan serangan Darya.
"Kekuatannya besar sekali". Kertapati melompat mundur berusaha menjaga jarak dan menyusun serangannya kembali. Namun belum sempat dia berfikir tiba tiba Darya sudah menyerangnya dengan cepat memaksa Kertapati dalam posisi bertahan.
"Ku akui aku cukup terkejut melihat kemampuanmu namun kau kira bisa berbuat semaumu".
Serangan Darya cukup merepotkan Kertapati yang membuatnya terus terdesak mundur.
"Ilmunya lebih tinggi dari yang lainnya". Kertapati mencoba balik menyerang namun sebuah sabetan pedang yang tepat mengenai pergelangan tangannya membuat dia terpental mundur.
"Gawat tuan Kertapati dalam bahaya". Wardhana mencoba membantu, dia melompat menyerang Darya namun semua serangan Wardhana dapat dipatahkan dengan mudah.
"Kalian pikir kekuatanku hanya itu?". Darya menghilang dari pandangan Wardhana sesaat sebelum muncul kembali di dekat Wardhana.
"Golok setan Awan merah". Sebuah tebasan mengenai tubuh Wardhana membuat tubuhnya terdorong jauh kebelakang.
"Wardhana!" Kertapati berteriak melihat Wardhana terkena serangan Darya.
Beruntung Wardhana mampu menangkis serangan itu di detik terakhir namun tubuhnya tetap terluka terkena energi yang dihasilkan oleh jurus Darya.
"Kau!". Kertapari menatap tajam Darya sambil bersiap menyerang. Kali ini keadaan benar benar terbalik, Lembu sora hanya bisa menoleh sesaat tanpa bisa membantu karena dia pun sedang ditekan oleh beberapa pendekar lainnya yang tak kalah hebat.
"Hari ini akan kupersembahkan kepala kalian untuk yang mulia". Darya kembali bergerak dengan kecepatan tinggi kearah Wardhana namun Kertapati menghadangnya.
"Pukulan Angin selatan". Kertapati menyerang dengan sekuat tenaga namun Darya terlihat dengan mudah menghindarinya.
"Kekuatannya benar benar jauh diatasku". Kertapati memegang dada kanannya ketika sebuah pukulan menghantam tubuhnya.
Ketika Darya hendak memberikan serangan terakhirnya tiba tiba tubuhnya kaku terdiam, bukan hanya dia namun semua yang ada di medan pertempuran itu terdiam dan merasakan tubuhnya sulit bergerak.
__ADS_1
Darya menoleh kearah atap, dia merasa aura besar yang menekan seluruh area pertarungan berasal dari atas.
Seorang pendekar bertopeng terlihat menatapnya tajam. Sorot mata itu seolah menghancurkan seluruh kepercayaan dirinya selama ini. Tubuhnya bergertar berusaha lepas dari tekanan aura yang membuatnya sulit bernafas.
"Pangeran". Wardhana menatap pendekar bertopeng itu dengan senyum tersungging di bibirnya. Sontak Kertapati dan Lembu sora menoleh kearah Wardhana.
Pendekar itu mengangkat tangannya terlihat seperti sedang memegang sesuatu.
"Anom, bisakah kau membantuku".
"Dengan senang hati nak". Sesaat kemudian aura hitam pekat keluar dari tubuh Sabrang membentuk sebuah keris Luk 7 dan menempel di tangannya.
Sabrang memang memutuskan tidak menggunakan Pedang Naga api karena khawatir tempat persembunyiannya ikut terbakar kobaran Naga api.
"Keris itu?". Wardhana dan Kertasura hampir berteriak bersamaan lalu saling menoleh dengan wajah pucat.
"Berani sekali kalian mencari masalah ditempatku". Sesaat setelah Sabrang selesai berbicara tubuhnya menghilang sebelum muncul kembali tak jauh dari Darya berdiri.
"Pusaran angin hitam". Sebuah energi hitam keluar dari keris yang ada digenggaman Sabrang dan menghantam tubuh Darya yang belum sempat bereaksi. Bersamaan dengan serangan Sabrang, Arkawewi dan Hasta muncul dan langsung menyerang pendekar dari sekte golok setan.
Tubuh Darya terpental jauh namun sebelum tubuhnya terbentur pepohonan dia berhasil menguasai tubuhnya dan melompat keatas pohon.
Saat Darya masih berusaha menguasai rasa terkejutnya Sabrang kembali muncul tepat dihadapannya dengan tangan kiri yang telah diselimuti Es.
"Cepat sekali". Darya mencoba menghindar dengan melompat mundur namun kecepatan Cakar es utara Sabrang lebih dulu menghantam tubuhnya kembali. Beruntung pedangnya dapat sedikit menahan hantaman cakar es di tubuhnya. Darya kembali terjatuh dari atas pohon.
Dayra sebenarnya cukup yakin dengan kecepatan yang dimilikinya setelah berlatih ilmu yang diberikan Lembah siluman pada sektenya namun dihadapan Sabrang semua keyakinan dia seolah runtuh seketika.
Darya mencoba mengalirkan tenaga dalamnya untuk menahan rasa sakit di dadanya. Dia menatap pedang yang digenggamnya, terlihat sebagian pedang terselimuti es akibat berbenturan dengan cakar es utara.
Darya menajamkan matanya berusaha mengenali wajah yang ada dibalik topeng itu namun yang terlihat hanya sepasang bola mata berwarna biru muda.
"Siapa pendekar ini? dengan kemampuan yang dimiliki seharusnya namanya sudah menjadi perbincangan di dunia persilatan".
Melihat kehebatan Sabrang membuat semangat tempur Wardhana kembali hidup. Dia kemudian bergerak kembali menyerang pendekar dari golok setan diikuti Kertapati dan yang lainnya untuk membatu Arkadewi.
"Susun kembali formasi tempur angin selatan". Kertapati berteriak sambil menyerang pendekar golok setan yang semangat tempurnya hilang seketika setelah melihat kehebatan pendekar bertopeng itu.
"Siapapun yang mencoba menghalangiku akan kuhancurkan". Aura hitam pekat terlihat meluap dari tubuh Sabrang.
__ADS_1