
"Aku tau kau adalah pendekar kuat, bahkan mungkin yang terkuat andai kau bisa memaksimalkan seluruh potensi dalam tubuhmu. Kitab Sabdo Loji menyebutkan jika terlalu lama berada dimensi ruang dan waktu bisa menutup cakra mahkota yang merupakan pusat dari semua tenaga dalam dan energi kehidupan. Itulah yang selama ini menghambat perkembangan ilmu kanuragan milikmu.
"Pusatkan tenaga dalam di titik Cakra Mahkota dan biarkan tubuh bersama jiwamu menyatu dalam pikiran. Saat kau merasakan sesuatu meluap dari atas kepalamu, itulah tanda cakra mahkota itu terbuka kembali. Mempelajari jurus terlarang itu membuatku mengerti betapa ajaran Sabdo Loji benar benar mengerikan dan aku akan mengubur kitab ini selamanya.
"Tolong jaga anakku dan jangan sekalipun membuka gerbang batu pemujaan di sisi gelap alam semesta, Waktu mungkin telah berputar kembali seperti biasa tapi efek jurus itu tak akan berhenti begitu saja karena aku telah melawan kehendak alam, jangan biarkan dia berjuang sendiri.
"Sekar?" Rubah Putih tampak bingung dan menoleh ke sekitarnya untuk mencari keberadaan Sekar Pitaloka.
"Tuan, semua persiapan selesai dan Ciha sudah berada di posisinya sesuai perintah anda...Apa segel itu akan langsung di aktifkan?" ucap salah satu prajurit yang tadi dia tugaskan menemui Ciha.
Rubah Putih tidak menjawab prajurit itu, dia terus memperhatikan para pendekar Lembayung Merah dan Mandala yang melayang di udara.
"Apa aku sudah gila? aku yakin pernah menghadapi situasi ini.." ucapnya dalam hati.
"Jangan sekalipun membuka gerbang batu pemujaan di sisi gelap alam semesta. Apa sebenarnya yang ingin kau sampaikan dan dimana dirimu saat ini?"
"Tuan Rubah Putih?" ucap Brajamusti sambil menepuk pundaknya.
"Ah.. tetua, maaf..." balas Rubah Putih terbata bata.
"Apa kau baik baik saja? Musuh sudah mengepung keraton, apa tidak sebaiknya kita langsung memulai rencana tuan Wardhana?" tanya Brajamusti pelan.
"Rencana Wardhana..." Rubah Putih masih terlihat bingung dan itu benar benar dimanfaatkan oleh Mandala.
"Dengarkan aku, tugas kalian adalah membunuh mereka semua dan mencari dimana lempengan batu kecil berbentuk bintang dan berwarna merah itu berada. Lempengan itu akan membuka gerbang menuju harta terbesar Latimojong dan membangkitkan kembali peradaban suci kita," ucap Mandala pelan sebelum bergerak kearah Rubah Putih dan para tetua sekte.
"Tuan.. Sebaiknya kau cepat mengambil keputusan," Brajamusti dan para tetua sekte aliansi langsung menyambut serangan lawan.
"Lempengan batu kecil berbentuk bintang dan berwarna merah? tunggu..." Rubah Putih terlihat berfikir sejenak sebelum wajahnya berubah seketika.
"Dengarkan aku... Perintahkan Ciha mundur dan lindungi paviliun ratu. Katakan pada Gusti ratu untuk menghancurkan batu itu sekarang juga," ucap Rubah Putih cepat.
"Tapi tuan, bukankah rencana tuan Wardhana..."
"Ikuti saja perintahku!" bentak Rubah Putih sebelum membentuk perisai tenaga dalam di sekelilingnya.
"Ba..baik tuan," jawab prajurit itu pelan.
"Tetua apakah anda bisa menahan mereka sebentar? ada sesuatu yang harus aku persiapkan," tanya Rubah Putih.
"Serahkan pada kami," jawab Brajamusti yang mulai berhadapan dengan Mandala.
Rubah Putih langsung memejamkan matanya dan mulai memusatkan tenaga dalam di cakra mahkotanya.
"Cakra Mahkota ya... jadi yang selama ini mengekang kekuatanku dan Suanggi adalah tertutupnya titik pusat kehidupanku. Walau aku tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan semua kejadian aneh ini tapi terima kasih atas bantuanmu..."
"Habisi mereka semua," teriak salah satu pendekar Lembayung Merah yang bergerak kearah pasukan Angin selatan.
Pertempuran kembali pecah, kedua belah pihak saling menyerang dengan kemampuan terbaik mereka dan dalam sekejap, keraton Malwageni berubah menjadi medan pertempuran.
Rubah Putih sudah mengambil keputusan, sebuah keputusan yang mungkin akan merubah semua rencana awal Wardhana. Namun dia tampak tidak perduli, entah kenapa dia merasa suara Sekar Pitaloka yang tiba tiba muncul dalam pikirannya itu berhubungan dengan kejadian aneh yang tadi dia alami dan Rubah Putih merasa harus mengikuti petunjuk itu.
__ADS_1
"Semoga saja menghancurkan kunci batu persembahan itu bukan awal dari kesalahan yang aku buat," ucapnya dalam hati.
***
"Anom, apa kau tidak merasa ada yang aneh dengan gerakan anak ini? dia bukan bertarung untuk membunuh tapi sedang mengincar sesuatu dari Ken Panca," tanya Naga Api bingung.
Anom mengangguk pelan sambil terus memperhatikan pertarungan Sabrang, dia benar benar tidak mengerti dengan jalan pikiran tuannya itu.
Dengan menyatunya Energi Murni dan Naga Api dalam tubuhnya, seharusnya Sabrang bisa lebih menekan Ken Panca bahkan mungkin membunuhnya tapi yang dilakukannya justru bertarung dengan hati hati dan menjaga jarak.
Sabrang juga belum menggunakan seluruh kekuatannya, dia seperti sedang menunggu waktu yang tepat untuk menyerang.
Beberapa serangannya yang mulai terbaca oleh Ken Panca tidak membuat Sabrang merubah gaya bertarungnya, dia terus menggunakan jurus pedang Tarian Rajawali dan Serbuk bunga penghancur Iblis.
Dan yang paling membuat Anom semakin bingung adalah hampir semua serangan Sabrang mengarah ke atas kepala Ken Panca.
"Apa yang sebenarnya sedang kau rencanakan nak? ini bukan bagian dari rencana Wardhana..." ucap Anom dalam hati.
"Tarian Iblis pedang," Tusukan pedang Sabrang kembali mengincar titik buta namun Ken Panca dengan sigap menghindar, dia memadatkan udara disekitarnya untuk memperlambat gerakan Sabrang.
Lolos dari serangan, Ken Panca berusaha menyerang balik, namun belum sempat dia menggunakan jurusnya, Lengan Sabrang sudah mengincar kepalanya.
"Serangannya...?" Ken Panca memutar pedangnya, dia berusaha menangkis serangan itu dengan tebasan.
"Tapak Dewa Bumi," Pedang Naga Api menghilang dari genggaman Sabrang sebelum lengannya menyentuh perut Ken Panca.
Ken Panca berusaha menahan serangan itu dengan memusatkan tenaga dalam di perutnya namun energi yang mengalir dari lengan Sabrang terlalu besar Gabungan Energi murni dan Naga api membuat serangan Sabrang semakin mematikan.
Serangan Sabrang itu berlangsung sangat cepat dan hanya dalam hitungan detik, beberapa pendekar bahkan tidak bisa melihat siapa yang unggul sebelum tubuh Ken Panca terlempar.
Setra, yang berdiri tak jauh dari area pertarungan bahkan tanpa sadar menahan nafas saat mata bulanya tidak bisa melihat serangan terakhir Sabrang.
"Tubuhmu benar benar istimewa nak, aku semakin tertarik untuk memilikinya," Ken Panca kembali bergerak, kali ini dia memutuskan menyerang lebih dulu untuk memancing Sabrang mendekat dan menggunakan jurus mengendalikan waktu.
"Dia memusatkan tenaga dalamnya di cakra mahkota... apa mungkin jurus ini yang dikatakan ibu... Aku harus bergerak lebih cepat untung mencegahnya," Sabrang bergerak hati hati, dia mengaktifkan mata bulan untuk membaca gerakan Ken Panca.
"Naga Api, apa aku bisa menggabungkan kekuatanmu dengan Anom?" tanya Sabrang tiba tiba.
"Menggabungkan kekuatanku dan Anom? Apa sebenarnya yang sedang kau rencanakan?" jawab Naga Api terkejut.
"Cepat katakan!" balas Sabrang cepat.
"Aku tidak terlalu yakin tapi walaupun bisa dilakukan tubuhmu saat ini tak akan mampu menahan ledakan energi saat energi kami menyatu," ucap Naga Api.
"Baik... Ayo kita coba," Sabrang menciptakan dinding es untuk menahan gerakan Ken Panca, dia mulai menggunakan Ajian inti lebur saketi untuk menggabungkan kekuatan dua pusaka nya.
"Kau menarik semua kekuatan kami menggunakan Inti Lebur Saketi tingkat akhir? apa kau sudah gila? tubuhmu bisa hancur bodoh!"
"Kita tidak akan tau jika belum mencobanya," Sabrang memutar pedangnya saat merasakan benturan dua energi di dalam tubuhnya.
"Kau pikir jurus mainan ini bisa menghentikan aku? Akan aku tunjukkan padamu apa itu Sabdo Waktu," Ken Panca mendekat dengan cepat, dia bersiap menggunakan Jurus menghentikan waktu saat Sabrang mulai menyerangnya.
__ADS_1
"Jurus Pedang Sabdo Palon tingkat enam : Energi penghancur Sukma," Sabrang mengayunkan pedangnya sekuat tenaga.
"Bagus, mendekat lah..." Ken Panca tidak melanjutkan ucapannya saat tubuh Sabrang menghilang tiba tiba.
"Dia masih bisa lebih cepat?"
"Aku tidak tau jurus apa yang akan kau gunakan tapi sepertinya itu sangat berbahaya," Sabrang yang sudah berada dibelakang Ken Panca menyentuh tengkuknya dan mengalirkan sedikit energinya.
"Kau! apa yang tadi kau lakukan, padaku" Ken Panca memutar pedangnya panik namun Sabrang bergerak lebih cepat, dia menghindari serangan itu dengan cara menunduk sebelum melepaskan tapak Peregang Sukma.
Serangan Sabrang yang begitu cepat membuat Ken Panca tidak menyadari serangan itu sampai dia merasakan sakit di seluruh tubuhnya.
"Tidak mungkin.. bagaimana bisa jurus mengendalikan waktuku tidak berfungsi," belum selesai rasa terkejutnya, belasan Energi keris muncul dan berputar di udara.
"Energi keris penghancur!" Lengan Sabrang menarik energi keris penguasa kegelapan. Saat semua yakin Ken Panca tidak akan bisa lolos dari serangan itu, Tongkat Cahaya Putih tiba tiba muncul di udara membentuk perisai energi dan menangkis semua serangan.
"Energi Tongkat cahaya putih? bagaimana mungkin..." Sabrang baru sadar dia belum melihat Mentari sejak pertama datang.
"Tari?" ucapnya sambil melihat sekitarnya.
Melihat Ken Panca untuk pertama kalinya terluka membuat semangat tempur para pendekar aliansi kembali meningkat.
"Anak itu benar benar mengerikan, merasakan hawa kehadirannya saja sudah bisa membuat semangat tempur yang tadi menghilang kembali lagi. Saatnya mengendalikan situasi," Ratih bergerak kearah Wijaya yang terlihat mulai kehabisan tenaga, dia melempar beberapa bola petir di udara sambil mencabut pedangnya.
"Hujan Darah Lembayung." Ratih melesat cepat diantara ledakan ledakan bola petir sambil memainkan pedangnya.
"Sebaiknya anda beristirahat sebentar tuan, masih banyak yang harus kita lakukan," ucap Ratih pelan.
"Urus saja dirimu sendiri, aku yang paling mengerti dengan kondisi tubuhku!" jawab Wijaya sinis.
"Apa memaksakan diri bisa membuat gadis itu hidup kembali? aku sudah mendengar seberapa parah kondisinya, jika perkiraanku benar, dia belum mati... menarik paksa ruh batu satam membuat jiwanya terjebak di dimensi pusaka itu, masih ada harapan jika kita bisa mengambil lagi pusaka itu secepatnya," balas Ratih cepat.
"Terjebak di dimensi tongkat cahaya putih? jadi maksudmu..."
"Beristirahatlah dan tenangkan pikiranmu, lagi pula bantuan sepertinya sudah datang," ucap Ratih saat melihat kabut tebal mulai menyelimuti hutan larangan.
"Jadi Nyonya selir...syukurlah.." jawab Wijaya lega saat merasakan beban dipundaknya seolah menghilang.
"Entah siapa yang harus aku takuti tapi Wardhana tak kalah menakutkan dari pengguna Iblis api itu," ucap Ratih dalam hati.
Kabut tebal yang tiba tiba muncul di hutan kematian membuat para pendekar Lembayung Merah bingung, selan mengganggu jarak pandang, kabut itu juga seolah menyerap energi mereka perlahan.
"Elang, Gendis bantu tuan Wijaya dan nona itu," ucap Tantri yang muncul dari dalam kabut sambil bergerak kearah Wulan.
"Syukurlah, akhirnya kalian muncul juga... Lalu dimana ibu ratu saat ini?" tanya Wulan cepat.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Waktu mungkin telah berputar kembali seperti biasa tapi efek jurus itu tak akan berhenti begitu saja karena aku telah melawan kehendak alam, jangan biarkan dia berjuang sendiri.
Ucapan Sekar Pitaloka itu akan menjadi kejutan di akhir cerita Pedang Naga Api dan menjadi jembatan kedalam cerita selanjutnya.
__ADS_1