Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Lingga Kembali


__ADS_3

"Kau terlalu lemah Lingga, dengan pedang Langit seharunya kau bisa jauh lebih kuat," sebuah suara membangunkan Lingga dari tidurnya.


Lingga menoleh sekelilingnya namun hanya menemukan kegelapan, dia menajamkan matanya untuk mencari asal suara yang sangat dikenalnya itu.


"Ketua?" ucap Lingga saat samar samar melihat seorang pria berdiri di sudut ruangan dengan pedang di tangannya.


"Kau masih ingat padaku?" Kertasura berjalan mendekati Lingga yang duduk di atas tempat tidur.


"Apakah ini artinya aku sudah mati?" ucap Lingga lirih.


"Apa kau begitu berharap untuk mati? aku menyelamatkanmu dulu bukan untuk menjadi pendekar tak berguna yang berharap mati karena ilmunya terlalu lemah!" bentak Kertasura tiba tiba.


Lingga menundukkan kepala dan tidak berani menatap wajah Kertasura sedikitpun.


"Maaf jika aku mengecewakan anda ketua, aku memang lemah dan tidak memiliki bakat besar seperti anak itu," jawab Lingga lirih.


Kertasura menarik nafas panjang sambil menatap tajam murid yang dulu dipersiapkannya untuk menjadi ketua Iblis Hitam selanjutnya.


"Setiap orang sudah memiliki garis takdir masing masing saat dilahirkan ke dunia ini, dan tidak semua beruntung seperti Sabrang tapi bukan berarti kau bisa menyerah begitu saja. Terkadang, tekad kuat dan kerja keras bisa mengalahkan bakat alami," ucap Kertasura pelan.


"Aku sudah berusaha sangat keras guru, bahkan hampir separuh hidup ku lalui dengan berlatih tapi semua terasa sama, lagi dan lagi aku kalah oleh musuh yang memiliki bakat lahir seperti anak itu," jawab Lingga Maheswara.


"Berusaha keras? apa kau sudah membulatkan tekad untuk menjadi kuat dan apa tujuanmu belajar ilmu kanuragan? kau hanya terobsesi pada Sabrang dan ingin mengejarnya. Itulah kelemahan terbesarmu selama ini.


Apa kau sadar Ilmu kanuragan milikmu berhenti berkembang setelah bertemu anak itu? kau secara tidak sadar mengagumi Sabrang dan menjadikannya sebagai tujuan hidupmu," balas Kertasura.


"Mungkin aku memang menjadikannya tujuan hidup tapi apa salah jika aku ingin kuat sepertinya?"


"Semua pendekar pasti ingin menjadi yang terkuat dan tidak ada yang salah dengan itu tapi kau salah memilih jalan. Sekuat apapun berusaha, kau tidak akan pernah bisa menjadi dirinya dan diapun tidak akan pernah bisa menjadi dirimu.


"Kau harus menjadi kuat dengan jalanmu sendiri dan lupakan untuk mengejarnya karena setiap orang akan memiliki peran masing masing di dunia ini. Jika kau sudah menemukan tujuan hidupmu, maka aku yakin kau tidak akan selemah ini. Hilangkan semua keraguan di dalam hatimu, karena selama ini keraguan itu yang menghambat perkembanganmu.


"Kau seolah berdiri di antara dua persimpangan jalan dan tidak berani untuk menentukan pilihan. Lingga, ikuti kata hatimu tanpa ragu, jika kau ingin menjadi jahat maka berubah lah menjadi iblis terkuat tapi jika kau menginginkan sebaliknya tunjukkan tekadmu untuk berubah," jawab Kertasura.


Lingga terdiam setelah mendengar nasihat Kertasura, dia sadar jika selama ini ragu untuk melangkah.


"Ketua, apakah kebenaran dan kebaikan itu hanya milik aliran putih saja? apa semua yang dilakukan aliran hitam salah?" tanya Lingga bingung.


Kertasura tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya, "Apa kau tau apa itu kebenaran? kebenaran adalah prinsip seseorang yang tidak merugikan orang lain, berbuat kebaikan untuk melindungi sesama.


"Apa menurutmu yang ku lakukan selama ini salah? aku hanya melakukan yang ku anggap benar namun dengan cara yang salah. Kau harus yakin dengan kata hatimu saat melihat suatu masalah karena kebenaran sering digunakan sebagai tameng untuk memenuhi ambisi seseorang.


"Jika kau menganggap Sabrang benar maka bantu dia dengan sekuat tenaga tanpa pernah melihat dari aliran mana dia berasal. Aku sudah sering melihat beberapa sekte aliran putih yang jauh lebih kejam dari Iblis hitam. Hatimu yang harus menentukan sebuah kebenaran dan bukan dari penilaian orang lain," ucap Kertasura pelan.


"Tapi apa masih ada jalanku untuk kembali? sudah ribuan nyawa yang kubunuh," tanya Lingga kembali.


"Akan selalu ada jalan untuk kembali Lingga, kuharap kau menemukan jalan itu dan menjadi lebih kuat dariku," tubuh Kertasura perlahan menghilang.


"Kembalilah dan tunjukkan Lingga yang berbeda, aku akan selalu mendukung apa yang menjadi keputusanmu," ucap Kertasura sesaat sebelum menghilang.


"Ketua!!!" Lingga tiba tiba terbangun dari tidurnya dan menemukan Leny Darrow sedang tertidur di sebuah kursi tak jauh darinya.


"Wanita ini?" ucap Lingga terkejut saat mengenali wajah Leny.


Lingga mencoba bangkit dari tidurnya namun rasa sakit yang luar biasa memaksanya kembali tidur.

__ADS_1


"Apa yang dilakukan wanita bodoh ini," Lingga menatap wajah Leny yang tampak lelah. "Apa dia yang merawatku?"


Suara Lingga membangunkan Lenny dari tidurnya, dia mengucek matanya sesaat sebelum berjalan mendekati Lingga.


"Kau sudah sadar?" Lenny tiba tiba menarik pakaian Lingga dan bermaksud mengganti dengan yang baru.


"Apa yang kau lakukan?" bentak Lingga sambil menyingkirkan tangan Lenny.


"Aku sedang membantumu mengganti pakaian kotor itu," ucap Lenny sedikit emosi.


"Aku bisa ganti sendiri, dasar tidak tau malu," balas Lingga dengan wajah memerah.


"Tidak tau malu katamu? jika aku tidak datang tepat waktu saat ini kau sudah mati. Lagipula siapa selama ini yang mengganti seluruh pakaianmu hah?" balas Lenny kesal.


"Seluruh pakaianku? jadi kau?" wajah Lingga memerah.


"Semua sudah kulihat termasuk "Pedang kecil" milikmu. Ilmu kanuragan tinggi tapi pedangnya kecil sekali," ejek Lenny sambil melangkah pergi.


"Wanita itu benar benar gila," ucap Lingga dalam hati.


***


Setelah Sabrang menjelaskan semua kejadian yang menimpanya selama ini, dia memutuskan kembali ke penginapan. Mentari yang awalnya bersikeras ingin ikut Sabrang akhirnya terpaksa mengalah dan kembali ke keraton.


Sabrang menjelaskan situasi kali ini cukup genting dan jika kehadirannya tercium oleh para utusan yang sudah mengenalnya maka akan menjadi kerugian bagi Malwageni.


"Semoga paman bisa secepatnya mengetahui tujuan sebenarnya para utusan itu di Malwageni," Sabrang memasuki penginapan setelah berganti pakaian, dia curiga pendekar yang bertarung dengannya adalah salah satu utusan itu.


"Anda tidak pulang tadi malam tuan?" ucap Arina yang duduk disebuah kursi makan penginapan itu.


"Arina? aku tak sengaja tersesat dan terpaksa menginap di hutan," jawab Sabrang pelan.


"Kau?" Sabrang menatap tajam Arina sebelum berjalan menghampirinya.


"Apa maksud ucapanmu tadi?" ucap Sabrang dingin.


"Maafkan aku tuan, aku mulai curiga saat anda menyelamatkanku di hutan itu. Melihat kemampuan anda saat itu membuatku yakin jika anda adalah seorang pendekar tanpa tanding, itulah sebabnya aku memutuskan ikut ke Jawata.


Namun keanehan terjadi saat kita sampai di perbatasan gerbang utama Ibukota. Anda seolah tidak terganggu sama sekali dengan penjagaan yang sangat ketat di gerbang itu padahal tujuan anda adalah Ibukota Malwageni.


Anda seolah sudah mengenal baik tempat ini dan sangat yakin para prajurit itu tidak akan berani menghalangi anda. Aku mulai berfikir siapa anda sebenarnya, dan setelah bertanya pada beberapa orang aku baru tau jika Malwageni dipimpin seorang raja muda yang sakti mandraguna sebelum ratu naik tahta. Apa ini kebetulan?" balas Arina sambil tersenyum kecil.


Sabrang tersentak kaget setelah mendengar ucapan Arina, dia seperti melihat Wardhana dalam diri wanita cantik dihadapannya.


"Apa kau tidak terlalu berlebihan mengaitkanku dengan raja muda itu? jika aku adalah raja Malwageni mengapa aku tetap berada di penginapan dan tidak kembali ke keraton?"


"Aku tidak tau alasan anda sebenarnya tapi mungkin berhubungan dengan utusan Arkantara," jawab Arina cepat.


Sabrang tersenyum dingin, dia memunculkan sebuah pisau es di tangannya.


"Kau tidak pernah mendengar jika ucapan kadang bisa membunuh seseorang? jika aku benar adalah seorang raja dan sedang dalam penyamaran maka satu satunya cara agar rahasiaku tidak terungkap adalah dengan membunuhmu," ancam Sabrang.


"Anda tidak akan melakukan itu tuan," jawab Arina pelan.


"Kau terlalu percaya diri Arina," Sabrang menatap tajam wanita dihadapannya.

__ADS_1


"Jika mereka berniat menyerang maka aku adalah satu satunya orang yang bisa membantu anda, lahir dan besar di di sana membuatku sangat mengenal wilayah Arkantara, anda memerlukan bantuanku jika ingin menyerang balik mereka."


"Wanita ini benar benar pintar," Sabrang menarik kembali pisau es di tangannya.


"Siapa kau sebenarnya dan apa tujuanmu bicara denganku mengenai masalah ini?" tanya Sabrang kembali.


"Aku hanya seorang gadis biasa yang terusir dari tanah kelahiranku tuan, mereka dengan kejam membunuh keluargaku hanya karena kesalahan kecil. Aku bahkan hampir dibunuh andai anda tidak datang menyelamatkanku.


Aku memutuskan datang ke Jawata karena ingin merubah hidup dengan mengikuti anda yang seorang pendekar, tapi ternyata anda tidak hanya sekedar seorang pendekar. Bantu aku masuk Malwageni dan akan kuberikan semua kemampuanku untuk anda. Aku ingin Arkantara hancur dan menerima semua akibat dari kejahatan yang mereka lakukan," jawab Arina.


"Kau ingin menjadi pejabat di Malwageni?" Sabrang mengernyitkan dahinya.


"Aku tidak ingin dipandang remeh seperti yang terjadi di Arkantara, jika anda bisa membantuku maka akan kuberikan kesetiaan seorang Arina pada Malwageni," ucap Arina yakin.


"Dia penuh ambisi tapi sepertinya bukan orang jahat," ucap Sabrang dalam hati.


Arina tiba tiba bangkit dari duduknya sambil menundukkan kepalanya.


"Aku harus pergi tuan atau istri anda akan membunuhku jika melihat kita berduaan," ucap Arina sambil terkekeh. "Ku mohon bantu aku Yang mulia," Arina melangkah pergi meninggalkan Sabrang sendirian.


Setelah Arina menghilang dari pandangan, Sabrang melangkah kearah kamarnya. Dia ingin mengistirahatkan tubuhnya sebelum memikirkan permintaan Arina.


Emmy menyambut Sabrang khawatir, dia takut Sabrang kembali menghilang seperti kejadian Gunung Padang.


"Aku baik baik saja, setelah bertemu paman Wardhana aku tidak sengaja bertemu Tari saat dia diserang pendekar misterius," jawab Sabrang sambil merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Tari diserang di keraton? siapa yang berani melakukannya?" tanya Emmy geram.


"Aku tidak tau karena pendekar itu berhasil kabur tapi aku curiga dia adalah salah satu utusan Arkantara," balas Sabrang pelan.


"Utusan Arkantara?" tanya Emmy terkejut.


"Ada sesuatu yang sedang mereka rencanakan, aku sudah meminta paman Wardhana menyelidiki semuanya."


"Apa mungkin tujuan mereka sebenarnya adalah menyerang Malwageni?" tanya Emmy.


"Semua kemungkinan bisa terjadi termasuk diam diam mencari keberadaan mustika Merah Delima, kita harus siap dengan semua yang akan terjadi," jawab Sabrang pelan.


***


Lembu sora tampak berlari menuju ruangan Wardhana sambil memegang sebuah gulungan di tangan kanannya.


"Tuan patih, hamba mohon menghadap," Lembu Sora melangkah masuk dan memberi hormat pada Wardhana.


"Sesuai perkiraan anda tuan, mereka meminta Candrakurama dan beberapa prajurit menjadi pengawal pribadi selama berada di Malwageni," ucap Lembu Sora pelan.


"Benar dugaanku, mereka ingin melemahkan Malwageni dari dalam," Wardhana membuka gulungan yang diberikan Lembu Sora.


"Lalu apa yang akan kita lakukan?" tanya Sora.


"Untuk sementara biarkan mereka mendekati Candrakurama, aku sudah memberi tugas pada Candrakurama untuk melakukan sesuatu. Berikan apa yang mereka minta, aku akan menemani gusti ratu menemui para utusan itu terlebih dahulu," Wardhana bangkit dari duduknya dan melangkah pergi.


"Baik tuan patih," jawab Lembu Sora cepat.


"Aku mulai bisa membaca kemana mereka akan bergerak, sepertinya sudah saatnya menyiapkan jaring perangkap untuk tamu terhormat itu," ucap Wardhana dalam hati.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


H - 3 menuju munculnya kitab tanpa tanding dunia persilatan....


__ADS_2