Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Pertarungan Dengan Guntur Api I


__ADS_3

"Bangunan ini sepertinya dibuat untuk pemujaan pada Matahari, struktur teras berundak yang menghadap timur menandakan tempat itu digunakan sebagai pemujaan sekaligus menyambut terbitnya Matahari.


Namun ada yang aneh dengan gunung padang, jika di beberapa tempat seperti daratan Swarna Dwipa dan Celebes, mereka yang juga memuja matahari selalu membangun sebuah Kuil sebagai simbol kebesaran dewa Matahari mengapa di tempat ini hanya dibangun teras berundak yang sangat sederhana tanpa ada kuil mewah?" tanya Wardhana sambil melesat kearah puncak gunung.


"Apa mungkin kuil itu sudah hancur? bukankah di puncak gunung banyak sekali batu berserakan disekitar batu bunyi?" jawab Lingga cepat.


Wardhana menggeleng pelan, "Itulah yang ingin mereka sampaikan pada kita, seolah kuil itu telah hancur berkeping keping dengan banyaknya reruntuhan batu di puncak gunung. Kuil megah itu masih berdiri kokoh dan mereka menyembunyikannya dengan reruntuhan batu itu," balas Wardhana sambil tersenyum.


"Jika kuil itu masih kokoh berdiri, lalu mengapa kita tidak melihatnya? apakah mereka menggunakan semacam segel kabut untuk menyembunyikannya?" tanya Candrakurama penasaran.


"Tidak, mereka tidak menggunakan segel apapun untuk menyembunyikan kuil itu, saat inipun kita melihat tapi tidak menyadarinya," jawab Wardhana sambil menunjuk gunung padang.


"Jadi maksudmu?" Sekar tampak mulai mengerti apa yang dikatakan Wardhana.


"Benar Ibu ratu, gunung padang atau Nagari Siang Padang inilah kuil itu, kuil terbesar yang pernah dibangun oleh manusia. Teras berundak ini adalah puncak kuil yang digunakan sebagai tempat pemujaan, aku tidak tau bagaimana mereka membuat bangunan sebesar ini, namun yang pasti kuil ini sengaja dibuat besar untuk menyamarkannya menjadi sebuah gunung," jawab Wardhana.


"Gunung ini adalah kuil? bagaimana mereka bisa membuat bangunan semegah ini?" ucap Lingga takjub.


Mereka akhirnya sampai di puncak gunung sesaat sebelum matahari tenggelam. Wardhana langsung berjalan ketengah puncak sambil memperhatikan matahari yang mulai tenggelam.


"Apa yang sebenarnya dia cari?" ucap Biantara bingung.


"Pintu masuk," jawab Emmy singkat.


"Pintu masuk? bukankah akses masuk Nagari Siang Padang hanya melalui sumur itu?" balas Biantara.


"Kuil ini sepertinya memang sengaja dibangun dengan satu pintu untuk memudahkan penjagaan bangunan sebesar ini namun jika teras berundak ini benar benar area pemujaan apakah kau pikir para pemuja itu harus keluar dari kuil terlebih dahulu melalui sumur itu dan mendaki gunung ini? itu akan sangat menyulitkan.


Tuan Wardhana yakin ada semacam jalan dari dalam kuil itu menuju teras berundak ini tanpa harus memutar melalui gerbang utama dan itulah yang saat ini dicari olehnya," jawab Emmy sambil memperhatikan Wardhana.


"Wardhana benar benar mengerikan, dia bahkan bisa membaca situasi dalam waktu yang sangat singkat. Aku yakin wajah para pendekar Guntur Api akan memburuk jika mengetahui kami menemukan jalan pintas masuk Nagari Siang Padang.


Namun apalah Wardhana sudah memperkirakan semua resikonya? bagaimana jika jalur pemujaan ini langsung masuk ke ruangan tempat mereka menyegel Pagebluk Lampor? bukankah itu sama saja kita melepaskan wabah itu," ucap Emmy dalam hati.


Ketika matahari mulai terbenam sebuah batu terlihat bersinar selama beberapa detik sebelum matahari benar benar tenggelam.


"Tolong carikan aku air," ucap Wardhana pada Candrakurama sambil berjalan mendekati batu yang tadi bersinar itu.


Candrakurama mengambil wadah air yang terselip di pinggangnya dan memberikannya pada Wardhana.


"Wardhana?" ucap Sekar meminta penjelasan.


"Lepaskan semua Nafsu dan ambisi maka suara alam akan menuntun mu menuju Nagara siang padang. Kata kata ini menunjukkan jika kita harus melepaskan nafsu dan ambisi untuk masuk ke Nagari Siang Padang dan itu juga berlaku untuk jalur persembahan ini.


Dari sekian banyak batu yang ada di puncak gunung padang, hanya batu ini yang berwarna lebih terang dan memantulkan cahaya. Jika perkiraan hamba tidak salah, inilah kunci yang menunjukkan jalur pemujaan," jawab Wardhana sambil menyiram batu itu dengan air.


Sebuah tulisan perlahan terlihat di tuas batu itu dan menghilang kembali saat air mulai kering.


"Dewa matahari memberikan segalanya pada kehidupan, maka berlututlah saat dia muncul sebagai penghormatan. Jadi kuil ini benar benar di bangun untuk memuja dewa matahari. Jika perkiraanku benar untuk membuka pintu pemujaan, kita hanya perlu menarik tuas ini kearah terbitnya matahari," Wardhana memegang tuas itu dan siap menariknya.


"Tunggu tuan," teriak Emmy yang mengagetkan semuanya.


"Apa anda yakin akan membuka pintu pemujaan? bagaimana jika pintu itu langsung menuju ke ruangan tempat para penduduk Tengger mengurung wabah penyakit itu?" ucap Emmy melanjutkan.


"Benar apa yang dikatakannya Wardhana, kita tidak tau keruangan mana jalur pemujaan ini berakhir," sahut Sekar Putaloka.

__ADS_1


"Hamba sempat berfikir seperti itu ibu ratu namun jika ditarik garis lurus dari arah matahari terbit, sumur itu dan batu ini berada di satu arah. Itu artinya mereka memakai konsep bangunan satu gerbang untuk memudahkan penjagaan dan aku yakin jalur pemujaan ini tidak terhubung dengan ruangan manapun karena terhubung langsung dengan jalur utama," Wardhana menarik batu itu sekuat tenaga.


Semua yang melihat Wardhana menarik tuas batu itu tampak menahan nafas karena jika sedikit saja dia salah perhitungan maka mereka sama saja melepaskan wabah penyakit paling mematikan ke dunia persilatan.


Tanah yang berada di dekat tuas batu itu mulai bergetar sebelum tiba tiba terhisap kedalam dan membentuk sebuah lubang yang cukup besar.


Wardhana mendekati lubang itu hati hati dan menatap takjub ratusan anak tangga yang terbuat dari kayu berjajar rapih menuju ke dasar lubang.


(Ilustrasi anak tangga, ini adalah foto ruangan rahasia di film National Treasure. Konsepnya hampir sama, ruang rahasia di bawah tanah kedalaman 20 meter yang dihubungkan oleh anak tangga yang berjajar rapih)




"Bagaimana mereka bisa membuat bangunan sebesar ini lengkap dengan ratusan anak tangga? apa ilmu pengetahuan mereka sudah sangat maju?" ucap Wardhana takjub.


"Selamat datang di Kuil tersembunyi Nagari Siang Padang Ibu ratu," Wardhana menoleh kearah Sekar Pitaloka sambil menundukkan kepalanya.


Sekar Pitaloka menatap Wardhana cukup lama seolah ingin mengumpulkan keberanian untuk melangkah mendekati lubang itu.


"Wardhana, sebaiknya kita berdua memeriksa lubang ini terlebih dahulu dan biarkan mereka beristirahat terlebih dahulu. Semua tampak lelah setelah bertarung menghentikan Sabrang, setelah kita memastikan semuanya baru mereka menyusul masuk," bisik Sekar Pitaloka pada Wardhana.


Wardhana menoleh kearah Candrakurama dan yang lainnya sebelum mengangguk pelan.


"Kakang Wijaya, aku ingin kau berjaga di puncak gunung ini bersama yang lainnya selama aku dan Ibu ratu memeriksa lubang ini, gunakan waktu yang ada untuk beristirahat karena kita tidak tau apa yang akan kita hadapi didalam sana," ucap Wardhana pelan.


"Tapi tuan patih..." belum selesai Wijaya menjawab, Sekar memotong ucapannya.


"Ini perintahku Wijaya, kita tidak tau apakah tangga tangga ini masih kuat setelah terkubur ribuan tahun, aku dan Wardhana akan memeriksanya terlebih dulu," ucap Sekar Pitaloka.


"Mohon berhati hati ibu ratu," balas Wijaya khawatir.


"Emmy, aku mengandalkan mu," ucap Sekar Pitaloka sebelum menginjakkan kakinya di anak tangga pertama dan mulai turun perlahan.


Wardhana yang sudah lebih dulu turun tampak memastikan jika anak tangga yang akan diinjak Sekar Pitaloka benar benar kuat untuk melindunginya.


Dia memberi tanda pada Sekar Pitaloka untuk menginjak anak tangga yang sudah dia pastikan tidak rapuh.


Jalan yang disebut Wardhana sebagai jalur pemujaan itu ternyata lebih dalam dari perkiraannya, mereka berdua sudah turun cukup dalam menggunakan obor namun Wardhana masih belum sampai di dasar lubang.


Wardhana kemudian mengambil batu disaku yang sudah dia siapkan dari awal dan melemparkan kebawah.


Dia mengernyitkan dahinya saat tidak mendengar suara apapun.


"Ibu ratu, sebaiknya kita beristirahat sebentar, sepertinya dasar lubang ini masih cukup jauh," ucap Wardhana sopan.


Sekar Pitaloka mengangguk cepat, dia duduk di salah satu anak tangga dan mengalirkan tenaga dalam untuk meringankan sakit di dadanya.


Luka dalam yang selama ini menggerogoti tubuhnya memang sudah mulai sembuh oleh energi Siren namun Sekar masih merasakan sakit jika bergerak terlalu cepat.


Saat Sekar sedang bermeditasi, Wardhana berjalan turun perlahan untuk melihat situasi, dia memperhatikan dinding lubang yang terdapat banyak gambar gambar aneh.


Semua gambar di dinding lubang itu tidak ada yang menarik perhatian Wardhana karena hanya berisi catatan catatan mengenai pembangunan tempat itu. Gambar gambar itu sepertinya sengaja dibuat oleh para pekerja untuk menghitung kekuatan anak tangga itu.


Setelah puas memeriksa, Wardhana kembali naik untuk menemui Sekar Pitaloka, namun langkahnya terhenti saat melihat gambar sepuluh pedang menancap di tubuh seorang pendekar. Dia menajamkan matanya untuk membaca tulisan kecil di dekat gambar pemuda itu berdiri.

__ADS_1


"Pasukan pelindung kuil suci? aku seperti pernah mendengar nama itu?" Wardhana mencoba mengingat ingat kata kata yang dibacanya di dinding lubang.


"Arkantara! benar kerajaan yang terletak di ujung daratan Swarna Dwipa itu kabarnya dilindungi oleh pasukan pelindung kuil suci. Apa nama mereka hanya kebetulan sama atau...?" Wardhana yang sedang berfikir sambil menatap dinding itu tersentak kaget saat Sekar Pitaloka menepuk pundaknya.


"Wardhana? apa terjadi sesuatu?" ucap Sekar Pitaloka bingung, dia mengikuti arah pandangan mata Wardhana dan membaca tulisan itu.


"Pasukan pelindung kuil suci?" Sekar mengernyitkan dahinya.


"Ah maaf Ibu ratu, sepertinya hamba terlalu lelah sampai tidak menyadari kehadiran anda," tanya Wardhana sopan.


"Apa kau mengenal Pasukan pelindung kuil suci?" tanya Sekar Pitaloka.


"Hamba tidak yakin ibu ratu, ada kabar yang mengatakan jika sebuah kerajaan di ujung daratan Swarna Dwipa dilindungi oleh pasukan pelindung kuil suci namun sepertinya itu hanya kebetulan memiliki nama yang sama, tidak mungkin mereka berasal dari Nagara Siang Padang," jawab Wardhana cepat.


***


Biantara tampak berjalan kearah batu bersusun yang mengeluarkan bunyi dan duduk di tuas keempat yang sempat digeser oleh Emmy untuk menutup gerbang keempat.


Dia tampak takjub dengan gunung yang disebut Wardhana sebagai kuil terbesar di dunia itu. Biantara tidak bisa membayangkan bagaimana mereka bisa merancang dan membangun kuil megah yang tingginya menyamai gunung.


"Aku bisa gila jika membayangkan cara membangun tempat ini," ucap Biantara sambil menggelengkan kepalanya.


Biantara mengernyitkan dahinya saat merasakan tuas yang didudukinya bergetar, belum sempat dia berfikir, tubuhnya terlempar saat tuas itu bergeser setengahnya.


Emmy yang melihat Biantara terlempar, bergerak cepat kearah tuas itu diikuti Lingga dan Candrakurama.


"Apa terjadi sesuatu?" tanya Lingga khawatir.


"Aku tidak tau namun sepertinya ada yang berusaha membuka paksa gerbang keempat," ucap Emmy panik, dia berusaha mendorong kembali tuas itu namun tak berhasil.


"Gawat, sepertinya pintu keempat berhasil dibuka separuh, mereka mengganjal pintu itu dengan sesuatu yang membuat tuas ini tak bisa digerakkan," ucap Emmy melanjutkan.


Sementara itu, setelah cukup lama menuruni anak tangga, Wardhana mulai bisa melihat dasar lubang. Senyum diwajahnya sedikit menghilang saat melihat salah satu dinding di dasar Nagari Siang Padang.


"Dinding itu berlubang?" ucap Wardhana dalam hati saat melihat dinding didasar lubang itu terbuka separuh.


"Akhirnya kita sampai Wardhana, ayo kita lompat," ucap Sekar Pitaloka sesaat sebelum melompat turun.


Wardhana yang masih bingung dengan lubang itu hanya mengangguk sambil mengikuti Sekar melompat.


Dia tersentak kaget saat kakinya telah menginjak dasar lubang Nagari Siang Padang, puluhan orang muncul bersamaan dari lubang itu.


"Sial! batu ini keras sekali, aku harus sampai menggunakan separuh tenaga dalam ku," umpat Kanigara kesal, wajahnya makin buruk saat melihat Wardhana dan Sekar Pitaloka ada dihadapannya.


"Kau? bagaimana kau bisa ada didalam Nagari Siang padang?" Kanigara tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.


"Sebaiknya kau berhati hati Wardhana, sepertinya mereka adalah Guntur Api," Sekar Pitaloka memegang gagang pedang dengan cepat.


"Apa aku melewatkan sesuatu?" Kawanda keluar dari lubang itu sambil tersenyum dingin.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Bonus chapter karena rank PNA terus naik kemungkinan besok atau lusa.. ditunggu ya mbang....


Vote jangan lupa

__ADS_1


__ADS_2