
Sabrang terlihat serius membaca kitab segel bayangan, sesekali dia memejamkan matanya seperti sedang memikirkan sesuatu. Saat dia larut dengan kitab Segel bayangan tiba tiba Mentari mengagetkannya.
“Tuan bukankan sudah seharian anda hanya duduk dan membaca kitab tersebut. Apakah kita tidak akan melanjutkan perjalanan ?”.
Sabrang menggeleng pelan tanpa menoleh kearah Mentari, matanya masih fokus membaca Kitab di tangannya.
“Kita akan tinggal beberapa hari lagi nona, masih ada urusan yang harus aku selesaikan terlebih dahulu disini”.
Terlihat raut wajah Mentari berubah kesal, dua hari ini dia merasa diacuhkan oleh Sabrang dan hanya menjawab beberapa pertanyaan mentari dengan singkat.
“Bagaimana mau jadi Raja yang bijaksana jika dengan wanita saja dia tidak peka, Dasar Pangeran bodoh” Mentari mengumpat dalam hati. Hari ini Mentari memang dibuat kesal oleh tingkah Sabrang selain mengacuhkannya Sabrang sering menghilang entah kemana dan baru kembali beberapa jam kemudian.
Beberapa jam kemudian Sabrang terlihat menganggukan kepalanya kemudian menutup kitab tersebut dan menyimpannya kembali dalam bungkusan yang dibawanya. Dia menoleh kearah Mentari yang duduk tak jauh darinya.
“Apakah kau sedang sakit nona?" Sabrang sedikit terkejut melihat wajah masam Mentari. Mentari menggelengkan kepalanya masih dengan wajah masamnya.
“Isi kepalamu yang sakit” Mentari kembali mengumpat dalam hati. Dia bangkit dan pergi meninggalkan Sabrang sendirian.
Mentari berjalan keluar dari gua tempat mereka bermalam, dia menyusuri jalan setapak dihadapannya. Tak lama kemudian dia menemukan sebuah batu dan duduk termenung diatas batu tersebut.
“Dasar bodoh kau Mentari, untuk apa kau selalu memikirkan Pangeran bodoh itu. Lagipula dia adalah Calon Raja Malwageni kelak, Jika dia kelak menjadi Raja kau tak akan bisa menjangkaunya”. Mentari memukul kepalanya pelan berulang kali.
“Semoga suatu saat Pedang Naga Api membakarnya hingga menjadi debu”.
Tiba tiba lamunan Mentari buyar saat seseorang menyapanya dengan lembut.
“Maaf nona pendekar bolehkan aku bertanya padamu?” Mentari menatap dua orang yang sedang berada di atas kuda. Dia kemudian mengangguk pelan. Lasmini turun dari kudanya dan menghampiri Mentari.
“Kami dalam perjalanan ke Sekte Kencana Ungu, tadi kami mengikuti seorang teman namun kami kehilangan jejaknya. Apakah nona melihat orang berkuda lewat sini?".
__ADS_1
Mentari menggeleng pelan, dia tidak memperhatikan sekitarnya saat berjalan tadi. Tak lama seorang pria berkuda mendekati mereka.
“Maaf tuan aku terlalu cepat sehingga kalian kehilangan jejakku”. Pria tersebut menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Ah tidak perlu sungkan tuan Cemeti” Wijaya tertawa kecil menatap pria tersebut.
“ Sepertinya kita hanya bisa sampai depan sana dengan berkuda, setelah itu kita akan melanjutkan dengan berjalan kaki. Aku harap tuan dan nona dapat mengerti”.
Wijaya dan Lasmini mengangguk setuju, setelah mendengar cerita lengkapnya dari Cemeti tentang yang terjadi di Sekte Kencana Ungu mereka pun merasa berjalan kaki akan lebih baik agar tidak menarik perhatian orang.
“Nona Pendekar kami permisi dulu, terima kasih atas bantuannya”. Lasmini berkata lembut kemudian naik kembali ke atas kudanya dan melanjutkan perjalanannya.
Mentari menatap kepergian mereka dari jauh “Sepertinya mereka pendekar yang baik, tidak seperti Pangeran bodoh itu”. Kembali Mentari mengumpat dalam hati, dia masih belum merasa puas jika tidak memukul Sabrang. Namun memukul seorang pewaris tahta Malwageni sekaligus Pemilik pedang Naga Api bukan pilihan bijak baginya.
Sabrang membuka matanya saat langkah Mentari terdengar masuk gua. Dia melangkah mendekati Mentari dan menatapnya serius. Sabrang terlihat ingin mengatakan sesuatu, dia mendekatkan wajahnya kearah wajah Mentari yang membuat jantungnya berpacu dengan cepat.
“Apakah Pangeran sudah sadar akan kesalahannya? Tapi….. ini…..” Saat wajah Sabrang sudah beberapa jengkal dihadapannya tiba tiba wajah Mentari kembali berubah masam.
“Oh ku kira kau hanya makan Kitab ilmu kanuragan kemudian tersedak dan tidak sadarkan diri. Dasar Bodoh” Mentari berkata dalam hati.
“Akan segera aku siapkan tuan” Mentari segera menyiapkan makanan hasil buruan Sabrang kemarin.
…………………………………………………………………
“Perkenalkan nona Namaku Wijaya dari Sekte Pedang Naga Api dan ini temanku Lasmini dari Rajawali Emas” Wijaya member hormat pada Nilam sari.
“Ah terima kasih sudah berkenan datang tuan, sampai Sekte Pedang Naga Api ikut membantu, kami sangat berterima kasih”. Nilam sari mempersilahkan Wijaya dan Lasmini duduk.
“Maaf jika penyambutan kami kurang berkenan tuan, namun inilah yang bisa kami lakukan untuk saat ini”.
__ADS_1
Wijaya mengangguk pelan dia menatap kearah Lasmini seolah memintanya berbicara.
“Nona jika yang anda ceritakan benar, kapan mereka akan datang kemari?". Lasmini berbicara pelan dia tidak ingin ada yang mendengar pembicaraannya.
“Jika tidak ada perubahan besok malam mereka akan datang. Itulah kenapa penjagaan di sini diperketat bahkan aku tidak diijinkan keluar kamar”.
Nilam sari menarik nafas panjang, terlihat wajahnya penuh keputusasaan “ Maafkan aku telah melibatkan kalian, namun aku benar benar butuh bantuan kalian”.
Wijaya memejamkan matanya sesaat dia sadar jika ini adalah perang saudara di Sekte kencana Ungu, siapapun yang besok keluar sebagai pemenangnya jelas akan meninggalkan luka yang sangat dalam pada Sekte Kencana Ungu. "Lembah tengkorak benar benar harus dibumihanguskan"
“Kami akan mendukung sepenuhnya Malwageni jika tuan dan nona dapat membantuku”.
Wajah Wijaya dan Lasmini tersentak kaget, mereka kini sedikit waspada terhadap wanita yang ada dihadapannya.
“Apa maksud nona Nilam?”.
Nilam sari tersenyum lembut menatap Wijaya dan Lasmini, dia dapat melihat jika mereka kaget atas apa yang dikatakannya.
“Tidak ada informasi yang tidak dapat aku kumpulkan tuan, termasuk identitas Tuan Wijaya sebenarnya. Namun tuan Wijaya tidak usah khawatir aku selalu memegang janjiku. Jika tuan kali ini membantuku menyelamatkan Sekte Kencana Ungu aku akan membantu tuan dengan informasi yang kumiliki untuk merebut kembali malwageni”.
Wijaya menatap tajam Nilam sari, dia memang merasa jika Nilam sari bukan wanita biasa namun kali ini benar benar diluar prediksinya. Mungkin benar jika dia memiliki banyak informasi terkait Majasari yang berguna untuk merebut Malwageni kelak.
“Baiklah nona, kau telah membuatku tertarik padamu, kami akan mencoba membantumu semampu kami namun ku harap nona memegang janji”.
Nilam sari mengangguk cepat, dia termasuk orang yang selalu memegang teguh janjinya. Tak ada alasan baginya untuk melanggar janjinya terlebih jika Wijaya membantunya menyelamatkan Sektenya.
“Apakah tuan hanya berdua datang kemari?” Nilam sari teringat akan pertemuannya dengan Sabrang beberapa hari lalu.
“Aliran putih sekarang benar benar dibatasi dan di tekan oleh Majasari, kami harus menghindari hal yang dapat menarik perhatian Majasari, ku harap nona tidak kecewa”. Kali ini Lasmini ikut berbicara. Dia tidak ingin Nilam sari terlalu berharap akan mendapat bantuan dalam jumlah banyak.
__ADS_1
“Ah tidak sama sekali Nona, tidak terlintas dipikiranku untuk kecewa mendapat bantuan dari para Pendekar hebat seperti kalian” Nilam sari tersenyum penuh makna.