
"Kau terlalu lambat dan terlalu banyak berfikir, biarkan instingmu bekerja". Sabrang terpental mundur terkena pukulan Ki Gandana.
"Ingatlah untuk cepat mengambil keputusan saat lawanmu merubah jurusnya". Ki Gandana menghilang dari pandangan Sabrang.
"Perhatikan perisai tenaga dalam di punggungmu, aku sudah katakan untuk mengalirkan keseluruh tubuh secara besar dan merata".
Tubuh Ki Gandana muncul dibelakang Sabrang dan siap menyerang. Sabrang melompat mundur menghindari serangan tersebut.
"Kontrol tenaga dalam mu, jangan hanya kau fokuskan untuk bertahan. Buat apa hanya bertahan tanpa bisa menyerang". Ki Gandana muncul di sisi kiri Sabrang dan memyerang Sabrang dengan cepat dibagian punggung.
Namun kali ini serangan Ki Gandana seperti berbenturan dengan dinding yang tebal.
"Lumayan" dia kembali menyerang dengan sangat cepat. Sabrang meningkatkan kecepatannya, dia tiba tiba menghilang dari pandangan Ki Gandana.
"Tingkatkan lagi kecepatanmu" Kini Tinju kilat hitam tepat mengenai perut Sabrang dan membuatnya terpental mundur.
"Kau tau nak, kau bisa lebih cepat dari saat ini. Ayo kita mulai lagi". Ki Gandana kembali menyerang dengan cepat membuat Sabrang sedikit kewalahan.
"Kau tidak tau dari mana musuhmu akan menyerang maka lindungi setiap jengkal tubuhmu" Tiba tiba Ki Gandana muncul tepat dihadapan Sabrang.
Tinjunya tepat mengarah pada wajah Sabrang. Saat beberapa jengkal lagi mengenai wajah Sabrang Ki Gandana menghentikan serangannya.
"Kemana perginya perisai tenaga dalammu? Apakah wajahmu sudah tahan segala pukulan?".
Sabrang tersenyum kecut, kali ini dia benar benar dibuat tak berdaya oleh ki Gandana.
"Kita ulangi sampai kau terbiasa menggunakannya".
Sabrang mengangguk pelan dia bersiap menyerang kembali namun tiba tiba ki Gandana menghentikannya.
"Kita kedatangan tamu" Ki Gandana menatap ke atas dengan sikap siaga.
"Tetua Gandana memang berbeda, anda dapat merasakan kehadiranku" Seseorang melayang turun dari atas.
"Ada angin apa iblis pencabut nyawa singgah di tempatku?" Ki Gandana memberi tanda pada Sabrang untuk mundur menjauh.
"Ku pikir anda telah mundur dari dunia persilatan, tak kusangka anda mengangkat seorang murid".
"Tak usah basa basi ada perlu apa denganku?" Ki Gandana menghardik Asoka.
"Anda tak sabaran seperti biasa" Asoka menatap tajam Sabrang.
__ADS_1
"Aku datang untuk membawa kepala anak ini, ku harap anda tidak menghalangiku".
Ki Gandana tersenyum sinis "Kau pikir bisa berbuat sesukamu di tempatku?".
Tiba tiba Asoka melesat cepat menyerang Sabrang namun sesaat sebelum serangannya mengenai Sabrang Ki Gandana telah muncul tepat di hadapannya.
"Bukankah kau terlalu meremehkanku?". Ki Gandana menyerang Asoka dengan tinjunya membuat Asoka terpaksa melompat mundur menghindari serangan Ki Gandana.
"Kecepatannya luar biasa" Gunam Asoka dalam hati.
"Anda membuat semuanya menjadi rumit" Asoka menggeleng pelan. Dia menyadari ilmu kanuragan Ki Gandana berada diatasnya. Akan sangat berbahaya jika dia ikut campur.
"Aku harus mencari cara agar tua bangka ini tidak ikut campur" Asoka menatap tajam Ki Gandana.
Tiba tiba Asoka tertawa keras dan menatap Sabrang "Ku kira kau berbeda dengan ayahmu bocah, ternyata kau tak lebih baik dari Arya Dwipa yang hanya mampu bersembunyi di ketiak Pendekar hebat".
Raut wajah Sabrang sedikit berubah mendengar hinaan Asoka, tangannya terkepal menahan amarah.
"Tenanglah nak dia sedang memancing emosimu" Ki Gandana memperingatkan Sabrang untuk tetap tenang.
"Kau tau bagaimana menyedihkannya kematian ayahmu di tangan Tuan Lingga, dia mati seperti binatang".
"Kau sudah keterlaluan, aku harus membungkam mulut besarmu" Ki Gandana bersiap merapal sebuah jurus namun tiba tiba dia menghentikan gerakannya. Dia merasakan suhu udara disekitarnya perlahan naik, dia menoleh kearah Sabrang dan mendapati tubuh anak itu sudah diselimuti kobaran api.
"Tidak, dia sedang memancing emosimu kau tak akan bisa bertarung saat kau terbawa emosi" Ki Gandana menatap tajam Sabrang.
"Apakah kakek juga menganggapku tidak berguna yang selalu berlindung dibalik Naga Api?".
"Kau...." Ki Gandana tidak melanjutkan perkataannya. Dia merasakan sesuatu dengan energi yang besar melesat kearahnya.
Terlihat Pedang Naga Api melesat cepat kearah Sabrang dan menempel di tangannya.
Raut Wajah Ki Gandana berubah melihat Pedang Naga Api ada ditangan Sabrang.
"Naga Api mengikuti perintah anak ini? Bagaimana mungkin?".
"Aku mohon kek, untuk kali ini izinkan aku bertarung dengannya".
Ki Gandana menggeleng pelan "Kau memang anak yang keras kepala".
"Itukah pedang Naga api?" Sikap Asoka menjadi siaga.
__ADS_1
"Terima kasih kek" Sabrang melesat cepat menyerang Asoka.
"Menarik" Asoka menyambut serangan Sabrang. Dia bergerak cepat menekan Sabrang, beberapa serangan Sabrang mampu dipatahkannya dengan mudah.
Setelah bertukar beberapa jurus terlihat Sabrang mulai terpukul mundur, gerakan Asoka semakin lama semakin cepat.
"Aku tidak tau alasan Naga api mau mengikutimu, namun pedang itu tak pantas berada ditanganmu". Asoka muncul tepat dihadapan Sabrang dan menyerang denga pedangnya.
"Tusukan seribu Pedang" Sabrang terlempar jauh dan terjatuh di tanah. Raut wajah Asoka berubah seketika dia merasa pedangnya tepat mengenai tubuh Sabrang namun dia merasa pedangnya seperti mengenai sesuatu yang sangat kokoh.
"Sudah kuduga kau belum mampu mengimbanginya nak" Ki Gandana bersiap menyerang Asoka namun mengurungkan niatnya karena Sabrang bangkit kembali.
"Energi aneh itu melindungi tubuhnya dari seranganku".
"Aku masih belum terbiasa mengatur tenaga dalamku" Sabrang kembali menyerang Asoka.
"Tarian Rajawali" Gerakan pedang Sabrang semakin cepat membuat Asoka mundur beberapa langkah untuk menangkis serangan tarian rajawali. kali ini dia meningkatkan kecepatannya kembali untuk mengimbangi serangan Sabrang.
"Jurus tiruan milik Sekte Rajawali emas?, namun dengan tenaga dalamnya kini jurus ini hampir sama efeknya dengan aslinya" Ki Gandana menatap takjub.
"Ternyata kau bisa menggunakan jurus milik Rajawali Emas,aku terlalu meremehkanmu" kini Asoka menyerang dengan sekuat tenaga. dia tidak ingin terlalu lama bertarung untuk menghemat tenaganya karena masih harus berhadapan dengan Ki Gandana.
Asoka memejamkan matanya sesat kemudian merapal sebuah jurus.
"Aura ini? Gawat anak itu dalam bahaya" Ki Gandana mengenali jurus yang digunakan Asoka.
"Iblis pedang pencabut nyawa" Tubub Asoka menghilang dari pandangan namun Sabrang masih terlihat tenang. tenaga dalamnya kini semakin berlipat, terlihat dia merapal sebuah jurus.
"Mati kau" Asoka muncul dari sisi kanan dan menyerang dengan cepat membuat Sabrang terpukul mundur, Goresan pedang tampak di lengannya.
"Kecepatannya sangat sulit diimbangi anak itu, beruntung dia menguasai jurus Brajawesi sehingga terhindar dari luka parah. apa aku harus turun tangan sekarang?" tangan Ki Gandana mengepal keras.
Asoka menjilat pedangnya dan memandang Sabrang
"Kau beruntung aura itu melindungimu" Asoka menatap tajam Sabrang, sudah puluhan jurus dia gunakan namun Sabrang masih dapat menghindarinya walau dengan susah payah. Dia menoleh ke arah Ki Gandana yang menatapnya dingin, akan sangat berbahaya jika dia menghadapi Ki Gandana dengan tenaganya yang telah terkuras.
Namun Sabrang benar benar lincah menghindari serangannya. "Perisai api itu benar benar merepotkan".
"Gerakannya makin lama makin cepat, aku harus berbuat sesuatu" Sabrang mengatur nafasnya, luka pedang terlihat di beberapa bagian.
Sabrang terlihat memejamkan matanya sesaat,Tak lama kemudian benda disekitarnya mulai beterbangan.
__ADS_1
"Tinju penghancur angin? Tidak itu hanya tiruan, bagaimana anak ini bisa meniru jurusku hanya sekali liat?" Ki Gandana mengernyitkan dahinya.