
Lian menjadi panik setelah mengetahui kemampuan Sabrang, ditambah lagi dia melihat Sabrang memiliki mata yang sama dengannya. Sadar pertarungan tidak dapat dihindari Lian memutuskan menyerang saat Sabrang masih terlihat bingung.
Suliwa yang mengetahui gelagat mencurigakan Lian mencoba memperingatkan Sabrang namun gerakan Lian terlalu cepat, Pedang pusakanya sudah berjarak beberapa jengkal dari leher Sabrang. Saat dia yakin sudah mendapatkan kepala musuhnya, Lengan Sabrang tiba tiba bergerak dan tanpa kesulitan menangkap pusaka milik Lian, Dia mengalirkan energi api untuk menyerang Lian melalui pusakanya sendiri. Lian tersentak kaget saat pusakanya mulai terasa panas, dia berusaha menekan energi api itu dengan tenaga dalamnya.
Saat Lian sibuk dengan tenaga dalamnya, Sabrang memutar lengannya sampai telapak tangannya menyentuh ujung pedang Lian dan mendorongnya dengan keras. Gerakan yang dilakukan Sabrang tadi sangat cepat membuatnya terlambat bereaksi sehingga tubuhnya terdorong mundur dan membentur dinding gua.
"Selamat datang kembali bodoh, sepertinya kau bertambah kuat". Ucap Naga api.
"Apa yang terjadi padaku Naga api? aku hanya mengingat orang bermata biru menyerangku tiba tiba... Ah iya orang bermata biru seperti dirinya". Sabrang menatap Lian yang terlihat masih terkejut.
"Kau bagaimana bisa menguasai ajian Lembu sekilan?". Lian masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Lembu sekilan?". Sabrang mengernyitkan dahinya.
"Jangan pura pura bodoh kau dengan menyembunyikan kemampuanmu". Lian yang sudah kehilangan kesabarannya langsung menyerang Sabrang.
Sabrang yang masih bingung dengan keadaan disekitarnya melompat menghindar dan membentuk dinding es untuk menghindari serangan cepat Lian. Serpihan serpihan es akibat hantaman pedang Lian berserakan dimana mana.
"Apa sebenarnya yang dipikirkan orang ini? kenapa dia ingin sekali membunuhku". Umpat Sabrang.
"Wajar dia ingin membunuhmu, kau menyerap hampir separuh tenaga dalamnya". Naga api terkekeh.
"Menyerap tenaga dalamnya?". Sabrang masih tidak mengerti.
"Kurang ajar!Kau akan menerima balasan atas apa yang kau lakukan". Lian meningkatkan kecepatannya. Melihat Sabrang hanya menghindar dan menangkis serangannya dengan jurus es tanpa memegang pedang, dia berfikir ini kesempatan bagus untuk membunuhnya.
"Keluarkan pedangmu bodoh". Naga api berteriak kesal.
"Diamlah Naga api, aku sedang berfikir". Umpat Sabrang.
Sabrang yang terus ditekan habis habisan bukan tidak ingin mengeluarkan pedangnya namun tidak diberi kesempatan. Dia dipaksa terus membentuk dinding es baru ketika dinding es lama hancur dengan sekali serang.
"Mau sampai kapan kau bermain dengan es mu itu? Selama kau tidak memegang pedang, hanya masalah waktu sampai tenaga mu habis". Lian semakin agresif menyerang. Lian berfikir pedang Sabrang jatuh entah dimana dan ini kesempatan baik membunuhnya.
"Tetua, bukankah kita harus membantunya?". Lingga mulai khawatir melihat Sabrang terus ditekan.
"Apa kita bisa mengikuti kecepatan pemilik mata bulan seperti mereka?. Kau lihat wajah anak itu, tak ada keraguan sedikitpun dia bisa mengalahkan pendekar iblis petarung itu". Ucap Suliwa yakin.
Sabrang memang terlihat yakin saat ini, kejadian rohnya terkurung di dimensi lain membuatnya sadar jika selama ini dia terlalu bergantung pada dua pusakanya dan melupakan mengasah bakatnya. Dia dengan mudah memanggil Naga api atau Anom dan semua akan selesai.
Sabrang sadar saat terkurung sendirian di dimensi lain bahwa dirinya sendirilah kunci utama mengendalikan kekuatan dua pusakanya.
"Kau ingin bersaing sesama pengguna mata bulan? Akan kukabulkan". Ucap Sabrang pelan.
Perlahan mata bulannya semakin bersinar dan muncul lingkaran lingkaran kecil berwarna merah darah.
Saat Lian menyerang dengan seluruh tenaga dalamnya untuk menghancurkan dinding es yang merepotkannya, Sabrang justru menghilangkan dinding es itu tiba tiba.
"Apakah dia kehabisam tenaga dalam?". Gumam Lian dalam hati. Ketika serangannya hampir mengenai tubuh Sabrang, dua pusaka muncul dikedua tangan Sabrang.
Sabrang menarik pedangnya untuk menangkis serangan Lian dan disaat bersamaan tangan kirinya menyerang Lian dari samping.
Lian yang tidak memperhitungkan gerakan Sabrang tidak sempat menghindar. Keris penguasa kegelapan menghujam tubuhnya membuat Lian terpental.
Lian berusaha mengambil pusaka yang tertancap ditubuhnya namun saat dia memegang keris itu berubah menjadi aura hitam dan menguap diudara.
__ADS_1
"Pusaka Dieng?". Lian tersetak kaget. "Kau! bagaimana kau bisa msmbaca gerakanku?".
"Kau lupa kita memiliki mata yang sama". Ejek Sabrang pada Lian.
Tak lama keris penguasa kegelapan muncul kembali ditangan Sabrang. Dia menoleh kearah Ciha yang dari tadi memperhatikannya.
"Sepertinya ruangan ini terlalu sempit". Sabrang tersenyum dingin. Salah satu alasan Sabrang tadi belum mencabut pedangnya karena dia takut Api pedangnya ikut membakar Ciha. Dia ingin mencari tempat yang bisa menggunakan kekuatannya dengan bebas.
Belum sempat Lian mencerna ucapan itu, Sabrang sudah muncul dihadapannya dengan telapak tangan menempel di tubuhnya sambil merapal sebuah jurus.
"Tapak peregang sukma". Dalam sekejap dinding gua hancur dan tubuh Lian terlempar keluar.
"Bagaimana dia bisa secepat itu". Gumam Lian dalam hati. Sabrang melompat keluar menyusul Lian yang sedang batuk darah.
"Bukankah itu jurus andalanmu?". Tanya Suliwa pada Lingga.
"Itu hanya jurus tiruan". Ejek Lingga, namun didalam hatinya dia mengakui jika jurus tiruan itu lebih mematikan karena menggunakan energi Naga api.
Sabrang menghentikan langkahnya saat menemukan Kertasura terhuyung dengan luka dihampir diseluruh tubuhnya. Salah satu pendekar Iblis petarung berhasil dibunuhnya namun luka ditubuhnya tak kalah parah.
"Dua orang berhasil lolos, cepat kejar mereka". Selesai berkata demikian tubuh Lingga ambruk ditanah.
"Kakek, ada terluka! cepat bantu dia aku akan membereskan orang ini dulu". Teriak Sabrang.
"Ketua". Lingga berlari keluar diikuti Suliwa dan Ciha.
"Kalian tak akan bisa menghentikan suku Suku Hwuang ho, kami akan menguasai tanah bertuah ini". Ucap Lian sambil tertawa keras.
"Kau!". Sabrang menatap tajam Lian. Saat dia siap merapal kuda kudanya tiba tiba seseorang muncul dari celah yang dihancurkan pendekar Iblis petarung tadi.
"Yang mulia raja, syukurah anda selamat". Wijaya terlihat lega setelah bertemu Sabrang.
"Ceritanya panjang yang Mulia, hamba diperintah Tuan Adipati mencari anda".Ucap Wijaya pelan.
"Paman Wardhana ada disini?".
"Benar yang mulia, dia bersama beberapa pendekar lainnya sedang menyisir daerah sini".
"Ah Sukurlah, aku bisa berkonsentrasi padamu sekarang". Kobaran api perlahan menyelimuti tubuh Sabrang.
"Jadi energi banaspati berasal dari pusakanya". Gumam Lian dalam hati. "Apa kau tidak terlalu meremehkan 2 temanku? kemampuan mereka jauh diatasku".
"Aku tidak pernah sekalipun meremehkan lawanku, namun jika ada yang benar benar bisa menghancurkan tempat ini maka Paman Wardana lah orangnya".
Sabrang bergerak dengan kecepatan tinggi dan melepaskan beberapa serangan. Keduanya mulai bertukar jurus andalan masing masing. Tak butuh waktu lama bagi Sabrang mendesak Lian, selain karena kini kedua tangan lian tak lagi utuh, Terkurungnya Sabrang didimensi lain membuat dia bisa menggunakan Mata bulan dengan sempurna tanpa takut terasuki.
"Tarian Iblis pedang". Sabrang tiba tiba merubah gerakannya dan mengayunkan pedangnya dengan cepat membuat Liam terkejut dan tak siap menerima serangan. Tubuhnya kembali terbentur dan terhuyung sebelum jatuh ketanah.
"Bagaimana matanya bisa lebih cepat dari milikku". Lian masih tak bisa menerima jika Sabrang mampu membangkitkan mata yang seharusnya hanya dimiliki suku Hwuang ho.
"Kau pikir bisa seenanknya mendesakku?". Lian menajamkan matanya, dia memaksakan mata bukannya berkerja lebih keras. Tetesan darah mulai keluar dari matanya.
Tak lama dia terlihat menotok beberapa bagian tubuhnya sendiri. Bau anyir darah meluap bersamaan dengan meningkatnya tenaga dalamnya. Mata birunya kini perlahan tercampur warna merah darah.
"Aku punya firasat buruk". Sabrang tersenyum kecut. Dia teringat ajian pembakar sukma milik Lembah siluman. Walau sepertinya ajian ini lebih kuat dari milik Lembah siluman dia yakin efeknya hampir sama.
__ADS_1
"Sepertinya akan sedikit sulit Naga api". Sabrang bersiap dengan kuda kudanya.
"Kalian semua akan tunduk dibawah kekuatan dewa milik suku Hwuang ho". Lian langsung menyerang lebih dulu. Pukulan, tebasan pedangnya kini terasa lebih berat saat Sabrang menangkisnya.
Pertarungan kedua pemilik mata bulan ini berlangsung dengan kecepatan yang tinggi. Saling membaca gerakan lawan dengan kekuatan mata bulan membuat keduanya seolah pendekar dari dunia lain. Suliwa bahkan tidak pernah menyangka jika muridnya yang dulu dia temukan terluka di gua kegelapan bisa sekuat ini dan jauh melampauinya.
Namun tanpa disadari oleh Lian mata bulannya perlahan sedikit memudar dan berganti warna menjadi merah darah.
Lian terus menyerang dengan membabi buta tanpa memberi jeda sedikitpun pada Sabrang untuk menyerang.
"Kau mengambil jalan yang salah, jika kau mau terus menggunakan akal pikiranmu mungkin kesempatan menangku juga kecil. Sayangnya kau menyerahkan kesadaranmu pada Mata bulan. Sehebat apapun jurus yang kau gunanakan, akal pikiranmu lah yang membuat jurus menjadi mematikan bukan pusaka apalagi mata itu".
Sabrang memutar tubuhnya saat pedang Lian hampir mengenai tubuhnya. Dia bergerak kesamping mengecoh Lian. Saat Lian mengikuti gerakannya, Sabrang menarik pedannya kesamping dan melepaskan jurus pedang pemusnah raga.
Semua terdiam saat jurus pemusnah raga menghantam tubuh Lian. Gerakan cepat jurus itu membius semua yang melihatnya seolah pedang Naga api bergerak didimensi lain dan muncul kembali di tubuh Lian.
Lian terpental sampai kelangit gua dan jatuh kembali ketanah. Ketika dia kembali mencoba menyerang, telapak tangan Sabrang sudah berada dipunggung Lian.
"Hembusan Dewa Es Abadi". Sabrang berniat membekukan Lian namun keanehan terjadi didepan matanya. Bukannya es yang keluar dan membekukan tubuh Lian namun lengan Sabrang menyerap habis energi Lian. Dia berusaha melepaskannya namun sesuatu seperti menahan tangannya terlepas. Tangannya baru terlepas saat Lian sudah berubah jadi tengkorak seperti yang terjadi pada Madrim.
Sabrang hanya mematung menatap tengkorak Lian yang berada dihadapannya. Di sisi lain dia merasakan energi dalam tubuhnya meningkat pesat.
"Bukankah aku tadi merapal jurus hembusan dewa es abadi?". Tak lama bongkahan es muncul ditangannya. Sabrang tambah bingung karena efek hembusan dewa es abadi baru terlihat.
"Apa aku salah?". Sabrang mengaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Apa Anda liat sibodoh itu tadi?". Ucap Lingga pada Suliwa.
Suliwa mengangguk pelan, dia benar benar tidak mengerti dan baru itu melihat jurus yang Sabrang gunakan.
"Mau sampai kapan anak ini berkembang?". Ada rasa takut dalam diri Suliwa andai Sabrang suatu saat berubah, tak akan ada yang bisa menghentikannya.
"Paman Wijaya". Sabrang memanggil Wijaya yang juga masih mematung setelah melihat jurus mengerikan yang Sabrang gunakan.
"Hamba siap menerima perintah Yang mulia". Wijaya menundukan kepalanya.
"Tolong bantu kakek Suliwa dan yang lainnya, Baea mereka keluar dari sini, aku akan mengejar mereka". Perintah Sabrang.
"Jangan terlalu percaya diri, aku akan ikut denganmu". Lingga bangkit dan mendekati Sabrang.
Sabrang terlihat tak terlalu mempermasalahkan ikutnya Lingga, dia berfikir pasti membutuhkan bantuan musuh besarnya itu.
"Dengar paman, tepat tengah malam ini gerbamg Dieng akan kembali tertutup. Beritahu yang lain untuk secepatnya bergerak keluar, aku akan menyusul setelah mencegah mereka keluar".
"Tapi Yang mulia". Wijaya sedikit ragu melanjutkan perkataannya.
"Untuk kali ini aku tidak ingin ada perdebatan, ini Perintah. Dan tolong pastikan keselamatan Mentari". Suara Sabrang meninggi.
"Hamba menerima perintah". Wijaya menundukan kepalanya.
"Ciha aku pergi dulu, aku ingin kau menemui Paman Wardhana. Aku yakin dia memiliki rencana menenggelamkan tempat ini selamanya".
Ciha mengangguk pelan "Berhati hatilah, kita bertemu diluar".
"Terima kasih". Sabrang melesat pergi diikuti Lingga dibelakangnya.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sesuai Janji Author, hari ini akan ada 3 Chapter (Harusnya) namun seperti biasa akan digabung menjadi 2 Chapter.. Jadi akan sedikit panjang...