
"Ibu," Sabrang bergerak cepat dan menangkap tubuh Sekar Pitaloka dan membawanya menjauh.
"Candrakurama, kau masih memiliki tenaga?" tanya Rubah Putih sambil bergerak saat delapan pendekar lainnya ikut menyerang.
"Aku berada dibelakang anda tuan," Candrakurama menarik pedangnya dan ikut bergerak.
"Rakiti menjauh lah," ucap Biantara sebelum bergerak membantu.
"Siapa mereka? ilmu kanuragannya cukup tinggi, apa mereka yang disebut Wardhana sebagai Guntur api? jadi dia tidak berbohong," ucap Biantara dalam hati.
"Dinding Dewa es Dewa Abadi," Sabrang memunculkan dinding es saat dua pendekar bergerak kearahnya. Gerakan sedikit terlambat karena dia menggendong tubuh Sekar Pitaloka.
"Maaf ibu," Sabrang melepaskan aura dari tubuhnya sebelum melempar Sekar Pitaloka ke udara.
Sabrang menyambut serangan dua pendekar itu, dia mengayunkan pedangnya untuk menangkis serangan lawan.
Dua pendekar itu menghindar dengan cepat, sebelum kembali menyerang balik. Saat pedang mereka kembali bergerak, bongkahan es melesat dari atas membuat mereka terpaksa melompat mundur.
Namun belum sempat mereka berfikir, Sabrang bergerak kearah mereka bersamaan dengan Sekar pitaloka dari udara.
Bongkahan es Sekar Pitaloka bergerak mengikuti gerakan Sabrang.
"Tarian Rajawali," serangan Sabrang menghantam salah satu pendekar Guntur api. Ketika pendekar lainnya mencoba mengambil kesempatan menyerang dari sisi kanan, Sekar pitaloka kembali menciptakan dinding es untuk melindungi Sabrang, dia bergerak kearah Sabrang sambil melepaskan aura dari tubuhnya.
Sabrang menarik pedangnya untuk menjadi pijakan Sekar pitaloka mendarat, Kobaran api yang menyelimuti pedang Naga Api menghilang tepat saat Sekar Pitaloka berdiri di pedang Naga Api.
"Jurus serbuk bunga penghancur Iblis," Sekar melesat cepat dan menghancurkan dinding esnya sendiri.
Ketika pendekar itu mencoba menghindar, Sabrang melemparkan energi pedang untuk memecah konsentrasinya.
Salah satu energi keris mendarat tepat didekat kaki lawan, ketika pendekar itu hendak menghindar, bongkahan es muncul dari energi keris dan mencengkram kakinya.
Sekar terlihat menembus tubuh pendekar itu bersamaan dengan lesatan energi keris Sabrang.
Semua takjub melihat kerjasama Sekar Pitaloka dan Sabrang termasuk delapan pendekar Guntur api. Kombinasi gerakan mereka seolah sudah saling mengetahui kemana masing masing akan bergerak.
"Jadi seperti ini jika trah Dwipa dan Tumerah bertarung bersama? tak terlalu buruk aku hidup cukup lama jika bisa melihat mereka bertarung bersama," ucap Rubah Putih takjub.
"Ledakan pedang energi," salah satu pendekar Guntur api tiba tiba melepaskan serangan energi pedang sebelum melompat mundur dan menjaga jarak. Tujuh pendekar lainnya ikut mundur bersamaan.
"Apa kau sudah memutuskan menyerah?" tanya Rubah Putih.
"Menyerah? aku bahkan baru akan memulai," ucap pendekar itu sambil tersenyum penuh makna.
Dia menarik pedangnya sambil melepaskan aura besar dari tubuhnya, lengannya bergerak seolah memberi tanda pada pendekar lainnya untuk bersiap.
"Serang!" teriak pendekar itu sambil bergerak maju.
"Sebuah Formasi?" Rubah Putih tampak terkejut melihat gerakan para pendekar itu.
"Berhati hatilah, sepertinya kali ini akan jauh lebih sulit," Rubah putih kembali bergerak, dia langsung melepaskan ledakan tenaga dalam iblisnya.
Delapan pendekar itu tiba tiba menyebar, empat pendekar bergerak kearah Sabrang dan Sekar pitaloka sedangkan tiga lagi menyerang Rubah Putih, Biantara dan Candrakurama.
__ADS_1
Satu pendekar bergerak diluar perkiraan, dia memisahkan diri tiba tiba dan melesat kearah Wardhana.
"Gawat, ini jebakan, mereka sejak awal mengincar Wardhana," Rubah Putih mencoba membantu namun kombinasi serangan lawannya membuatnya terpaksa menghindar.
Wardhana yang menyadari dirinya menjadi target serangan menarik pedangnya dan bersiap menyambutnya.
"Kau pikir bisa menghentikan pasukan bayangan kegelapan? Nama itu tidak muncul begitu saja, kau akan tau kenapa kami dijuluki bayangan kegelapan," Pendekar yang menyerang Wardhana seolah menghilang sebelum muncul kembali dibelakang Wardhana dengan memegang lempengan yang ditemukan Wardhana di danau purba.
"Dia menghilang?" wajah Wardhana tampak pucat, dia merasakan sakit yang luar biasa sebelum tubuhnya mengeluarkan darah segar.
"Wardhana!" teriak Rubah Putih.
"Bantulah tuan patih," teriak Candrakurama sambil melepaskan jurus andalannya.
Rubah Putih melompat mundur, dia meningkatkan kecepatannya dan bergerak ke arah Wardhana.
"Dipertemuan selanjutnya aku pasti akan membunuhmu Rubah Putih," ucap pendekar itu sebelum menghilang tiba tiba.
"Sial, jurus apa yang sebenarnya dia gunakan," umpat Rubah Putih saat pusaka nya hanya menebas udara.
Beberapa saat kemudian tujuh pendekar lainnya ikut menghilang ditengah pertarungan, mereka berubah menjadi asap hitam sebelum menghilang di kegelapan malam.
Semua terdiam dan masih tidak percaya dengan apa yang mereka lihat, ilmu yang ditunjukkan pendekar itu sangat mirip jurus ruang dan waktu, yang membedakannya mereka tidak menggunakan ruang dan waktu.
"Ku harap keputusanmu kali ini tepat Wardhana, saat ini mereka memiliki kunci untuk membuka Nagara siang padang," Rubah Putih menyarungkan goloknya dan berjalan mendekati Wardhana untuk memeriksa lukanya.
"Maafkan aku tuan tapi kita harus menyerahkan kunci itu jika ingin menghentikan mereka," ucap Wardhana sambil menahan rasa sakit.
"Kunci Pagebluk Lampor tidak akan bisa disembunyikan selamanya, satu satunya cara untuk mencegah wabah penyakit itu keluar adalah dengan menghancurkan Guntur api.
Aku sudah berusaha mencari dimana mereka bersembunyi namun tidak berhasil, satu satunya cara adalah dengan memancing mereka keluar," jawab Wardhana.
"Kau benar benar gila, kau menggunakan Pagebluk Lampor untuk memancing mereka semua keluar. Jika kita tidak berhasil menghentikan mereka bukankah sama saja kau mengundang bencana di dunia persilatan?" balas Biantara.
"Guntur api akan selalu berusaha membuka gerbang suci, jika kita tidak menghancurkan mereka itu hanya akan menunda bencana. Aku mungkin tidak bisa menghentikan mereka sendirian tapi jika Cakra Tumapel ikut membantu semua masih mungkin," jawab Wardhana percaya diri.
"Semua tidak semudah yang kau bayangkan, aku minta maaf jika sedikit menyulitkan mu tapi aku terlanjur menghasut Saung Galah. Lawan kita kali ini bukan hanya Guntur Api tapi juga pasukan besar Saung Galah," ucap Biantara sedikit menyesal.
"Kau menghasut Saung Galah?" ucap Rubah Putih kesal.
"Saat itu kita adalah lawan dan siapa yang tau jika kita semua dimanfaatkan oleh Guntur Api," balas Biantara membela diri.
"Jadi lawan kita bertambah lagi?" balas Wardhana pelan.
"Tuan, Aku akan mencoba menemui Jaladara dan menjelaskan semuanya, aku yakin mereka masih berhitung jika harus berhadapan dengan Malwageni," ucap Candrakurama.
"Tidak, sepertinya akan lebih baik seperti ini," jawab Wardhana cepat.
"Lebih baik?" tanya Rubah Putih.
"Berhadapan langsung dengan Guntur Api pasti akan sedikit menyulitkan, apalagi jika semua pendekar Guntur api menguasai jurus aneh tadi. Kita bisa memanfaatkan Saung Galah untuk mengacaukan situasi dan mengambil keuntungan seperti mereka ingin mengambil keuntungan dari permusuhan kita.
Jika rencana ini berhasil bukan hanya Guntur api yang bisa kita kalahkan tapi Saung galah pun akan takluk dibawah Malwageni," jawab Rubah Putih.
__ADS_1
"Kau? bagaimana kau masih bisa membuat rencana saat kita masih terjepit?" ucap Biantara Takjub.
"Aku hanya mencoba memanfaatkan celah sekecil apapun untuk memenangkan pertempuran," balas Wardhana.
***
Rombongan pasukan Saung Galah mulai bergerak ke Gunung Padang, Ratusan pasukan yang dipimpin oleh Pasukan elit Topeng Galah bergerak dalam beberapa gelombang untuk menghindari kecurigaan.
Jaladara menyebarkan ratusan Telik sandi di hampir semua perbatasan Malwageni.
Tenda tenda prajurit didirikan di sudut sudut hutan yang tersembunyi. Ratusan prajurit pemanah telah bersiaga di titik titik akses menuju Gunung Padang.
Melihat kekuatan yang dikerahkan oleh Jaladara menandakan Saung Galah telah siap perang habis habisan dengan Malwageni.
Puluhan pendekar bayaran dari sekte sekte yang bekerja sama dengan Saung Galah juga mendirikan tempat berkemah yang terpisah dari tenda prajurit.
Jaladara patut bersyukur jika arena pertempuran terjadi di Gunung Padang, selain tempatnya yang cukup sulit karena dikelilingi lembah yang dalam, mereka juga sudah sangat menguasai medan pertempuran kali ini.
Ratusan jebakan disepanjang akses menuju Gunung Padang juga sudah dipersiapkan dengan matang.
Jaladara terlihat memasuki salah satu tenda prajurit yang paling besar bersama para panglima perang terbaiknya. Jubah perang kebanggaannya terlihat melekat di tubuhnya.
Dia berjalan menuju meja besar yang ada di tengah ruangan sambil membuka gulungan besar.
"Pastikan semua pasukan pemanah telah siap di posisinya, mereka mungkin akan melewati dua tempat ini karena akses ini yang paling dekat dengan Malwageni.
Aku ingin mereka terkubur di tempat ini, kita tidak boleh melakukan kesalahan sedikitpun yang bisa membuat mereka menyusun kembali kekuatannya karena lawan kita kali ini adalah salah satu ahli siasat terbaik Nuswantoro.
Kali ini kita lebih unggul karena menguasai medan pertempuran, jadi maksimalkan keuntungan kita untuk menghancurkan mereka," ucap Jaladara pada para panglimanya.
Mereka mengangguk bersamaan sambil terus memperhatikan coretan coretan yang ribuat Jaladara.
"Maaf tuan Patih, aku sedikit ragu dengan akses jalan di selatan Gunung padang. Walaupun kita sudah pernah menjelajahinya namun tidak semua tempat pernah kita datangi, selain itu bukankah lembah itu terkenal dengan sebutan Lembah penghisap sukma karena banyak orang tidak kembali setelah masuk ke sana?" ucap Antoro, komandan pasukan Topeng Galah.
"Tak perlu khawatir, kecil kemungkinan mereka melewati tempat itu karena jalan yang sangat terjal," balas Jaladara.
Jaladara menarik nafas panjang sebelum melanjutkan ucapannya.
"Beberapa hari lalu, utusan kerajaan Arkantara meminta Saung Galah tunduk, mereka mengancam akan menghancurkan Saung Galah andai tidak menyerah dalam waktu dua purnama.
Aku ingin dalam pertempuran kali ini Malwageni takluk pada Saung galah, aku ingin meminta bantuan Wardhana bagaimanapun caranya, hanya itu satu satunya cara lepas dari cengkraman Arkantara," ucap Jaladara pelan.
"Arkantara? kerajaan besar di ujung daratan Swarnadwipa?" tanya Antoro terkejut.
"Benar, Arkantara adalah kerajaan terbesar di Nuswantoro saat ini, selain memiliki pasukan tempur yang jauh lebih besar dari Majasari mereka kabarnya dilindungi oleh para pendekar misterius yang dijuluki Pasukan kuil suci," jawab Jaladara.
"Bukankah Arkantara sudah mengikrarkan diri untuk tidak menyerang kerajaan yang ada di Nuswantoro."
"Aku tidak tau pasti ceritanya karena Arkantara sangat menutup diri dari dunia luar namun kabarnya setelah Raja baru naik tahta, mereka mulai berambisi menguasai Nuswantoro, itulah yang saat ini aku takutkan. Kita harus memenangkan perang kali ini dan membangun kekuatan untuk menghadapi serangan mereka," jawab Jaladara.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Malam ini kemungkinan ada satu chapter lagi...
__ADS_1