
Wardhana terlihat serius mendengarkan semua yang dikatakan Sabrang, sesekali dia terlihat melirik sebuah gulungan kuno yang ada ditangan rajanya itu. Raut wajahnya perlahan berubah seolah baru saja mendengar kabar buruk.
"Aku minta maaf jika dihari bahagia paman justru membawa kabar ini," ucap Sabrang sambil menyerahkan gulungan kuno ditangannya.
"Mohon jangan bicara seperti itu Yang mulia, sebagai seorang patih sudah menjadi tugas hamba untuk melayani anda," Wardhana mulai membaca gulungan kuno yang menurut Sabrang sudah ada di dalam saku bajunya saat dia akan berganti pakaian setelah upacara pemakaman Moris satu tahun lalu.
"Jadi anda benar benar tidak tau siapa yang meletakkan gulungan ini didalam saku pakaian anda?" tanya Wardhana sopan.
Sabrang menggeleng pelan sambil terus memperhatikan Patih nya yang terlihat semakin tua. Dia bahkan sangat terkejut saat bertemu di aula utama tadi pagi. Wardhana bisa begitu kurus dan tampak menua dengan cepat hanya dalam waktu satu tahun.
"Aku masih belum tau pasti tapi sepertinya aku bisa menebak siapa pemilik gulungan itu," ucap Sabrang ragu.
Wardhana langsung meletakkan gulungan itu dan menatap Sabrang penasaran.
"Minak Jinggo, hanya dia yang bisa leluasa meletakkan gulungan itu tanpa aku sadari."
"Minak Jinggo?" balas Wardhana terkejut, dia baru ingat jika mayat Minak Jinggo memang tidak berhasil ditemukan walau sudah memerintahkan para prajurit angin selatan mencarinya.
"Sejak awal aku memang sudah curiga dia bukan pendekar sembarangan namun tak banyak yang bisa kita temukan tentang masa lalunya. Sepertinya tujuan dia menjadi murid sekte Pedang Naga Api dan mendekati kita dengan masuk ke Hibata adalah untuk menyerahkan gulungan ini," jawab Sabrang pelan.
Wardhana terdiam, dia masih mencoba memahami beberapa tulisan yang ada didalam gulungan misterius itu dan hubungannya dengan Minak Jinggo.
"Memulai proses Pralaya Wekas Semesta akan memakan waktu yang tidak sebentar dan dibutuhkan kekuatan mahluk terkuat alam semesta untuk membuka dimensi api dan memurnikan kembali alam semesta saat peradaban baru muncul."
"Pralaya Wekas Semesta? hamba seperti pernah membaca tulisan ini di suatu tempat," ucap Wardhana pelan.
"Dalam bahasa kuno, Pralaya memiliki arti pemusnahan dan Wekas adalah akhir atau penghujung. Jika aku tidak salah mengartikan, inti dari tulisan itu adalah memurnikan kembali alam semesta dengan cara menghancurkannya terlebih dahulu saat peradaban baru muncul," Wulan masuk sambil membawa air minum dan beberapa makanan.
"Wulan?" ucap Wardhana pelan.
"Hormat pada Yang mulia," Wulan menundukkan kepalanya kearah Sabrang.
"Guru, tolong jangan seperti ini karena bagaimanapun aku adalah murid anda," Sabrang langsung berdiri dan memberi hormat pada Wulan.
"Tidak Yang mulia, posisi kita sekarang berubah karena aku..." Wulang menghentikan ucapannya saat Sabrang tersenyum penuh arti. "Tapi aku tetap bisa membunuhmu jika kau terus mengejek."
"Wulan, jaga bicaramu!" potong Wardhana cepat.
"Baik tuan patih, mohon maafkan aku," balas Wulan kesal, dia duduk disebelah Wardhana sambil membuang wajahnya.
Sabrang tersenyum kecil saat melihat tingkah dua orang kepercayaannya itu.
"Yang mulia, mohon maafkan dia,hamba akan..."
"Tak perlu sungkan paman, lagipula sekarang aku bukan lagi seorang raja," balas Sabrang sebelum menoleh kearah Wulan. "Apa guru bisa menjelaskan lagi tentang memurnikan dengan cara menghancurkan padaku?"
"Pralaya dan Wekas adalah bahasa Nuswantoro kuno, aku pernah mempelajarinya saat masih di Masalembo. Hanya itu yang aku tau, Yang mulia," jawab Wulan pelan.
"Kehancuran alam semesta dan membuka dimensi Api? Apa mungkin ini adalah sebuah pesan untuk menghancurkan dunia ini dan memurnikannya kembali?" sahut Wardhana.
"Kemungkinan besar seperti itu," Wulan menarik nafasnya panjang sebelum melanjutkan ucapannya. "Apa dunia ini memang tidak bisa damai? kita baru saja menikmati suasana tenang setahun ini setelah berhasil menyegel Cakra Loji."
"Itu yang aku khawatirkan selama ini, tanpa Naga Api kekuatanku akan berkurang hampir separuhnya," balas Sabrang.
"Tanpa Naga Api? maksud anda?" tanya Wulan terkejut.
"Naga api dan seluruh ruh Batu Satam telah kembali ke puncak Suroloyo untuk pemurnian sebelum kembali dilahirkan," Sabrang kemudian menceritakan semua kejadian saat bertarung dengan Cakra Loji di bukit Cetho.
"Begitu ya... Anda benar, tanpa Naga Api kita..."
"Apa Naga Api akan terlahir kembali?" potong Wardhana tiba tiba.
"Itu yang dia katakan padaku sebelum menghilang."
"Masih ada waktu Yang mulia, gulungan ini mengatakan jika memurnikan kembali alam semesta saat peradaban baru muncul. Itu artinya selama peradaban baru belum muncul, siapapun yang menulis pesan ini tidak akan bisa memulai proses pemurnian dan kita masih bisa menunggu Naga Api lahir kembali," jawab Wardhana.
Sabrang terlihat ingin menjawab ucapan Wardhana namun saat melihat semangatnya yang cukup besar dia akhirnya mengurungkan niatnya.
Sabrang tidak mungkin menghancurkan semangat Wardhana dengan mengatakan jika Naga Api mungkin membutuhkan waktu ribuan tahun untuk lahir kembali.
"Paman benar, kita hanya perlu menunggu Naga Api lahir kembali," balas Sabrang pelan.
"Apa ada sesuatu yang mengganjal di hati anda, Yang mulia?" tanya Wardhana bingung saat melihat wajah Sabrang tanpa ekspresi.
"Ah tidak paman, aku hanya ingin meminta sesuatu pada anda," balas Sabrang cepat sambil mengeluarkan sebuah gulungan lainnya.
__ADS_1
"Ini mengenai pewaris tahta Malwageni selanjutnya," Sabrang menyerahkan gulungan kecil itu pada Wardhana sebelum melanjutkan ucapannya.
"Naga Api mengatakan padaku jika dia akan terlahir dengan ingatan baru dan dia tidak akan mengenaliku. Itu artinya untuk menaklukkannya kembali, suka tidak suka aku harus bertarung dengannya dan dengan kemampuanku saat ini akan sangat mustahil.
"Sebelum menemui paman, aku sudah bicara pada Tungga Dewi dan Emmy jika aku tidak bisa menetap di keraton karena harus berlatih untuk meningkatkan kekuatanku sebelum Naga Api terlahir kembali. Gulungan itu adalah titah yang mengatur tentang penerus raja jika Tungga Dewi mundur," ucap Sabrang.
Wardhana membuka gulungan itu perlahan, wajahnya berubah seketika saat membaca sebuah nama yang sangat dia tidak duga sebelumnya.
"Pangeran Yudhistira?" tanya Wardhana terkejut.
"Benar, Yudhistira akan menjadi penerusku kelak," jawab Sabrang.
"Mohon ampun Yang mulia tapi bukankah aturan keraton mengatakan jika penerus raja adalah keturunan ratu? Hamba mengerti perasaan anda tapi..."
"Tungga Dewi yang meminta padaku," potong Sabrang cepat.
"Gusti ratu?" tanya Wardhana semakin bingung.
"Sama seperti paman, aku sudah menunjuk pangeran Sutawijaya sebagai putra mahkota tapi Dewi menolaknya karena ingin berbagi peran dengan Tari. Setelah Emmy menjadi ratu di Swarna Dwipa, Dewi merasa keturunan Tari pantas memiliki peran yang besar di istana."
"Gusti ratu benar benar seorang panutan, dia bahkan berpikir sejauh itu untuk para selirnya," jawab Wardhana kagum.
"Dengar paman, proses transisi ini tak akan mudah karena dengan menunjuk pangeran Yudistira sebagai putra mahkota itu artinya aku melanggar tradisi keraton. Aku ingin paman memastikan semuanya berjalan lancar tanpa gejolak apapun," ucap Sabrang.
"Mohon jangan khawatir Yang mulia, hamba akan melakukan apapun untuk memastikan semua berjalan lancar," jawab Wardhana cepat.
"Terima kasih paman," Sabrang bangkit dari duduknya dan bersiap pergi. "Sepertinya malam sudah larut, aku akan menemui Tari sebelum pergi ke suatu tempat."
"Anda akan langsung pergi?" tanya Wardhana cepat.
"Banyak yang harus aku lakukan sebelum kebangkitan kembali Naga Api, tapi paman tak perlu khawatir karena aku akan sering datang untuk melihat situasi keraton dan bertemu anak anakku. Tolong jaga keraton selama aku pergi," ucap Sabrang sebelum melangkah pergi.
"Mohon jaga kesehatan anda Yang mulia," Wardhana langsung bangkit dari duduknya dan berlutut.
Namun Sabrang tiba tiba menghentikan langkahnya dan menoleh kembali kearah Wardhana sambil mengambil sesuatu dari sakunya.
"Aku tidak bisa memberi hadiah besar di hari bahagia paman, hanya ini yang aku miliki," Sabrang melempar wadah minuman kecil kearah Wardhana.
"Yang mulia...ini," tanya Wardhana terkejut saat mencium aroma air yang dikenalnya.
"Air kehidupan, semua keputusan ada di tangan paman tapi yang pasti paman harus "mati" karena aku merasa setahun belakangan ini ada yang sedang mengawasi kita. Tolong jaga kesehatan, paman terlihat jauh lebih kurus dari biasanya," Sabrang melangkah pergi dengan senyum mengembang.
***
Sabrang melangkah menyusuri halaman keraton dalam masih dengan senyum khasnya, dia sesekali mengalirkan tenaga dalam ke jari telunjuknya seperti sedang melakukan sesuatu.
"Kuharap paman memilih keputusan itu," ucap Sabrang dalam hati sebelum sebuah api kecil muncul di jari telunjuknya.
"Tunggulah, Naga Api..."
Sabrang menghentikan langkahnya saat melihat seorang wanita berdiri di halaman belakang sambil menatap langit.
Dia kembali mengingat pertemuannya dengan wanita yang ada dihadapannya itu saat pertama kali menginjakkan kaki di dunia persilatan.
"Hamba mohon menghadap nyonya," ucap Sabrang pelan.
Mentari terlihat tersenyum sebelum menoleh dan menundukkan kepala.
"Hamba sudah mendengar dari Gusti ratu dan Emmy tentang bahaya yang mungkin akan mengincar dunia persilatan kelak. Jadi rajaku sudah memutuskan untuk berjuang kembali?" balas Mentari pelan.
"Apa kau tidak mengizinkan?" jawab Sabrang.
Mentari mengangguk pelan, "Setiap detik hamba selalu mencari cara untuk memaksa anda mundur dari dunia persilatan tapi sekuat apapun hamba berusaha, hati kecil ini selalu mengatakan jika itu adalah jalan hidup anda. Pada akhirnya hamba menyerah dan memutuskan untuk membantu anda.
"Kita dipertemukan oleh dunia persilatan dan mungkin akan mati di dunia persilatan. Namun hamba tidak akan pernah menyesal selama bisa berada didekat anda, Yang mulia," jawab Mentari pelan.
Sabrang tersenyum lega sebelum memeluk tubuh Mentari erat.
"Kau terlalu banyak berkorban untukku, maaf jika aku belum bisa memberikan kebahagiaan seperti yang kau harapkan," ucap Sabrang lirih.
"Kebahagiaan terbesarku adalah bertemu dengan anda dan kehadiran pangeran Yudhistira," jawab Mentari haru.
"Suatu saat dia akan menjadi raja yang hebat melebihi aku," Sabrang terus memeluk erat selir kesayangannya itu.
"Apa anda akan pergi malam ini juga?" tanya Mentari pelan.
__ADS_1
Sabrang mengangguk pelan, "Aku akan sering datang ke keraton untuk menemui kalian," Sabrang menyentuh pipi Mentari dengan kedua tangannya dan mengangkat wajahnya.
"Rubah Putih memutuskan untuk menghilang sementara waktu demi meningkatkan ilmu kanuragannya sedangkan Emmy dan pasukannya akan kembali ke Swarna Dwipa bersama Lingga besok pagi. Para pendekar Lembayung Hitam memang berjanji padaku untuk menjaga keraton selama aku pergi tapi aku lebih percaya padamu dan paman Wardhana. Jadi sampai semua persiapanku selesai tolong jaga keraton dan pangeran."
"Anda tak perlu khawatir Yang mulia, hamba akan melakukan apapun untuk menjaga keraton sampai anda kembali," jawab Mentari sebelum Sabrang tiba tiba mencium bibirnya.
"Terima kasih..." ucap Sabrang dalam hati.
***
Saat malam hampir berganti pagi dan suara lolongan serigala mulai menghilang, Sabrang melesat menembus dinginnya udara yang masih diselimuti kabut tebal.
Dengan keris di tangan kanannya, dia bergerak dari satu bangunan ke bangunan lain sebelum melompat ke atas gerbang utama ibukota.
Cukup lama Sabrang terdiam menatap megahnya bangunan keraton yang sebagian masih dalam tahap perbaikan karena hancur oleh Iblis Loji.
"Demi kalian, akan aku hancurkan siapapun yang berusaha menyerang Ibukota," ucap Sabrang dalam hati.
"Anom, kita pergi," Sabrang melompat turun dan bergerak menjauh dari ibukota bersamaan dengan munculnya aura hitam yang menyelimuti tubuh Sabrang.
"Ada orang," ucap Anom tiba tiba saat melihat sesosok tubuh menghadang jalan mereka.
Sabrang mengernyitkan dahinya sebelum tersenyum kecil dan berhenti tepat dihadapan pria itu.
"Hormat pada Yang mulia," Wijaya langsung berlutut dihadapan Sabrang.
"Paman..." ucap Sabrang pelan.
"Hamba siap menerima perintah," jawab Wijaya cepat.
"Aku ingin paman mencari keberadaan Singa Emas dan menyampaikan pesanku ini padanya," Sabrang membisikkan sesuatu pada Wijaya yang dibalas anggukan cepat.
"Hamba mengerti Yang mulia," balas Wijaya.
"Aku mengandalkan paman," ucap Sabrang sebelum melesat pergi dan menghilang di kegelapan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Singa Emas pernah muncul beberapa kali di chapter awal PNA, bagi yang tidak ingat silahkan baca kembali....
Dan, akhirnya Pedang Naga Api benar benar sampai di penghujung chapter. Gak tau lagi harus ngomong apa tapi sekali lagi terima kasih yang sebesar besarnya saya ucapkan pada semua reader Pedang Naga Api yang setia selama setahun ini.
Berawal dari Pandemi Covid yang membuat saya di rumahkan dari pekerjaan dan akhirnya memaksa saya untuk mencari penghasilan lain dan pilihan pun jatuh pada Mangatoon.
Saya, yang sama sekali gak bisa nulis dengan nekad membuat cerita Pedang Naga Api yang tokoh utamanya bernama Sabrang Damar.
Sebagai ucapan terima kasih, ada dua hal yang ingin saya berikan (walau gak seberapa dan mungkin gak semuanya) untuk kalian.
Saya akan mengadakan even tentang kesan kesan kalian terhadap cerita Pedang Naga Api dengan Total hadiah pulsa 250.000 untuk 10 orang beruntung...
Caranya :
Tulis kesan kalian tentang Pedang Naga Api di kolom komentar bab hari ini (Ingat di bab hari ini).
Periode lomba dimulai dari hari ini sampai dengan Senin, tanggal 8 Maret 2021.
Saya akan memilih 10 Komentar terbaik.
10 Komentar terbaik akan mendapatkan pulsa masing-masing sebesar 25.000 rupiah.
Pemenang akan di umumkan hari selasa, 9 Maret 2021 diakhir Ekstra Bab Pedang Naga Api.
Keputusan pemenang mutlak dan tidak bisa diganggu gugat.
Saya akan memberikan Ekstra Bab 2 Chapter yang digabungkan menjadi satu pada hari selasa, 9 Maret 2021. Bab ini akan bercerita tentang Sabrang yang berusaha menaklukkan kembali Naga Api.
Apa Sabrang akan mampu menaklukkan Naga Api yang terlahir kembali dengan kekuatan yang jauh lebih besar? Jawabannya hari selasa....
__ADS_1
Terakhir, Lanjutan Sabrang dan Naga Api akan berlanjut di Api di Bumi Majapahit yang sudah ada 47 bab.. Kalian bisa mencari di kolom pencarian atau klik profil saya... Sabrang akan muncul di sana dengan musuh yang jauh lebih kuat....
Sekali lagi, terima kasih dan selamat bermalam minggu....