
Diagnosa yang sudah disampaikan oleh Dokter itu membawa dampak yang cukup berat bagi Jarni, karena ada serentetan obat yang setiap harinya dia harus minum.
Obat golongan antipsikotik adalah jenis obat yang harus Jarni minum secara berkala dalam waktu yang panjang. Obat ini digunakan untuk memperbaiki gejala yang dialami orang dengan gangguan Skizofrenia.
Orang tua Jarni juga sudah diberi tahu bahwa akan ada efek samping dari konsumsi obat tersebut, efek yang paling ringan adalah, pusing, lemas, penglihatan kabur, jantung berdebar dan tentu efek terberat adalah gangguan saraf.
Walau telah mengetahui efek samping itu, mereka tetap memilih pengobatan seperti itu untuk meringankan rasa takutnya pada penyakit Jarni, maka dimulaikan penderitaan Jarni.
“Tidak mau main.” Setelah tiga bulan minum obat, tubuh Jarni jadi lebih gemuk, dia malas bergerak dan jadi jarang sekali mengungkit soal teman itu lagi, orang tuanya menganggap itu kemajuan.
Apakah itu membuat Jarni benar sehat?
Pada kenyataannya, Jarni tidak pernah mengungkit itu semua karena kondisi kesehatannya yang semakin menurun, dia tidak mampu berfikir benar lagi, tidak mampu bersosialisi lagi dan malas bermain, dia hanya suka tidur dan makan.
Teman yang selalu dia sebutkan tapi tidak terlihat orang itu masih ada, masih terus bersamanya, tapi Jarni terlalu lemah untuk bermain bersama.
Waktu berlalu, Jarni pelan-pelan bisa beradaptasi lagi dengan obat yang dia konsumsi itu, walau dia masih lemas dan tidak suka bergaul, tapi dia masih sangat senang jika ibunya menemaninya dan membacakan buku cerita, perlahan ‘teman’ itu mulai terlihat kabur, Jarni tidak mengerti kenapa teman itu terlihat kabur, itu adalah karena Jarni tidak menginginkannya lagi, Jarni sudah sangat senang ada ibunya, selalu menemani dan tidak sibuk mengurus rumah. Jin itu masih terus berkeliaran di rumah, tapi Jarni memilih mengabaikannya, obat itu berhasil membuat Jarni fokus pada rasa sakit yang dia rasakan ketimbang sekitarnya, walau kabar baiknya adalah, ibunya jadi lebih sering bersamanya.
Setelah beberapa bulan mengkonsumsi obat itu, Jarni bisa sekolah lagi, orang tua Jarni akhirnya mengehentikan obat yang selama ini dikonsumsi oleh Jarni, mereka merasa Jarni telah sembuh, mereka merasa Dokter itu berhasil menyembuhkan Jarni.
Jarni masuk sekolah, dia kembali menjadi anak riang dan suka berteman, ibu dan ayahnya lega, mereka melihat anak perempuannya tumbuh menjadi anak yang sehat secara mental.
Apakah ini semua sudah berakhir
Tentu saja itu belum berakhir, setelah efek obat itu perlahan menghilang, Jarni mendapatkan tubuh yang sehatnya lagi, seluruh kemampuannya dalam melihat, mendengar dan merasakan ‘mereka’ kembali lagi.
“Mami! Mami!! Mami!!!” Jarni berteriak di tengah malam, ibunya berlari dari kamarnya dan membuka pintu kamar Jarni.
“Kenapa Nak? Kenapa?” Maminya bertanya.
“I-itu, itu Mi, lihat itu.” Jarni menunjuk-nunjuk lantai di kamarnya.
“Apa? ada apa?” Ibunya bingung.
“Itu, ada ular, ada ular banyak sekali, ular itu kecil-kecil, dia ada bawah tempat tidur, banyak sekali.”
“Nggak ada Nak, nggak ada apa-apa di sana, nih liat.” Maminya menginjak-nginjak lantai dengan kasar.
“Ada! Itu di kaki mami, itu mereka naik ke badan Mami!!!” Jarni bergidik melihat ular-ular kecil itu naik ke tubuh ibunya.
“Kenapa sih?” Papinya baru sadar anaknya berteriak, dia masuk ke kamar dan bertanya.
“Itu, ada ular-ular kecil di lantai banyak sekali, usir mereka Pi, usir!”
“Nggak ada apa-apa, kamu mimpi, lihat nggak ada!” Papinya bersikeras mengatakan tidak ada apa-apa di sana, tapi entah kenapa Jarni masih melihat ular-ular kecil itu.
“Tidur lagi aja ya.”
“Nggak! Jarni mau tidur sama Mami aja.”
“Yaudah Mami temani tidur di sini.”
“Nggak mau, kita tidur di kamar Mami.”
“Mi, kasih obatnya biar dia bisa tidur,” papinya berkata.
“Jarni minum obat dulu ya.” Obat yang setelah beberapa bulan dikonsumsi itu diberhentikan selama satu bulan ini, akhirnya terpaksa diberikan lagi ke Jarni, mereka takut kalau Jarni mulai sakit lagi.
Jarni meminum obat itu, dia lalu perlahan tenang dan setelahnya tertidur, ibu dan ayahnya masih di kamar.
“kita harus menemui Dokternya lagi besok, mungkin kita salah menghentikan obat-obat itu, mungkin seharusnya kita menambah dosisnya karena seiring waktu dia bertambah dewasa, jadi efek obatnya jadi menurun.”
“Iya Pi, aku akan konsultasikan dengan Dokternya.”
“Ya, itu cara terbaik.”
Pagi datang, Jarni sudah mandi dan bersiap pergi dengan ibunya, mereka akan menemui Dokternya, sudah dijadwalkan, Jarni mendapat jadwal cepat tentu saja karena uang.
“Jadi ada apa lagi?” tanya Dokter.
Jarni main di ruang kaca seperti biasa.
“Dia mulai Halusinasi lagi Dok, dia berteriak melihat ular padahal tidak ada apa-apa di sana.”
“Kalian sudah memeriksa semua ruangan, karena bisa saja ular itu benar ada.”
“Tidak Dok, ular itu dia bilang kecil-kecil, banyak ada di lantai, dia bahkan ngotot kalau ular itu menjalar ke kakiku, padahal tidak ada apa-apa di sana.”
Dokter itu terdiam, dia sedang berfikir.
“Apa kita perlu menambahkan dosis obatnya Dok, karena selama beberapa bulan ini dia mengkonsumsi obat-obat itu keadaannya membaik.” Menurut ibunya Jarni membaik, padahal mereka membuat tubuh anaknya semakin lemah karena obat-obat keras itu.
“Jangan terburu-buru, kita harus mengobservasi lagi keadaannya, obat itu sudah cukup tinggi untuk anak dengan umurnya saat ini.”
“Dok, tolong kami, aku tidak mau dia seperti waktu dulu, jika perlu minum obat selama hidupnya, aku tidak keberatan, aku tidak mau dia … gila Dok.”
“Saya tidak bisa sembarangan meresepkan obat itu, apalagi untuk anak yang masih sangat muda itu, kita harus mencari akar masalahnya dulu.”
“Kalau Dokter keberatan meresepkan obat itu, aku akan mencari Dokter lain yang bersedia.”
Ibunya Jarni membawa Jarni keluar dari rumah sakit itu, meninggalkan Dokter dengan khawatir yang sangat mengganggu.
Setelah selesai praktek, dia menelpon seseorang untuk datang, beberapa bulan ini adalah waktu yang cukup untuk merubahnya menjadi percaya ‘mereka’ karena baru-baru ini dia juga sudah menangani seorang anak bernama Ganding Prawira, anak itu membuat dunia Dokter yang percaya pada hal-hal ajeg dan medis, menjadi percaya dunia yang tidak pernah dia yakini ada sebelumnya, dunia di mana ‘mereka’ yang tak terlihat itu ada, seorang anak lelaki bernama Ganding itu membuatnya menjadi tahu dan yakin, bahwa ada hal-hal yang tidak dia kuasai dan bisa jadi jalan keluar untuk masalah Jarni saat ini.
__ADS_1
“Jadi, siapa kali ini?” Tanya lelaki yang saat ini berumur tiga puluhan itu.
“Namanya Jarni, dia pasienku dari beberapa bulan yang lalu, dia bilang melihat seorang teman khayalan, dia memelihara teman itu, waktu itu aku tentu belum tahu bahwa mereka benar ada, padahal saat Jarni memperkenalkannya dan mengatakan bahwa teman khayalannya itu duduk di pundakku, aku merasa pundakku berat dan dingin, tapi aku lebih memilih melakukan pengobatan secara medis, tidak seperti pada kasus Ganding.”
“Lalu?”
“Orang tuanya telah menghentikan pengobatannya selama sebulan ini, dia kembali melihat hal yang orang lain tidak lihat, katanya, ular-ular kecil. Anak itu tepat sebulan setelah berhenti minum obat, kembali melihat hal itu.”
Bapak yang diajak ngobrol itu termenung.
“Orang tuanya sekarang ingin menambah dosis untuk anaknya karena takut anaknya … gila.”
“Kasihan sekali, dia pasti tertekan, karena ketakutan pada apa yang dia lihat, tapi orang tuanya malah mendorongnya untuk menghadapi sendiri dengan obat-obat itu.”
“Maukah kau menolongnya?” Dokter itu bertanya.
“Aku akan menolongnya, aku akan mencegah obat-obatan itu masuk ke tubuhnya, tapi aku akan awasi dulu rumah anak itu untuk beberapa saat, memastikan bahwa dia adalah salah satu dari anak-anak dengan kemampuan khusus itu.”
“Baik Pak, terima kasih.”
Lalu Bapak itu pamit pulang, dia keluar rumah sakit dan naik kendaraan yang dia bawa, sebuah angkot, orang-orang bilang dia adalah supir angkot.
…
Satu minggu setelah Jarni kembali menemui Dokter itu, ibunya ternyata menggelapkan resep, Jarni terpaksa minum obat itu dengan dosis dua kali lipat, tubuhnya menjadi lemah, sementara ular-ular mini itu selalu saja datang, makin hari makin banyak, tidak hanya di lantai, tapi hampir di seluruh ruangan itu, Jarni selalu berusaha minta tolong ibunya, anak tujuh tahun itu ketakutan setiap saat jika maghrib lewat, karena ular-ular mini itu berdatangan dan membuat ruangan manapun yang Jarni datangi menjadi penuh binatang melata itu.
Ibunya seperti menjadi kelelahan karena selama seminggu ini Jarni tidur sangat sedikit sekali, ibu dan ayahnya harus menemani anaknya yang selalu ketakutan, ibunya bahkan pernah memukulinya karena berteriak tak henti dan mengatakan ular itu mulai menjalar ke tubuhnya, ibunya kesal karena lelah, ayahnya jadi tidak suka pulang ke rumah karena masalah itu, keharmonisan keluarga itu hanya bertahan selama beberapa bulan, seminggu saja waktu yang dibutuhkan untuk menghancurkan keharmonisan yang dikembalikan beberapa bulan ini, karena mereka percaya, Jarni mulai gila.
“Pagi Bu, saya tekhnisi AC mau bersihkan ACnya ibu.” Ibunya Jarni yang membukakan pintu, matanya terlihat sangat bengkak karena ngantuk dan lelah. Ada beberapa orang yang datang ke rumah Jarni, tapi hanya salah satunya yang mengatakan keperluan mereka datang.
“Ya, Mbak, anter tekhnisi AC nih ke kamar-kamar ya, ibu mau tidur dulu sebentar, jangan berisik, kamar Jarni lewati saja, dia baru tidur tadi.” Ibunya Jarni menyuruh salah satu pelayannya menemani tekhnisi AC tersebut.
“Iya Bu.” Pembantu itu mengarahkan beberapa orang itu untuk membersihkan AC yang ada di kamar orang tua Jarni.
“Mbak, biar cepet, kamar mana lagi yang ACnya mau dibenerin?” tanya lelaki itu.
“Itu yang sebelah kamar Non Jarni, kalau kamar Non Jarni yang pintunya warna emas, jangan cuci ACnya ya, soalnya anaknya baru tidur.” Pelayan itu memperingatkan.
Lelaki itu memegang pundak pelayan itu lalu berkata, “Duduk di bangku itu, jangan kemana-mana sampai kami aku perintahkan lagi.” Pelayan itu menjadi kosong tatapannya dan mengikuti perintah, dai duduk di sofa yang ada di kamar utama, kamar orang tuanya Jarni.
“Cuci AC yang itu dulu, pastikan tidak ada yang naik.” Tiga anak buah lelaki itu mengangguk, mereka adalah orang-orangnya.
Lalu lelaki yang berumur tiga puluhan ke atas itu masuk ke kamar Jarni, benar Jarni sedang tidur, dia melihat jejak-jejak binatang melata itu dan baunya, benar, anak ini memang memiliki kamampuan itu, seperti Ganding Prawira.
“Jarni … Jarni … Jarni bangun.” Lelaki itu membangunkannya.
Jarni lalu perlahan membuka matanya, dia bingung karena ada lelaki asing masuk ke kamarnya.
“Kamu siapa?”
Jarni kaget, karena ular-ular yang biasa datang saat setelah magrib itu ada saat ini, padahal ini masih pagi.
“Ma ….” Jarni hendak memanggil ibunya karena takut.
Tapi lelaki itu buru-buru menaruh telunjuk tangannya pada mulutnya, dia mengisyaratkan agar Jarni jangan memanggil ibunya.
“Aku takut, aku takut, mereka banyak sekali!” Jarni menunjuk-nunjuk ular itu.
“Tenang, ular-ular ini temanmu, sama seperti anak itu.” Lelaki itu menunjuk seorang anak lusuh yang mengerikan sedang berdiri di pojok kamar Jarni.
“Teman! Kau ada di sini?” Jarni sudah lama sekali tidak melihatnya karena Jarni sudah cukup lama mengabaikan anak itu.
Anak itu langsung berlari dan menempel di dinding dekat Jarni, Jarni tertawa melihat itu.
“Jarni jangan takut ya, ini namanya Sigur Ziqala.”
“Apa itu?” Jarni bertanya.
“Sapaan untuk pemilik Khodam, ‘dia’ akan segera datang padamu begitu kau akil baligh, tapi sebelum itu, supaya dia yakin kau benar anak yang telah ditandai, dia akan mengirim salam sapa dulu pada mereka yang telah terpilih.”
“Apa?” Jarni tidak paham.
“Begini sederhananya, ini mainan yang dikirimkan untuk kamu, coba pegang.” Lelaki itu mengambil salah satu ular mininya, dia lalu meminta Jarni memegangnya.
“Nggak mau! Nggak mau!” Jarni memeluk ‘teman’ yang sudah lama tidak menemuinya itu, dia ketakutan, sementara teman itu memegang ular itu sembari tertawa-tawa.
“Lihat, dia saja berani, masa kamu enggak?” Lelaki itu memperlihatkan, bahwa ular itu tidak bahaya.
“Aku takut.”
“Tidak apa-apa, dia tidak akan menggigit siapapun, apalagi kamu, ini kan mainanmu,” bujuknya.
“Tapi kalau dia menggigitku bagaimana?”
“Tidak akan, lihat temanmu, dia main dengan ular itu dengan bahagia kan?”
“Aku ….”
“Coba pegang dulu.” Lelaki itu memberikan salah satu ular mini itu, Jarni mengulurkan tangannya, pada saat ular itu menyentuh kulit jarinya, dia geli melihat itu, tapi lelaki itu terus membujuk, akhirnya Jarni berani memegangnya walau tangannya dia ulurkan jauh dari wajah dan tubuhnya.
Ular itu langsung melingakr di jari Jarni, setelahnya ular itu tidak kemana-mana, hanya diam saja.
“Lihat kan, dia mainanmu, dia milikmu, kau hanya harus menerimanya.” Lelaki itu berkata dengan tersenyum.
__ADS_1
“I-iya,” jawab Jarni.
Lalu lelaki itu mengambil satu ular lagi, Jarni menerima ular itu di jari lainnya, dia mulai tersenyum karena terkadang ular-ular yang mulai barada di jari-jarinya menggaruk-garuk kepalanya di jari Jarni.
“Lucu kan? Teman saja suka, kamu juga pasti suka.”
“Iya lucu.”
“Sekarang jangan takut lagi ya, mereka milikmu, mereka takkan menyakitimu, mereka takkan pernah menggigitmu.”
“Iya, aku tidak akan takut lagi.”
“Satu lagi, janji padaku, kalau kau tidak akan pernah cerita ataupun bicara lagi soal mereka, soal ular itu, soal temanmu itu, kau hanya akan bicara soal itu padaku, janji?”
“Kenapa? ibu harus tahu, aku tidak takut pada mereka lagi.”
“Karena selain aku, tidak akan ada yang suka melihat kamu dekat dengan mereka, mereka akan memisahkanmu lagi dengan teman, mereka akan memberimu obat itu lagi, itu obat yang sangat jahat, kau tidak boleh meminumnya lagi, mengerti?”
“Tapi ….”
“Jarni itu anak hebat, mami papi belum tahu hebatnya Jarni, mereka juga nggak suka Jarni sama teman, Jarni tahu kan? Untuk saat ini hanya bicarakan mereka padaku, mengerti?”
“Ya, aku mengerti.”
“Yasudah, aku pamit dulu, teman-temanmu aku bawa ya, ingat, kalau kau melihat hal yang aneh lagi, orang-orang yang tidak kau kenal menatapmu dengan tajam di rumah ini, orang yang bukan keluarga atau pelayanmu, jangan pernah beritahu pada siapapun, kelak aku akan ajarkan mengusir mereka.”
“Iya,” Jarni menjawab tersenyum, lalu lelaki itu pamit dan hendak keluar, tapi di tahan Jarni, “kamu siapa?”
“Aku Mulyana, panggil saja aku … Bapak.” Lalu lelaki itu pergi, membawa semua tekhnisi yang dia bawa, menyadarkan pelayan, sekaligus cuci ACnya juga sudah selesai.
Lelaki itu adalah Mulyana, ayah dari Aditia, dia sorang yang terbiasa dengan dunia ghaib karena dia adalah Kharisma Jagat dengan kelas yang cukup tinggi.
…
“Sudah Mami bilang berapa kali! tidak ada ular, tidak ada temanmu yang lusuh itu, tidak ada semua, kau harus minum obatmu!” Ibunya Jarni berteriak, ini adalah minggu ke dua setelah Jarni mengunjungi Dokter dan minggu pertama setelah bertemu Mulyana.
“Mami, aku lihat, benar-benar lihat Mi.”
“Mami akan menaruhmu di rumah sakit jiwa kalau kau masih terus mengungkit soal ular-ular itu, dengar baik-baik.” Ibunya Jarni sudah kehilangan akal, dia menarik kerah leher anaknya, daripada Jarni, lebih mungkin ibunyalah yang menjadi gila, kelelahan karena kurang tidur, stres dan depresi menghadapi anaknya, sungguh membuat dia jadi tidak mampu berfikir dengan baik.
Jarni masih mencoba meyakinkan ibunya bahwa ular-ular itu telah bisa dia hadapi, ular-ular itu ada, tapi dia tidak takut lagi, ‘teman’ juga masih ada di sini.
“Ada apa, kenapa kau berteriak terus?” Ayahnya yang baru pulang kerja emosi mendengar istrinya teriak-teriak.
“Anakmu bilang bahwa dia sudah tidak takut lagi ular-ular itu, dia bilang bahwa ular itu memenuhi rumah ini, dia bilang ular itu bermain di jarinya, dia ….”
“Sini kau! sini!” ayahnya menarik Jarni ke luar kamar, dia lalu mengambil sapu yang ada di dekat situ, dia memukul Jarni dengan tongkat sapunya, dia memukul betis Jarni sangat kencang, Jarni yang masih sangat kecil berteriak kesakitan, para Pelayan berkumpul di tangga mereka iba pada Jarni yang dipukuli oleh ayahnya, hal yang tidak pernah dilakukan, karena Jarni adalah anak yang sangat disayang.
“Mami! Mami, sakit Mami.” Jarni berteriak meminta bantuan ibunya, ibunya keluar kamar, melihat Jarni, dia mendekati Jarni, menunduk untuk bisa melihat wajah Jarni, dia seperti ingin berkata sesuatu.
“Kau harus dengar kami, kalau kau berani mengungkit lagi soal ‘mereka’ aku dan papimu akan memasukkanmu ke rumah sakit jiwa, kau tidak akan pernah bertemu denganku lagi, ingat itu!!!” Jarni melihat maminya pergi setelah mengatakan itu, ada bau aneh yang Jarni hirup saat maminya berkata.
Itu adalah bau alkohol, rupanya dia benar-benar tidak mampu menghadapi anaknya sendiri, dia dalam pengaruh alkohol saat sedari tadi berkata kasar pada Jarni, dia seorang ibu, tapi tidak mampu menjadi ibu yang baik, anaknya begitu membutuhkannya saat ini, tapi dia memilih untuk menghukum anaknya tanpa mengerti ketakutan Jarni.
“Ampun Papi, ampun, Jarni bohong, Jarni nggak lihat ular, ampun Papi, ampun! Jarni nggak lihat mereka, Jarni janji nggak akan bilang itu lagi, ampun Papi.” Jarni menangis tersedu-sedu, papinya masih memukuli Jarni hingga betisnya memerah dan lecet.
“Tuan saya mohon berhenti tuan, saya mohon tuan.” Seorang Pelayan yang sudah sangat tua memohon, pelayan ini adalah orang yang menjaga Jarni dari dia masih bayi hingga dia sudah berumur tujuh tahun, Pelayan itu sangat sayang Jarni, dia tidak tega melihat anak asuh kesayangannya di siksa, walau di sana dia hanya Pelayan Senior.
“Dengar apa yang ibumu katakan, mudah bagi kami memasukkanmu ke rumah sakit jiwa, kau akan bersama orang-orang yang sama sepertimu di sana, kau tidak akan bertemu kami lagi selamanya, mengerti kau!”
“Ampun Pi, Jarni nggak begitu lagi, ampun Pi.” Jarni memohon, dia bersujud agar papinya tidak memukul betisnya lagi.
Papinya melempar sapu itu dan kembali ke kamar, setelahnya Pelayan Senior itu membantu Jarni berdiri dari sujudnya dan membawanya ke kamar.
“Jarni harus jadi anak yang patuh ya, Jarni tahu bahwa mami dan papi sayang, tapi mereka sedang khawatir saja, mereka takut Jarni akan celaka, makanya mereka melakukan ini.” Pelayan itu berusaha menenangkan Jarni.
Jarni hanya diam saja, dia tidak mengatakan apapun, dia lalu tiduran di tempat tidurnya, sementara Pelayan itu memberi obat oles pada betisnya, itu bisa membuat betisnya tidak terasa perih dan panas lagi akibat luka pukulan tongkat sapu itu.
Lelah habis dipukuli Jarni tertidur, Pelayan itu lalu menyelimuti Jarni, dia keluar dari kamar Jarni.
Pagi datang, Jarni bangun tidur, dia mandi lalu langsung ke meja makan, dia diam saja tidak menyapa ayah dan ibunya.
“Jarni mau makan apa Nak?” Ibunya telah sadar dari pengaruh alkohol, ayahnya masih dingin dan tidak menyapa anaknya.
Jarni menunjuk roti dan selai coklat, dia tidak bicara sepatah katapun, dia makan dan minum seperti yang ibunya suruh, setelah itu dia kembali ke kamar.
Jarni kecil yang tidak mengerti apa-apa, tenggelam dalam rasa sakit begitu dalam, dia tidak ingin bicara lagi, tidak pada siapapun, dia selalu diam dan patuh, disuruh makan dia makan, disuruh tidur dia tidur, disuruh belajar dia belajar, tidak satupun kata yang terlontar dari mulutnya.
Ayah dan ibunya khawatir, tapi mereka merasa itu lebih baik dibanding melihat Jarni berkata melihat hal yang tidak dilihat orang lain, Jarni begitu patuh dan tenang, tapi dia hampir tidak pernah bicara satu katapun pada siapapun.
Seminggu itu Mulyana tidak bisa hadir di rumah Jarni, karena banyak kasus yang harus dia selesaikan, termasuk kasus Ganding dan ruh yang harus dia antar, jadi setelah satu bulan, Mulyana baru bisa menemui Jarni lagi dengan alasan cek AC rumahnya, setelah melihat Jarni, dia menyesal, kenapa harus terlambat datang, Jarni menjadi gadis bisu yang tidak mau bicara apapun pada siapapun, rasa sakitnya sudah sangat dalam, Mulyana sampai menangis melihat Jarni masih memegang ular-ular itu tapi hanya menatap kosong pada jendela luar, lebih parahnya, dia masih terus mengkonsumsi semua obat-obat itu.
______________________________
Catatan Penulis :
Aku cukup sedih menyusun part Jarni, karena dalam dunia nyata Seira pernah mengalami ini, untung saja kakaknya Seira tahu bahwa bukan pada mental adiknya yang salah, makanya dia mengusulkan supaya mata batin Seira di tutup.
Ibunya Seira akhirnya menerima usulan itu dan mata batin Seira ditutup setelahnya, dia tidak bisa lagi melihat mereka dan mampu hidup normal.
Seperti yang aku kasih tahu sebelumnya ya, bahwa Karuhun itu terinspirasi dari kisah nyata Seira, walau dalam kisah nyatanya, mata batinnya ditutup karena Seira tidak mau mengemban Karuhun dan tidak ada yang melatih, tapi sampai sekarang, dua macan ghaib itu masih bersama Seira, karena setiap kali Seira bertemu orang yang mampu 'melihat', maka dua macan itu akan disapa dan menyapa lagi.
Jadi kisah nyata Seira hanya sebatas sampai dia ditutup mata batinnya saja ya, kalau Ayi Mahogra murni tokoh fiksi karangan Author.
__ADS_1
Jangan lupa like dan kasih aku komentar ya, buat yang udah selalu kasih tips, aku mau ucapin makasih, aku tahu itu adalah bentuk perhatian dari para penggemar AJP, semoga pandemi ini segera berakhir dan kita semua selalu dalam lindungan Tuhan.
Terima Kasih.