Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 200 : Tinung 4


__ADS_3

Pagi ini kawanan bangun dengan badan yang terasa tak enak, ternyata memang tidur di lantai bukan sesuatu yang menyenangkan.


Alisha bangun paling pagi dan masak nasi goreng, Jarni membantu dengan memotong bawang putih dan bawang merah, Alka tidak membantu memasak. Alka tidak terlalu suka kegiatan yang menurutnya menyita waktu.


Lain cerita kalau soal ramuan, itu ada tantangannya, sedang masak, bukan hobinya.


Alka berjalan-jalan di desa ini, bertemu dengan warga yang tentu tahu kalau Alka adalah pendatang, karena penduduk desa ini, saling kenal, mengingat desa ini tidak terlalu luas.


Warga desa begitu ramah, Alka kebetulan berjalan ke arah tukang sayur, dia melihat kumpulan ibu-ibu sedang berbelanja.


“Ini tuh, yang katanya mau bantu pasang listrik ya di desa kita?” tanya seorang ibu yang sedang berbelanja di tukang sayur.


“Iya Bu.” Alka benci sekali dengan basa-basi seperti ini, dia bukan perempuan yang sibuk bergosip di pagi hari, tapi kalau untuk mendapatkan informasi kenapa tidak.


“Oh kalau begitu, terima kasih ya, semoga listriknya cepat dibangun di sini ya, biar kami bisa nyalain lampu tanpa giliran dan nonton TV sampai malam.” Ibu-ibu yang lain tampak tertawa karena mereka mendengar hal yang memalukan tapi memang mereka harapkan


“Kalau rumah Mbah Nuraeni di mana ya?” Alka bertanya.


“Oh ini Mbahnya, kenapa kok nanya Mbah? Ada yang lagi hamil?” Si ibu spontan bertanya lagi, karena dia heran Alka mencari Mbah Nuraeni.


“Nggak, cuma kan katanya Mbah Nur yang dituakan, mau minta ijin saja, kami mau bersikap sopan saja.”


“Oh begitu, ini orangnya Mbak.”


Mbah Nuraeni terlihat menatap Alka dengan tatapan curiga.


“Mbah, salam kenal saya Alka, saya dan teman-teman akan ....”


“Maaf ya, saya sudah selesai belanja, kalau mau izin ke Pak RT saja, saya bukan yang punya wewenang di sini.” Nuraeni buru-buru pergi dari sana. Dia seperti tidak suka pada Alka.


Alka tahu, dia pasti ....


Alka kembali ke rumah angker itu, semua orang sedang sibuk makan nasi goreng.


“Kak, makan dulu.” Ganding bergeser, menyediakan tempat untuk Alka.


“Ya.” Alka mengambil piring dan menyendok nasi goreng.


Sementara Aditia sedang minum kopi.


“Adit udah makan?” Alka bertanya.


“Belum, katanya mau kopi aja, nggak mau makan. Nunggu tukang roti katanya.” Ganding menjelaskan.


“Loh kok nggak mau makan Dit?” Alka bertanya.


“Mau roti Ka.” Aditia hanya menjawab singkat dan sibuk lagi dengan kopinya.


Lalu Alka meneruskan makannya, semua terlihat senang makan bersama dengan makanan yang enak. Alisha juga makan bersama.


Setelah makan mereka berkumpul.


“Kita akan apa nih Kak?” Ganding bertanya.


“Tetap pada rencana, kita bagi tim, yang lain cari kesamaan dan perbedaan anak-anak yang lahir dengan tanda lahir di wajah dan tidak, fokuskan pada anak perempuan, lalu aku dan Aditia akan ke Mbah Nuraeni, kau curiga bahwa dia ... aku pastikan dulu deh apa dugaanku benar.”


“Sebentar Kak, kalau Jarni dan Ganding, berarti aku sama Lais timnya?” Hartino bertanya tiba-tiba, Alisha terkejut, dia tidak tahu, tidak boleh terlalu terlihat ingin hal itu.

__ADS_1


“Tak apa, supaya lebih cepat, kita bagi saja tim menjadi empat, aku sendiri, Hartino sendiri, jadi bisa lebih cepat kan?” Alisha bersiasat, Alka tahu itu.


“Janganlah, kamu perempuan, nggak tahu daerah, aku juga belum tahu kemampuanmu, nanti malah ngerepotin kalau ada apa-apa, iya kalau ngerepotin kita doang nggak masalah, tapi kalau ngerepotin warga juga mah jadi nggak enak.”


Ini yang Alisha benci, dia tidak suka Hartino terlalu baik pada perempuan, insting melindunginya keluar begitu itu soal perempuan. Mungkin itu karena pengalamannya, ketika melihat ibunya ditinggalkan, jadi rasa perdulinya pada perempuan berlebihan. Tapi saat ini, Alisha suka dengan perhatian ini, perhatiannya karena melihat Alisha sebagai diri Alisha yang sebenarnya dalam wujud palsu tentunya.


Mereka berenam akhirnya menyebar dengan misi masing-masing.


Aditia dan Alka pergi ke rumah Mbah Nuraeni setelah tanya ke warga.


“Assalamualaikum.” Aditia berteriak mengucapkan salam, lalu mengetuk pintu.


Pintu dibuka, seorang perempuan keluar, wajahnya memerah, mungkin karena malu. Dia tidak pernah melihat lelaki selain dari desa ini, ada sedikit canggung dan juga kagum dengan ketampanan Aditia.


“Mbah Nuraeni ada?” tanya Aditia.


“Ada, itu ibu saya.”


“Oh baiklah, kami mau bertemu beliau.” Aditia mengutarakan maksud kedatangan mereka.


Aditia agak bingung, kalau itu anaknya Mbah Nuraeni, berarti Mbah Nuraeni tidak seperti perempuan desa lainnya, yang menikah muda, karena anaknya masih terlihat muda.


“Ada apa kalian ke sini?!” Sambutan yang tidak ramah sama sekali, Aditia dan Alka bahkan tidak dipersilahkan masuk.


“Kau melihatnya bukan?” Alka menahan Nuraeni dengan mengatakan itu.


Nuraeni yang hendak menutup pintu akhirnya terdiam.


“Untuk tujuan apa kalian sebenarnya ke sini?” Nuraeni bertanya.


“Baiklah, kalian masuk.” Nuraeni mempersilahkan dua tamunya masuk, sementara anaknya disuruh pergi dulu agar tidak mendengar apa yang hendak mereka bicarakan.


Sementara suaminya masih sibuk di ladang.


“Jadi, apa tujuan kalian ke sini sebenarnya?” Nuraeni bertanya lagi.


“Kami ke sini untuk membangun listrik,” Alka berkata.


“Lalu kenapa kau ramai sekali?”


“Itu memang benar, kami akan membangun listrik untuk desa ini, kami tidak berbohong. Tapi itu bukan tujuan utama, tujuan utama kami ke sini adalah, untuk menangkap Tinung.”


Nuraeni berdiri, dia terlihat gemetar, wajahnya terkejut.


“Kalian ini siapa? kok berani sekali mengatakan itu, sementara kami semua berhati-hati menyebutkan nama itu, karena kami takut, dia akan mengambil anak-anak kami lagi kelak.


“Kami bukan siapa-siapa, kami hanya mencoba membantu. Untuk itu, kami butuh informasi sebanyak mungkin. Karena kau yang selalu membantu semua persalinan di desa ini, aku perlu beberapa detail ketika anak bertanda lahir itu dilahirkan.”


“Kalian yakin bisa menangkapnya? Kami saja yang sudah sepuh tidak mampu.”


“Kami selalu berusaha terbaik, hasil akhir tentu terserah Tuhan.” Aditia mengatakannya agar dia tidak berharap.


“Yang penting tujuan kalian baik, itu saja, maka aku akan membantu. Maafkan reaksinya berlebihan sebelumnya, itu karena aku melihat kau membawa beberapa jin di belakangmu.” Alka memang membawa beberapa jin temannya untuk membantu di desa ini. Dia tidak menyangka bahwa Nuraeni bisa melihat mereka dengan jelas.


“Kau melihat semua bawaan kami?”


“Ya.”

__ADS_1


“Kalau begitu kau bisa melihat yang tak kasat mata?” Alka bertanya lagi.


“Ya aku bisa, tapi penduduk di sini tidak tahu, aku menyembunyikan kemampuanku dari mereka.”


“Kenapa?” Alka bingung karena seharusnya itu bisa digunakan untuk membantu.


“Karena hal mistis di sini terlalu beresiko, kau bisa saja dituduh dukun oleh mereka, hari ini kau disanjung, besok bisa saja kau dibakar. Makanya aku menghindari semua asumsi itu. Aku menghindari mereka tahu bahwa aku memiliki indera keenam.”


“Kalau begitu, apa yang kau lihat berbeda saat anak-anak dengan tanda wajah itu dilahirkan?” tanya Alka.


“Tidak ada yang berbeda. Tapi, ada satu hal yang agak janggal.” Nuraeni terlihat mengernyitkan dahi.


“Apa itu?” Alka penasaran.


“Bau darah ibunya, jauh lebih wangi dibanding bau darah orang lain. Aku mencium bau bunga tujuh rupa dan pandan saat membantu melahirkan anak-anak yang bertanda lahir di wajah itu.


“Bau itu, bukankah itu ketika ada sesuatu yang berusaha mendekat, makanya bau itu muncul?” Aditia berkata.


“Ya betul Dit, berarti anak itu memang sudah ditandai?”


“Apa?” Maksudnya anak-anak itu memang ditandai untuk diserahkan ke Tinung?” Mbah Nuraeni bertanya.


“Kemungkinan besar begitu, karena memang itu tandanya kalau wangi itu tiba-tiba tercium.”


“Kalian punya pengetahuan yang luas ya tentang kejadian ghaib.” Nuraeni mulai percaya.


“Mbah, apakah ada yang akan melahirkan dalam waktu dekat ini?” tanya Alka.


“Ada, seorang tetangga, usia kandungannya hampir mendekati waktu lahir.”


“Kalau begitu kita akan membawanya ke rumah sakit besar, bukankah tanda lahir bisa dilihat dengan USG?” Alka memastikan.


“Ya, bisa, kalau kau membawanya ke rumah sakit dengan teknologi USG yang terbaru, tapi aku belum pernah melihatnya atau mengantar orang melakukan USG itu.”


“Kita asumsikan bisa, kalau kita tahu, kelak anak ini akan lahir dengan tanda lahir atau tidak, kita bisa berjaga-jaga untuk menangkap Tinung, tapi kalau tidak, maka kami akan cari cara lain.”


“Tapi rumah sakit besar dengan alat USG yang modern terlalu jauh, kami juga tidak punya cukup uang untuk melakukan itu,” Nuraeni mengingatkan.


“Soal biaya, kami akan bantu, tapi kami minta tolong cari alasan, jangan sampai penduduk tahu kami ke sini karena Tinung, karena kami juga menghindari perselisihan. Lainnya kami akan aturkan, rumah sakit, biaya dan kendaraan, kami akan bantu.”


“Baiklah, aku akan mencari alasannya hingga dia bisa kami bawa ke rumah sakit besar, mereka akan percaya kalau aku bilang bahwa aku punya koneksi di rumah sakit, mereka akan nurut tanpa banyak tanya.”


“Baiklah, terima kasih sebelumnya Mbah.”


“Iya, tapi ingat ya, menghadapi Tinung tidak mudah, jadi kalian harus hati-hati.”


“Iya Mbah, kami akan hati-hati. Lagian, tidak ada lawan kami yang mudah, semuanya sulit dan sangat jahat. Tapi kami akan selalu berusaha dan bertawakal, karena tujuannya untuk membantu, Insyaallah akan diberi keberkahan.” Aditia berusaha meyakinkan.


“Kalau begitu terima kasih, kalian sudah mau membantu kami, kalian anak muda yang jarang, bahkan mungkin tidak ada lagi di negeri ini, sibuk menolong orang di usia yang begitu muda.”


Alka dan Aditia pamit, sementara dari kejauhan, ada seseorang yang mengintip, orang itu terlihat marah dengan kedatangan Aditia ke rumah Nuraeni, orang itu lalu bergegas meninggalkan tempat di mengintip dan kembali ke tempat tinggalnya.


Saat sampai tempat tinggalnya, orang itu lalu membakar kemenyan, membaca mantra dan perlahan terasa bau kembang tujuh rupa dan pandan mengelilingi tempat itu.


“Kau harus mengambil bayinya lebih cepat, kalau tidak, kau akan terlambat.” Perintahnya pada sosok yang datang.


Sosok itu hanya berdiam, lalu meghilang lagi.

__ADS_1


__ADS_2