
“Apa mereka menyediakan juga kotak amplop sehingga kalian merasa berhak mengambil souvenir?!” Ganding tahu, dia bukan mengambil souvenir tapi dia mencuri sesuatu yang membuatnya tertarik.
“Aku ingin lihat apa yang Bapak ambil, Nding, jangan kasar, biar bagaimanapun, Pak Beni tidak mengerti dan tidak tahu soal ini.” Aditia menenangkan Ganding.
“Baik, saya ambilkan dulu.” Beni masuk ke kamar dan keluar dengan membawa sebuah batu kecil berwarna hitam.
“Ini saya temukan saat akan masuk ke dalam gedung pernikahan itu, ada sebuah meja yang terletak di pintu masuk, batu hitam ini berkilauan, cukup banyak bertumpuk, saya tertarik dan saya rasa ini souvenir, makanya saya ambil.”
“Pak, kalau souvenir itu dibagikan, bukan diambil! Itu namanya mencuri!” Ganding makin kesal, mengambil sembarangan saja itu salah, apalagi batu mistis, karena batu mistis bisa jadi ada isinya atau malah jangan-jangan batu yang menjadi tanda pertukaran.
“Saya akan bawa batu ini supaya kami bisa teliti Pak, kami ada orang yang bisa membantu.” Aditia mengalihkan kemarahan Ganding, karena tujuan mereka datang bukan untuk menghakimi.
“Kalian punya kenalan dukun?”
“Bukan dukun hanya ....”
“Bisa nggak ya dia bantuin istri saya untuk sembuh, saya capek jaga istri saya terus, kerjaan saya juga udah nggak ada karena harus menjaga dia, kalau bukan karena ingat dulu setiap saya sakit Sasa selalu ada dan masih sangat mencintainya, sudah saya tinggal dia karena lelah sekali menjaga orang yang sakit aneh seperti ini.”
Beni mulai menunjukkan tabiat aslinya, selain suka mencuri, dia juga suka mengeluh, merawat istri tidak ikhlas, bagaimana kalau kejadiannya terbalik?
“Boleh saya lihat dulu Pak, Sasanya?” Alka bertanya.
“Boleh, silahkan, Mbaknya bisa juga nyembuhin orang?” Beni bertanya, mata genitnya ikut bermain melihat betapa cantiknya Alka, Aditia menahan untuk tidak memberi Beni pelajaran, karena dia hanya manusia hidung belang, bukan level Aditia untuk menghajarnya.
Mereka semua akhirnya masuk ke sebuah kamar, kamar yang cukup berantakan dan bau lembab, pasti karena Beni jarang membersihkannya.
Alka melihat Sasa, dia mendekatinya, bau sekali wanita ini, apakah sudah tidak dimandikan beberapa hari?
“Ini Bu Sasa tidak mandi Pak? bau sekali.” Alka kesal hingga ia akhirnya bertanya.
“Tidak perlu mandi sering-sering lah Mbak, kan dia juga takut kemana-mana, cuma di tempat tidur aja sambil mengigau dan berkata-kata aneh, jadinya mandi hanya jika dia buang air besar saja itu juga kadang dia tiba-tiba sudah mengotori tempat tidurnya dengan kotoran sendiri.” Beni cengengesan.
“Boleh saya bantu memandikan Ibu Sasa Pak? setelah itu apakah boleh kami bawa ibu Sasa ke tempat terapi langganan kami, karena di sana mungkin ibu Sasa lebih bisa dirawat dibanding di sini.” Alka sudah bertahan untuk tidak meninju Beni karena sikap tidak pedulinya katanya mencintainya.
“Tidak perlu lah, biar saya aja yang rawat, yang penting kalian transfer konpensasinya untuk merawat istri saya.”
Oh pantas dia bilang cinta istrinya dan ingin menyembuhkan istrinya, ternyata dia hanya ingin konpensasi itu, jelas terlihat sekali.
“Pak, mengenai uang sepuluh juta itu, kami akan tetap berikan bisa untuk keperluan Bapak sehari-hari selama masih mencari kerja, sementara ibu Sasa kami bawa ke tempat terapi tanpa biaya, Bapak bisa lebih fokus cari kerja dan ibu Sasa bisa fokus sembuh, nanti Bapak datang saja untuk berkunjung, atau menunggu saja sampai ibu Sasa sembuh, bagaimana?”
“Iya saya setuju! Saya tidak keberatan kalau begitu, silahkan bawa dan kembalikan jika sudah sembuh, uangnya jangan lupa transfer ya.” Beni benar-benar menunjukan wajah aslinya.
Alka lalu membersihkan tubuh Sasa bersama Jarni, saat sedang ada di kamar mandi, tiba-tiba Sasa bergumam sesuatu.
“Aku nggak mau, nggak mau.” Sasa ketakutan, tapi bukan pada dua orang yang sedang membersihkan tubuhnya.
__ADS_1
“Tidak mau apa, Bu?” Jarni bertanya, dia sedang mencuci rambut Sasa.
“Aku tidak mau, tidak mau, aku mohon, aku takut!” Sasa tiba-tiba menutup wajahnya.”
“Sebagian jiwanya di mana, Kak?” Jarni bertanya.
“Masih utuh di dalam tubuhnya, tapi tempat itu menyisakan trauma yang berat, yang dilihat adalah energi yang saling menguras, Sasa tidak cukup kuat mentalnya, orang-orang bilang ini karena sawan, tapi sepertinya sawan ini membuat jiwanya terguncang cukup dalam.”
“Aku juga tidak melihat dia ditempeli sesuatu Kak, bukankah sawan bisa jadi karena ketempelan?” Jarni bingung.
“Bisa jadi batunya berisi, jadi yang menempel itu bukan di tubuh Sasa, tapi di batu itu, kau ingat, Beni mengambil batu itu dari dalam kamar, tidak heran Sasa jadi hilang akal begini.”
Sasa kembali diam, matanya kosong, kasihan sekali wanita ini, dia bukan orang jahat, dia hanya ke tempat dan waktu yang salah.
Setelah Sasa sudah dibersihkan dan diberi pakaian yang layak, Sasa di papah ke angkot bagian belakang tempat penumpang biasana duduk, Beni bahkan tidak mengantar mereka setelah diperlihatkan bukti trasnfer dari telepon pintar Ganding, suami yang benar-benar luar biasa tidak bertanggung jawab.
Aditia dan kawan-kawan melaju ke markas lagi, mereka akan ke sana membawa Sasa, di sana Sasa akan di cek dulu keadaannya, kenapa di bisa begitu ketakutan dan mengenai batunya mereka juga harus melihat lebih dalam lagi.
Begitu sampai, Sasa dibaringkan Jarni dan Alka akan memeriksa tubuh Sasa terlebih dahulu, memastikan bahwa asumsi Alka benar tidak ada yang telewat, sementar Ganding dan Aditia akan memeriksa batunya.
“Dit, ini batu apa? Mustika?” Ganding bertanya, mereka di ruang tamu
“Aku merasakan energi di batu ini, tapi sangat lemah, untuk ukuran mustika, batu ini sepertinya kurang kuat.”
“Lalu ini batu apa, Dit?” Ganding bertanya.
“Aku bantu, aku akan telepon Hartino, mungkin aku bisa mencari dengan tekhnologi yang Hartino miliki.”
“Jangan, aku ingin dia fokus dengan istrinya dulu, Nding.”
“Tapi kan hanya telepon dan meminjam tekhnologinya Dit, tidak meminta dia ikut gabung dengan kasus.”
“Kalau kau ada di posisi Hartino, aku menelponmu meminta pinjam barang untuk penyelesaian kasus, apakah kau akan diam saja dan serta merta hanya memberikan barang yang aku pinjam tanpa risau karena tidak ada di dalam kawanan?”
Ganding terdiam, karena kalau jadi Hartino, dia pasti akan tidak tenang karena membiarkan kawanan sendirian mencari data tanpa bantuannya.
“Baiklah Dit, aku takkan menghubungi Hartino, aku hanya ingin masalah ini cepat selesai.”
“Nding, ada satu hal yang belum aku beritahu pada kalian.”
“Apalagi sih Dit?” Ganding kesal karena Aditia tiba-tiba teringat sesuatu.
“Ini soal lelaki tua itu, ketika dia memukulku, sebenarnya dia menggumamkan sesuatu, tapi aku tidak terlalu yakin apakah ini petunjuk atau malah jebakan.”
“Apa itu?” Ganding penasaran.
__ADS_1
“Dia bilang gini, ‘pernikahan adalah awal dari akhir’. Aku benar-benar lupa karena kemarin terlalu terburu-buru, pun diucapkannya saat dia memukulku untuk mengembalikan jiwa, jadinya aku baru ingat sekarang.
“Pernikahan adalah awal dari akhir? Apakah ini semacam petunjuk yang harus kita cari?” Ganding bertanya.
“Aku berpikir mungkin dia ingin kita mencaritahu tentang apa yang dia beri sebagai petunjuk, tapi itu terlalu luas.”
“Dit, aku pikir kita mencari dengan arah yang salah.” Ganding tiba-tiba terbangun, karena dia menyadari sesuatu.
“Maksudnya Nding?” Kejeniusan Ganding memang sulit dikejar, dia seperti mendapatkan sesuatu.
“Dit, selama ini kita cari tentan jin kuburan dan juga semua yang berbau kuburan, kasus kuburan, tapi kita lupa bahwa, inti masalahnya mungkin aja bukan kuburan.” Ganding berteriak.
“Lalu apa inti masalahnya?” Aditia masih bingung.
“Dit, kita berdua pakai motor saja, temui Budiman di luar gang, aku malas menembus gangnya, energi terasa habis, ada yang mau aku tanyakan pada Budiman.” Ganding tiba-tiba berjalan dan mengambil kunci motor yang mereka miliki di markas ini.
Aditia mengikuti saja karena masih tidak mengerti dengan apa yang Ganding maksudkan.
Mereka pergi tanpa pamit, Ganding sudah mengirimkan pesan pada Jarni dan Alka, mereka akan bertemu Budiman.
Budiman di depan gang, mereka sebelumnya memang bertukar nomor telepon, Aditia dan Ganding berhenti tepat di depan Budiman dengan motor sport mereka, agak aneh, dua lelaki berboncengan di motor sport, sangat terlihat unik.
“Ada apa ya? kok kalian tadi kirim pesan minta saya ke depan gang, apakah ada informasi yang kurang?” Budiman terlihat khawatir.
“Pak, boleh minta alamat atau nomor telepon dari korban yang selamat? Ada beberapa korban yang masih hidup kan, orang-orang yang menerima undangan dan Pak Budiman selamatkan esok harinya.” Ganding bertanya dengan semangat.
“Ya, benar ada beberapa yang masih selamat, ada yang saya punya teleponnya, karena dia masih sering menghubungi saya, ada juga yang saya hanya tahu daerah rumahnya, bukan alamat pasti seperti rumah Beni itu.” Budiman memberikan jawaban.
“Tak masalah Pak, minta semua alamat daerahnya ya Pak sama nomor teleponnya, kami akan cari mereka.”
“Kalian sebenarnya siapa sih?” Budiman bertanya.
“Pak, kami hanya berniat membantu, bisa dibilang kami ini orang-orang terpilih yang dipilih untuk membantu orang-orang kesulitan karena jin atau jiwa tersesat, jadi kami mohon bantu kami ya Pak.” Ganding meminta segera memberikan yang dia butuhkan.
“Pantas saya memang merasa kalian berbeda, apalagi karena kejadian kemarin, kalian berani sekali dengan penunggu kuburan ini, bahkan saya sangat ketakutan walau sehari-hari saya di sini.”
Budiman lalu memberikan berapa orang yang masih selamat setelah terjebak di zona ghaib milik lelaki tua itu.
“Nding, sebenarnya apa sih yang mau kamu kasih tahu ke aku?” Aditia bertanya sebelum mereka pergi lagi dengan motor itu.
“Nanti setelah aku pastikan, aku akan beritahu semuanya, sekarang aku belum yakin seratus persen. Ayok naik lagi ke motor.” Ganding sudah di posisi kemudi motor.
“Ok.” Aditia lalu naik motor sebagai yang dibonceng.
“Dit, bisa nggak usah pegangan pinggang sambil meluk gini nggak? kita bonceng berduaan aja udah aneh, terus kamu pake meluk pinggang, jijik tau!” Ganding protes, karena sedari tadi Aditia tanpa canggung memeluk pinggang Ganding.
__ADS_1
“Nggak mau, aku takut jatuh.” Aditia malah berlagak feminim, Ganding terlihat seperti ingin muntah, Aditia malah semakin memeluk Ganding dengan erat di pinggang.
Mereka berdua lalu melanjutkan perjalanan ke tempat orang-orang yang sebelumnya masih selamat seperti Beni dan Sasa.