Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 163 : Aditia 23


__ADS_3

“Apa kau begitu ingin mengantarnya kembali ke orang tuanya?” Aki Dadan Bartanya.


“Tentu saja, orang tuanya pasti sudah menunggu kepulangannya.” Aditia terlihat bersemangat.


“Baiklah, mari aku antar, walau ini sudah sangat malam, tapi aku yakin, kau dan orang tuanya sangat ingin anak ini pulang.”


Aki Dadan bertanya pada anak itu dimana rumahnya, ternyata memang masih di desa itu.


Aki Dadan dan Aditia mengantarnya pulang.


Tidak lama mereka sampai di rumahnya.


Sebenarnya ini sudah sangat malam, tapi mereka berdua yakin, kedatangan ini adalah yang ditunggu-tunggu.


Aki Dadan mengetuk rumah orang tua anak itu.


“Assalamualaikum.” Aki Dadan mengucapkan salam.


“Waalaikum salam.” Jawaban dari dalam terdengar, suara perempuan.


“Bu, saya Dadan, saya dari tempat pelatihan silat, boleh kami berbicara?” Aki Dadan berkata.


“Ada apa ya? semalam ini?” Ibu itu masih tidak mengizinkan mereka masuk.


“Apakah kami bisa bicara dengani bu dan suami ibu?” Aki Dadan meminta berbicara dengan ayahnya anak itu juga.


“Tidak bisa, mungkin bicara hanya dengan saya saja. Ada apa ya?”


“Ini tentang anak perempuan ibu.” Aditia menarik anak perempuan itu agar ibunya bisa melihat.


Ibu itu tersenyum dan mempersilahkan mereka masuk.


“Jadi bagaimana ceritanya?”


Anak perempuan itu duduk di samping ibunya.


“Apakah anak ibu pernah bermain di hutan dekat tempat pelatihan?” Aki Dadan berkata.


“Tidak, itu jauh sekali, anakku tidak pernah ke hutan itu.”


“Jadi bagaimana ceritanya dia menghilang?” Aki Dadan kembali bertanya.


“Waktu itu, selepas magrib saya mencarinya, karena tumben sekali, kami sudah mewanti-wanti anak perempuan kami untuk pulang ke rumah sebelum magrib. Tapi hari itu entah kenapa sampai lewat magrib dia belum juga pulang.


Maka aku mencari di sekitaran rumah kami dan juga bertanya pada teman-temannya.


Berdasarkan informasi temannya, mereka bermain di lapangan dekat sini, lalu berhenti bermain dan pulang masing-masing. Memang saat itu mendekati waktu magrib, semua anak sampai rumahnya kecuali anakku.” Wanita yang kehilangan anaknya itu menangis, sementara anak perempuannya itu memeluk ibunya. Setelah air matanya sudah diseka, ibu itu melanjutkan ceritanya.


“Aku tidak berhenti mencarinya bahkan sampai ke desa sebelah dan pulang sangat larut malam tapi tidak juga menemukannya. Suamiku sudah di rumah ketika aku pulang, saat tahu anak kami hilang, dia bergegas melapor ke Pak RT, dia dan beberapa warga memutuskan mencari anak kami.


Bahkan ke hutan itu juga, tapi nihil.

__ADS_1


Pencarian kami tidak berhenti sampai di situ, kami terus mencari, hari demi hari, minggu demi minggu, buln demi bulan dan ... tahun demi tahun.” Ibu itu menangis lagi, sangat sakit dadanya jika mengingat betapa dia tidak pernah berhenti mencari.


“Maaf, bertahun-tahun?” Aditia bingung, karena ini aneh, kalau mencari bertahun-tahun, lalu apakah anak itu hilang saat masih sangat kecil?


“Ya, sudah dua puluh tahun lebih kami mencarinya.”


Aditia lemas mendengar itu, anak perempuan itu berwajah teduh, menatap Aditia dengan senyum.


“Su-sudah dua puluh tahun?”


“Iya, suamiku tidak pernah seharipun tidak mencarinya selama dua puluh tahun terakhir, tapi ... tepat sebulan yang lalu, dia akhirnya meninggal dunia.”


“Ayahnya meninggal dunia?” Aditia bertanya lagi.


“Iya, kelelahan, dia bekerja pagi hari dan mencair anaknya pada sore saat pulang hingga dini hari, dia mencari ke segala tempat. Tempat penjualan anak, tempat penjualan organ tubuh anak, tempat ... prostitusi anak. Semua tempat yang mungkin untuk anak-anak yang hilang, termasuk panti asuhan. Tapi nihil!


Tak ada satupun tempat itu yang menyimpan jejak anak kami.


Rata-rata anak-anak itu mirip saja, kebanyakan informasi yang kami dapat, adalah informasi yang salah.


Uang, tenaga dan mental kami porak-poranda. Suamiku tidak pernah menyerah walau sangat kelelahan. Akhirnya Tuhan membuat suamiku berhenti mencari anak kami dengan memanggilnya pulang kembali kepada-NYA.” Ibunya berusaha terlihat tegar.


Kalau anak itu sudah dua puluh tahun lebih di cari, berarti kalau dia masih hidup, umurnya lebih tua dari Aditia. Aditia menatapnya lagi, anak itu sedang memeluk ibunya dengan sangat erat. Sebuah pelukan kerinduan dan pelukan bahagia.


“Kami menemukannya, Bu,”Aditia berkata.


“Apakah benar anakku?”


“La ... lalu mana dia, mana anakku? Aku ingin melihatnya.” Ibunya mulai histeris, karena dia sangat ingin bertemu dengan anaknya sudah dua puluh tahun dia bertahan hidup, hanya karena percaya dan yakin bahwa anaknya akan pulang kelak, kalau dia tidak bertahan hidup takut ketika anaknya pulang, dia kecewa karena orang tuanya tidak berjuang untuk bertahan hidup.


“Dia ada tepat di sampingmu Bu.” Aditia berkata.


“Di-di sampingku?” Ibunya bingung, karena dia tidak melihat apapun hanya dirinya saja di sana, tidak ada anaknya.


Kalau diingat-ingat. Ibunya anak ini begitu diperlihatkan anaknya yang hilang tadi, sepertinya memang tidak melihat anaknya, dia menyuruh Aditia dan Aki Dadan masuk bukan karena melihat anaknya yang dibawa mereka, tapi karena mendengar mereka mengungkit anaknya yang hilang.


Lalu sejak tadi, hanya anak itu yang ternyata merupakan jiwa saja yang memeluk ibunya, sementara ibunya ternyata tidak melihatnya.


“Ya, dia tepat di sampingmu sedang memelukmu.”


“Kamu jangan bicara sembarangan! Kamu jangan mempermainkan seorang ibu! Aku mohon, jika kau punya informasi tentang  anakku, tunjukkan, aku sudah tidak ada uang, tapi aku masih punya ruma hini, aku akan memberikan sertifikat rumah ini jika memang benar kau tahu keberadaan anakku.”


“Bu, apakah ketika dia hilang, dia memakai baju terusan berwarna putih panjang? lalu dia memakai kalung yang bermata batu putih?”


Ibunya lemas, benar sekali, hanya dia yang tahu kalau anaknya memakai kalung itu. Informasi ini dia sembunyikan sengaja untuk membuktikan jika ada yang hendak memberi informasi pasti tahu tentnag kalung ini.


Hanya Aditia yang bisa menyebutkan dengan detail soal kalung itu.


“Benar, itu adalah hadiah ulang tahun dari ayahnya.”


“Dia memang benar di sampingmu Bu, dia sedang memelukmu, apakah kau tidak merasakan udara menjadi sangat dingin sekarang?” Aditia berkata dengan sopan.

__ADS_1


“Ya, memang terasa dingin.” Ibu itu menangis.


“Dia pasti rindu sekali padamu Bu.”


“Lalu kenapa aku tidak bisa melihatnya!” Ibu itu histeris lagi.


“Karena ... tubuhnya sudah terlalu terjebak dalam desa ghaib itu, jadi sudah pasti dia tidak akan bisa bertahan. Selama ini yang aku lihat hanya jiwanya yang meminta tolong.”


“Jiwanya? Desa ghaib?” Ibunya bingung.


“Ya, aku juga tersesat di sana, baru beberapa hari, tapi ternyata aku sudah hilang dua minggu, waktu berjalan lambat di sana.”


“Jadi anakku diculik demit!” Ibunya sangat marah.


“Bisa kamu ceritakan padaku kenapa kau bisa masuk ke desa itu De?” Aditia meminta anak itu menjelaskan, anak itu menatap Aditia dan mulai bercerita.


20 tahun yang lalu


“Kita udahan mainnya, udah mau magrib, nanti dicariin mama, bisa digebukin kita.” Seorang anak berceloteh, dia meminta semua temannya untuk berhenti bermain.


Semua anak akhirnya pulang, termasuk anak perempuan itu, tapi karena rumahnya paling jauh di antara yang lain, maka saat tepat magrib dia masih di jalan.


Anak perempuan itu mempercepat langkahnya karena takut, tidak ada orang di luar, semua sibuk menutup pintu dan bersiap solat.


Saat anak itu hendak berlari, dia melihat seorang perempuan berdiri dihadapannya.


“Mau aku antar pulang?” Tawar perempuan itu.


“Iya, terima kasih.” Anak itu tanpa curiga, akhirnya setuju diantar pulang.


Mereka berjalan berdua, anak itu tidak sadar, mereka telah berjalan sangat lama hingga masuk ke hutan.


“Kenapa kita ke sini?” Tanya anak itu.


“Pulang, kita akan pulang.”


“Tapi rumahku bukan di sini.”


“Tidak, mulai sekarang rumahmu di sini, panggil aku Yahnaweja, kau akan tinggal bersamaku menjadi budakku mulai saat ini dan selamanya.” Yahnaweja menariknya masuk ke desa itu.


Masuk ke desa penuh dengan jiwa tumbal, membuat anak perempuan kecil itu perlahan mulai lupa tentang jatidirinya, karena dia makan dan minum dari apa yang dihidangkan oleh Yahnaweja.


Sekali kau makan yang diberikan oleh Yahnaweja dan menyebutkan namamu di depannya, maka kau akan dibuat lupa tentang jati dirimu yang sebenarnya.


Aditia tidak bisa dibuat lupa sepenuhnya, karena anak perempuan itu berusaha menyelamatkannya, dia tidak ingat orang tuanya, tapi dia tahu kalau Aditia bukan penduduk desa itu dan Yahnaweja adalah jia yang jahat.


Makanya Aditia diajak minum di sungai dan makan di kebun, karena walau itu adalah dunia ghaib tapi kalau hasil alam adalah milik Tuhan, kau mungkin lupa tapi tidak keseluruhan seperti anak perempuan itu.


Makanya Aditia masih ingat orang tuanya dan tahu dia bukan warga di situ.


Aditia berpikir pantas Yahnaweja selalu bertanya siapa nama Aditia dan beruntungnya Aditia selalu tidak memberitahu namanya karena situasi dan kondisi.

__ADS_1


__ADS_2