
"Margayu adalah jin penjaga Eyang Putri Mahrim Salimah. Kami memanggilnya Eyang Imah. Beliau seorang Raden Ayu yang sangat cantik dan berbudi pekerti baik.
Semua Raden Ayu akan mendapatkan penjaga pada waktunya. Termasuk Eyang Imah. Tapi ada yang berbeda dari Margayu, dia seorang jin lelaki yang sangat berlebihan dalam menjaga eyang.
Eyang setelah mendapatkan penjaga menjadi seorang wanita yang sangat tertutup pada dunia luar, dia tidak suka bergaul dan sangat sombong.
Tubuhnya kuat, otaknya pintar dan isi kepalanya sungguh luar biasa.
Walau berbudi pekerti baik, tapi menjadi begitu begitu sombong jika berhubungan dengan pria yang hendak meminangnya.
Seorang Kiai datang memberitahu soal itu ketika orang tua eyang memanggilnya untuk melihat keadaan putrinya yang semakin menolak menikah.
Mereka mulai khawatir dengan keadaan Eyang yang memusuhi semua lelaki yang hendak meminangnya.
Begitu mengetahui bahwa ini semua karena ulah Margayu yang memiliki penyakit Lanjo ....”
Alka batuk mendengarnya. Aditia terlihat sangat penasaran, ini bahaya. Tapi Alka tidak menginterupsi pembicaraan lelaki ini, dia hanya perlu menyiapkan banyak alasan kelak, jika Aditia curiga.
“Apa itu Lanjo?” Aditia bertanya.
Ganding hendak melarang pria itu menjelaskan, tapi Alka menahan Ganding, sikapnya akan membuat Aditia melangkah pada kecurigaan. Alka meminta Ganding diam saja.
“Lanjo adalah penyaki khodam yang membuatnya cinta mati pada tuannya, tidak akan membairkan tuannya mencintai atau menikah dengan orang lain, hal ini terjadi pada Margayu jin pria dan Eyang Imah seorang wanita ningrat.”
“Menarik, lalu apakah Eyang Imah tidak menikah setelahnya?” Aditia bertanya.
“Tentu saja menikah, beliau adalah ibu dari Pak Suteja.”
“Lalu apa yang terjadi dengan Margayu?” Aditia semakin penasaran.
“Dia mengizinkan Eyang Imah menikah dengan satu syarat.”
“Apa itu?” Alka kali ini yang bertanya.
“Dia tidak akan diusir dari menjaga Eyang Imah, dia akan tetap berada di dekat Eyang Imah dan jika kelak Eyang tiada, maka dia harus tetap di tempatnya, yaitu di dalam keris yang dipajang di dinding tepat di dalam kamar Eyang Imah, dia tidak mau dipindahkan, karena dia ingin tetap berada di kamar kekasihnya.”
Semua orang terdiam, ada rasa sakit yang mereka rasakan, berbeda alam, saling mencintai mungkin, karena Eyang Imah menerima Lanjo Margayu dan menjadi menjaga dirinya dari pria lain.
“Apakah Ramdan mencuri keris itu?” Ganding bertanya.
“Tidak, dia memintanya, ini yang Tuan Suteja tidak percayai, dia sangat anti dengan semua benda klenik keluarganya, karena kesultanan mulai ditinggalkan, makanya tuan Suteja tidak mengikuti ritual turunnya penjagaan. Dia sekolah di luar negeri dengan begitu banyak modernisasi yang terjadi, dia tidak percaya tentang hal ghaib, mungkin tentang Tuhan pun, dia tidak percaya.
Makanya ketika Eyang Imah meninggal, disusul ayahnya meninggal, dia segera ingin merenovasi rumah ini menjadi lebih modern, termasuk kamar itu, kamar ibunya, kamar di mana Eyang Imah tidur sendirian, ada waktu-waktu tertentu Eyang Imah tidak tidur bersama suaminya, itu syarat yang Eyang Imah berikan pada suaminya, dia beralasan bahwa itu bagian ritual yang harus dia jaga. Tapi kami semua tahu, bahwa itu adalah caranya memadu kasih dengan Margayu.”
“Jadi Ramdan meminta keris itu, diberikan dengan mudah oleh Suteja, padahal di sini begitu banyak benda klenik. Sungguh keterlaluan.” Hartino kesal karena itu membuat mereka harus menangani kasus ini.
__ADS_1
“Ya, saya sudah peringatkan berkali-kali, karena saya dan keluarga saya melayani keluarga Suteja dari nenek moyangnya, kami turun temurun adalah abdi dalem yang menjaga adat, tapi terputus di Tuan Suteja dan anak-anaknya, kami sekarang tetap bertahan menjadi pembantu dari Tuan Suteja karena satu hal, janji yang harus kami tepati sejak dulu. Melayani keluarga ningrat ini.”
“Pantas Margayu marah luar biasa, dia telah kehilangan kekasih manusianya, merelakan kekasih manusianya untuk menikah, lalu setelah kepergian kekasihnya, dia masih dilarang untuk menikmati kenangan mereka bersama.” Ganding kesal, dia tahu bahwa umur jin itu jauh lebih lama dibanding manusia, jadi pasti selama ini Margayu menanti kematian dan tidak ingin turun ke anak dari kekasihnya karena ingin segera bertemu Tuhan. Tiba-tiba dia diusik oleh Ramdan yang secara tidak sengaja berada di waktu dan tempat yang salah, mengambil keris itu.
“Ramdan akan selamat jika keris itu kembali dan kamar itu tidak direnovasi, tapi sulit memberitahu Tuan Suteja tentang semua ini.”
“Biarkan kami masuk ke kamar itu, bukankah katamu Margayu telah kembali?” Alka meminta izin.
“Silahkan, tapi jangan buat keributan di sini ya.” Lelaki itu meminta syarat.
“Tidak bisa janji, karena tugas kami adalah menyelesaikan kasus.” Alka berjalan dengan langkah yang panjang untuk ke kamar itu, dia tidak butuh navigasi karena bisa merasakan di mana Margayu.
“Aku ingin masuk sendirian, aku perlu bicara dengannya, sebagai sesama jin aku tahu apa yang dia rasakan, jadi kalian semua tunggu di luar.” Ganding mengerti apa maksud kakaknya.
“Iya Kak, kami akan tunggu di sini.”
“Eh nggak Nding! Kalau alka kenapa-kenapa gimana?” Aditia tidak menerima apa yang diperintahkan Alka.
“Dit, aku hanya akan bicara, jadi tunggu di sini.”
Ganding memberi lirikan pada Hartino, maksudnya bantu mereka untuk membujuk Aditia.
“Dit, kita tunggu di sini aja ya, kakak tahu apa yang dia lakukan, ingat, Ramdan tidak punya waktu banyak, kakak akan bujuk Margayu dengan perlahan, karena kalau kita masuk bersamaan, dia akan merasa di keroyok, ingat kalian mental kan? dia merasa kalian ancaman, tapi kalau kakak yang masuk, mungkin dia tidak akan merasa kita ancaman.”
“Dit, aku mohon.” Alka menggunakan cara terakhir, dia tahu jika dia menggunakan kata-kata lembut, Aditia akan memenuhi permintaannya.
“Ya baiklah, tapi kalau kau merasa dia mulai akan menyerang, kau harus segera keluar, ingat itu.” Aditia kesal tapi mau tidak mau harus memenuhi perintah itu.
Alka masuk dan menutup pintunya, setelah masuk, dia lalu memasang pagar ghaib, dia tidak ingin suara mereka terdengar, di dalam telah duduk mengambang dengan posisi bersila seorang jin yang bernama Margayu, dia berpakaian selayaknya orang-orang keraton.
“Saba Alkamah, anak jin dan manusia, berwujud jin dan juga manusia, menjadi Karuhun magang dan terkena Lanjo, sungguh malang nasibmu.”
“Jadi ini yang katakan kita sama?” Alka tertawa mendengarnya.
“Setidaknya kekasihku bersamaku untuk waktu yang cukup. Sedang kau? menjadi istrinya tidak bisa karena wujud jinmu dan menjadi penjaganya juga tak mungkin, karena masa magangmu menjadi Karuhun telah selesai.” Margayu membalas.
“Kembalikan Ramdan, dia akan mati kalau kau tawan terlalu lama.” Alka tidak ingin perang mulut.
“Anak muda jaman sekarang, terlalu banyak memuja tekhnologi, hingga tak menghargai adat dan budaya, seenaknya mencabut benda keramat dan mengobrak-abrik kamar ini.”
“Kau tahu kan, kalau kami menyerangmu kau akan kalah, menyerahkah, kembalikan Ramdan.”
“Tidak akan, sebelum kalian berjanji, kalau kamar ini takkan dihancurkan, serta kerisnya akan tetap berada di tempat yang sama.” Margayu merajuk seperti anak kecil, untuk ukuran jin, dia terlalu manja.
“Tidak bisa, kau tahu kan, prinsip kami yang diajarkan bapak adalah, tidak memberikan apa yang jin inginkan, mungkin adatmu berbeda dengan kami pejuang Pasundan, jadi kami takkan memberikan apa yang kamu mau.” Alka tidak mau menuruti keinginan Margayu.
__ADS_1
“Kalau begitu Ramdan takkan aku lepaskan.”
“Cuma masalah waktu dia akan kami temukan.” Alka menantang.
“Kau tak ingin sepertiku? Aku bisa membantumu memiliki tuanmu, kau pasti sudah dengar cerita tentang bagaimana aku bisa membuat tuanku bertekuk lutut padaku, bahkan mengkhianati suaminya dengan jin sepertiku.” Margayu tahu melawan akan kalah, dia memakai kelemahan Alka. Sesama penderita Lanjo memiliki wangi yang mirip.
“Diam kau!” Alka bersiap untuk menyerang.
“Aku memberinya mantra, mantra pengikat aura. Dia akan bertekuk lutut padamu, kalian bisa menikah, kau bisa mempertahankan wujud manusiamu di depan keluarganya, kalian akan bahagia dna punya anak yang lucu kelak. Kau lebih beruntung dari pada aku, mau kuberitahu mantranya? Hanya aku yang memiliki mantra ini.” Margayu masih membujuk.
Alka terdiam, bukannya dia tidak goyah, memiliki tuannya secara utuh adalah apa yang dia inginkan, karena begitu Lanjonya sembuh sempurna, kemungkinan Aditia tidak mencintainya lagi sangat besar.
Ini yang Pak Mulyana pernah katakan, bahwa kalau Aditia kelak memikiki perasaan yang sama dengan Alka, bisa jadi itu karena Aditia memiliki ikatan batin dengan Karuhun sementaranya, makanya perasaan itu tidak bisa di percaya sepenuhnya, baik itu perasaan Aditia dan Alka, jika bagi Alka cinta itu sirna setelah Lanjonya sembuh, maka mereka berdua akan sakit, terikat dalam cinta palsu yang semu.
...
“Gimana Kak?” Ganding bertanya, Alka sudah keluar dari kamar itu, dia menutup kembali kamarnya.
“Kita kembali setelah beberapa hari.” Alka berjalan meninggalkan kawanan, mereka bingung.
Kak, kok kita nggak ambil tindakan.
Ganding bertanya setelah mereka berada di mobil angkot Aditia, Aditia fokus menyetir dan juga menguping.
“Ada beberapa hal yang harus kita siapkan.” Alka menjawab.
“Apa yang terjadi di dalam, Ka?” Aditia tidak sabar, dia ingin tahu yang terjadi.
“Hanya obrolan yang tak ada titik temu, dia tidak mau melepas Ramdan.”
“Lalu kau biarkan saja?” Aditia bertanya dengan kesal.
“Kalau aku serang dia, Ramdan bagaimana? menemukan Ramdan tidak akan mudah.” Alka beralasan.
“Trus sekarang kita menyerah mengikuti mau dia?” Aditia tiba-tiba mengerem angkot dan berbicara cukup keras.
“Tidak, kita cari jalan keluar lain.”
“Ka, kita tidak punya waktu banyak.” Aditia semakin kesal dengan sikap Alka.
“Aku tahu brengsek! Menyetir kembali ke gua, sekarang!” Alka terlihat marah pada tatapan kasar Aditia, bahkan matanya berubah menjadi merah, Ganding membujuk Aditia mengikuti mau Alka.
Ganding tahu, ada perjanjian yang Margayu tawarkan, yang dia takutkan adalah, kakaknya menerima perjanjian itu. Mereka berdua memiliki Lanjo sebagai penghubung, Ganding mulai khawatir. Takut kakaknya terbujuk.
Sedang bagi Aditia yang seorang Kharisma Jagat, mengikuti mau jin adalah haram.
__ADS_1