
Mereka berdua akhirnya sampai kampus juga, di sana Aep sudah menunggu di kantin.
“Ibu marah tidak aku menginap?”
“Tidak, kan dia sudah tahu, kau ....” Aep terdiam.
“Dia sudah tahu kok kalau aku bisa melihat mereka yang tak terlihat.” Mulyana menjelaskan apda kakakknya kalau Dirga sudah tahu, dirinya memang berbeda. Aep sempat keceplosan.
“Oh, kau tidak takut pada adikku?” Aep bertanya.
“Aku hanya takut pada apa yang dia ceritaka, tai jujur, itu ... seru!”
“Hah? kau sama gilanya dengan dia, pantas saja kalian cocok.” Aep saja enggan mengurus masalah ini, hingga dia jarang sekali ikut penjemputan ruh dan tidak mau lagi ikur campur dengan masalah ghaib adiknya, ini si Dirga malah senang dengan apa yang dilakukan oleh adiknya dan bilang itu seru. Sungguh dua orang yang aneh.
“Nanti malam aku menginap lagi ya di rumah Dirga,” ujar Mulyana.
“Kok? Emang ada apa di sana?” Aep langsung bisa menebak.
“Memang harus ada apa hingga menginap di rumahku itu sesuatu yang aneh?” Dirga tak paham.
“Saat aku datang ke rumahmu, aku melihat seorang kakek-kakek sedang duduk di bangku ruang tamumu, aku tahu, dia bukan manusia dan aku tahu, tak ada yang bisa melihat dia selain aku.
Saat kau sudah tidur aku berinteraksi dengannya di dapurmu, dia tak mau memberitahu siapa namanya, dia membuatku penasaran.”
“Yan! kau membuat rumahku jadi terasa angker sekaran!” Dirga kesal, dia memang penakut.
“Yan, bukankah wajar di setiap rumah ada penunggunya? Mungkin itu hanya jin yang sudah tinggal di sana sejak lama, jangan mengusik yang bukan tugasmu, kau harus hemat tenaga, bukankah tugasmu sudah banyak?”
“Hah? kau juga ada tugas di dunia ghaib itu? maksudku, seperti pekerjaan?” Dirga tidak paham dengan pembicaran Aep dan adiknya makanya dia bertanya.
“Ya, semacam itulah.”
“Kau dapat uang tidak dengan hal itu?” Dirga bertanya hal yang sebenarnya tidak sopan.
“Keluargaku kaca dari warisan turun temurun, bukan dari mengambil keuntungan seperti ini.” Mulyana agak kesal.
“Sorry Yan, gue cuma penasaran aja, kan banyak tuh sekarang, orang yang katanya mampu melihat hal ghaib, nyembuhin orang trus pakai tarif.”
“itu mah dukun!” Aep dan Mulyana menjawab serempak.
“Oh, lu bukan ya?” Dengan polos Dirga bertanya.
“Bukanlah, gue bukan dukun.”
“Trus apa? praktisi ghaib?” Dirga menjadi tak memiliki batasan karena sudah merasa dekat.
“Sama aja am dukun itu mah, gua dan keluarga gue, disebut ... Kharisma Jagat, kami membantu masalah ghaib, karena kami memang orang yang dipilih Tuhan mengemban tugas itu, kami tahu karena kami memiliki banyak kemampuan supranatural yang harus kami manfaatkan untuk membantu sesama.
Tapi keuntungannya, kami tak perlu khawatir dengan masalah keuangan, karena kami terlahir kaya.” Mulana sombong, dia merasa dirinya Sultan Pasundan.
“Oh gitu, keren ya kalian.”
“Gue enggak kok, gue bukan orang yang seperti itu, gue berbeda.” Aep menolak untuk menjadi bagian yang diceritakan oleh Mulyana.
__ADS_1
“Kok bisa elu beda? Oh ini yang Mulyana bilang ya, kalau kita bisa milih nasib kita sendiri, kayak lu yang nggak mau ikut mengurusi hal ghaib, karena lu nggak suka, gitu kan?” Dirga ingat itu, pertanyaan yang tadi dia tanya, dia jawab sendiri.
“Ya, begitulah kurang lebih,” Aep setuju, “lanjutkan, Yan?” Aep meminta dijelaskan lagi, karena adiknya tidak mungkin penasaran kalau bukan soal ghaib.
“Ya, aku merasa energinay negatif, kau tahu kan, kalau jin yang memang tak punya niat, biasanya memiliki energi yang netral, tapi energinya sangat hitam, aku tidak suka dia berada di rumah Dirga. Tapi kita tak bisa mengusirnya begitu saja.”
“Kenapa?”
“Kita harus tahu dulu namanya, lalu tahu tujuannya, walau aku curiga, ini pasti ada hubungannya dengan keharmonisan rumah tangga ibu dan ayahmu, karena saat aku melihat ibu dan ayahmu tadi pagi, ada energi gelap yang masih tersisa dari kepala mereka, energi itu mirip sekali dengan energi yang kakek itu keluarkan.
Makanya aku pikir dia menjadi dalang dari tidak harmonisnya hubungan ibu dan ayahmu.”
“Oh, Mulyana, kau baik sekali, aku juga merasa hubungan mereka tidak lazim, aku juga pernah mendengar kalau mereka katanya akan bercerai, gagasan seperti itu hampir selalu aku dengar, beruntung belum terjadi, kau sudah datang.”
“Tapi Ga, jangan pernah berharap terlalu berlebihan ya, aku hanya bisa membantu, tapi belum tentu aku benar dan berhasil.”
“Aku hargai keinginanmu untuk menolong dan aku juga sangat berterima kasih.” Dirga senang sekali, ada orang luar yang bisa dia jadikan sahabat, karena hatinya baik dan tulus, Dirga bisa merasakan itu.
Kelas dimulai, kakak, adik dan Dirga sudah mulai lagi untuk mata kuliah hingga waktu pulang tiba.
Dirga dan Mulyana pulang langsung ke rumah Dirga, karena tidak ada pelatihan hari ini, begitu masuk Mulyana melihat ibunya Dirga sedang tertidur di sofanya, televisi yang mereka punya menyala tanpa dimatikan, sepertinya, ibunya Dirga terlelap saat menonton televisi.
Begitu masuk, Mulyana melihat lelaki tua itu sedang membisiki ibunya Dirga, tepat saat Mulyana masuk, dia langsung menghilang, Mulyana sempat berteriak untuk mengagetkannya dan berhenti berbisik pada telinga ibuny Dirga. Itu tidak membuat ibunya Dirga terbangun.
“Ada apa?” Dirga berbisik, karena takut ibunya bangun sambil menarik tangan Mulyana agar ikut ke kamar.
“Ada apa tadi? Untung ibuku tidak bangun.” Dirga bertanya.
“Brengsek, sudah pasti dia yang menyebabkan rumah tangga orang tuaku berantakan.”
“Bisa jadi, tapi dia kabur, sepertinya kita salah langkah, dia kemungkinan tak mampu mencium energiku, sepertinya kecurigaanku benar, walau dia waspada, tapi kebiasannya menghasut orang tuamu pasti membuatnya tak mudah pergi dari sini, maka yang benar adalah, serangan sembunyi-sembunyi, tapi sebelum itu, aku tetap harus kembali ke persimpangan perempuan yang duduk besujud di sana itu, nanti malam aku keluar ya.”
“Ikut!” Dirga tidak mau melewatkan kesempatan ini.
“Nggak usah, nanti takut lagi, udah aku sendiri aja.”
“Nggak apa-apa, aku ikut, walau takut, aku penasaran.”
“Kau ini, Ga! Yasudah, tapi kita pakai motor saja ya, aku sudah minta Aep antar motor milik ayahku nanti malam, agak susah meminta izin ibuku untuk memakai motor atau mobil, ibuku itu terlalu protektif, dia melarang kami naik kendaraan sendiri, padahal umur kami sudah segini.”
“Ibumu sangat menyayangi kalian pasti.”
“Ya sama lah sama ibu lain.”
“Ibuku tidak, dia agak cuek padaku, dia selalu inginnya tidur dan mengerjakan pekerjaan tak penting, kayak melamun dan makan berlebihan, tapi makannya beli, katanya ibuku agar stress ketika usaha ayahku menurun, tapi aku rasa bukan itu alasannya, seingatku, ibu bukan dari orang kaya, jadi kalau sekarang pendapatan kami tidak sebesar dulu, seharusnya tak mempengaruhi ibuku.”
“Ya, aku akan pastikan mendapat informasi tentang kakek itu, tapi malam ini aku harus mendapat informasi tentang perempuan itu, ngomong-ngomong soal makhluk halus, sebenarnya di rumahku banyak, tapi ibuku biasanya tak pernah berinteraksi, ibuku tidak bisa melihat mereka karena ayahku mengunci mereka pada suatu tempat ghaib di rumah kami.”
“Tempat ghaib?”
“Iya, gudang ghaib yang tidak bisa kau lihat pintunya, tapi kami yang memiliki ilmu mata batin yang tinggi, bisa melihatnya, tentu atas seizin ayahku.” Mulyana menjelaskan, kelak Mulyana bahkan membuat markas ghaib untuk menyembunyikan berkas dan menjadi tempat rapat ghaib bagi para sekutunya.
“Wah makin menarik keluargamu, aku jadi penasaran.” Kau mau kapan-kapan melihat isi gudang ghaib itu?” Mulyana menawarkan.
__ADS_1
“Hmmm, nantilah kalau memang perlu, tapi nanti malam aku ikut ya.”
Mulyana tertawa, aslinya Dirga ini memang penakut, tapi entah apa yang membuatnya tetap ingin ikut malam ini, mungkin benar dia hanya penasaran.
Malam tiba, orang tua Dirga sudah tidur, mereka berdua mengendap keluar, saat keluar, ada Aep di ujung gang membawa motor.
“Nih, aku menyelinap, ayah sih tahu, dia bilang padamu, hati-hati. Tapi ibu tak tahu, tapi Yan ....”
“Kenapa Ep?” Mulyana bertanya setelah mengambil kunci dan motornya.
“Aku pulang gimana? kan motornya kalian yang bawa?” Aep bingung.
“Naik taksi saja gih.” Mulyana memberi ide.
“Mahal, uangku tak cukup.”
“Nih.”Mulyana memberi beberapa lembar uang pada kakaknya, Mulyana memang lebih punya banyak uang, karena setiap kali dia berhasil menjemput jiwa yang tersesat, ayahnya sering memberi hadiah, sebagai penyemangat katanya. Mesti Mulyana tak terlalu mengharap, karena dia berkecukupan, tapi dia terima dan dia tabung.
“Adikku yang sangat cerdas dan tampan, terima kasih.” Aep lalu bersiap untuk mencari taksi agar bisa pulang.
“Kakakmu matre.”
“Kenapa memang? Uangku juga uang dia, kalau dia butuh masa aku tak berikan?”
“Oh, pantas kakaknya matre, orang adiknya royal.”
“Apa salahnya adik royal ke kakak? biarkan saja, yuk.” Mulyana meminta Dirga untuk naik ke motor, Mulyana yang akan mengendarai.
15 menit mereka berkendara, akhirnya sampai juga di persimpangan itu.
“Kosong, nggak ada wanita itu.” Mulyana berkata pada Aep, mereka bersembunyi di tempat yang cukup bagus.
“Kosong? Beneran nggak ada apa-apa?” Dirga bertanya.
“Ya, nggak ada apa-apa yang aku lihat.” Mulyana terus mengamati sembari menjelaskan.
“Mungkin belum, kemarin kita ke sini sudah larus sekali kan? apakah wanita itu selalu datang pada jam yang sama?” Dirga teringat itu.
“Oh, kau mungkin benar, berarti kita hanya perlu menunggu beberapa saat lagi ya.”
Mereka pun menunggu, tepat seperti yang Dirga bilang, saat waktunya tiba, wanita itu datang sendirian, dia mendekati persimpangan, lalu di tengah persimpangan wanita itu bersujud, lalu banyak jiwa yang datang dengan berbagai wajah mengerikan.
“Sudah dimulai, mereka sudah memulai entah apa, ritual? Atau hanya rapat bidang ghaib.” Mendengar Mulyana berkata begitu, Dirga menahan mulutnya agar tak tertawa.
“Kau tunggu sini ya, ada yang harus aku urus, kau hanya lihat dari sini, apapun yang terjadi, ingat itu ya!” Mulyana memperingatkan.
“Aku akan patuh, aku takkan ikut campur.”
Mulyana mendekati perempuan itu, dia sedang melafal mantra, Mulyana berusaha meraih bahunya, tapi sayang, dia malah mental. “
“Kau kenapa?” Dirga bertanya.
“Sungguh mengerikan!” Mulyana hanya berkata begitu.
__ADS_1