
Regu Damkar dan Polisi sudah datang, mereka bertemu dengan Winda dan yang lain.
"Kalian kenapa di sini?" Salah seorang regu bertanya.
"Kami tunggu Pak Parman, dia jemput Arif, dia kepisah dari rombongan kami, Pak. Mungkin bisa disusul aja biar cepet." Winda menjelaskan.
Salah satu regu melihat tanda pita warna kuning.
"Nggak bisa, cuma Pak Parman yang boleh masuk." Orang itu berkata.
"Iya Winda, makanya tadi kita disuruh buat nunggu, karena emang cuma Pak Parman yang bisa masuk dan bisa balik lagi. Semoga Arif dilepas ya." Petugas kampus berkata, Winda bingung tapi tidak mau bergosip di tempat seperti ini.
"Kita lanjutin aja jalan, Pak Parman lebih kenal hutan ini dibanding kita, kita terusin ikut jalan setapak, lanjut cari Nola." Seorang dari regu Damkar itu berkata dan yang lain setuju, tadi memang Pak Parman menyuruh mereka menunggu agar tidak melanjutkan pencarian tanpanya, tak ada yang kenal hutan itu tadi selain Pak Parman.
Petugas kampus mengirim pesan singkat pada pak Parman bahwa mereka melanjutkan pencarian.
Sementara itu Pak Parman sudah masuk ke dalam dia melihat sekitar, banyak kabut, dia tetap berteriak mencari Arif, tapi tak kunjung mendapatkan jawaban.
Pak Parman terus berteriak memanggil, dia juga memperluas areal pencarian, berlari terus sembari tetap memperhatikan jalan, jangan sampai dia hilang fokus.
Dalam perjalanan dia mencari dan berteriak ada orang yang memanggilnya dari belakang.
"Pak Parman!" Petugas kampus berteriak.
Pak Parman kaget, mereka bertemu lagi. Pak Parman keluar dari areal pita kuning.
"Oh kalian udah sampai, terima kasih ya sudah datang dan melanjutkan pencarian, kalian sudah berapa lama berjalan?" Pak Parman bertanya.
"Satu jam Pak, saya juga sudah kirim pesan ke ho Bapak." Petugas kampus rekan Pak Parman yang menjawab.
"Iya saya belum sempat baca, jadi sudah satu jam sejak saya masuk ke areal pita kuning?"
"Iya Pak."
"Kalau begitu, masukkan Arif ke daftar pencarian, kalian kirim pesan ke semua orang regu pencari, dia hilang."
"Pak, serius? Tapi kan ini belum terlalu lama sejak dia hilang, kenapa dia dimasukkan ke dalam regu pencarian?"
"Karena kalau masuk areal pita kuning, kemungkinan kau ditemukan itu hanya jika masuk ke sana sekitar lima belas menit paling lama, tapi kalau kau sudah lewat dari satu jam, kemungkinan kau hilang tersesat entah ke mana." Petugas kampus yang menjawab.
"Saya sudah menyusuri areal pita kuning, tidak ada Arif di sana."
"Pak, tapi bapak sudah masuk lebih dari lima belas menit, Bapak bisa balik." Winda bertanya, karena berharap Arif tidak hilang seperti Nola.
"Pak Arif beda, dia itu bisa dibilang kuncen hutan, dia bebas masuk dan kembali lagi."
"Pak, gimana ini teman-teman saya? Kasihan Arif dan Nola." Winda menangis.
"Lanjutkan percarian." Pak Parman masuk lagi ke tim pencarian, dia memimpin semua anggota regu tetap berhubungan juga dengan hutan di sebrangnya melalui pesan singkat.
...
__ADS_1
“Nola! Pak Parman! Winda.” Arif sudah lemas, tak tahu sudah berapa lama dia hilang di hutan, dia sudah sangat lemas, persediaan air juga sudah habis, hanya ada sedikit makanan.
Dia duduk bersandar pada sebuah pohon yang cukup besar, dia akhirnya tertidur di sana.
Entah berapa lama dia tertidur, dia merasa bahunya ada yang mengguncang, Arif terbangun dan kaget, ada seoran wanita sedang berdiri di hadapannya, dia terlihat bingung.
“Mas, ngapain di sini?” tanyanya.
“Kamu siapa?” Arif bertanya.
“Saya Mahasiswa jurusan kesehatan masyarakat, saya kepisah sama regu yang lagi penelitian di hutan, untung ada Mas di sini, jadi saya nggak sendirian,” ucap gadis itu.
“Iya, saya Arif, saya juga kepisah sama regu pencari Nola, mahasiswi Kedokteran Gigi, saya tadi ngerasa dipanggil sama Nola, jadinya saya lari ke sini, tahunya malah tersesat.”
“Oh iya, nama saya melati, kalau begitu ayo kita lanjut cari tememu, siapa tahu memang dia yang benar-benar memanggilmu.” Melati mengulurkan tangannya.
Melati ini wanita yang cukup cantik, rambutnya dikuncir kuda, dia memakai kas dan jaket yang tidak dikancing, celana jeans dan juga tas punggung, sepatunya dia memakai sepatu kets. Cara pakai baju anak-anak kampus memang.
Arif dan Melati akhirnya mulai mencari Nola lagi, mereka berdua berteriak memanggil nama Nola.
Mereka terus mencari Nola hingga akhirnya tak terasa sudah beberapa jam mereka mencari, hari juga sudah mulai malam.
“Sudah malam Melati, kita harus keluar hutan ini.”
“Kau yakin kita bisa keluar malam-malam? Apa kita nggak akan tersesat lagi? gimana kalau kita bermalam saja? Supaya besok kita sudah punya cukup tenaga untuk mencari Nola lagi. bagaimana?”
“Kita tidur di mana? Aku nggak bawa tenda, kamu bawa?”
“Kau mau kemana Melati?”
“Tadi saat jalan aku melihat ada sebuah saung di sana, kita tidur di sana bagaimana? siapa tahu besok pagi ada yang nemuin kita juga, kan ini areal kampus, pasti ada grup peneliti.” Melati meyakinkan.
“Yaudah yuk, tapi di mana, aku nggak liat saungnya.”
“Ada di sana. Yuk.” Melati menarik tangan Arif.
Ternyata benar memang ada saung di sana. Arif tersenyum, itu tempat yang aman untuk istirahat, ini sudah malam juga, agak sulit cari jalan, siang saja sulit cari jalan.
Mereka berdua duduk di dalam saung yang ada di tengah hutan itu.
“Ini saung buat apaan yak? Di tengah hutan gini?” Arif bingung dan melihat sekitar.
“Nggak tahu, mungkin buat para peneliti istirahat saat perjalanan jauh. Bisa aja kan?” Melati menjawab.
“Iya, tapi ini saungnya bersih ya, bagus juga, padahal di tengah hutan.”
“Udah jangan mikirin yang nggak penting, kamu istirahat deh, aku juga, seharian ini kita udah capek banget kan, nyariin Nola dan jalan keluar.”
“Iya Melati, kalau begitu aku istirahat ya, selamat malam.” Arif lalu tidur dengan tas punggung sebagai bantalnya.
Aneh, seharian ini dia tidak lapar, padahal dia dan melati berjalan selama berjam-jema sambil berteriak-teriak. Mungkin karena ada temannya, jadi berasa mudah perjalanan ini.
__ADS_1
Semakin malam Arif tidur semakin lelap.
Pagi tiba, matahari mengenai wajahnya, walau pohonnya rapat, sinar maatahari masih tembus. Sudah pagi. Arfi bangun dan hendak membangunkan Melati.
Tapi ... kosong, hanya ada dia di saung itu.
Dimana Melati? Arif segera memakai tasnya dan mencari sekeliling, dia berjalan dan berusaha mencari Melati, apakah Melati jalan duluan dan meninggalkannya? Tapi apa untungnya meninggalkan Arif sendirian, kan lebih aman jalan bersama daripada sendirian.
Arif terus mencari Melati dan ketika akhirnya dia memutuskan kembali ke saung, dia tidak juga menemukan saung itu.
Arif lemas, sekarang dia juga kehilangan Melati, kenapa semua orang meninggalkan dia. Dia benar-benar putus asa. Arif terus berjalan dan mencari jalan ke luar. Seperti biasa, dia membuka layar ponselnya, layarnya masih blank, tidak ada apa-apa di sana sama sekali. Kosong, ini alasannya dari kemarin dia tidak bisa menghubungi siapun untuk minta tolong, padahal sinyal di sini baik-baik saja.
...
“Hari ini kita mulai pencarian lagi ya, tapi Winda nggak sudah ikut, kita-kita aja, yang udah profesional.” Pak Parman melarang Winda untuk ikut lagi, mereka kemarin benar-benar harus tidak melanjutkan pencarian karena Winda kelelahan, Pak Parman juga meminimalisir orang yang hilang lagi.
“Pak, tapi apa yang bisa saa lakuin? Nola udah hilang dua hari, terus Arif hilang satu hari, saya harus apa Pak?” Winda protes.
“Tunggu di sini, bantu saya untuk menjaga posko ini, siapa tahu ada berita dari mana saja, cukup. Itu cukup.”
“Pak ....”
“Winda, kamu akan menyesal begitu kamu ikut hilang, karena di hutan itu, tidak aman.”
“Kalua tidak aman, kenapa hutan itu dibangun? Kenapa tidak ditebang saja pohonnya dan dijadikan fakultas lain, kenapa sudah menelan korban begitu banyak saja, masih dipertahakan!” Winda kesal,
“Karena hutan itu lebih tua dari umur kampus ini, hutan itu juga sudah seperti itu sejak kampus belum dibangun, tidak ada yang berani memugarnya hingga pemerintah menetapkan hutan itu sebagai hutan lindung.
Makanya hutan itu ditandai dengan pita berwarna Putih artinya kawasan yang boleh dilewati secara bebas, lalu kawasan berpita merah, artinya setengah areal itu boleh dimasuki, setengahnya lagi tidak boleh ditandai dengan pita merah awal dan akhir, lalu pita kuning, areal sangat berbahaya untuk dilewati, tidak boleh satu langkahpun masuk. Kalau sampai masuk akan sangat bahaya, hanya saya yang boleh masuk ke sana dengan bebas. Karena siapapun yang masuk ke sana, bisa jadi tidak bisa keluar lagi.
Jadi sekarang, kau harus jaga pos dulu, kami semua harus jalan.” Pak Parman akhirnya pergi bersama regu dan dibagi dua regunya seperti hari sebelumnya, untuk menyisir areal kanan dan kiri.
Winda duduk di tempat biasa Pak Parman duduk, dia sedih dan ingin menangis rasanya, tapi malu karena masih ada beberapa orang yang jaga, mereka terlihat sibuk dengan pekerjaan lain.
Karena bosan dan takut terlalu memikirkan Nola dan Arif, akhirnya Winda berdiri dan melihat-lihat foto, di salah satu foto ada pengumuman orang hilang, ada foto Nola dan juga Arif yang baru saja ditaruh tadi pagi.
Winda melihat foto lain di bawah foto Nola dan Arif, satu persatu, ada cukup banyak orang hilang, bisa jadi belasan, entah mungkin foto lain sudah tidak dipajang lagi.
Paling bawah dari foto itu, Winda melihat foto seorang wanita, dia hilang pada tahun 2005, wanita itu memakai kaos, jaket yang tidak dikancing, celana jeans dan juga tas punggung, wanita yang cantik di bawah foto itu tertera nama wanita yang hilang itu, namanya MELATI.
“Banyak banget yang hilang ya, apakah temenku bisa ditemuin?” Nola bertanya sendiri karena semua orang sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Di tempat lain Arif kebingungan dan dia duduk kelelahan lagi, matahari sepertinya sudah pada garis tegak sehingga sangat panas.
“Arif!” Seseorang memanggilnya, Arif melihat ke arah belakang.
“Melati! Astaga, darimana kamu! aku cariin tahu.”
“Justru kamu yang darimana, aku cariin tahu di saung, kamu malah nggak ada. Ini aku cari makanan, kamu makan ya, kita udah dari kemarin nggak makan.”
“Apa ini?” Arif menerimanya, dia melihat ada daun dan biji-bijian, walau dia tidak tahu ini apa, dia tetap memakannya dan ternyata rasanya enak.
__ADS_1