Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 209 : Tinung 13


__ADS_3

“Ada masalah apa? kok tumben tiba-tiba berkunjung.” Lelaki tua itu menyesap rokoknya, sementara Aditia masih saja terlihat marah sejak kedatangannya.


“Bantu aku Ki. Aku benar-benar kacau,” katanya.


“Jelaskan dulu apa masalahmu, bukan datang dan langsung marah-marah seperti ini.” Aki Dadan yang dulu sempat melatihnya berkata. Aditia butuh penasehat spiritual, bukan sepeti Pak Dirga, karena dia tidak tahu apapun soal dunia ghaib.


“Seseorang saat ini sedang dalam kesulitan, aku ingin membantunya, tapi mungkin jika aku bantu, akan ada timbul korban manusia akibat pertolonganku padanya, Ki.” Aditia menghela nafas, dia akhirnya mengambil sebatang rokok dan mulai membakarnya. Hal yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya, dia benar-benar merasa depresi.


“Apakah seorang wanita?” Aki Dadan bertanya.


“Ya, dia seorang wanita.”


“Apakah kau mencintainya?” Aki bertanya lagi.


“Apa itu penting?” Aditia bertanya lagi.


“Ya, jawablah. Itu sangat penting.”


“Aku mencintainya.” Aditia mengatakannya dengan suara lembut, karena dia mengatakannya dengan membayangkan wajah Saba Alkamah.


“Kalau begitu, kau sudah dapat jawabannya, lalu untuk apa bertanya?” Aki terlihat tenang.


“Maksudnya Ki?”


“Kalau aku katakan bahwa tindakanmu adalah tindakan egois, kau takkan pernah ke sini lagi karena marah, karena itulah cinta. Cinta bisa membuat seseorang baik menjadi jahat, orang tulus menjadi licik dan orang jahat menjadi semakin jahat. Sekarang yang kau butuhkan bukanlah jawaban, tapi yang kau butuhkan adalah dukungan. Itu yang kau cari bukan?” Aki Dadan memang sudah tahu asam garam kehidupan, sehingga permainan cinta tidak bisa menipunya.


“Ki ... aku tahu, mungkin ini tidak adil bagi keluarga manusia yang akan dikorbankan itu, tapi ini juga tidak adil bagi perempuan yang aku cintai. Dia telah menolong orang tanpa pamrih, tanpa balasan dan sepanjang hidupnya hanya menanggung derita. Dia melindungi banyak orang sebelum ini, lalu ketika dia seperti ini sekarang, siapa yang melindunginya selain aku, karena semua adiknya, pasti memilih mengikuti keinginan kakaknya.” Aditia kecewa pada kawanan, kenapa mereka masih ragu menolong Alka, Alka jauh lebih penting dari siapapun.


“Jadi perempuan yang hendak kau tolong itu tidak akan setuju dengan tindakanmu?”


“Ya, kemungkinan begitu dia bangun dan tahu kalau aku mengorbankan manusia untuk menyelamatkannya, dia akan membenciku seumur hidupnya, tapi itu lebih baik, setidaknya dia hidup. Dan aku akan ambil resiko menua sendirian tapi tetap bersamanya.”


“Kau ini pecinta yang gila seperti ayamu. Apakah Kharisma Jagat benar-benar telah menjadi pujangga? Bukan seorang pejuang lagi?” Aki tertawa terbahak-bahak melihat tingkah anak muda.


“Ki, bantu aku.” Aditia memohon lagi.


“Lakukan apa yang menurutmu benar, tapi ... jangan pernah membunuh orang, apapun alasannya.”


“Ki!” Aditia kesal karena itu bukan sebuah jalan keluar tapi sebuah nasehat.


“Aku tidak bisa menolong kalau kau merasa tak ada jalan Aditia lagi, kecuali kau memang memulai mencari jalan lain, berusaha tetap tenang dna bijaksana, kau mungkin bisa mendapatkan cara. Di dunia ini tidak ada yang baku Dit. Bahkan yang dikatakan sekarat dan tinggal empat bulan hidup saja, dia masih segar bugar sampai bertahun-tahun setelah vonis. Karena Tuhan tidak melihat keputusan yang kita ambil, Dia melihat ikhtiar kita untuk mencapai keputusan itu.”


“Ki ... kau benar!” Aditia lalu pamit, dia buru-buru pergi dengan angkotnya, dia harus pergi ke suatu tempat.


Sementar Aki Dadan masih duduk tenang dan menikmati rokoknya bersama segela kopi hitam.


Teringat tentang vonisnya, bahwa katanya dia akan meningal karena kanker stadium akhir, hidupnya akan berakhir empat bulan lagi. Tapi lihat sekarang, setelah bertahun-tahun, dia masih bisa menghirup aroma rokok yang begitu wangi.


Tidak ada yang pasti di dunia ini, pasti ada cara, itu yang ingin dia tanamkan pada diri Aditia.


Aditia masuk ke dalam markas, semua kawannya sedang sibuk mencari semua kitab dan literatur yang mencatat setiap kejadian ghaib dari berabagai wilayah.

__ADS_1


“Dit!” Ganding yang tadi sempat kehilangan Aditia karena telat mengejarnya dan akhirnya bersama Hartino pergi ke markas.


“Aku boleh ....”


“Dit! Ayolah, aku tahu, kau takkan pernah menjadi segila itu, kita harus cari cara lain, karena saat kakak bangun, aku mau dia bilang bangga karena kita memilih jalan yang tepat, bukan bangun dalam keadaan marah dan mungkin akhirnya akan meninggalkan kita karena keputusan yang kita buat salah.” Ganding mencoba membujuk Aditia.


“Aku akan mencari cara lain, bantu aku ya.”


“Kami akan lakukan apapun untuk kakak Dit, karena dia itu hidup kami, bahkan kami bersama jauh sebelum dia bersamamu, untuk kami, dia jauh lebih berarti daripada apapun.” Hartino menegaskan bahwa Aditia tidak perlu ragu, semua orang memang ingin menyelamatkan Alka.


“Kita mulai dari mana?” Aditia bertanya.


“Seperti biasa, semua literatur, kita harus mencarinya.” Ganding menjawab dengan semangat.


“Aku juga sudah mencari di internet, aku masuk pada mode dark web, semoga kita bisa mendapat jawaban dari sana.”


“Aku juga sedang bertanya pada teman-temanku dari negara lain, mereka itu dukun-dukun yang sangat hebat, mungkin kita bisa mendapat jawaban dari sana.”


“Lais, bagaimana kau bisa memiliki teman dukun dari negara lain?” Hartino tiba-tiba bertanya karena Alisha mengatakannya.


“Oh, hmmm ... aku ... jadi ... saat dulu ... kami ....”


“Pasti saat kau bertemu dengan teman-teman yang menjadi siswa pertukaran pelajar itu kan? beberapa diantaranya ternyata memiliki kemampuan, walau dari negara lain, begitu kan?” Aditia berusaha menyelamatkan Alisha yang dulu dijaga oleh Alka.


“Nah itu!” Alisha lega.


“Oh, kau gugup karena ada salah saru siswa yang kau sukai ya?” Hartino menggoda Alisha.


“Ih kok marah! Aku bercanda saja. Tapi benar kan, ada yang kau sukai?” Hartino masih menggodanya.


“Kita cari lagi yuk.” Alisha lalu pergi ke lemari kitab untuk mencari lagi, dia tidak mau menghiraukan Hartino yang masih menggodanya.


Aditia dan yang lain juga mencari di lemari.


...


Sudah seharian, hari ini hampir habis dan mereka masih belum menemukan jawaban, walau ada beberapa yang perlu didiskusikan.


“Jadi, aku dapat informasi bahwa ada sebuah air terjun yang katanya bisa menyembuhkan segala penyakit di suatu daerah di negeri ini, air terjun itu banyak dikunjungi, tapi sayang jika ada orang yang mandi di sana atau berlaku tak benar, maka orang itu akan sakit lalu meninggal.


Asumsiku, mungkin ada jin yang meminta tumbal di sana, sedang keinginan yang disebutkan mungkin saja hanya sebuah jebakan, karena orang yang melakukan hal benar, pasti sedikit dibanding dengan orang yang melakukan hal yang salah.


Kemungkinan jin ini adalah pemakan jiwa, perlahan manusia itu dibuat lemah karena jiwanya digerogoti, sakit lalu meninggal.” Hartino mengemukakan apa yang dia dapat.


“Hubungannya dengan penyakit kakak apa?” Ganding bertanya. Mereka semua berkumpul mendengarkan.


“Kita cari Tinung dan ayahnya, lalu di saat yang bersamaan, kita juga ke air terjun itu, kita tangkap jinnya.” Hartino mulai menjelaskan.


“Untuk apa?” Aditia bertanya.


“Setelah kita mendapatkan keduanya, maka kita bisa membuat jin yang menghuni air terjun itu mengambil jiwa Tinung keluar dari raga manusia yang ditumpangi itu. Setelah Tinung keluar, kita pulangkan dia ke tempatnya. Lalu soal manusia yang ditumpangi itu, kita bawa ke Dokter Adi.”

__ADS_1


“Maksudmu kau akan mengambil habis darahnya!” Ganding mulai marah karena Aditia sudah menjadi lurus lagi, tiba-tiba Hartino malah mengajukan gagasan itu.


“Ya ... dan tidak!” Hartino menjawab dengan panik karena ekpresi Ganding yang terlihat marah.


“Maksudnya?” Semua orang bertanya dengan kesal.


“Maksudnya gini, kau tahu kalau kita bisa memutar darahnya, mengembalikan darah Alka ke tempatnya, lalu darah lain mengisi tubuh manusia itu.”


“Oh, maksudmu seperti mencuci darah, tapi darahnya tidak dikeluarkan, tapi langsung di transfusi ke kakak? Begitu?” Ganding mulai menemukan benang merahnya.


“Ya, benar begitu.”


“Tapi jangan lupa, bahwa darah Alka akan menjadi sia-sia dikeluarkan jika hukumannya atas ketidakmapuannya menjaga Tinung karena perjanjian itu tidak ditunaikan.” Aditia mengingatkan.


“Ini dia masalahnya, kita harus membatalkan perjanjiannya, aku belum ketemu cara itu, agar darah kakak bisa menjadi energi lagi baginya, kita harus segera membatalkan perjanjiannya.”


“Kau tahu kan, syarat perjanjian itu batal adalah jika salah satu pelaku meninggal dunia.” Alisha kali ini yang berbicara.


“Ya benar.” Hartino menjawab.


“Kalau begitu kita sudah ketemu solusinya!” Alisha berteriak sembari berjingkrak, saat melihatnya, Hartino sedikit mengernyitkan dahi. Ekspresi yang terasa familiar sekali jika sedang senang, sekilas Hartino seperti melihat Alisha, tapi buru-buru dia tepis, karena mengingat wanita yang dia cintai itu cukup menyiksa.


“Maksudmu Lais?” Ganding bertanya.


“Iya, begitu Tinung melepaskan jiwanya dari manusia itu, maka dia bisa dianggap telah tiada, karena tidak akan ada perjanjian antara jin dan ruh, maka perjanjian itu batal dengan sendirinya!” Alisha menjelaskan dengan sangat bersemangat.


“Oh iya!” Yang lain baru sadar, mereka sangat bersemangat karena sudah menemukan jalan, tapi mereka berdua harus menemukan mereka besok, harus ketemu, apapun yang terjadi karena mereka hanya punya waktu dua hari lagi.


“Aku akan mencari Tinung dan ayahnya.” Aditia berkata.


“Kalau begitu, aku akan menemanimu.” Lais memintanya. Hartino langsung melirik Alisha, ada rasa kecewa, dia masih ingin ditemani Alisha yang menyamar sebagai Lais di sini.


“Ya, baiklah.” Aditia tahu Alisha ingin membantunya menghadapi dukun itu, ayahnya Tinung.


“Kalau begitu aku, Jarni dan Hartino yang akan menangkap jin air terjun itu, yang memakan jiwa, agar dia bisa mengeluarkan jiwa Tinung.”


Semua sepakat telah memiliki tugas masing-masing, sementara itu Alka masih dalam keadaan tidak sadarkan diri walau matanya terbuka.


Dokter Adi menyisir rambut Alka dan membaringkannya lagi.


“Kau cantik sekali.” Dokter Adi bergumam, Karuhunnya langsung melirik melihatnya, karena kejadian yang sangat jarang terjadi, Dokter Adi yang berhati dingin itu, memuji wanita.


“Dia cantik?” Karuhunnya bertanya.


“Kau bicara apa!” Dokter Adi kesal.


“Hati-hati, Aditia sudah menandainya.”


“Apa maksudmu?” tanya Dokter Adi.


“Jin ini sakit Lanjo, aku merasakannya, kalau dia bangun sebagai jin yang sempurna kelak, dia akan mengabdi pada tuannya seperti anjing gila. Tapi, kalau dia bangun dalam keadaan manusia sempurna, maka kau tetap tidak punya kesempatan, karena dia akan tetap menjadi budak tuannya, karena Lanjo sudah tertancap di jiwanya, baik sebagai jin ataupun sebagai manusia biasa.

__ADS_1


__ADS_2