
Semua keluarga Haris begitu mendengar berita tentang Haris yang sudha menjadi gila, datang ke rumah mewah dan besar milik Meutia, sudah seminggu mereka menikah, semakin hari Haris semakin terlihat menyedihkan.
Dia bahkan pernah berlari dalam keadaan tana busana, dia selalu merasa ketakutan saat melihat Meutia, wanita yang tadinya sangat dia inginkan.
“Jadi, ada apa dengan anakku?” ibunya Haris bertanya.
“Kalian yang beritahu aku, kenapa setelah menikah dia menjadi gila? apa kalian menyembunyikan sesuatu dariku?” Meutia tidak mau kalah, dia berkata dengan suara yang kencang, sehingga semua Pelayan berkumpul, dia ingin mengintimidasi semua keluarga Haris karena Pelayan Meutia banyak.
“Anak kami baik-baik saja sebelum menikah denganmu, dia sangat sehat rohani dan jasmaninya, makanya ini aneh, kenapa begitu … begitu menikah denganmu dia menjadi gila.” Ibunya masih tidak mau kalah, cukup sudah wanita ini terlalu angkuh dan sombong.
“Bu, mungkin saja Pak Haris diguna-guna oleh salah satu orang yang ditolak Ibu Meutia dulu, karena Pak Haris jadi benci sama Bu Meutia.” Seorang Pelayan berani memberikan pendapatnya.
“Berarti memang kau sumber masalahnya!” Ibunya Haris menunjuk-nunjuk muka Meutia.
“Kalau memang ada yang mengguna-guna Haris, aku bisa apa? aku tidak bisa mengendalikan orang, bukan salahku kalau banyak yang suka padaku, tapi … sebentar, diantara semua pemuda yang aku suka, Haris bisa dibilang lelaki yang paling tidak kompeten, kalian pasti tahu kan, berapa banyak pria kaya raya yang meminangku, tapi Haris bukan tandingan mereka.
Oh aku tahu sekarang! pasti Haris melakukan sihir padaku duluan untuk menaklukan hatiku, hingga aku akhirnya mau bersamanya, pantas sebelum ini aku merasa sangat mencintai Haris, pasti karena dia melakukan pelet padaku!
Nah, mungkin ini balasannya karena berani memeletku, dia menjadi gila karena ilmu hitamnya sendiri, kalian semua pasti tahu ini semua kan? kalian bersekongkol untuk membuatku menjadi gila, tapi ternyata malah anak kalian yang gila!” Meutia sudah memberikan umpan kepada Pelayan sebelumnya untuk meyakini bahwa ini ilmu sihir dari orang, itu semua hanya untuk melemparkan pemahaman yang sebenarnya sudah disiapkan oleh Meutia untuk diyakinin semua orang, bahwa Harislah yang berusaha memeletnya tapi berbalik jadi membuatnya gila, mengingat Meutia adalah anak dukun, jadi tidak mudah di perdaya. Itu yang Meutia inginkan, agar semua orang percaya dengan fitnah Meutia.
“Ti-tidak, Haris bukan pemuda seperti itu, dia pemuda baik yang hanya ingin menikahimu, kami juga heran kenapa kau mau menerima Haris padahal semua lelaki kau tolak.” Ibunya Haris yang tadinya marah menjadi lebih tenang dan mencoba membela diri agar semua orang yang berada di sini tidak mudah percaya, maklum Pelayan di sini adalah penduduk desa ini yang pasti suka menggunjing.
“Panggil warga, mereka harus diadili, ini pasti guna-guna yang berbalik pada pemiliknya karena gagal melakukan pelet padaku.” Teriak Meutia, semua Pelayan berdiri dan berlari ke luar memanggil warga, sementara Pelayan lelaki menarik Haris keluar dari kamarnya, dia hanya memakai kaus dan celana pendek, seminggu bermimpi aneh dan melihat hal yang mengerikan, membaut Haris menjadi berantakan dan bau, karena tidak mau mandi ataupun makan dengan baik.
Keluarga haris ditarik keluar oleh Pelayan dengan kasar, ayah, ibu dan dua adiknya diseret tanpa ampun, semua warga berkumpul, kekayaan Meutia dan kebaikan palsunya membuat perkataan dia akan didengar.
“Mereka adalah keluarga biadab, anaknya gila ternyata karena tidak berhasil memeletku, makanya ilmu hitam dia kembali pada tubuhnya dan membuatnya menjadi gila, dia ketakutan melihatku karena ilmu putih yang ayahku turunkan, sehingga aku menjadi sosok menakutkan untuknya.
Haris dan keluarganya hendak menipuku dan membuatku gila, kalian lupa siapa ayahku? kalian lupa bahwa aku adalah pengrajin ramuan obat, aku terlindungi, jadi tidak akan mudah mengerjaiku, pantas aku menerima lamaran dia sebelumnya, itu pasti karena pelet!” Meutia berteriak, semua warga terlihat percaya, Haris dilempar ke tengah warga yang berkerumun.
Salah satu warga ditarik-tarik oleh Haris, dia berteriak dan mengetakan sesuatu, “Dia iblis! dia iblis!” Haris berteriak kepada warga yang dia tarik-tarik itu.
“Hei, kau yang iblis!” Warga itu mendorong Haris hingga jatuh, lalu Haris bangkit dan berusaha menyerang semua warga, karena sikapnya itu, akhirnya warga yang berjenis kelamin lelaki menangkap dan memukulinya hingga babak belur, sedang yang lain menangkap keluarganya dan memukuli mengusir mereka agarpergi dari kediaman Meutia.
Haris yang sudah babak belur dipukuli akhirnya jauh pingsan, Meutia menyuruh Pelayan lelaki untuk mengangkat tubuh Haris, dia memerintahkan agar tubuh Haris di taruh di gudang yang pengap.
Semua orang bubar, Meutia kembali ke rumah, ayahnya yang baru kembali dari kota karena habis senang-senang, bukan bekerja seperti sebelumnya, kaget, melihat tadi ada kerumunan warga.
“Ada apa ini Meutia?” tanya ayahnya.
“Tuan menyuruhku melakukan itu, aku hanya mengikuti perintahnya.” Meutia berkata dengan berbisik agar tidak ada yang dengar, seorang Pelayan melayani mereka di meja makan, karena ini waktunya makna siang.
“Di mana Haris?” tanya ayahnya lagi.
“Di gudang, dia babak belur.”
__ADS_1
“Dipukuli warga?”
“Ya.”
“Akhiri saja dengan cepat, jangan menyiksanya.”
“Tuan bilang harus dilakukan dengan perlahan, agar kalau dia tiba-tiba menghilang, tidak ada yang curiga.” Meutia sekali lagi berbisik, seorang Pelayan yang kemarin tidak ingin ikut campur, tidak sengaja lewat di belakang Meutia saat sedang berbisik, sedikit kata Meutia terdengar, tapi dia bukan orang yang suka ikuat campur, dia hanya ingin kerja dengan baik.
Pelayan itu melanjutkan berjalan ke gudang, dia ingin mengambil alat masak yang sudah lama disimpan di gudang, saat membuka gudang, dia melihat Haris sudah sadar, tapi dia tidak ingin berbicara dengan pemuda yang dikatakan gila itu.
Dia mencari alat masak yang hendak dia gunakan, ternyata ada di rak paling atas, Pelayan perempuan itu kesulitan mengambil alat masak yang ada di rak atas.
Dia lalu meninggikan kakinya, tapi masih tidak bisa, tiba-tiba seseorang membantunya mengambil alat masak itu, Pelayan kaget lalu mundur, ternyata Haris yang membantunya mengambil alat itu dan menyerahkan padanya.
“Te-terima kasih.” Pelayan itu takut, takut Haris menyerangnya.
“Aku tidak gila.” Haris mundur, dia duduk di lantai.
“Terima kasih.” Pelayan itu mengulang ucapannya dan hendak keluar.
“Aku benar-benar tidak gila, aku hanya takut pada wanita itu, wanita itu mengerikan sekali, apa kau tidak melihat itu? wajahnya rusak, bibirnya robek hingga telinga, seluruh tubuhnya penuh koreng yang bernanah dan tumbuh belatung.” Haris berkata dengan ngeri.
“Siapa yang seperti itu?” Pelayan itu akhirnya jadi penasaran, siapa yang dimaksud Haris.
“Nyonyamu,” jawab Haris.
“Ya, dia itu wanita iblis, dia yang menipu kalian semua, pasti dia berniat jahat padaku, makanya dia mau menikah denganku. Aku tidak menyadarinya kemarin-kemarin karena buta oleh cinta, tapi sekarang aku tahu, kenapa dia mau denganku, pasti dia bermaksud tidak baik padaku dan keluargaku, tapi aku tidak tahu apa itu.” Haris sungguh terlihat seperti biasa, normal, tidak terlihat seperti orang gila.
“Maaf Pak, saya harus masak, ibu mungkin akan marah kalau saya lama-lama di sini.” Pelayan itu pergi llau mengunci lagi gudangnya.
Dia sebenanrya iba pada Haris, tapi dia hanya orang miskin yang tidak ingin terlibat masalah dengan orang yang kaya di desa ini, Meutia menjadi orang yang disegani setelahkaya raya, jadi tidak ada yang berani cari masalah dengannya.
Meutia itu baik dan royal pada semua Pelayan, dia tidak ragu untuk selalu membantu Pelayan yang kesulitan seperti ada anak Pelayan yang sakit, Meutia bahkan membawanya dengan mobil sendiri ke rumah sakit.
Lalu di lain waktu, ada istri Pelayan yang mau melahirkan, tapi ternyata ada masalah dengan bayinya, lalu Meutia buru-buru menelpon ambulans untuk membawa istri dari Pelayan tersebut ke rumah sakit besar.
Itu hanya beberapa kebaikannya, masih banyak lagi yang dia lakukan untuk tetangga maupun semua Pelayannya.
Jadi sulit percaya kalau Meutia orang jahat, walau tadi saat lewat di belakang Meutia dan ayahnya, dia samar mendengar Meutia mengucap kata tuan beberapa kali, tapi Pelayan itu buru-buru mengusir semua kecurigaan dia dan pergi ke dapur, dia hendak memasak seperti perintah Meutia.
Sementara Meutia masuk ke kamar dan ayahnya juga istirahat di kamarnya sendiri.
Saat masuk kamar, Meutia kaget, gelap sekali, dia tidak bisa melihat apapun, kamarnya terasa seperti ….
“Aku rindu.” Sesosok hitam memeluk Meutia dari belakang, Meutia baru sadar, ternyata dia sudah berada di gua.
__ADS_1
“Suamiku,” ucapnya.
“Bagaimana dengan tumbalku?”
“Akan siap dalam beberapa hari Tuan. Tuan, kau rindu aku atau ingin tumbalmu?” tanya Meutia.
“Aku ingin keduanya, kau keberatan?” Darhayusamang, merapatkan pegangan pada leher Meutia, dia memang terkadang kasar pada Meutia.
“Maaf Tuan, apapun untukmu.” Meutia tahu, bahwa dia tidak boleh mengatakan itu.
Darhayusamang lalu mulai melucuti pakaian istri sesatnya satu persatu, setelah itu mereka memadu kasih dengan sentuhan sepasang kekasih yang dimabuk cinta, menjijikan tapi tidak untuk mereka berdua yang telah terjebak dalam nafsu dunia.
…
“Bu, sudah tiga hari pak Haris di gudang, dia bilang ingin keluar dan kembali pada keluarganya.” Salah satu Pelayan memberi informasi tentang Haris.
“Aku tidak melarangnya, kau keluarkan dia, tapi malam hari saja, aku tidak mau orang melihat suami gilaku itu.” Meutia mengizinkan Haris kembali ke keluarganya.
Malam ini dia akan dilepas.
Tiba waktunya malam hari, waktu menunjukan pukul sebelas malam, beberapa Pelayan membuka gudang dan mengeluarkan Haris.
“Pulanglah kau, ibu bilang kau harus segera pulang ke keluargamu, jangan buat malu dengan menyerang orang, mengerti! ayo kami akan mengantarmu.” ucap Pelayan.
Haris setelah dilepaskan langsung berjalan dan diikuti dua orang Pelayan Meutia, mereka akan mengantar Haris sampai rumah.
Butuh waktu sekitar dua puluh untuk berjalan sampai ruma Haris, Meutia tidak mengizinkan Haris pulang diantar mobil, dua Pelayannya mengantar dia dengan berjalan kaki.
Tepat di luar pintu gerbang, dua Pelayan itu berhenti mengantar, Haris melihat rumahnya sangat senang, dia lalu berlari dan masuk ke dalam halaman rumah, dua Pelayan melihat Haris sudah sampai di depan pintu rumah keluarganya dan Haris terlihat membuka pintu rumahnya lalu masuk.
Melihat Haris sudah masuk rumah, dua Pelayan itu lalu pergi kembali ke rumah Meutia.
Tapi apakah Haris benar pulang?
Saat telah membuka pintu rumah dia bersiap memanggil keluarganya, tapi ….
“Di-dimana aku?” Haris kaget, dia ternyata tidak masuk ke dalam rumah, tapi … ke dalam hutan di mimpinya! Haris berbalik ingin keluar lagi melalui pintu dia masuk, tapi saat berbalik, pintu itu hilang, dia tidak bisa melihat pintu rumahnya lagi, Haris mundur, perlahan dia mendengar suara cekikikan, dua sosok mendekat, tentu saja, itu adalah dua sosok yang selalu hadir dalam mimpinya setiap malam.
Nenek buruk rupa dan Meutia dalam wujud iblis, Haris menangis, dia takut dan tidak bisa berteriak karena mulutnya terasa rapat, dia mencoba melihat mulutnya, tapi tentu sulit, dia hanya ingin tahu kenapa tidak bisa berteriak atau mengeluarkan suara.
Tentu saja tidak bisa, karena mulutnya sudah terjait menyatu, lalu perlahan matanya, terjait, satu bulu mata atas merekat pada satu bulu mata bawah, Haris kesakitan, tubuhnya bahkan mulai menempel kulit demi kulit, Haris sudah dikuasai Darhayusamang untuk menjadi tumbalnya, dia yang sudah yakin akan kembali pada keluarganya dan melupakan mimpi buruk itu setelah jauh dari Meutia, harus menjadi tumbal yang telah Meutia janjikan pada tuannya.
“Jadi, dia sudah diterima oleh tuan?” Ayahnya Meutia bertanya, mereka berdu sedang sarapan.
“Ya, sudah diterima dengan baik.” Meutia memakan nasi gorengnya dengan lahap, pergumulan beberapa malam ini dengan suami jinnya membuat dia kelelahan.
__ADS_1
“Lalu apa lagi sekarang?” ayahnya bertanya.
“Dia bilang mungkin keluarganya akan mencari tapi aku sudah punya dua orang saksi, Pelayanku itu.” Meutia dan ayahnya lalu melanjutkan sarapan paginya, sementara Haris harus selamanya menjadi tumbal dari dua orang yang keji