Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 146 : Aditia 6


__ADS_3

Di gunung yang menjulang tinggi, pemandangan indah terhampar. Pagi yang dingin, malam mencekam.


Bagi para pendaki, keindahan gunung sekaligus keganasannya, mampu membawa mereka kembali karena kepuasan menaklukan.


Tapi bagi para peziarah, dengan tujuan mendapatkan karomah, bisa jadi gunung adalah lahan ‘basah’ bagi mereka.


Karena gunung itu adalah tempat paling tepat untuk mendapatkannya.


Jin dengan ilmu tinggi, rata-rata tinggal di tiga tempat, pertama laut, kedua gunung terakhir hutan. Sisanya di lahan dan bangunan kosong.


Ada juga yang tinggal dipemukiman yang manusia tinggali, rumah-rumah, gedung perkantoran atau areal yang jauh lebih ramai.


Tapi itu semua lebih melelahkan, ingat, setiap manusia punya Qorin, dimana Qorin itu adalah jin, sehingga akan timbul bentrokan jika sesama jin menempati tempat yang sama. Qorin pasti mengklaim tempat tinggal manusia yang dia ikuti dari lahir adalah tempat tinggalnya juga.


Jadi keributan perebutan wilayah tidak dapat dihindari. Itu kenapa, jin lebih suka tempat kosong.


Adalah seorang lelaki yang umurnya sekitar akhir empat puluhan. Dia adalah dukun terkenal di wilayahnya, dukun ilmu hitam tentu saja.


Dia sering sekali ke gunung Sangkuti, gunung yang memiliki tinggi 3950 mdpl. Gunung yang cantik kala pagi tiba karena sinar matahari membuatnya bercahaya. Menjadi seksi ketika malam karena malam membuat aura misteri yang membuat siapapun penasaran.


Satu hal yang orang tidak ketahui, bahwa gunung Sangkuti adalah gunung yang mengerikan bagi para korban dukun yang mengambil karomah di gunung tersebut.


Ada satu tumbuhan, yang mereka incar saat datang ke gunung itu. Tumbuhan itu katanya hanya mitos, tidak benar-benar ada. Tentu saja tidak ada, karena tumbuhan itu tidak bisa dicari lalu ditemukan hanya dengan mendaki gunungnya.


Tumbuhan itu harus diusahakan melalui pertapaan yang cukup panjang, puasa yang cukup berat serta ritual yang cukup rumit.


Nama tumbuhan itu adalah … kembang sukapuran. Kembang yang hanya memiliki tiga daun di tangkainya. Kembang berwarna ungu tua dibagian pucuknya dan semakin menghitam semakin kewabah.


Kalau kau bisa mendapatkannya, kau bisa membuat siapapun menderita seumur hidupnya, tanpa ketahuan.


Karena kembang itu tidak terasa, tidak berbau dan tidak terlihat oleh seorang yang memiliki kemampuan tinggi dalam melihat dunia lain. Ketika tercampur makanan, kembang itu akan menghancurkan hidupmu.


Apa yang mampu menghancurkan hidup? kenangan yang menyakitkan dan harapan masa depan yang menakutkan.


Kembang Sukapuran itu membawa kedua hal tersebut dalam hidupmu.


Kenangan dan harapan dalam satu waktu sekaligus.


Dukun ilmu hitam itu ternyata sudah mendapatkan kembang Sukapuran sejak lama.


...


“Udah berapa hari?” Tanya Dirga.


“Dua hari.” Istrinya Mulyana menangis sesegukan. Dia baru saja melahirkan dan harus dihadapkan pada masalah ini.


Dirga diam saja, mereka berdua sedang di kamar Mulyana dan istrinya.


“Kenapa kita tidak ke rumah sakit saja Pak?” Istrinya bingung. Karena Dirga selalu melarang istrinya Mulyana membawa Mulyana ke rumah sakit.


“Jangan, tidak perlu. Yang penting kau harus mengubah posisi tidurnya Mulyana selama beberapa jam sekali, aku akan bantu, aku akan di sini sementara waktu.”


“Kau yakin Pak, kita tidak perlu panggil Dokter atau ke rumah sakit?”


“Aku yakin.”


Bagaimana mungkin rumah sakit dapat membantu temannya, mereka hanya akan menyatakan Mulyana koma, apalagi?


Sementara tubuh Mulyana tidak boleh keluar dari rumah, itu pesannya.


Mulyana pernah bilang, kalau suatu saat dia celaka, jangan keluarkan dia dari dua tempat. Pertama rumahnya dan ke dua markasnya, dua tempat yang sudah dipagari, selain tempat itu akan sangat berbahaya. Karena bisa jadi ‘mereka’ akan menumpang pada tubuh Mulyana.


Maka itu Dirga tidak mengizinkan istrinya Mulyana untuk membawa Mulyana ke rumah sakit maupun ke Dokter.


Tapi, masalahnya, Dirga juga tidak tahu harus kemana, harus melakukan apa, makanya dia berpikir dulu dengan tetap berada di rumah Mulyana.


Tapi tentu membawa istrinya juga karena takut menimbulkan fitnah.


Mulyana telah tidur dan tidak bangun selama dua hari, segala cara tradisional telah istrinya lakukan, mulai dari membaui dengan minyak-minyak yang punya wangi khas, menyiprat wajahnya dengan air, menampar pipinya, sampai mengelitiki kaki Mulyana. Tapi tidak satupun cara itu berhasil.


Akhirnya istrinya hanya bisa menghubungi Dirga, karena ingin minta tolong dibantu bawa ke rumah sakit. Tentu seperti yang sudah diceritakan sebelumnya, Mulyana tidak bisa ke rumah sakit.


"Pak Dirga, apakah suamiku kena guna-guna?" Istrinya tiba-tiba masuknkamar lagi padahal tadi Dirga minta untuk ditinggalkan berdua saja.


"Kenapa bisa berpikir begitu Bu?"


"Soalnya Pak Dirga bilang tidak usah dibawa ke rumah sakit. Saya juga merasa aneh. Semuanya baik-baik saja. Tidak ada yang salah. Malam terakhir saat dia masih sadar, dia itu tidur bareng saya dan anak kami.

__ADS_1


Tapi paginya dia tidak bangun lagi. Itu seperti guna-guna kan Pak? apakah suami saya punya musuh Pak?" tanya istrinya Pak Mulyana.


"Tidak, Mulyana itu orang baik Bu. Bagaimana mungkin dia punua musuh."


Dirga berbohong, musuh Mulyana sangat banyak, tidak hanya dari kalangan manusia, walau kebenarannya adalah, dia dimusihi karena kebaikan dan ketulusannya.


Mulyana selalu menjunjung tinggi ketulusan. Makanya dia tidak suka jika keluarganya diperlakukan tidak tulus oleh orang lain.


"Jangan berasumsi berlebihan dulu. Bisa saja dia kelelahan, selama kamu hamil, Mulyana narik angkot cukup sering. Mungkin saja dia kelelahan, ini hanya efek dari kelelahan."


"Pak Dirha, masa iya orang kecapean bisa tidur dua hari tanpa bisa dibangunkan." Istrinya Mulyana menyangkal dan terlihat kesal.


"Bu, udah sini kita ngobrol di depan. Biarkan suamiku mencoba membangunkan suamimu ya Bu." Istrinya Dirga menarik istrinya Mulyana untuk menjauhi suaminya dulu. Dirga lega, istrinya dapat membaca situasi ini.


"Yan, apa yang terjadi denganmu? apakah kau lepas raga? kenapa kau sulit sekali dibangunkan? Yan, bangun, istrimu sedih. Anakmu juga masih sangat butuh kamu." Dirga berbicara di telinga Mulyana.


Tentu saja Mulyana tidak bisa mendengar.


"Bu, aku mengerti perasaan ibu, jika aku di posisimu, aku juga pasti akan ketakutan dan khawatir. Tapi percayalah, Dirga pasti membantu. Mereka itu berteman sudah sangat lama. Dirga akan menemukan cara, aku yakin itu." Istrinya mencoba menguatkan ibunya Aditia.


"Aku dengar di wilayah ini ada dukun yang sangat terkenal. Namanya Ki Kusno. Dia itu dukun yang pandai menyembuhkan orang yang terkena guna-guna. Apakah kita perlu memanggil dukun itu?" Usulan yang membuat istrinya Dirga merasa itu hal tepat.


Pada jaman itu, praktik dukun memang sedang marak, jadi pengobatan secara alternatif adalah hal yang biasa dilakukan.


"Kita tanya suamiku dulu Bu, gimana?" istrinya Dirga berntanya.


"Aku akan Pergi memanggil dukun itu, mau kah kau membantuku untuk menjaga anakku dulu? Aku tidak akan lama, karena Ki Kusno ini rumahnya tidak jauh."


"Ya tentu, sini kemarikan anakmu." Istrinya Dirga menerima Adit ke dalam pangkuannya. Aditia sedang tidur karena sudah menyusui sampai kenyang.


Ibunya Aditia pergi untuk memanggil dukun terkenal itu.


Ibunya Aditia diantar seorang tukang ojek pengkolan yang dia kenal. Tukang ojek itu juga tahu kediaman Ki Kusno. Karena sudah banyak orang yang datang ke rumah dukun itu, makanya dia hapal jalan ke rumahnya.


Begitu sampai, ibunya Aditia langsung mengetuk rumah Ki Kusno. Tidak lama seorang lelaki berumur akhir empat puluhan keluar. Dia memakai setelan hitam dan juga ikat kepala berwarna hitam.


"Ayo, aku sudah siap."


Ibunya Aditia bengong, kenapa Ki Kusno sudah tau kalau dia akan meminta dukun itu untuk datang ke rumahnya?


"Kau naik ojek, kita ketemu di rumahmu." Ki Kusno jalan kaki.


"Tapi, Ki, kenapa nggak naik ojek aja. Kita tunggu tukang ojek lewat." Ki Kusno terus saja jalan tidak mendengarkan.


"Bu, udah biasa itu. Yuk naik, nanti dia yang sampai duluan loh." Tukang ojeknya ternyata sudah terbiasa dengan sikap Ki Kusno ini. Makanya dia tetap menunggu tadi tidak langsung pergi ketika istrinya Mulyana turun.


"Apa nggak apa-apa kita biarkan Ki Kusno jalan kaki?"


"Nggak apa-apa Bu, tenang saja. Dia dukun hebat, semua yang datang padanya tidak perlu menjelaskan apa yang terjadi. Ki Kusno sudah tahu duluan Bu.


Ibu saya juga dulu begitu. Dia dikerjai oleh saingan dagangnya di pasar. Sakit nggak bisa bangun berbuln-bulan. Kalau ke rumah skait mah dibilangnya sakit apa tuh ya, yang lumpuh seluruh tubuh. Lupa saya namanya. Nah saya minta bantuan Ki Kusno, pas saya datang ke rumahnya sama tuh kejadiannyabkayak gini. Dia udah siap untuk ke rumah saya.


Trus ibu saya diobati, sembuh. Cuma butuh waktu seminggu terapi, ibu saya sembuh total.


Emang siapa yang sakit Bu?" tukang ojek itu bertanya.


"Suami saya, dia nggak bangun-bangun dari dua hari lalu."


"Wah bahaya tuh. Betul bu udah lamgsung minta tolong Ki Kusno. Kasian suaminya, nggak makan dong dua hari ini?"


"Saya suapinair dan juga bubur ke mulutnya, ada yang masuk ada yang tidak masuk makanannya. Semiga itu masih bisa membuat suami saya bertahan."


Tidak terasa mereka sudah sampai lagi ke rumah Mulyana.


Istrinya Mulyana kaget, dari jauh terlihat Ki Kusno sedang berjalan ke arah rumahnya.


Secara logika seharusnya mereka tidak akan bisa sampai bersamaan. Karena istrinya Mulyana menggunakan motor, sementara Ki Kusno jalan kaki.


"Masuk Ki." Istrinya Mulyana mempersilahkan dukun itu masuk.


"Kenalkan ini Dirga dan istrinya, dia saudara kami." Istrinya Mulyana memperkenalkan begitu karena memang sudah dianggap seperti itu.


Ki Kusno melirik Aditia yang sedang di gendong istrinya Dirga. Lirikannya cukup tajam dan lama, seringai halus terlihat dari bibirnya.


Mungkin semua orang tidak sadar itu.


"Di mana suamimu?" Ki Kusno bertanya.

__ADS_1


"Di kamar Ki. Mari saya antar."


Istrinya Mulyana, dukun dan Dirga ke kamar Mulyana. Mulyana masih berbaring seperti sebelumnya, seperti orang tidur.


Dukun mendekatinya, dia melirik ke arah kanan Mulyana lalu tersenyum senang.


Dukun itu semakin mendekati Mulyana dan duduk di tepi kasur.


Dukun itu memegang kepala Mulyana, merapal mant rasa yang tidak dimengerti siapapun selain dirinya.


Setelah sepuluh menit melakukan itu Ki Kusno lalu mulai berbicara.


"Apakah suamimu memiliki benda pusaka yang selalu dia bawa kemana-mana?" tanya Ki Kusno.


"Benda pusaka? tidak Ki. Suamiku bukan orang yang percaya klenik sebenarnya."


Dirga tersedak mendengar itu, kalau saja istrinya tahu. Justru Mulyana adalah ketua klenik itu sendiri.


"Tidak mungkin Bu, pasti ada. Dia saat ini sedang ngilmu, makanya salah jalan dan akhirnya tertidur seperti ini." Omongan ngawur khas dukun.


"Bu, anakmu menangis. Biar aku yang jelaskan ke Ki Kusno." Dirga menyuruh istrinya Mulyana melihat anaknya. Beruntung Aditia menangis karena haus lagi, anak bayi lelaki memang cenderung sangat suka menyusu dibanding anak perempuan.


Saat istrinya Mulyana sudah keluar Dirah mendekati dukun yang bernama Ki Kusno itu.


"Ki, dia itu memang punya benda pusaka, keris kalau tidak salah. Tapi setau saya disimpan di dalam tubunya."


"Hah? dia ini dukun juga." Ki Kusno bingung.


"Bukan, bukan. Memang apa hubungan keris itu dengan tidurnya Mulyana ini Ki?"


"Kan sudah kukatakan tadi, dia ini sedang ngilmu. Makanya tersesat."


"Kok ngilmu sih? Setahuku dia sudah khatam ilmu itu, jadi ngapain ngilmu lagi Ki?" Dirga memang tidak pagam betul apa yang Mulyana alami dulu dan siapa dia sebenarnya. Karena selama ini Mulyana hanya bilang dia punya kemampuan istimewa. Tidak menjelaskan siapa dirinya yang seorang Kharisma Jagat.


"Kau banyak tanya. Sekarang bantu aku mengeluarkan keris itu dari tubuhnya." Ki Kusni melirik lagi ke arah kanan Mulyana, dia tersenyum dengan licil lagi.


"Caranya gimana Ki?"


"Ini letakkan rambut, kuku dan air liur lelaki ini di potongan kain ini."


"Ini kain apa Ki?" tanya Dirga.


"Kain kafan."


"Astagfirullah. Ki! apakah ini cara yang benar?"


"Kau keberatan? kau bisa menyembuhkannya?"


Dirga ditanya seperti itu bingung, karena dia tidak tahu harus berbuat apa. Sementara dia juga tidak pernah diperkenalkan dengan Kharisma Jagat yang lain oleh Mulyana.


"Baiklah sebentar, aku ambil gunting dulu."


Dirga akhirnya setuju, dia menggunting rambut dan kuku kaki Mulyana, tepatnya kuku ibu jari kakinya. Kata dukun itu, kepala dan kaki.


Lalu air diambil dengan menempelkan kain kafan itu ke lidah Mulyana. Dirga jijik melihatnya, tapi dia bisa apa?


"Ini Ki, sudah semua." Dirga memberikan kain kafan berisi rambut, potongan kuku ibu jari kaki serta air liur yang sudah di tempelkan ke kain kafan itu.


"Kalau begitu, kau keluarlag. Aku akan melakukan ritual ini sendirian." Ki Kusni meminta Dirga keluar kamar dan dia mengunci pintu kamarnya dari dalam.


"Bagaimana?" Istrinya Mulyana bertanay. Aditia telah tidur lagi dan ditidurkan di sofa.


"Entahlah, katanya dia akan melakukan ritual. Apa kau yakin dia orang yang benar?" Dirga bertanya.


"Kata orang-orang dia dukun yang sakti. Kita percayakan saja padanya." Istrinya Mulyana terlihat levih tenang ketika Dirga bilang Ki Kusno sudah memulai ritual untuk membangunkan Mulyana.


"Ya. Semoga Mulyana setuju dengan jalan keluar ini." Dirga bergumam.


Sementara di dalam kamar, Ki Kusno tertawa dan mendekati bagian kanan Mulyana.


"Kau pasti kaget, selama ini tidak pernah ada yang mampu mengikatmu seperti ini kan?" Dukun itu tertawa dengan sangat puas.


___________________________________


Catatan Penulis :


Ada yang ingat Ki Kusno?

__ADS_1


__ADS_2