Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 243 : Hestia 7


__ADS_3

“Jeng, apakah kau tahu suamimu memberikan seorang wanita pada suamiku?” Istri Sumohadi bertanya pada istri Nicko, kebetulan mereka adalah seorang ibu sosialita yang sering berkumpul untuk sekedar berinteraksi, pesta kecil menyambut seorang istri pejabat yang baru saja pulang dari luar negeri. Seringkali, orang-orang kaya ini bertemu pada satu moment karena harus tetap terlihat bergaul dengan orang-orang besar, terlebih seorang istri petinggi negeri ini.


“Tidak, apa maksudmu?” Istri Nicko yang sangat cantik namun terlihat tegas dari ratu wajah serta sikapnya menyanggah itu, dia memang tidak terlalu suka ikut campur urusan bisnis suaminya, tapi soal bergaul dengan orang-orang kaya, dia jagonya.


“Kau tahu bahwa dia sedang mengincar tander pembangunan lapangan golf super besar itu, suamiku yang mengatur penyediaan kebutuhan pembangunannya, yah aku tahu, praktek seperti ini memang sudah biasa dilakukan, melobi agar dapat tander, tapi memberikan seorang wanita muda untuk mendapatkan tander, apa itu tidak terlalu berlebihan?” Istri Sumohadi masih terlihat kesal, karena kejadian suaminya kepergok sedang bermain dengan Suminah terjadi baru kemarin.


“Suamiku memang ambisius, tapi dia bukan lelaki seperti itu.” Istrinya Nicko masih membela, tentu saja, selama ini yang ditunjukan suaminya selalu saja sebuah impresi yang baik. Sehingga membayangkan apa yang dikatakan istrinya Sumohadi adalah sesuatu yang dikarang-karang saja.


“Terserah kau percaya atau tidak, tapi jika suamimu sekali lagi menjajakan perempuan muda untuk dijadikan pemuas proyeknya, akan kupastikan, proyek itu takkan jatuh ke tangannya.” Istri Sumohadi yang berbadan gempal itu lalu pergi dengan tatapan bengis, dia meninggalkan istri Nicko yang terlihat sangat kebingungan, bahkan tubuhnya gemetar.


Bukan Sumohadi yang tergoda yang dia pikirkan, tapi jika Nicko benar telah menjajakan perempuan muda, bukan tidak mungkin dia juga mencicipi wanita muda itu.


Istrinya selama pesta benar-benar tidak tenang, belum lagi istrinya Sumohadi selalu menyindir, dia menahan semuanya agar tidak menciptakan keributan.


Makanya dia menjauhi keberadaan istri Sumohadi dan berinteraksi dengan yang lain seolah hatinya tidak apa-apa.


Begitu pesta selesai, dia buru-buru pergi ke kantor suaminya. Tanpa izin dari sekertaris barunya itu, dia langsung masuk, sementara sekertarisnya hanya bisa diam, karena istri Nicko tidak bisa dilarang, tapi saat dia hendak masuk, dia urungkan, karena ternyata ada supirnya, tangan kanannya Nicko lebih tepatnya.


“Semua sudah dijalankan sesuai yang Bapak inginkan, wanita itu sudah dibawa ke tempat yang aman sesuai perintah Bapak.” Darmin supir itu berkata.


“Kalau begitu, aku akan bertemu dengan lelaki itu, aku hanya ingin memastikan bahwa memang benar wanita itu aman.”


Istrinya membuka pintu ruangan Nicko, si pemilik perusahaan. Hening, Nicko meminta Darmin diam, kedatangan istrinya membuat Nicko terkejut.


“Sayang, kok nggak bilang mau ke sini?” Nicko berusaha tenang.


“Sekarang aku kalau mau ketemu suamiku harus izin dulu? Atau sekalian buat janji?” Istrinya bertanya dengan ketus.

__ADS_1


“Nggak gitu dong sayang, aku takutnya ketika kau datang sedang ada tamu dan kamu jadi kesal karena kita tak bisa bertemu, aku memikirkan dirimu.” Nicko memeluknya, Darmin berdiri hendak keluar dari keadaan canggung ini.


“Darmin sebentar, aku ke sini hanya ingin memastikan suamiku sudah makan siang dan karena tempat pestanya dekat, jadi aku mampir. Aku melihat suamiku sekarang baik-baik saja, bolehkah aku meminjam Darmin untuk mengantarku pulang? Karena tadi aku minta supir untuk menjemput anak kita, makanya sekarang aku tidak punya tumpangan.”


“Tentu saja sayang, Darmin antar istriku pulang ya, nanti kamu kembali lagi ke sini begitu sudah mengantar istriku.”


Darmin mengangguk, dia keluar duluan untuk menyiapkan mobil, agar ketika nyonya sudah di mobil, mobil siap untuk langsung jalan, nyonya terkenal sangat cerewet dan pemarah, sedang Nicko sangat takut istrinya, walau dia ambisius, tapi istrinya selalu menjadi hal yang dia khawatirkan. Karena sebenarnya perusahaan ini berdiri dengan kokoh karena relasi yang istrinya miliki, walau tidak ikut campur dalam perusahaan, tapi relasi yang dibangun istrinya dalam pesta-pesta sosialita membuat perusahaan Nicko dikenal banyak petinggi negeri ini.


Satu kantor juga tahu kalau Nicko telah memiliki istri, termasuk Suminah, tapi Suminah tidak perduli, dia terlalu gila uang, dia tahu wajahnya bisa digunakan untuk membuat bosnya bertekuk lutut, walau dia bukan orang yang berpendidikan cukup, tapi dia yakin wajahnya akan menolong impiannya, memiliki suami seorang yang kaya raya.


Makanya walau tahu Nicko telah beristri dan beranak, dia tetap saja mengejar bosnya itu, bukannya Nicko bertekuk lutut, malah dia yang dijadikan umpan oleh Nicko.


Habis sudah tubuh Suminah dijamah oleh lelaki hidung belang untuk memuluskan semua ambisi Nicko, bisa dibilang Nicko punya dua orang wanita yang menjadi pijakannya menjalankan bisnis. Satu istrinya, dia menggunakan kecerdasannya untuk membangun relasi agar usaha suaminya berjalan lancar.


Lalu kedua simpanannya, Suminah yang rela memberikan tubuhnya agar memuluskan usaha Nicko, malang bagi Suminah bahwa pernikahannya sekarang hanya impian belaka. Takkan pernah terwujud.


“Darmin, siapa perempuan yang kau maksud itu?” Istrinya mulai menanyakan apa yang dia maksud, karena sebenarnya dia tadi hendak pulang dengan taksi, tapi urung karena ingin mengorek informasi dari Darmin.


“Saya tidak mengerti Nyonya.” Darmin masih tenang, pembawaannya memang begitu.


“Darmin aku tahu, kau itu tangan kanan suamiku, tapi aku juga bisa menjadikanmu tangan kananku, kau tahu, setiap orang kadang punya dua bos untuk memastikan kalau bos yang satu kenapa-kenapa, kau masih punya cadangan, kau tahu kan, kalau aku pantas dijadikan tuan untukmu?” Istrinya membujuk, karena kalau mengancam, dia takkan dapat apa-apa, Darmin mantan Polisi yang ketahuan korupsi, lalu diterima bekerja oleh Nicko karena caranya menangani kasus kotor sungguh membuat Nicko terkesan.


“Maaf Nyonya, saya tidak tahu apa yang nyonya maksud.” Darmin memang anjing setia.


“Darmin aku dengar anakmu ingin masuk Universitas Indonesia, kau tahu kan kalau masuk ke sana sangat susah dan mahal. Aku bisa membantu, itu perkara mudah bagiku.” Kali ini dia tepat sasaran.


Darmin terdiam sejenak.

__ADS_1


“Apakah benar suamiku menjajakan wanita muda kepada para pemegang tander?” tanya istrinya Nicko sekali lagi.


“Namanya Suminah, dia adalah sekertaris Pak Nicko, sekertaris sebelumnya, kami mengungsikan dia ke tempat aman karena takut kalau dia akan jadi sasaran kecemburuan istri Sumohadi.” Darmin kalah, karena anaknya lebih penting dari apapun.


“Kalau begitu, beritahu aku di mana dia? Aku ingin menemuinya.”


“Tidak bisa Bu, karena dia dititipkan kepada preman mantan napi, akan berbahaya jika ibu bertemu dengannya, juga bagi Pak Nicko, karena dia saat ini statusnya hilang, orang tua dan Polisi sedang mencari dia.”


“Kalau begitu, kau yang atur, bagaimana caranya kami bertemu dengan aman, tidak perlu di tempat terbuka.”


“Hanya sebentar saya bisa usahakan, tapi Ibu harus janji kalau anak saya akan masuk Universitas itu sesuai apa yang ibu katakan sebelumnya.” Darmin memastikan.


“Ya, aku akan membiayainya juga sampai dia lulus, kalau kau bisa mempertemukan aku dengan wanita itu.”


“Baiklah, aku akan atur supaya kalian bisa bertemu.”


Istrinya Nicko tersenyum mendengar itu, dia akan memastikan wanita itu kapok telah menggoda suaminya.



Deden terpaku, dia melihat pemandangan yang mengerikan, sangat amat mengerikan, wanita yang pernah dia cintai itu sedang duduk di pos ronda, sementara dia juga tidak bisa bergerak, hingga adegan mengerikan berikutnya harus dia lihat.


Suminah dengan tubuh dan baju basah itu, tiba-tiba kepalanya jatuh ke tanah, menggelinding mendekati berdirinya, ketika kepala itu menyentuh kaki Deden, Deden menangis tapi masih tidak bisa bergerak.


Belum juga berakhir kengerian itu, tiba-tiba tubuh tanpa kepala itu mendekati Deden, seolah akan mengambil kepalanya. Tapi begitu dekat, Deden mencium bau anyir yang luar biasa, bukan mengambil kepalanya, tubuh Suminah tanpa kepala itu malah memegang tangan kirinya dengan tangan kanan, menarik tangan kiri itu hingga lepas dari pundak, Deden semakin menangis seperti anak kecil, walau suaranya tidak keluar sama sekali dan tubuhnya masih belum bergerak.


Setelah melepaskan tangan kirinya, dia memberikan tangan itu pada Deden, sedang kepala Suminah yang berada di kakinya itu, berkata dari bawah … “Den, sakit ….” Itu kata-katanya, tidak mampu menjawab, Deden jatuh pingsan.

__ADS_1


__ADS_2